
"Udah dong, Yang. Jangan cemberut lagi." ucap Logan, kini berada di mobil ketika mereka pulang dari klinik Dokter Ane. Hari ini adalah jadwal kontrol kehamilan Rania yang sudah menginjak usia 8 bulan.
"Tapi, Mas. Aku makin gemuk. Masa dari awal hamil aku naik 15 kg?! Mas jangan liatin aku, Aku malu!" Rania menutup tangannya dengan kedua tangannya.
"Kata siapa? Kamu cantik banget, Sayang." Logan menarik kedua tangan Rania yang menutupi wajah Rania yang kini lebih chubby dari sebelumnya.
Berat Rania memang bertambah banyak sejak kehamilannya memasuki bulan ke 5.
"Mas gak usah bohong, deh! Baju di walk in closet gak ada yang masuk mas, sama aku. Cuma legging yang masih bisa masuk. Kaos juga sekarang aku harus pake punya Mas. Karena cuma itu yang muat."
"Kenapa gak beli, Yang? Ya udah gimana kalau kita belanja ya sekarang?" bujuk Logan.
"Gak mau, Mas. Nanti udah lahiran aku harus bisa balik lagi berat badannya. Kalau aku punya baju ukuran besar nanti aku malah keenakan." Rania memang bertekad akan segera menjalani program menguruskan badannya kembali saat sudah melahirkan nanti.
"Tadi kata Dokter Ane juga, kamu pasti bakal balik lagi seperti semula pas kamu udah mulai menyusui. Kan nanti kamu bakal produksi ASI."
"Tapi, Mas. Mama aja gak jadi gemuk pas hamil. Bunda juga sama. Aku kok malah kayak gini." ucap Rania frustasi.
"Gak apa-apa. Yang penting aku masih sayang, 'kan." Logan tersenyum tengil.
Rania tersenyum tersipu, "Dasar." Kemudian memeluk sang suami. "Aku pasti kurus lagi, Mas. Aku pasti balik lagi jadi cantik kayak dulu,"
"Kamu cantik mau gimanapun juga, Yang. Aku tetep sayang." ucap Logan sungguh-sungguh.
"Jangan gitu." Rania memukul pelan lengan Logan, "Mas juga harus mau aku kurus lagi."
"Iya deh iya." Logan menyerah.
"Mas, jadi udah ini berangkat ke Medan?" tanya Rania mengalihkan topik pembicaraan.
"Iya, Yang. Jadwal aku visit hotel disana. Dari Medan aku ke Riau, terus ke Batam. Udah itu aku bakal cuti, nunggu kamu lahiran. Gak sabar ketemu jagoan kita 4 minggu lagi." ucap Logan sumringah. Putra pertama mereka sudah bisa dipastikan berjenis kelamin laki-laki, dan Logan sangat menantikannya.
"Aku pengen ikut." Rania merajuk.
"Gak boleh, Yang. Kamu udah 8 bulan sekarang. Dokter Ane juga gak ngizinin kamu pake pesawat."
__ADS_1
"Tapi bakal lama gak ketemu sama Mas." Rania masih merajuk.
"Cuma 2-3 minggu, Yang. Aku janji bakal cepet beresin kerjaan aku disana."
Akhirnya mobil mereka sampai di halaman rumah Carla.
"Mas hati-hati ya." Rania mencium tangan Logan dengan penuh hormat. Logan membalasnya dengan mencium punggung tangan Rania dan juga kening kemudian bibirnya.
"Sampai ketemu ya, Sayangku."
Tangannya memegang perut Rania yang sudah semakin membesar, "Ayah pergi dulu ya, jagain Ibu." ucapnya pada sang calon bayi.
Setelah itu Rania turun sedangkan Logan berangkat menuju bandara.
"Gimana anak papa sama cucu papa?" tanya Rendra ketika Rania sudah berada di dalam rumah Carla.
"Sehat, kok, Pap." jawab Rania.
"Syukurlah, " Rendra memeluk sang putri dengan gemasnya.
"Papa jadi makin sering meluk-meluk Rania, kenapa sih Pap?"
"Masa sih?" Carla ikut nimbrung.
