My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 20: Nasihat Orang Tua


__ADS_3

Rendra menatap tajam pada Logan. Loganpun demikian.


"Kamu berani sekali, larang papa meluk anak kesayangan Papa?" ucap Rendra dengan nada galaknya. "Rania akan selalu jadi anak Papa, mau dia udah umur berapapun. Papa akan tetap peluk dia kalau ketemu!"


"Tapi Rania sekarang istri Logan, Pap. Logan gak mau istri Logan dipeluk sama cowok lain, termasuk papanya sendiri!" Logan tidak mau kalah, wajahnya menantang sang ayah mertua sekaligus ayah sambungnya itu.


"Kenapa? Kamu cemburu Papa peluk istri kamu?" tanya Rendra mendekat pada Logan. "Kamu beneran masih bocah!"


Rania segera menengahi keduanya.


"Ya ampun. Papa ih udah dong, masa debat gara-gara hal kayak gitu?" ucap Rania pada Rendra. Kemudian menatap Logan dengan galak, dan berkata dengan berbisik, "Yang, kamu kenapa sih? Kok gitu sama Papa?"


"Logan bener loh, Ren. Rania udah waktunya gak dipeluk-peluk lagi sama kamu. Dia udah besar. Udah nikah. Kalo suaminya gak ngebolehin buat kamu peluk-peluk lagi, ya kamu harus ngikut." ucap Eyang Arum menasehati. Rania seketika memijit keningnya, merasa perdebatan ini akan menjadi panjang.


"Tuh, Eyang aja ngomong gitu. Papa harus berhenti peluk-peluk Rania, Papa peluk aja Bunda yang udah jelas-jelas sekarang istri Papa!" ucap Logan melanjutkan perdebatan karena didukung oleh sang nenek.


"Ya beda dong. Rania itu anak papa satu-satunya dan akan selalu jadi anak Papa. Kamu gak bisa larang-larang Papa buat peluk Rania!" Rendra kemudian menarik tangan Rania dan merangkul putrinya, menjauh dari Logan.


"Bun, suaminya dikasih taulah masa istri orang dipeluk-peluk!" ucap Logan pada sang Bunda.


Bukannya tegang, perdebatan antara Rendra dan Logan malah membuat semua orang tertawa gemas dibuatnya. Melihat Logan yang cemburu pada ayah mertuanya sendiri memang membuat semua orang menjadi tidak habis pikir.


"Kamu kenapa sih? Rania itu anaknya Papa kamu, ya udah dipeluk juga gak apa-apa. Kalo Rania dipeluk sama Nabil, baru kamu marah. Heran Bunda sama kamu." Carla menimpali putranya.


"Ya ampun, Logan. Makanya kalian cepet punya anak deh. Biar papa kamu nanti gak akan ngerecokin Rania lagi. Nanti Papa kalian pasti lebih milih buat meluk-meluk cucunya." ucap Nindi nimbrung.


Seketika Logan terdiam. Rania menyadari suaminya itu merasa tidak nyaman dengan ucapan sang ibu.


"Udah ah semuanya. Pokoknya Rania akan tetep peluk Papa seperti biasa." ucap Rania sambil memeluk sang ayah sekilas dan kemudian menghampiri Logan dan melingkarkan tanganya pada lengan Logan, dan memukulnya pelan, berkata berpura-pura galak, "dan kamu, udah dong bercandanya!"


"Sakit, Yang." protes Logan, berpura-pura sakit.


Beberapa saat mereka masih bercengkrama dan bercanda satu sama lain. Setelah itu mereka mulai mendiskusikan acara pernikahan Nindi dan Nabil yang hanya tinggal beberapa hari lagi. Rendra dan Carla secara khusus pulang ke Indonesia di tengah-tengah lawatan mereka ke berbagai negara. Setelah menghadiri pernikahan Nindi nanti, mereka akan kembali melanjutkan perjalanan mereka keliling dunia.


Saat ditanya mereka akan mengadakan resepsi atau tidak, Rendra dan Carla dengan kompak mengatakan tidak. Mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu mereka yang berharga setelah berpisah 24 tahun.


Kemudian pertanyaan kembali kepada Rania dan Logan.


"Terus kalian kapan bakal ngadain resepsi? Katanya setelah Nindi dan Nabil nikah?" tanya Carla pada Logan dan Rania.


"Mungkin akhir tahun ini deh, Bun. Logan masih sibuk banget di kantornya." ucap Rania.

__ADS_1


"Ya udah nanti kabarin aja, biar Bunda sama Papa nanti pulang dulu buat nikahan kalian." ucap Rendra.


