My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 60: Anak dan Adik Rania (end)


__ADS_3

Hari itu Rania sedang bersama Nindi dan Carla di teras belakang. Mereka bercengkrama bersama seperti biasa. Namun tiba-tiba Rania merasakan mulas yang luar biasa.


"Mah, perut Rania sakit!" pekik Rania seraya memegang perut buncitnya.


"Sayang tapi ini belum waktunya kamu melahirkan?!" Nindi seketika panik.


"Ya udah, kita bawa Rania ke rumah sakit sekarang." Ujar Carla.


Carla segera mengalungkan tangan Rania di lehernya, begitu juga Nindi melakukan hal yang sama.


Kemudian Rania sudah berada di ruang bersalin. Sedangkan Nindi dan Carla ada di luar. Tak lama Rendra muncul, "Gimana Rania?"


"Udah di dalem." Jawab Carla tegang.


"Logan udah dikasih tahu?" tanya Rendra.


"Udah. Tapi dia gak jawab. Kayaknya lagi meeting."


Semua semakin tegang. "Coba dihubungin lagi." ujar Rendra.


Nindi membuka ponselnya dan Logan tetap tidak menjawab, sedangkan Carla menghubungi Davin.


"Davin," Seketika semua menatap ke arah Carla karena Davin berhasil dihubungi. "Logan mana?"


"Kalau gitu kamu kabarin dia nanti, Rania di rumah sakit sekarang. Kayaknya dia udah mau melahirkan." ucap Carla.


Kemudian Carla menutup teleponnya, "Logan lagi apa?" seloroh Rendra tegang.


"Dia lagi meeting." ucap Carla.


Di dalam ruang bersalin Rania terus mencoba menahan rasa sakit itu. Ia terus berharap Logan ada bersamanya. "Dok, saya mau suami saya."


"Bu Rania tenang ya. Mas Logan sudah dihubungi oleh keluarga. Sebentar lagi pasti datang." Ujar Dokter Vera menenangkan


Rania merasa sangat sedih. Di saat seperti ini Logan justru tidak ada.


Akhirnya setelah pembukaan semakin besar, tanpa kehadiran Logan, Rania melahirkan seorang putra.


Ia begitu bahagia saat tangis seorang bayi kecil memenuhi ruangan persalinan itu. Ia juga lega karena setelah perjuangan hidup dan mati itu akhirnya ia bisa bertemu dengan sang putra.


Tak lama seorang perawat membawa bayinya mendekat.


"Silahkan bu, Ini putranya. Normal dan sehat."


Rania menggendongnya dan menatap wajah kecil itu, tanpa terasa air matanya menetes penuh haru.


Logan kecil telah lahir.


Carla, Nindi, dan Rendra segera masuk ke ruangan itu setelah dipersilahkan masuk oleh Dokter. Mereka bergantian menggendong Logan kecil. Semua terlihat bahagia dengan kehadiran sosok kecil itu.


Akhirnya Rania dipindahkan ke ruang rawat inap. Kali ini yang berjaga bergantian. Nindi dan Nabil mendapat giliran jaga, sedangkan Rendra dan Carla pulang.


"Ran, Kok bengong terus sih Mama perhatiin?" Tanya Nindi yang sedang menggendong sang cucu.

__ADS_1


"Gimana Rania gak bengong, Mah. Mas Logan kemana? Kenapa sampai sekarang masih belum bisa dihubungi? Ini Udah lima jam sejak Rania lahiran." Mata Rania sudah berkaca-kaca.


"Sabar, Sayang. Pak Davin tadi ngabarin Logan memang masih sibuk."


"Tapi ini Rania..."


Tiba-tiba pintu terbuka dengan keras, terlihat sosok Logan berjalan dengan nafas terengah.


"Mas..." Rania sampai tercengang.


Logan berjalan dengan cepat dan menghampiri Rania, dipeluknya sang istri. "Ran, maafin aku. Aku baru bisa dateng."


Rania mendorong tubuh Logan menjauh. "Dasar suami gak siaga! Aku ngelahirin sendirian! Jahat banget sih!" dipukul-pukulnya dada Logan seraya air mata yang terus berjatuhan dari kedua matanya. Rania merasa sangat lega, senang, dan kesal di waktu yang bersamaan.


"Maaf, Yang. Lagian kamu lahiran gak sesuai sama waktu yang udah diperkirakan." ujar Logan penuh sesal.


"Kalau dapet kabar istrinya lahiran, ya harusnya langsung pulang dong!" isak Rania.


"Iya, Sayang. Maaf. Aku bener-bener udah nyoba buat cepet dateng." Logan mencoba menenangkan, dipeluknya kembali Rania yang kini terdiam dan merengkuh balik tubuh Logan.


"Gan, nih gendong dulu anak kamu." Ujar Nabil.


Seketika Logan melihat ke sosok mungil yang ada dipangkuan Nindi. Perlahan ia menggendongnya dengan tangan yang gemetar. Bayi itu menangis saat berada di pelukan sang ayah.


"Kayaknya dia tahu ayahnya udah dateng. Kesel juga dia sama kayak aku, makannya dia nangis." Ujar Rania, menyeka air matanya.