"Iya, Yang. Aku sama Nindi ngira dulu Rania cacingan. Tapi seudah dikasih obat cacing pun badannya gak bisa gemuk padahal makannya banyak. Tapi liat sekarang pas hamil malah jadi sechubby ini. Gemas banget jadinya." Rendra semakin erat memeluk sang putri.
"Coba dulu Rania jadi model. Pasti banyak yang pada iri. Banyak makan tapi gak gemuk-gemuk" ucap Carla.
"Dulu Rania sempet loh, Bun, ditawarin jadi model waktu awal masuk SMA."
"Masa sih, Nak? Terus kamu terima?" tanya Carla penasaran.
"Enggak, Bun. Papa gak ngizinin. Rania gak boleh dance, gak boleh jadi model. Padahal Rania ada bakat disana loh, Bun."
"Maafin Papa ya, Sayang." ucap Rendra penuh sesal.
__ADS_1
"Rania tahu kok, Papa gak ngebolehin Rania jadi model dan dance gara-gara badan Rania mirip 'kan sama Bunda?" dengus Rania.
"Kamu harus bisa ngertiin Papa, Nak. Kamu anak Papa dan Mama, tapi malah mirip sama Carla. Jujur Papa sempet kesel sendiri waktu itu." Rendra meraih tangan Carla.
"Iya aneh banget, ya. Rania itu dari bentuk tubuh sama banget sama aku, Yang. Jago dance juga sama kayak aku dulu waktu SMA. Padahal aku gak ada hubungan darah sama Rania." Carla keheranan sendiri.
"Hubungan darah emang gak ada, Bun. Tapi ikatan batinnya kuat banget. Itu karena Papa selalu inget sama Bunda. Sejak Rania di dalam perutnya Mama, yang Papa pikirin itu cuma Bunda." ucap Rania dengan maksud menggoda sang ayah dan ibu sambungnya.
"Emang benar kayak gitu ya, Yang?" tanya Carla sumringah.
"Yah... Kurang lebih gitu." ucap Rendra malu-malu.
"Tuh sekarang ngaku," Rania mendorong Rendra menjauh darinya, "udah sana Papa peluk Bunda aja. Jangan peluk Rania ya. Rania udah ada yang punya."
"Siapa yang punya kamu? Logan? Gak bisa. Kamu tetep punyanya Papa. Kamu anak kesayangan Papa sampai kapanpun." Bukannya memeluk sang istri, Rendra malah memeluk Rania lebih erat.
"Bu, Pak, Bu Nindi dan Pak Nabil sudah datang." Bi Ninah datang dari arah pintu sambil mengumumkan kedatangan ibu dan ayah sambung Rania. Kedua tangannya membawa koper milik Nindi.
"Rame bener ini?" ucap Nindi menghampiri Carla, Rendra, dan Rania yang sedang bercengkrama di ruang tengah.
Mereka bersalaman dan saling berpelukan satu sama lain. Kemudian Mereka duduk kembali di ruang tengah itu. Sampai Rania melahirkan Nindi akan menginap menemani sang putri.
Nindi duduk di sebelah Rania, "Gimana tadi kontrolnya, Sayang?"
"Bagus Mah, kepalanya udah di bawah. Semoga lancar ya, Mah. Rania nanti lahirannya." ucap Rania gugup.
"Kamu pasti bisa, Sayang." ucap Nindi menguatkan.
"Makasih ya, Mah. Mama temenin Rania terus ya." Rania merangkul tangan sang Ibu, "Mama sama Ayah nginep 'kan disini?"
"Mama aja, Sayang. Selama Logan gak ada Mama nginep disini. Tapi kadang Mama pulang juga soalnya kasian Eyang sendirian sama Berlin doang. Mas Nabil juga gak bisa kalau nginep."
"Padahal Ibu sama Berlin suruh nginep disini aja, Nin." ucap Rendra menyarankan.
"Kayaknya gak tepat Pak Rendra masih manggil ibu mertua saya dengan sebutan 'Ibu'." ucap Nabil dengan nada yang dingin.
__ADS_1
"Mas.." bisik Nindi seperti memperingatkan Nabil.
Rendra tertawa canggung, "Kamu ada masalah apa sama saya, Bil? Udah berbulan-bulan sikap kamu dingin pada saya." ucapnya terbawa menahan emosi.