
Rania terbangun karena bunyi alarm dari HP Logan yang begitu nyaring. Jam menunjukkan pukul setengah lima pagi. Rania menyadari semalam Logan tertidur pulas setelah tidur sambil memeluknya.
"Gan, bangun. Alarmnya udah bunyi." ucap Rania.
Logan membuka matanya dan menyadari Rania masih berada di pelukannya. Ia mematikan alarm dan kembali memeluk Rania.
"Bentar lagi." Logan kembali menutup matanya.
"Nanti kamu telat loh." Rania mencoba bangkit dari tidurnya, namun Logan memeluknya lebih erat.
"Lima menit aja, Ran. Udah aku snooze alarmnya." ucap Logan.
Rania kembali memeluk tubuh suaminya itu. Sangat nyaman hingga rasanya ingin kembali memejamkan matanya. Namun Rania mencoba tetap terjaga, ia khawatir Logan akan terus tertidur dan terlambat bangun.
Raniapun melepas pelukannya dan memandang wajah suaminya. Mata sipitnya yang dihiasi bulu mata lentik itu masih tertutup rapat. Hidungnya mancung dan bibirnya tipis dan berwarna merah muda. Rania masih tidak percaya kini Logan sudah menjadi suaminya. Padahal beberapa waktu lalu mereka masih terlibat perang dingin.
Beberapa bulan lamanya, selama Logan masih berstatus sebagai siswa kelas 12, Logan terpaksa menjauhi Rania. Bukan karena status guru dan murid yang memisahkan mereka. Logan sama sekali tidak peduli, jika hanya itu rintangan antara dirinya dan Rania maka ia tidak akan menyerah pada hubungannya dengan Rania. Namun jika hal itu menyangkut pekerjaan Rania, restoran eyang Rania, dan pekerjaan ayah Rania yang diancam untuk dihancurkan, maka Logan tidak bisa apa-apa selain menuruti keinginan mendiang sang ayah saat itu.
Namun semuanya tiba-tiba berubah. Jarak yang selama ini menghalangi mereka hilang sudah. Tidak ada lagi status murid dan guru, berganti menjadi suami dan istri.
Kadang terpikir oleh Rania, apakah Logan serius dan sudah memikirkan matang-matang dengan semua yang sudah diputuskannya? Dia hanyalah seorang anak remaja berusia 18 tahun. Namun dia memutuskan untuk menikahi Rania yang terpaut 6 tahun di atasnya. Apakah jika Rania masih berusia belia, Logan masih akan menikahinya? Apakah karena dirinya sudah berada di usia siap menikah maka Logan memaksakan diri untuk menikah?
Walaupun selama ini Logan terlihat begitu bermental baja, dengan kemampuan dan kharismanya ia mampu menggantikan ayahnya menjadi pimpinan perusahaan. Dengan otaknya yang pintar dan cerdas ia selalu bisa memutuskan segala macam keputusan penting mengenai perusahaan yang kini sepenuhnya menjadi miliknya, Rania tetap merasa khawatir, apakah menikahi Logan di usianya yang masih sangat muda adalah keputusan yang tepat?
Kedua orang tuanya sering bercerita mengenai bagaimana sulitnya masa-masa awal mereka menikah. Nindi dan Rendra menikah di usia yang sangat belia dan sering kali bertengkar. Menikah bahkan untuk orang-orang di usia dewasa, bisa sangat membebani, apalagi untuk remaja berusia 18 tahun. Apakah ia terlalu egois dengan menyetujui menikah dengan Logan yang masih sangat muda?
"Ran..kamu ngapain liatin aku?" tanya Logan yang beberapa saat sudah terbangun. Rania tidak menyadarinya karena terlalu sibuk dengan pikirannya.
"Aku nungguin kamu bangun. Takut kamu ketiduran terus telat nanti bangunnya."
"Aku nyenyak banget tidurnya tadi malem." Logan menggeliatkan tubuhnya.
"Syukur deh kalo gitu. Aku cemas banget liat kamu ngigau terus."
__ADS_1
Logan tersenyum tipis dan mengecup kening Rania pelan.
"Aku mandi dulu." Logan beranjak dari tempat tidur dan memasuki kamar mandi.
Rania merasa pipinya menghangat setelah menerima kecupan di keningnya. Iapun segera menuju dapur dan mempersiapkan sarapan untuk sang Suami dengan perasaan bahagia.
Kali ini ia memutuskan membuat sarapan yang simpel dan pasti enak. Ia menyiapkan beberapa potong roti dan merebus telur. Kemudian ia mengiris beberapa daun lettuce dan timun menjadi bagian-bagian kecil, kemudian menyatukannya dengan telur rebus yang sudah matang dan dipotong kecil juga. Terakhir ia berikan mayonnaise sedikit saus sambal dan tomat. Kemudian ia letakkan di atas roti dan ditutup lagi dengan lembaran roti lainnya.
Logan keluar dari kamar dengan setelan jasnya. Seperti biasa Logan selalu terlihat tampan. Melihat Logan di pagi hari yang memakai dasinya saat sedang berjalan menuju meja makan, menjadi pemandangan favorit Rania sekarang. Kini ia bisa bebas mengidolakan dan mengagumi ketampanan suaminya itu.
"Ran? Kamu kenapa sih, kok senyum-senyum sendiri?" Logan kini sudah duduk di kursi meja makan mereka.
"Nggak kok. Gapapa." ucap Rania tidak menyadari bahwa sejak Logan keluar dari kamar ia sudah tersenyum sumringah melihat suaminya itu. Raniapun menyodorkan sarapan yang tadi dibuatnya pada Logan.
Loganpun memakannya dengan lahap. Tiba-tiba Logan mengambil sesuatu dari mulutnya. Ada sebuah pecahan kulit telur disana.
