My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 37: Hal Mencurigakan


__ADS_3

Rania menatap pintu yang tertutup itu beberapa saat. Usai sudah kegelisahan dan keresahan yang dirasakannya akibat kebohongan itu. Rania pasrah. Ia tidak akan memaksa jika memang Logan belum bisa menerimanya. Yang penting perasaannya sungguh lega. Lebih baik mengetahui kebenaran yang menyakitkan, daripada terus dibohongi, 'kan? Rania yakin Logan juga lebih memilih untuk mengetahui ini daripada terus menurus dibohongi.


Telepon Rania berdering. Keyla meneleponnya.


"Halo?" Rania mengangkat telepon dari sahabatnya itu.


"Ran? Lo dimana? Logan nelponin gue dari kemarin nanyain lo. Lo berantem sama dia?" tanya Keyla antara cemas dan lega karena akhirnya Rania mengangkat teleponnya.


"Sorry, Key. Gue kemarin gak bisa angkat telepon. Gue pingsan." lirih Rania. Saat inipun Rania merasa tubuhnya masih terasa lemas. Rania beranjak dari duduknya di lantai, dan berpindah ke sofa.


"Pingsan?! Kok bisa?" tanya Keyla terkejut.


Kemudian Rania menceritakan semuanya. Sedetail-detailnya. Sahabatnya itu memang selalu menjadi tempat ternyaman Rania untuk mencurahkan segalanya, sama seperti Vino.


"Ya ampun, Ran. Gue gak tau harus seneng atau sedih buat lo. Tapi gue harus tetep ngasih lo selamat. Selamat ya sebentar lagi lo bakal jadi ibu. Jaga kondisi lo jangan sampe kenapa-kenapa lagi."

__ADS_1


"Thanks ya, Key." Rania bahagia, akhirnya ada orang yang memberikan ucapan selamat atas kehamilannya, "Tapi gue ngerasa bersalah sama Logan. Harusnya gue jangan hamil dulu ya, Key." pandangan Rania seketika kabur karena butiran bening itu kini memenuhi pelupuk matanya.


"Lo gimana sih, Ran. Kan bukan lo yang pengen. Anak itu anugerah buat lo sama Logan. Coba deh lo kasih pengertian ke Logan. Lama-lama dia juga pasti ngerti. Inget bokap lo, Ran. Beliau juga gue yakin dulu gak pengen lo ada, tapi sekarang beliau sesayang itu sama lo. Apalagi situasinya lebih sulit dari lo sekarang. Beliau harus bisa nerima Lo yang terlanjur ada di perut nyokap lo, dalam keadaan mereka belum nikah. Ditambah mereka gak ada perasaan saling sayang. Sedangkan lo? Lo sama Logan udah nikah, lo sama dia juga saling cinta. Gue yakin Logan pasti bisa nerima kehamilan lo. Dia cuma butuh waktu aja, Ran."


Seketika Rania merasa sedikit lega mendengar ucapan Keyla. "Lo bener, Key. Logan cuma butuh waktu. Dia sekarang lagi pusing banget di kantornya. Ditambah kabar ini pasti bikin dia shock banget. Gue gak akan maksa dia, gue bakal kasih di ruang buat mikir."


"Gue setuju, Ran. Yang penting lo harus bisa sabar dan dewasa. Gimanapun dia masih muda banget. Dia emang keliatan tangguh di luar, tapi di dalem dia tetep remaja yang baru aja masuk kuliah. Pengalaman dan mentalnya pasti belum sekuat keliatannya. Apalagi ngadepin para pemegang saham itu. Gue baru denger dari Denis aja udah ngeri ngebayanginnya."


"Denis cerita apa aja sama lo, Key?" tanya Rania penasaran. Denis, tunangan Keyla memang bekerja di Logan Enterprise sebagai tenaga IT. Ia pasti tau kondisi kantor Logan seperti apa.


"Dari gosip yang beredar, perusahaan itu emang lagi pusing banget. Pembangunan hotel di Maladewa terancam dihentikan pembangunannya karena ternyata tanah yang dipake buat ngebangun hotel ternyata digugat sama warga disana. Mereka pengen tanahnya balik lagi, sedangkan pembangunan udah hampir 75%, Ran. Kabarnya sih ada pemegang saham yang gak suka banget karena Logan jadi CEO gantiin Pak Faris. Dia cari gara-gara terus pas Logan udah jadi CEO. Sekarang pengadilan disana masih terus bergulir. Terus ada lagi nih yang aneh, Ran. Sekitar beberapa hari terakhir, sering ada orang-orang Asia Timur gitu, badan mereka gede-gede, bertato, dateng ke kantor nemuin Logan."


"Denis dan karyawan yang lain juga gak tau, Ran. Pokoknya mereka selalu pake baju item-item. Mukanya sangar. Kalo didenger-denger pas mereka lagi ngobrol, mereka kayak ngomong pake bahasa cina gitu."


Sontak Rania khawatir. Siapa mereka semua? Kenapa mereka ingin menemui Logan? Rania teringat saat Logan menghentikan ucapannya beberapa saat ketika ia meluapkan kekesalannya tadi. Logan seakan ingin mengatakan sesuatu, namun kemudian ia mengurungkannya dan mengatakan hal yang lainnya.

__ADS_1


Pasti masih ada hal lain yang Logan sembunyikan dari Rania.


Setelah mencurahkan segala isi hatinya pada Keyla, Rania menelepon Davin. Namun anehnya Davin tidak bisa dihubungi. Tidak biasanya Davin tidak mengangkat telepon. Begitu juga Logan.


Rania terus merasa bimbang. Kemana Logan? Apa Logan mengatakan pada Davin agar ia tidak menjawab telepon Rania? Rania membuka CCTV di garasi yang terletak di basement. Rania mencari rekaman beberapa saat lalu saat Logan pergi dari apartemen. Ia melihat Logan menggunakan motornya, tidak menggunakan mobil. Rania seketika khawatir. Jika Logan menggunakan motornya, ada kemungkinan ia sedang mencoba menghilangkan penatnya dengan melajukan motornya dalam kecepatan tinggi. Itu yang sering Logan lakukan dulu.


Akhirnya Rania mencoba menghubungi Hazel, "Halo? Hazel? Kamu lagi bareng Logan gak?" seloroh Rania ketika teleponnya diangkat oleh Hazel.


"Miss Rania dimana? Logan nyariin tadi. Tapi Kok sekarang malah Miss yang nyariin Logan?" Hazel yang ikut kebingungan mencari Rania kini kembali bingung karena kini justru Rania yang menanyakan keberadaan Logan.


"Iya, Hazel. Maaf ya udah ngerepotin. Miss udah sempet pulang, udah ketemu Logan juga. Cuma sekarang dia pergi dan gak ada kabar. Miss jadi khawatir soalnya dia bawa motornya. Kalau kamu ada kabar tentang dia, tolong segera hubungin Miss, ya."


"Kemana coba itu anak?" gumam Hazel, "Ya udah Miss gak usah khawatir, ntar aku tanyain ke anak-anak siapa tau ada yang lagi bareng Logan."


"Makasih ya, Zel." Hazelpun mengucapkan sama-sama.

__ADS_1


Rania meletakkan HPnya di meja ruang tengah. Pikirannya tidak bisa lepas dari Logan yang kini tidak tau dimana keberadaannya.


"Dimana kamu, Mas?" gumam Rania.


__ADS_2