
Setelah bertemu dengan Nindi dan Nabil, Rania kembali ke apartemennya. Saat di lift ia melihat Hpnya. Chatnya tadi hanya dibaca oleh Logan.
Rania menghela nafas, "sampai kapan kamu bakal diemin aku kayak gini, Mas." gumamnya.
Sesampainya di apartemen, Logan terlihat sudah pulang. Sepatu yang dikenakannya tadi pagi sudah berada di rak sepatu. Raniapun mengecek ke ruang kerja Logan, dan mengetuk pintu.
"Mas, udah makan? Mau aku siapin makan?" tanya Rania.
Logan masih sibuk di depan laptopnya, "Gak usah. Aku udah makan." jawabnya tanpa menoleh ke arah Rania.
Raniapun tidak memperpanjang lagi obrolan, karena ia tahu akan percuma saja. Logan akan seperti itu, mendiamkannya. Sejujurnya Rania sudah merasa lelah. Entah sudah berapa kali ia harus memendam rasa sedih dan menghadapi sensitivitas akibat kehamilannya sendirian. Sejujurnya Rania ingin bermanja-manja pada Logan, pergi memeriksakan kandungannya didampingi dengan Logan, namun semuanya hanya menjadi angan-angan Rania saja.
Rania sampai di kamarnya, dan melihat ke salah satu nakas di sisi tempat tidurnya. Hadiah ulang tahun dari Rania masih teronggok disana, di atas nakas itu. Tidak tersentuh sama sekali. Padahal sudah sekitar 2 minggu sejak hari ulang tahun Logan. Raniapun tidak mencoba untuk memberikannya langsung. Ia merasa enggan. Khawatir akan diperlakukan dingin seperti tadi.
Beberapa hari kemudian Rania tengah menyiapkan makan malam. Tiba-tiba terdengar bel berbunyi. Segera Rania membukanya.
"Papa? Bunda?" Rania terkejut melihat Rendra dan Carla yang seharusnya masih berada di luar negeri, kini ada di hadapannya.
Wajah Rendra terlihat murka, "Beresin baju-baju kamu. Ikut Papa sama Bunda." Rendra masuk begitu saja ke dalam rumah.
"LOGAN!" teriaknya ketika sampai di ruang tengah.
"Pap, kenapa sih teriak-teriak. Mas Logan ada di atas. Aku panggilin ya." Seakan tidak mendengar ucapan Rania, Rendra memegang tangan Rania dan berteriak lebih keras, "LOGAN!! KESINI KAMU!"
__ADS_1
Tiba-tiba sosok Logan muncul. Dengan wajah bingung ia menuruni tangga. Wajah Rendra sudah sangat memerah akibat amarah yang dirasakannya.
"Papa? Bunda? Kapan pulang?" Logan mengulurkan tangannya pada Rendra, namun dengan segera Rendra menangkis tangan Logan lumayan keras. Loganpun terperangah dibuatnya.
"Kamu lupa dengan apa yang udah kamu janjikan sama Papa dulu? Kalau kamu udah gak bisa membahagiakan Rania, kembalikan dia baik-baik pada Papa!"
"Maksud Papa apa?" tanya Logan. "Siapa yang mau ngembaliin Rania ke Papa?"
"Liat dia," Rendra mengarahkan tatapannya pada Rania sekilas, "Anak Papa lagi hamil. Dia terpaksa sembunyiin kehamilannya dari semua orang karena kamu...!!" Rendra berhenti sejenak menghilangkan emosinya.
"Kamu belum pengen punya anak?! Alasan macam apa itu?! Ini adalah hal paling kekanak-kanakan yang pernah papa denger seumur hidup papa! Daripada kamu nyuekin dia kembalikan Rania ke papa! Biar papa yang jagain dia!" lanjut Rendra. Wajah Logan memucat. Dia seperti orang yang tertangkap basah mencuri sesuatu.
Logan melihat ke arah Rania, seakan menyalahkan Rania. Kepala Rania terus tertuntuk, tidak berani melihat ke arah Logan.
Logan bungkam. Ia tahu ia salah, tapi ia tidak bisa membohongi hatinya yang masih sangat keberatan dengan kehadiran seorang anak di antara mereka.