"Makasih ya Pap, Bun. Semuanya. Sebenernya Rania pengennya juga udah aja gak usah ada resepsi, tapi Pak Davin bilang resepsinya harus diadain. Buat jalin bisnis juga soalnya." ucap Rania.


"Iya dong, Ran. Semua orang udah pada nanyain kapan resepsi kalian. Juga resepsi ini bukan tentang keluarga aja, tapi rekan bisnis juga. Jadi harus tetep diadain." ucap Carla yang berpengalaman menjadi seorang nyonya besar. Ia memahami bagaimana keterkaitan acara-acara besar yang diadakan dengan terjalinnya hubungan bisnis.


Setelah pertemuan itu, mereka makan malam bersama. Setelah itu grup obrolan terbagi dua. Para pria, Logan, Nabil, dan Rendra memilih untuk menonton acara sepak bola di TV di ruang tengah. Sedangkan para wanita, Eyang Arum, Carla, Nindi, dan Rania duduk di beranda rumah.


"Gimana kamu sama Logan, Nak? Logan ngerepotin gak?" tanya Carla membuka obrolan.


"Nggak kok, Bun. Logan malah dewasa banget. Rania malah ngerasa kalau Logan udah sibuk kerja, dia kayak bukan remaja yang umurnya masih 18 tahun. Tapi Rania jadi sedih juga soalnya Logan jadi kayak gak menikmati masa mudanya gitu, Bun." ucap Rania mencurahkan kekhawatirannya, "Tapi akhir-akhir ini dia udah mulai main game lagi, berenang lagi."


Carla menghela nafasnya dengan wajah cemas. "Syukur deh kalau gitu. Bunda tau, Logan pasti ngerasa ada tanggung jawab yang sangat besar yang harus dia pikul. Walaupun Bunda tau Logan anak yang pintar dan bisa diandalkan, Bunda juga sering ngerasa cemas. Terutama Bunda takut Logan kena mental, diremehkan sama para dewan direksi dan pemegang saham. Tapi gimana lagi, Faris cuma mau Logan yang bisa gantiin posisi dia."


"Makanya, Ran, kamu harus bisa mendampingi Logan dengan baik." Nindi menasehati, "Sekarang kamu memang istrinya Logan, tapi kamu juga harus bisa berperan seperti ibu yang merawat dia, juga teman yang selalu ada buat dia. Logan butuh dukungan yang besar untuk bisa tetap kuat di posisinya sekarang."


"Iya, Ran. Dengerin tuh Mama sama Bunda kamu. Kamu harus bisa lebih dewasa, bukan cuma dari usia aja. Dari pola pikir, dan emosi juga. Kamu harus bisa membantu Logan mengemban tanggung jawabnya yang besar. Eyang yakin walaupun Logan di luar keliatan kuat, tapi ada masa-masa ia merasa sangat tertekan. Kamu sebagai orang terdekatnya harus bisa menguatkannya." Giliran sang eyang kini memberikan wejangan padanya.


Rania sangat bersyukur. Ia memang membutuhkan nasihat-nasihat itu. Rania tidak pernah sekalipun bermimpi menjadi seorang istri dari seorang CEO perusahaan besar, terlebih lagi CEO tersebut masih sangat muda. Meskipun sejauh ini Logan mampu menjadi pemimpin yang baik, namun Rania tetap selalu khawatir jika sesuatu terjadi pada Logan.


"Makasih ya Bunda, Mama, Eyang, udah selalu perhatian sama Rania dan Logan." ucap Rania penuh haru. Kemudian ia memegang tangan Carla, "Bun, tolong bimbing Rania ya. Bunda lebih berpengalaman menjadi istri seorang CEO besar. Bunda juga pasti udah kenal banget sama Logan luar dalam. Tolong Bunda selalu kasih Rania masukan ya, biar Rania bisa dampingin Logan sebaik Bunda dampingin Om Faris dulu."


Carla memegang balik tangan Rania, "Kamu tenang aja. Kamu itu perempuan yang hebat, Ran. Bunda sendiri ngerasa lega karena saat Logan harus gantiin Faris, ada kamu yang dampingin Logan. Jadi istri seorang CEO itu berat, Ran. Bunda tau banget itu. Beban kerja Logan akan menjadi beban kamu juga. Mood dia akan menjadi mood kamu juga. Kalian harus saling menjaga dan saling mendukung. Itu kuncinya, Nak."


***


"Macetnya Bandung udah kayak Jakarta, Yang." keluh Logan.


Rania menatap Logan dan tersenyum, "Sabar, Mas."


Sontak Logan menoleh, dan tersenyum canggung, "Mas?"


"Iya, Mas. Tadi 'kan kata Eyang aku harus manggil suami aku dengan sebutan yang lebih hormat. Sekalipun Mas lebih muda dari aku." ucap Rania.


