
Hazel dan yang lainnya kini duduk di ruang tengah, mereka langsung membuka makanan yang mereka bawa. Mereka juga terus berbicara tanpa henti hingga penthouse yang asalnya begitu hening menjadi sangat gaduh dengan kehadiran lima orang muda-mudi itu.
Logan menghela nafas seraya berdiri menatap mereka dengan galak.
"Sini, Gan. Duduk, kita makan bareng-bareng pizzanya." seru Nessie.
"Gan, minjem gelas dong. Ini gue keselek." ucap Rifan sambil terbatuk dan menepuk-nepuk dadanya.
"Udah biarin aja. Gak usah dikasih gelas. Suruh siapa main embat sembarangan. Kita 'kan belum mulai makannya." protes Dizza.
"Ya udah gue minum dari botolnya ya, awas kalau pada protes. " ujar Rifan seraya mengambil sebotol cola yang berisi 1.5 liter.
"Jangan dong jorok banget sih, lo. Itu kan buat bareng-bareng. " protes Dizza lagi.
Logan menghampiri mereka dengan membawa beberapa gelas, "Kalian pada ngapain sih kesini?" tanya Logan merasa tidak nyaman.
Rifan dengan segera menyambar salah satu gelas dan mulai menuangkan cola dan meminumnya.
"Kita nganterin itu tuh, member baru kita." ujar Hazel seraya menunjuk ke arah Vino.
"Member baru, lo kira kita boyband." protes Rifan.
"Gue pengen ngomong sama lo. " ujar Vino dengan nada yang serius, membuat situasi yang gaduh seketika hening saat kedua musuh bebuyutan itu saling menatap. Suasana menjadi sangat canggung.
__ADS_1
"Ikut gue." ucap Logan seraya berjalan menuju area outdoor penthousenya dimana terdapat kolam renang disana.
Logan menatap riak kolam renang disana. Vino berdiri tidak jauh dari Logan.
"Mau ngomong apa? " tanya Logan tanpa menatap ke arah Vino.
"Gue mau minta maaf atas kejadian waktu itu." ucap Vino.
Sebenarnya Logan cukup terkejut karena Vino kini meminta maaf padanya, hal yang tidak pernah Logan bayangkan sebelumnya. Namun ia berusaha bersikap biasa tidak ingin menanggapinya secara berlebihan.
"Gue salah udah meluk Rania waktu itu." lanjut Vino, "Gue cuma ngerasa simpati sama dia. Gak ada maksud buat yang lain."
"Lo meluk istri gue masih lo bilang gak ada maksud?" suara Logan pelan dan rendah, tapi terdengar dingin dan membuat merinding.
"Gue udah relain Rania. Gue gak ada maksud buat ngerebut dia dari lo."
"Gue cuma kasian. Dia lagi hamil tapi dia nutupin semuanya demi lo."
"Lo tahu dari mana Rania hamil?! " kedua alis Logan tertaut sedikit merasa tidak rela, Vino tahu Rania hamil lebih awal dari dirinya.
"Gue gak sengaja denger Rania ngobrol sama Dokter Ibra waktu sehabis dia pingsan pas resepsi kalian. Jujur gue marah. Bisa-bisanya lo gak mau dia hamil padahal dia udah berstatus jadi istri lo."
Logan mengepalkan tangannya. Ia tidak terima dengan ucapan Vino.
__ADS_1
"Tapi gue kesini bukan mau mendebat lo. " ucap Vino segera mengklarifikasi. "Gue cuma pengen ngudahin semua ini. Gue udah gak ada rasa sama Rania. Okay, emang belum sepenuhnya, tapi gue lagi berusaha move on dari dia. Gimanapun juga gue sama dia deket pas kalian justru ngejauh. Gue yang paling tahu saat dia sedih sampe nangis gara-gara lo waktu itu."
"Lo mau pamer kalau dulu lo deket sama Rania lebih dari gue? " ucap Logan sinis.
"Nggak. Gue cuma pengen ngasih tau lo doang, selama gue sama dia deket, bagi dia gue cuma sekedar adik. Sama sekali dia gak pernah nganggep gue lebih dari itu. Sekalipun gue selalu mergokin dia lagi kalut dan selalu ada buat dia, gue gak pernah ada di hati dia. Cuma lo yang ada di pikiran dia."