"Kalau kamu gak mau jadi ayah dari anak yang Rania kandung, gak apa-apa! Papa masih bisa jadi kakek sekaligus ayah buat dia!" suara Rendra terus menggema di penthouse itu. "Ran, sekarang beresin barang-barang kamu! Ikut Papa sama Bunda sekarang juga."
"Tapi Rania itu istri Logan, Pap! Papa gak bisa seenaknya bawa Rania pergi!" Logan terbawa emosi.
"Bisa-bisanya kamu masih nganggep Rania sebagai istri kamu?! Dimana otak kamu! Kalau kamu nganggep dia istri kamu, kenapa kamu gak mau dia hamil! Dan seudah dia hamil, kamu belum juga bisa nerima kenyataan! Buat apa Papa masih mercayain Rania sama laki-laki kayak kamu! Kalau kamu masih belum siap, kenapa kamu nekat nikahin Rania waktu itu! Harusnya kamu pikirin mateng-mateng! Nikah itu bukan main-main, Logan!"
"Jadi semua salah aku lagi?" Logan kini tersulut emosi. "Aku cinta sama Rania, makanya aku nikahin dia, Pap! Biar papa percaya dan ngerestuin hubungan aku sama Rania makanya aku nikahin dia di usia aku yang baru 18 tahun! Kalau gak gitu emang Papa bakal ngerestuin aku? Nggak, kan? Papa pasti cuma nganggap aku bocah ingusan yang cuma main-main sama gurunya sendiri. Sekarang salah aku juga kalau aku belum siap jadi ayah?! Aku udah minta Rania buat pasang pengaman tapi kenapa dia malah tetep hamil?!"
__ADS_1
"Papa udah salah besar ngerestuin anak bau kencur kayak kamu nikahin anak kesayangan Papa. Udah sekarang kalian udahan aja! Ran, beresin barang-barang kamu!" teriak Rendra. Ia tidak habis pikir dengan Logan.
Sedangkan Rania, ia begitu merasa bersalah pada Logan. Juga pada semua orang tuanya. Seharusnya ia tetap bungkam. Maka tidak akan ada pertengkaran ini. Dilemanya, dia juga lelah diperlakukan seperti orang asing oleh suaminya sendiri.
"Nggak, Pap. Rania tetep disini." ucap Rania, membuat Rendra dan Carla yang tadi hanya diam melihat pertengkaran antara suami dan putranya sendiri, menatap penuh tanya pada Rania. Bisa-bisanya Rania masih mau bertahan disini.
"Ran, sebaiknya kamu ikut sama bunda sama papa dulu ya, Nak." bujuk Carla.
"Bun!" Teriak Logan, "Maksud Bunda apa?! Rania itu istri aku! Bunda dan Papa denger sendiri kan, kalau Rania gak mau pergi dari sini?!"
"Kamu itu lagi gak bisa mikir jernih, Logan." ucap Carla.
"Udah sekarang kamu ikut Papa." Rendra menarik tangan Rania, "Yang, kamu urusin tuh anak kamu." ucap Rendra pada Carla.
"LOGAN GAK NGIZININ RANIA PERGI, PAP!" amuk Logan. Namun Rendra terus melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, tidak menggubris amukan Logan hingga akhirnya sosok keduanya tidak terlihat lagi.
Logan beranjak dari posisinya dan berniat menyusul Rendra dan Rania, namun tangannya dicengkram oleh Carla.
"Biar Rania pergi dulu. Kamu butuh waktu buat mikirin semuanya." ucap Carla.
"Bisa-bisanya Suami Bunda itu bawa-bawa istri aku! Bunda jangan coba-coba ya ngalangin aku!" ucap Logan masih dikuasai emosinya dan kembali berjalan menuju pintu.
"Terus disini kamu mau nyuekin dia lagi? Ngebiarin dia hamil sendirian? Bunda bener-bener gak nyangka kamu bisa kayak gini, Nak. Bunda sempet lupa kalo darahnya Faris itu mengalir di tubuh kamu."
__ADS_1
Seketika Logan menghentikan langkahnya, ia membalikkan badannya bersiap untuk mendebat sang bunda.