Logan hanya bisa tersenyum gemas, dan mencoba menenangkan bayi kecil itu. Ia sama sekali tak menyangka mendengar tangisan dan wajah kemerahan itu bisa membuat bahagia seketika membuncah di dalam hatinya. Bayi yang sempat ia tak inginkan keberadaannya, kini justru membuat satu perasaan bahagia yang asing yang baru kali ini ia rasakan justru memenuhi seluruh hatinya.


Hingga tak terasa Logan pun meneteskan air mata penuh harunya.


Setelah beberapa hari Rania diperbolehkan pulang. Mereka kembali ke rumah Carla. Semua berkumpul di ruang tengah saat itu.


"Udah kepikiran sekarang nama buat anak kamu?" Tanya Rendra.


Logan mendongak dari wajah sang putra yang sejak tadi terus saja dipandangnya. "Udah, Pah. Namanya Logan **. Victor. Dipanggilnya Jun."


Semua orang terdiam.


"Emang gak ada nama lain?" Tanya Carla.


"Gak ada yang lebih cocok dari itu, Bun." Ucap Logan.


Rania menggeleng, "Udah Rania kasih tahu, Bun. Kita sampai debat panjang berhari-hari, tapi Mas Logan keukeuh nama anaknya harus itu."


"Kamu gak kreatif banget, sih. Sini Papa aja yang kasih nama." Ujar Rendra.


"Nggak, Pah." ujar Logan tegas. "Pokoknya namanya akan sama dengan nama aku. Dia ini nanti pewaris Logan Enterprise. Jadi cuma nama itu yang cocok dengan dia."


Rendra dan Logan terus berdebat, ditimpali dengan tawa gemas dari semua orang. Hingga tiba-tiba saja Nindi izin ke belakang.


"Mama kenapa jadi pipis terus akhir-akhir ini?" Tanya Rania ketika Nindi sudah tidak ada.


"Ayah juga gak tahu, Ran. Kebanyakan minum kali ya?" ujar Nabil bingung.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar Nindi berteriak. Sontak Nabil segera menghampiri sang istri. Ia meminta semua orang untuk diam di ruang tengah.


Tak lama mereka kembali ke ruang tengah.


"Nin, kamu kenapa teriak kayak tadi?" Tanya Carla cemas.


"Iya, ih Mama ngagetin. Paling ada kecoa 'kan?" timpal Rania.


Tapi baik Nindi dan Nabil hanya terdiam dengan wajah tanpa ekspresi.


"Kalian kenapa sih?" Tanya Rendra penasaran.


Rania melihat sebuah benda yang Nindi genggam dengan kuat hingga tangannya bergetar. "Itu bukannya testpack? Jangan bilang Mama..."


Rania segera menghampiri Nindi dan mengambil testpack itu. Rania tertegun.


Terdapat dua garis disana. "Mama... hamil?" gumam Rania.


"Mana coba lihat?" Carla mengambil alih testpack yang digenggam Rania.


"Iya, Nin. Kamu hamil!"


Nabil menggelengkan kepalanya, "Nggak, kita jangan percaya dulu sama testpack. Sekarang saya akan bawa dulu Nindi ke dokter. Kalian tunggu disini."


Segera mereka berdua pergi.


"Udah jelas-jelas Nindi hamil!" ucap Carla heboh.


"Iya, 'Kan Bun? Dua garis loh itu!"


"Udah biar check dulu aja mereka. Kalian tahu 'kan Nabil itu udah nunggu ini dari lama. Jadi statmen dari dokter yang bakal bikin dia percaya."


"Mas, komen dong. Kok kamu malah diem aja." Rania menggerutu karena Logan tidak berkomentar apapun sejak tadi.


"Aku seneng, Yang. Tapi Jun lagi tidur ini jadi aku gak bisa tiba-tiba teriak. Nanti dia kaget gimana." bisik Logan.


Logan memang menjadi lebih protektif terhadap anaknya dan bahkan cenderung mengabaikan sang istri.


"Sekarang apa-apa Jun. Aku mah dicuekin terus." Dumel Rania.


Logan hanya tersenyum mendengar Rania kembali mendumel padanya. Mau bagaimana lagi, Logan sekarang sedang senang-senangnya menggendong sang Putra. Bahkan ia membuat kamar khusus bayi di ruang istirahat di kantornya jika nanti ia rindu pada sang putra, Jun akan beristirahat disana.


Ponsel Rania berbunyi, dari Nindi.


Segera Rania mengangkatnya, "Gimana, Mah?" Tanya Rania dengan tegang.


"Mama...beneran hamil, Sayang." isak Nindi penuh haru.


Tak ada kabar yang lebih membahagiakan dari itu sekarang. Rania merasa hidupnya sudah begitu lengkapnya sekarang menjadi semakin sempurna. Setelah memiliki seorang anak, kini iapun akan memiliki seorang adik. Terlebih bayi itu akan menjadi penyempurna kehidupan rumah tangga sang ibu dengan Nabil.


Nindi kini tidak akan lagi dihujat, diremehkan, dipandang sebelah mata lagi oleh keluarga Nabil. Itulah yang terpenting.


Rania hanya bisa berharap sang adik bisa lahir dengan selamat dan tumbuh sehat seperti Logan **. Victor atau Jun, putra kesayangannya.

__ADS_1


My Marriage Life with Young CEO, selesai.


__ADS_2