Logan tertegun mendengarnya.
"Secinta itu Rania sama lo. Selama lo nyuekin dia waktu itu, dia gak pernah nyalahin lo, dia selalu sabar. Dia selalu nutupin semuanya. Padahal dalam hatinya, Rania nangis. Sekarangpun sama. Setelah kalian nikah, terus dia hamil tapi ternyata lo belum mau punya anak, sekali lagi dia berkorban perasaannya demi lo. Sebagai orang yang dulu hampir selalu ngeliat dia nangis, jujur gue gak terima. Gue kira seudah kalian nikah, dia akan bahagia. Tapi ternyata Rania masih harus ngebatin gara-gara lo. Gue cuma pengen sekali lagi memperingatkan lo. Kalau lo masih sia-siain Rania, gue gak akan segan buat ngambil dia dari lo."
Logan tertawa kecut, "Katanya lo lagi berusaha move on. Tapi ternyata lo masih pengen ngambil Rania dari gue?"
"Itu karena gue gak mau ngeliat Rania sedih. Jadi kalau lo gak bisa bikin dia bahagia, gue yang akan ada buat dia sekalipun cuma gue cuma dianggap sekedar adik sama dia."
Logan terdiam. Mendengar ucapan Vino membuatnya merasa tertampar. Padahal Vino begitu menyayangi Rania, memikirkan Rania, dan senantiasa berada di samping Rania saat Rania membutuhkan seseorang. Padahal bisa saja Rania dulu melupakan Logan dan memilih Vino yang sudah begitu baik padanya, tapi Rania masih tetap memilih Logan.
Logan teringat beberapa waktu terakhir yang dia lewati dengan begitu egoisnya. Hingga Logan tersadar, dia sama sekali tidak tahu apapun mengenai perasaan Rania selama ini. Padahal Rania pasti memiliki unek-unek dalam hatinya. Namun Rania mencoba meredamnya karena tidak ingin menambah beban pikiran Logan. Rania selalu memikirkan kepentingan Logan, tapi Logan justru tidak pernah mengetahui apapun mengenai perasaan Rania selama ini. Dia sibuk, makanya tidak bisa memberikan Rania perhatian. Dia banyak masalah, makanya tidak bisa memberikan Rania pengertian. Dia terlalu sibuk dengan masalahnya, dan selalu menjadikan masalahnya di kantor sebagai pembenaran.
"Itu doang sih yang mau gue omongin." suara Vino membuyarkan pikiran Logan, "Oh gue hampir lupa. Satu lagi, jadi CEO itu pasti berat banget. Tapi kalau lo masih suka ngeluh dan minta orang lain buat ngasihanin lo, masih pantes lo dibilang CEO?"
Emosi Logan seketika berada di puncaknya. Ia berjalan mendekat pada Vino dan menarik kerahnya, "Tahu apa lo tentang perusahaan? Jangan asal ngomong kalau lo gak tau apa-apa!"
Seketika Hazel dan yang lainnya, datang menghampiri keduanya. Sejak keduanya berada di area kolam renang, mereka terus merasa waspada karena khawatir akan terjadi baku hantam lagi diantara keduanya.
__ADS_1
Vino menanggapinya dengan tenang. "Kalau gue mau, sekarang juga gue bisa jadi CEO dari salah satu bisnis kakek gue. Gak cuma lo yang belajar dari kecil tentang bisnis. Gue juga sama kayak lo, sebagai cucu pertama dari anak pertama kakek gue, gue belajar bisnis dari kecil. Lo pasti udah pernah denger quotesnya Jack Welch: 'sebelum menjadi pemimpin, kesuksesan adalah tentang mendewasakan dan mengembangkan diri. Ketika kamu sudah jadi pemimpin, kesuksesan adalah tentang mendewasakan dan mengembangkan orang lain'."
Vino melepaskan cengkraman tangan Logan pada kaosnya dan melanjutkan, "Dewasain dulu diri lo. Kalo dikit-dikit aja lo masih gampang marah kayak gini, kapan lo bisa jadi CEO yang sebenarnya? "