My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 30: Resepsi


__ADS_3

Hari demi hari dilewati oleh Rania dengan penuh keresahan. Batinnya tidak pernah merasa tenang. Ia terus merasa bersalah karena terus menyembunyikan perihal kehamilannya. Apalagi akhir-akhir ini Logan sering terlihat termenung dan mengurung diri di ruang kerjanya. Walaupun Rania sudah mengatakan bahwa Logan bisa menceritakan semuanya pada Rania, Logan tidak bercerita apapun tentang situasi yang dihadapinya.


Jika membutuhkan Rania, maka yang bisa Rania lakukan untuknya hanyalah mendampinginya, melayaninya, dan memastikannya untuk tidak telat makan. Selebihnya Logan pasti mengatakan, "Udah mau selesai kok. Kamu jangan ikut kepikiran juga ya." dan kalimat-kalimat seperti itu yang Logan lontarkan jika Rania bertanya padanya.


Akhirnya Rania mengorek informasi dari Davin. Barulah Rania tahu kondisi Logan di kantor seperti apa. Rupanya, permasalahan sengketa tanah itu semakin memanas. Bahkan kini sudah dibawa ke pengadilan. Bersiar kabar bahwa jika Logan tidak bisa memenangkan persidangan itu, beberapa pemegang saham meminta Logan untuk mundur dari jabatannya. Jika Logan kalah dalam persidangan itu, maka pembangunan hotel yang sudah mencapai 70% itu juga harus dihentikan. Itu artinya Logan Enterprise akan mengalami kerugian milyaran rupiah.


Di sisi lain, hari resepsi pernikahan Logan dan Rania tiba. Beberapa minggu sebelumnya Logan sibuk menyelesaikan masalah di kantornya, sehingga persiapan resepsi dihandle oleh Rania sepenuhnya. Walaupun Rania hanya memberikan instruksi kepada WO yang disewa Logan, tetap saja itu cukup melelahkan. Ditambah keadaan Rania yang sedang berbadan dua, membuatnya cepat merasa lelah.


Beberapa kali foto prewedding juga dilakukan di tengah-tengah kesibukan Logan. Rania merasa cukup berfoto dengan satu kostum saja, namun Logan menerima tawaran dari seorang fotografer dan perancang busana terkenal untuk mencoba beberapa tema. Akhirnya mereka mencoba beberapa kostum dengan tema yang berbeda-beda, mulai dari bernuansa sederhana, glamor, tradisional, vintage, hingga kostum ala-ala kdrama dan juga MV idol kpop. Rupanya pihak WO sudah mendapat bocoran bahwa Rania memang menyukai kdrama dan juga kpop. Logan bahkan sempat mewarnai rambutnya secara temporer dengan warna biru untuk pemotretan bertemakan idol kpop itu. Semua demi Rania.


"Mas, kamu beneran kayak idol kpop. Kayak Hyunjin!" Rania heboh saat melihat hasil foto mereka di PC studio foto, sesaat pemotretan selesai.


"Kamu ketularan Berlin, bilang aku mirip Hyunjin." protes Logan.


"Aku udah gak pengen ke Korea lagi. Orang Hyunjinnya udah jadi suami aku sekarang." ucap Rania dengan hebohnya seraya memeluk suaminya itu.


"Kamu ada-ada aja sih, Yang." Logan mengecup puncak kepala Rania.


Kemudian tibalah mereka di hari resepsi. Rania merasa agak kurang sehat karena terlalu lelah mempersiapkan segala macam resepsinya. Namun Rania tetap berusaha menahan rasa pening dan sedikit demam yang dirasakannya dan bersikap seceria mungkin di hari spesialnya itu.


Hari itu semua persiapan sudah siap. Resepsi diadakan di sebuah villa mewah dengan dua lantai dan terdapat 20 kamar disana. Seluruh keluarga dan kerabat dekat menginap di villa tersebut sedangkan resepsi diadakan secara outdoor di halaman belakang villa. Dekorasi seluruh venue yang ada di villa tersebut didominasi dengan warna putih, sesuai dengan keinginan Rania.


Sebetulnya Rania menyampaikan resepsinya ini ingin dihelat secara sederhana, namun sepertinya sederhana yang dimaksudkan Rania tidak sama dengan sederhana yang dipahami oleh orang-orang di wedding organizer. Karena akhirnya pesta pernikahan itu didekorasi dengan sangat mewah, walaupun memang tidak terlalu glamor. Kesan sederhana memang terasa dengan nuansa putih dan pepohonan serta danau yang terdapat di villa tersebut.

