My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 51: Partner Hidup


__ADS_3

Keesokan paginya Logan dan Rania tiba di kantor Logan Enterprise dengan mobil yang menjemput mereka di kediaman Carla. Mobil tersebut memasuki area gedung. Rania bertanya-tanya karena melihat banyak orang berpakaian jas hitam di pintu utama.


"Mas, kok banyak orang di lobi? Ada apa?" tanya Rania ketika mobil mereka berhenti di depan pintu utama.


"Mereka bodyguard. Semenjak ada kejadian waktu itu, mereka selalu berjaga di depan." ujar Logan seraya tersenyum pada Rania. Kemudian ia keluar dari mobil dan mengitari mobil. Seorang petugas valet membukakan pintu Rania dan Logan mengulurkan tangannya, membantu Rania untuk turun.


Rania meraih tangan Logan dan keluar dari mobil. Ketika Rania keluar dari mobil, para bodyguard tersebut berjajar rapi di sepanjang pintu utama menuju lobi, dan mereka dengan kompak menyapa, "Selamat Pagi, bu Rania, Pak Logan. Selamat datang di Gedung Logan Enterprise."


Sontak Rania tertegun, bahkan ia tidak langsung menjawab sapaan itu. Beberapa detik kemudian barulah Rania menjawabnya, "Selamat Pagi."


Logan membimbing Rania memasuki gedung. Seketika orang-orang berjas tersebut membungkuk hormat pada CEO Logan Enterprise beserta istrinya itu. Logan yang terlihat sudah biasa dengan itu berjalan dengan santainya menuju lobi. Sedangkan Rania, ia masih kebingungan dengan apa yang terjadi.


Di dalam lobipun orang-orang berjas dengan berbagai warna dan jauh lebih tua menyambut mereka. Mereka sepertinya baru saja tiba di kantor, melihat tas yang mereka bawa di tangan mereka. Rania kira mereka adalah para pemegang saham, atau kepala divisi, melihat jas yang mereka kenakan sama mahalnya dengan Logan kenakan. "Selamat Pagi, Pak Logan, Bu Rania."


Logan berhenti di depan para pria berjas yang usianya sepertinya sudah mencapai 40-50 tahunan itu. Rania mengangguk hormat, "Selamat pagi juga,"


"Senang rasanya bisa menyapa Bu Rania. Sudah lama saya tidak melihat ibu, terakhir saya melihat ibu waktu masih di Jakarta. Gimana kabarnya, bu? Kami dengar ibu sedang hamil. Kami ucapkan selamat ya, Bu Rania dan Pak Logan. Tidak menyangka secepat ini Logan Enterprise akan memiliki penerus selanjutnya." ucap seorang pria berjas dengan banyak uban di rambutnya, ramah sekali.


"Saya baik, terimakasih." Rania cukup terkejut karena kini kehamilannya sudah menyebar di kalangan karyawan Logan. Mereka berbincang-bincang sesaat, sebelum akhirnya Logan membawa Rania ke ruangannya.


Sudah cukup lama Rania tidak berkunjung ke ruangan ini. Ruangan itu jika dilihat dari ukuran, lebih kecil dari ruangan Logan di kantornya yang di Jakarta. Namun jika dilihat dari kemewahannya, ruangan ini sama mewahnya dengan kantor yang di Jakarta.


Rania duduk di salah satu sofa, "Mas, ada apa sih? Kok aku diajakin kesini?"


Tiba-tiba pintu diketuk dan Logan mempersilahkannya masuk. Davin datang ke ruangan itu dengan wajah dingin andalannya, "Selamat Pagi Bu Rania, Pak Logan." sapanya membungkuk hormat.

__ADS_1


"Selamat pagi, Pak Davin gimana kabarnya?" tanya Rania basa-basi, kemudian dibalas ramah oleh Davin.


"Udah siap semuanya?" tanya Logan.


"Sudah, Pak." Davin meletakkan sebuah map di depan Logan. Logan meraihnya dan memeriksanya.


Rania terdiam dan menyesap teh hangat yang tadi disiapkan oleh Gina, sekretaris Logan, tepat saat mereka tiba di ruangan tersebut.


"Okay," ucap Logan saat ia sudah memeriksa berkas itu. Lalu ia menyerahkannya pada Rania, "Nih, Yang."


Rania menerima map itu dengan bingung, "Apa ini, Mas?"


"Kamu lihat dulu aja." ucap Logan dengan senyum penuh arti. Rania membuka map itu dan masih mencernanya. Namun ia sedikit terkejut saat ada namanya tertera disana.


