My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 5: Nyonya Besar Logan Enterprise


__ADS_3

"Surprise." ucap Rania tersenyum pada suaminya itu.


Rania memperlihatkan paper bag yang dibawanya. Logan tersenyum saat tau Rania membawa paper bag yang berasal dari sebuah restoran sushi.


"Kamu pasti belum makan." Rania menebak.


"Pak Logan sudah saya siapkan makanan saat di hotel tadi, namun beliau mengatakan bahwa dia tidak lapar, Bu." ucap Davin sebelum Logan menjawab.


"Kamu tuh. Kan aku udah sering ngingetin buat makan. Untung aku kesini. Pokoknya kamu harus makan dulu, baru setelah itu kamu boleh lanjut kerja." ucap Rania.


"Kerjaan aku masih banyak, Ran." ucap Logan sambil memandang kesal pada Davin.


"Makan itu paling lama juga 10 menit, Gan. Malah lebih lama debatnya daripada makannya kalo kamunya terus-terusan kayak gini." ucap Rania.


Logan menghela nafas, kemudian tersenyum pada sang istri.


"Yauda deh tapi makannya di ruangan aku aja ya. Biar aku bisa sambil kerja." ucap Logan.


"Iya yauda kalo gitu. Nih kamu bawa. Aku pulang ya." Rania menyodorkan paper bag berisi sushi yang dibawanya.


Logan mengambil paper bag itu dan menggenggam tangan Rania dan membawanya menuju lift.


"Kamu ikut dulu yuk ke ruangan aku." ucap Logan saat menunggu lift terbuka.


"Emang gapapa? Aku gak akan ganggu?" tanya Rania.


"Ya ngga dong. Kamu kan istri aku." ucap Logan.


Pintu liftpun terbuka, Logan, Rania, dan Davin masuk ke dalamnya. Lift berhenti di lantai 60. Merekapun keluar dari lift. Rania terpana melihat interior mewah bergaya modern minimalis di sepanjang lorong menuju ruangan Logan.


Terdapat sebuah meja mirip dengan meja resepsionis berada tepat di depan lift. Dua orang perempuan muda berseragam rapi berdiri dan membungkuk kepada mereka. Rania tersenyum melihat mereka, kemudian Davin menghampiri dua perempuan itu. Rania dan Logan terus berjalan menuju ujung lorong dan terdapat sebuah pintu dengan papan aklirik berpadu logam bertuliskan: Logan Victor, CEO.


Logan membuka pintu itu dan Rania terkesiap melihat interior bergaya minimalis modern dari ruangan itu jauh lebih mengesankan lagi. Belum lagi pemandangan yang menjadi latar meja Logan yang menampilkan pemandangan lantai 60. Rania merinding, mengingat ini semua adalah milik suaminya. Rania masih belum bisa mempercayai bahwa ia sudah menjadi nyonya besar Logan Enterprise.


"Ran, gapapa kan kalo aku sambil kerja?" Suara Logan membuyarkan lamunan Rania. Logan membawa sebuah kursi dari meja oval yang ada di salah satu sisi ruangan tersebut dan meletakkannya di dekat kursi kebesarannya.


"Iya gapapa." Rania dengan sigap membuka paper bag dan menyajikan sushi di meja Logan, kemudian duduk di kursi yang disediakan oleh Logan.


Logan menyalakan laptopnya dan membuka beberapa berkas. Sushi yang dibawakan oleh Rania sama sekali tidak disentuhnya. Tatapannya fokus pada layar laptop.


'Pantesan aja Logan sering lupa makan. Ternyata kalo lagi kerja dia bener-bener fokus.' batin Rania.

__ADS_1


Raniapun mengambil sepotong sushi dengan sumpit dan menyuapi Logan.


Logan memandang ke arah Rania.


"Kamu kerja aja, biar aku yang suapin." ucap Rania.


Logan tersenyum dan membuka mulutnya, seraya berkata, "maaf ya, soalnya ada deadline yang harus aku selesaiin hari ini."


"Iya gapapa, sambil makan ya." ucap Rania sambil menyuapi Logan sepotong sushi lagi.


"Ran, kayaknya aku baru liat baju kamu." ucap Logan, matanya masih tertuju pada layar.


"Iya tadi aku ke mall dulu sebelum kesini, soalnya aku kan gak bawa banyak baju pas ke Jakarta. Terus masa aku ke kantor kamu pake baju seadanya."


Logan berhenti memainkan jarinya di atas keyboard laptop dan memandang ke arah Rania.


"Aku beneran gak kepikiran soal itu, Ran." Loganpun meraih HPnya dan membuka sesuatu di HPnya.


HP Rania tiba-tiba berbunyi. Rania meraih HPnya yang terletak di dalam tasnya dan membukanya. Terdapat notifikasi transfer dari Logan sebesar 500 juta.


"Gan, ini apaan? Kok banyak banget uangnya." mata Rania terbelalak sempurna, masih belum percaya dengan jumlah nol yang ada di nominal uang yang ditransfer oleh Logan.


"Kamu pake ya buat kebutuhan kamu. Kamu beli apapun yang kamu mau sama uang itu. Tapi maaf ya, aku gak bisa anter kamu belanja." ucap Logan kembali fokus pada laptopnya.


"Ran, kamu sendiri bilang waktu itu, kalo sama istri aku wajib memenuhi segala kebutuhannya. Sekarang kamu istri aku, jadi aku bakal kasih apapun buat kamu."