__ADS_1


Gaun dan tuxedo yang Rania dan Logan kenakanpun terlihat simple namun kesan mewah tetap tidak bisa disembunyikan. Menurut WO sederhana seorang CEO berbeda dengan sederhana orang biasa. Maka akhirnya Rania tidak melontarkan protes apapun.


Setelah upacara pembukaan menggunakan adat sunda dilaksanakan, resepsipun dihelat. Para tamu mulai berdatangan. Mulai dari orang-orang penting, rekan bisnis almarhum Faris yang sekarang menjadi rekan bisnis Logan, teman-teman Rania dan juga Logan, serta tidak lupa guru-guru SMA Satyapun diundang.


Logan dan Rania tidak henti-hentinya menerima ucapan selamat. Kado dan karangan bungapun berjejer di luar villa tersebut.


Hingga waktu hampir menunjukkan pukul satu siang tamu masih saja berdatangan. Rania sudah sangat kelelahan. Namun ia tetap memaksakan.


"Yang, kamu gak apa-apa? Kamu pucet banget. Kamu istirahat dulu aja ya." Logan khawatir.


"Nggak, Mas. Aku gak apa-apa, kok." dusta Rania, padahal ia sudah sangat ingin beristirahat.


Hingga saat Ibra datang memberikan selamat pada Rania dan Logan, Rania ambruk. Tubuhnya nyaris terjerempab ke lantai namun Logan berhasil menahannya.


Logan segera membopong tubuh Rania ke salah satu kamar di villa tersebut. Ibra yang mengetahui kehamilan Rania yang disembunyikanpun mengekor Logan.


"Biar saya periksa, Pak Logan." ucap Ibra ketika tubuh Rania sudah terbaring di tempat tidur.


"Iya silahkan, Dok. Tolong periksa istri saya." ucap Logan dengan panik.


Rendra datang setelah mendengar Rania tumbang, "Rania kenapa?" tanyanya panik. Diikuti oleh Nindi dan Carla.


"Gak tau, Pap. Tadi emang muka Rania pucet banget. Aku udah suruh Rania buat istirahat tapi dia bilang gak apa-apa." jelas Logan.

__ADS_1


"Bu Rania gak apa-apa, cuma kecapean aja." ucap Ibra setelah memastikan keadaan Rania baik-baik saja.


"Beberapa minggu terakhir ini emang Rania sibuk nyiapin resepsi ini. Sama beberapa kali kita photoshoot buat prewed." ucap Logan.


"Tapi Rania anaknya gak gampang tumbang gini biasanya. Apalagi nyiapin resepsi gak sehectic itu, soalnya ada WO kan?" ucap Rendra yang sudah sangat mengenal putrinya itu.


"Iya, bener. Rania gak gampang sakit. Malah dia gak pernah sekalipun pingsan dan sakit yang parah dari dia masih kecil." Nindi setuju dengan Rendra.


"Apa Rania lagi hamil?" tanya Carla tiba-tiba, membuat semua orang menoleh kepadanya, terutama Logan.


"Nggak kok, Bun. Sekitar 3 minggu lalu, Rania pasang IUD, dia gak mungkin hamil." terang Logan.


"Rania pasang IUD, Gan?" tanya Nindi terkejut, "Kenapa? Kalian gak mau punya anak?"


"Nggak, Mah. Logan masih belum pengen punya anak. Logan belum siap jadi ayah." terang Logan.


Rendra dan Nindi terdiam. Sangat paham perasaan Logan, karena mereka pernah ada di posisi itu, menikah dan punya anak di usia belia.


"Ya ampun, Nak. Sampai segitunya kamu gak pengen Rania hamil? Rania itu udah cukup umur buat punya anak loh." ucap Carla.


"Gimana dengan aku, Bun? Bulan depan aku baru 19 tahun. Aku gak mau jadi ayah di usia semuda ini! Masih banyak hal yang harus aku urusin. Bunda tau 'kan, pembangunan hotel di Maladewa lagi tersendat. Sampai hari ini masih belum bisa aku beresin. Aku tuh lagi banyak pikiran, Bun. Udah ini aja aku sama Rania batal buat honeymoon, karena aku masih harus beresin masalah di kantor." Logan meluapkan semuanya pada sang ibu.


"Justru kalau kamu punya anak, kamu jadi ada penyemangat, Nak." Carla mencoba memberi pengertian pada putranya itu.

__ADS_1


Logan bersiap menimpali Carla, namun segera ia urungkan. "Udahlah, aku gak mau debat. Bunda gak akan ngerti perasaan aku." pungkas Logan. Ia tidak ingin terus berdebat dengan Carla di depan semua orang di kamar itu.


__ADS_2