"Kamu sekarang pemilik saham Logan Enterprise, Yang." ucap Logan menjelaskan.


"Hah? Aku, Mas? Kok bisa?" seloroh Rania. Ia kembali memeriksa berkas itu. Benar saja disana tertera bahwa Rania memiliki saham dengan angka yang cukup mencengangkan.


"Bisa. Kan aku yang ngasih. Mulai sekarang kamu akan punya andil di setiap keputusan perusahaan. Aku akan selalu update tentang semuanya sama kamu. Dan aku harap kamu juga bisa berkontribusi buat perusahaan."


"Bentar, Mas. Ini kenapa tiba-tiba aku jadi punya saham sebanyak ini? Kamu mau aku kerja disini?" jujur saja Rania memang belum begitu memahami bisnis.


"Nggak, Yang. Kamu gak akan kerja disini. Kamu akan jadi salah satu pemegang saham terbesar setelah aku dan ikut kalau ada rapat-rapat penting tentang keputusan perusahaan." jelas Logan.


Rania masih terdiam, "Tapi kenapa, Mas?"

__ADS_1


"Dengerin aku, Yang." kini ia duduk dengan menghadap langsung pada Rania, "Kamu istri aku. Selama ini aku salah gak pernah ngebiarin kamu tahu tentang perusahaan. Seharusnya aku ngelibatin kamu. Kamu adalah partner hidup aku. Otomatis apa yang aku kerjain, kamu juga harus paham. Apa yang aku punya, harus juga kamu punya. Biar kamu bisa terus dukung aku, kamu harus ngerti dengan apa yang aku kerjain. Makanya mulai sekarang aku akan melibatkan kamu di setiap rapat penting perusahaan. Setiap permasalahan yang ada di perusahaan, aku minta bantuan kamu buat bisa ikut cari solusinya."


"Mas yakin? Aku sama sekali gak ngerti bisnis." tanya Rania masih ragu.


"Kamu bisa belajar, Yang. Kamu guru terbaik di SMA Satya. Jadi penanggung jawab di banyak kegiatan sekolah aja kamu bisa, sekarang kamu juga pasti bisa. Aku akan bantu kamu. Davin juga." Logan meyakinkan.


"Mantan guru, Mas." Rania mengkoreksi.


"Saya yakin Bu Rania bisa." Davin ikut meyakinkan Rania, "Pak Logan tidak memiliki kerabat lain, almarhum Pak Faris juga adalah anak tunggal. Alangkah lebih baik pemagang saham ada yang berasal dari kerabat dekat, dan dalam hal ini Bu Rania adalah yang paling dekat dengan Pak Logan. Jadi saya pikir ini akan sangat membantu Pak Logan untuk memperkuat posisi Pak Logan."


"Emang posisi Mas kenapa?" tanya Rania agak panik.


"Enggak kenapa-kenapa, Yang. Maksudnya emang aku yang punya perusahaan ini. Aku yang mimpin juga. Tapi perusahaan ini bisa jalan bukan hanya modal dari aku aja. Ada pemegang saham lain yang juga punya hak untuk menentukan hal-hal penting tentang perusahaan. Nanti juga aku bakal kasih saham ini buat anak kita. Gimana kamu paham gak?"


Rania mengangguk ragu, "Iya Mas, aku ngerti. Sedikit sih."


"Ya udah gak apa-apa kita sama-sama belajar ya." ucap Logan, lalu ia berbicara pada asistennya. "Vin, bawain laporan tahunan 2 tahun terakhir, biar Rania lihat."


Davinpun segera membawakan dua map tebal yang memang sudah disiapkannya. "Ini, Pak."


"Nah, Yang. Ini laporan 2 tahun terakhir tentang semua hal mulai dari keuangan, peningkatan kualitas, masalah yang pernah muncul beserta solusinya, dan lain-lain. Aku cuma punya 2 tahun terakhir disini. Sisanya ada di kantor di Jakarta. Jadi kamu bisa lihat ya..."


Logan mulai menjelaskan pada Rania mengenai perkembangan perusahaannya. Rania mulai memperhatikan penjelasan Logan dengan seksama. Sesekali iapun terkesima dengan cara Logan menjelaskan detail perusahaannya. Ia terlihat berwibawa dan tahu tentang segala hal, wawasannya juga luas. Pantas saja Logan bisa menjadi pemimpin yang disegani, terlihat dari cara para karyawannya yang memperlakukannya dengan sangat segan dan hormat tadi saat di lobi. Logan memang sepandai itu, sekarismatik itu.


Dan itu membuat Rania jatuh cinta kembali pada sosok Logan, untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


__ADS_2