"Maaf." ucap Rania menyesal. Padahal ia sangat percaya diri kali ini makanannya akan sempurna.
Akhirnya Logan selesai dengan sarapannya. Rania mengantar Logan sampai pintu depan seperti biasa.
"Aku pergi dulu ya." Logan mengecup kening Rania.
Rania mengangguk dan berkata, "hati-hati ya. Semangat kerjanya. Jangan lupa makan."
Logan tersenyum dan menjawab, "Iya."
Setelah Logan pergi Rania membereskan piring bekas sarapan, membaca buku, menonton TV, dan mempelajari beberapa tarian kpop terbaru, kemudian mandi. Saat sedang membersihkan diri, ia berpikir akan melakukan apa lagi dia hari ini. Rania begitu bosan jika harus berdiam diri di rumah seharian. Rania bukan tipe orang yang akan senang menghabiskan waktu seorang diri, dengan HP atau laptop seharian. Rania selalu membutuhkan kegiatan untuk menyalurkan segala ide dan tenaganya.
Iapun teringat nasihat mama dimana seorang istri harus mendampingi suami dalam keadaan apapun. Logan kemarin tidak sempat makan siang, Raniapun berpikir untuk mengantarkan makan siang untuk Logan nanti siang.
Dengan semangat Rania memilih beberapa baju di lemarinya, namun ia baru menyadari ia tidak membawa cukup baju saat datang ke Jakarta dan tidak ada yang cocok dipakai ke kantor. Raniapun memutuskan untuk berbelanja beberapa baju sebelum mengantar makanan pada Logan. Iapun menelepon Pak Riswan, supir yang mengantarnya ke Bandung kemarin untuk menjemputnya.
Setelah beberapa saat Rania kini sudah ada di salah satu mall di Jakarta. Kebanyakan toko masih tutup. Namun ada satu butik yang sudah buka. Raniapun memasuki butik itu dan melihat-lihat baju yang ada disana. Harganya lumayan mahal tapi rasanya harga itu cukup masuk akal agar dirinya terlihat pantas untuk pergi ke kantor Logan sebagai istri dari CEO. Ia harus terlihat cantik di depan para karyawan Logan.
__ADS_1
Raniapun mengambil dress selutut dengan lengan tiga per empat berwarna broken white kekuningan. Ia juga membeli sepatu high heels dan tas tangan dengan berwarna senada. Ia mengganti bajunya dan memakai baju itu. Setelah itu ia ke toilet dan memakai sedikit make up agar terlihat tidak pucat. Sebelum meninggalkan mall, Rania membeli makan siang untuk Logan. Ia tidak ingin mengambil resiko dengan memasak makanan yang tidak enak. Raniapun memesan sushi dengan berbagai jenis dalam satu tray kemudian meninggalkan Mall.
Dari jauh gedung dengan 60 lantai itu sudah terlihat dengan begitu megah dan mengagumkan. Jantung Rania berdebar kencang masih meyakinkan dirinya bahwa gedung itu adalah milik suaminya.
Tidak lama mobil masuk ke area gedung Logan Enterprise. Rania keluar dari mobil Alphard putih yang berhenti di depan lobi gedung.
Lobi saat itu agak ramai karena memang sedang waktunya istirahat makan siang. Semua mata tertuju pada Rania. Beberapa dari para karyawan Logan Enterprise sudah mengenal wajah Rania yang adalah istri dari CEO mereka. Seorang satpampun menghampiri Rania.
"Bu Rania? Istri Pak Logan Victor?" tanya satpam itu.
"Iya betul, Pak." ucap Rania sopan.
"Maaf saya kurang mengenali Ibu. Selamat datang Bu di gedung Logan Enterprise, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau ketemu sama suami saya bisa?"
"Mohon maaf, Bu. Pak Logan tadi pergi ke Hotel Logan Ritz, beliau sedang melakukan pemeriksaan operasional. Ibu mungkin mau menunggu beliau di kantornya?"
Rania kecewa karena ternyata Logan tidak ada di kantor. Logan juga mungkin saja memutuskan makan di Hotel. Ia menatap ke paper bag yang dibawanya. Menyesal karena seharusnya tadi dia menelepon Logan terlebih dulu.
"Yauda gapapa, Pak. Saya pulang aja. Makasih ya pak." Satpam itu terlihat tidak enak karena Rania yang memilih untuk pulang.
Rania melangkahkan kakinya menuju pintu keluar gedung. Baru beberapa langkah, Rania melihat Logan keluar dari mobil sedan hitam bersama dengan Davin. Logan berjalan memasuki gedung, wajahnya sangat serius dan masih sibuk memberikan instruksi pada Davin. Rania terkesiap melihat sosok Logan sebagai seorang CEO. Semua orang yang berpapasan membungkuk hormat padanya. Selama ini Rania hanya melihat Logan sebagai siswa, atlet renang, penyanyi bersuara indah, namun ini adalah pertama kalinya Rania melihat sosok Logan sebagai seorang CEO.
Tiba-tiba Davin melihat ke arah Rania. Logan yang saat berjalan terus memandang ke arah depan menoleh ke arah Rania saat Davin memberitahukan keberadaan Rania.
Kedua mata Logan kini menatap Rania, wajahnya berubah sumringah dan berjalan agak cepat menghampiri Rania.
Logan memeluk Rania di depan para karyawannya. Rania terkesiap karena begitu banyak mata yang menatap mereka.
"Ran, kamu kok ada disini?" Logan melepas pelukannya.
"Surprise." ucap Rania tersenyum pada suaminya itu, dan mengangkat tinggi paper bag yang ada di tangannya.
__ADS_1