Logan menatap hangat kedua mata Rania, "Kamu gak apa-apa manggil aku itu? Gak canggung? Aku gak apa-apa kok kayak biasa."


Rania menggelengkan kepalanya, "Kita harus nurut apa kata orang tua, Mas. Lagian emang bener kok kata Eyang dan Mama, Mas itu kepala keluarga. Aku sebagai istri harus bisa ngedukung dan hormatin suami aku."


Logan menyentuh puncak kepala Rania, "Makasih ya, Sayangku."


Rania mengangguk seraya meraih tangan Logan dan menciumnya. Logan mengaitkan jari-jarinya ke sela-sela jari Rania dan mengecup tangan Rania juga.

__ADS_1


***


Beberapa haripun berlalu dan hari pernikahan Nindi dan Nabilpun berlangsung. Eyang Arum tidak henti-hentinya meneteskan air mata, terharu, putrinya yang selama hidupnya tidak pernah memikirkan kebahagiaannya sendiri dan hidup demi Rania dan Rendra, kini menemukan tambatan hatinya. Seorang pria baik hati dan menerima Nindi apa adanya, kini telah resmi menjadi suaminya.


Begitu juga Rania, ia tidak berhenti menangis dan memeluk sang ibu. Akhirnya kini Rania merasa lega karena baik ibu dan ayahnya sudah bersama orang-orang yang tepat yang mencintai mereka sepenuh hatinya.


Setelah acara resepsi pernikahan itu, Nabil dan Nindi pergi berbulan madu untuk beberapa hari. Hanya beberapa hari karena kesibukan Nabil yang tidak bisa cuti terlalu lama dari tugasnya sebagai seorang wakil Kapolres. Sedangkan Rendra dan Carla kembali melanjutkan lawatan mereka ke berbagai negara. Logan memberikan Nabil dan Nindi paket luxury honeymoon dan juga fasilitas mewah di Hotel Logan Ritz di Bali sebagai hadiah pernikahan. Begitu juga untuk Rendra dan Carla, Logan memberikan paket liburan menggunakan kapal pesiar yang akan melintasi beberapa negara di Eropa.


Untuk menemani Eyang Arum sampai sang ibu pulang dari honeymoonnya, Rania dan Logan membawa sang nenek juga Berlin menginap di penthousenya untuk beberapa hari. Mereka akan menempati kamar tamu di lantai 2.


Siang itu Logan sudah pergi ke kantor dan Berlin juga sudah berangkat ke sekolah. Rania dan sang nenek duduk di karpet ruang tengah sambil mengobrol ngalor-ngidul.


Tiba-tiba bel berbunyi. Rania segera menghampiri pintu dan seorang driver ojek online datang membawa pesanan Rania, beberapa cup minuman dengan boba juga mie kuah sapi.


"Kamu tumben pesen boba? Bukannya gak suka sama boba?" tanya Eyang Arum.


Rania menghampiri sang nenek dengan keresek besar berisi 5 buah cup boba dan 2 bungkus mie kuah sapi.


"Banyak banget itu pesenan kamu? Mau diabisin semua?" Mata Eyang Arum terbelalak melihat sang cucu membawa 5 buah cup minuman berbahan dasar tapioka itu.


"Tadi Rania bingung. Jadi Rania pesen aja semua yang Rania mau. Kalo gak abis simpen di kulkas aja buat Mas Logan nanti. Dia suka banget sama boba, Eyang."


Rania mengambil 1 cup berisi boba milk tea, menusukkan sedotannya dan kemudian meminumnya.


"Hmmmm, enak banget. Eyang ayo dong diminum juga."


Eyang Arum mengambil salah satu cup dan meminumnya. Kemudian Eyang Arum menengok makanan yang masih berbungkus plastik.


"Ini apa, Ran? Wangi banget?"


Rania membawa dua buah mangkok dan kembali duduk bersila di depan sang nenek.


"Ini namanya niu rou mian, simpelnya sih mie kuah sapi, Eyang. Rania pesen di restoran masakan Taiwan. Enak banget loh. Yuk cobain."


Eyang Arum mencoba mie itu dan mencicipinya.


"Enak gak, Eyang?" tanya Rania yang juga mulai memakan mie itu.


"Enak kok. Tapi tumben kamu pesen makanan begini? Biasanya juga pesennya seblak atau cimol bojot."


"Gak tau, Rania tiba-tiba pengen aja makan ini."

__ADS_1


"Kamu kayak orang lagi ngidam aja, Ran?" canda sang nenek.


Rania seketika tertegun mendengar ucapan Eyang Arum.


__ADS_2