Rania ingat ia mengatakan itu saat mereka dalam perjalanan pulang dari kencan yang gagal ke Dufan waktu itu. Rania menghentikan keinginannya untuk berdebat masalah ini. Baginya uang ini sangat banyak, tapi bagi Logan uang ini mungkin tidak seberapa. Ia harus beradaptasi dengan gaya hidup baru sebagai istri seorang Logan Victor.


"Makasih ya." ucap Rania akhirnya. Logan tersenyum melihat Rania yang tidak banyak protes seperti biasanya.


Rania kembali menyuapi Logan sampai sushi itu habis. Ia memberikan minum pada Logan.


"Aku pulang ya." ucap Rania. Logan mengalihkan pandangannya pada Rania sejenak.


"Kamu gak bisa disini aja?" tanya Logan.


"Kalo aku disini, ntar aku malah ganggu. Nanti kerjaan kamu gak selesai."


Logan menyentuh pipi Rania, dan mendekatkan bibirnya pada bibir Rania. Logan mencium bibir sang istri beberapa saat, kemudian melepaskannya. Ini pertama kalinya Logan mencium Rania setelah mereka resmi menjadi suami istri.


"Makasih ya, Ran. Kamu udah nemenin aku makan." ucap Logan masih menatap Rania.

__ADS_1


"Sama-sama. Kamu semangat kerjanya, aku pulang dulu ya." Rania meraih tangan Logan dan menciumnya, sebagai tanda ia menghormati sang suami.


Rania membawa kembali paperbag yang kosong itu, Logan mengantar Rania sampai pintu ruangannya. Setelah melambaikan tangannya Rania pergi dan berjalan menuju lift.


"Bu Rania, sudah mau pulang?" tanya Davin saat Rania tiba di meja sekretaris.


"Iya, Pak. Saya cuma pengen mastiin suami saya makan sebelum lanjut kerja. Saya permisi ya, Pak." ucap Rania.


"Sebentar, Bu. Saya ingin memperkenalkan mereka pada bu Rania." ucap Davin pada dua perempuan muda yang duduk di meja sekretaris. Kedua perempuan itu segera menghampiri Rania.


"Ini adalah sekretaris Pak Logan, Fany dan Gina. Selain pada saya, Bu Rania bisa meminta bantuan apapun pada mereka. Saya pamit, Bu." ucap Davin kemudian berjalan memasuki ruangan Logan.


"Apa kabar, Bu Rania. Senang bisa bertemu dengan Bu Rania. Saya Fany dan ini Gina. Kami sekretarisnya Pak Logan. Jika ibu membutuhkan sesuatu silahkan hubungi saya." Dua perempuan itu mengulurkan tangannya pada Rania, dan Rania menyambutnya. Fany juga memberikan kartu namanya.


"Makasih ya, udah bantu suami saya. Kalian kalo ada apa-apa hubungi saya, terutama kalo suami saya belum makan." ucap Rania.


"Baik, Bu. Mulai sekarang kami akan mengabari ibu jika ada sesuatu." ucap Fany yang terlihat lebih senior dari Gina.


"Kalian gak usah ikut-ikutan formal kayak Pak Davin. Nyantei aja ya sama saya." ucap Rania ramah karena kedua perempuan itu begitu formal pada Rania.


Fany dan Ginapun tertawa kecil mendengar Rania yang memperlakukan mereka dengan santai.


"Baik bu." ucap keduanya.


"Mbak Fany, kayaknya saya pengen ngobrol sama mbak dulu sebentar boleh?" tanya Rania. Rania menyebut Fany dengan sebutan 'mbak' karena sepertinya usianya berada di atas Rania.


"Boleh, Bu. Silahkan kita ke lounge aja ya, Bu. Biar enak ngobrolnya." ucap Fany dengan cara bicara yang lebih santai.


Fanypun membawa Rania ke ruangan lain di lantai itu. Rania masuk ke lounge yang masih berada di lantai 60. Ruangan itu lebih mewah dari kantor Logan. Terdapat beberapa set sofa, meja bar, dan juga beberapa pajangan. Rania duduk di salah satu sofa yang menghadap ke pemandangan lantai 60. Fany datang dari pantry yang terdapat di sudut ruangan dengan membawa secangkir teh untuk Rania.


"Makasih." ucap Rania saat Fany meletakkan cangkir di depannya.


"Mbak Fany udah lama kerja disini?" tanya Rania membuka obrolan.


"Sudah sekitar 7 tahun, Bu. Saya awalnya sekretaris mendiang Pak Faris, dan setelah itu Pak Logan meminta saya jadi sekretarisnya setelah beliau diangkat menjadi CEO tahun lalu."


"Berarti mbak udah kenal Logan dari lama?"


"Betul, Bu. Saya sudah mengenal pak Logan dari beliau masih umur 12 tahun. Saya sendiri gak nyangka Pak Logan sekarang udah jadi CEO." Fany teringat pertama kalinya melihat Logan saat Logan masih SD.


"Syukur deh kalo gitu. Saya berarti ngobrol sama orang yang tepat." ucap Rania.

__ADS_1


Ia mengambil cangkir dan menyesapnya, kemudian berkata. "Mbak, saya pengen tau seperti apa Logan dulu."


"Boleh bu, ibu pengen tau soal apa tentang Pak Logan?" tanya Fany.


__ADS_2