
"Miss mau ikut balapan?!" Dizza masih tidak percaya Rania mengatakan itu.
"Iya. Miss bisa pinjem mobilnya Logan." ucap Rania bersemangat.
Semua tidak ada yang berkata-kata lagi, masih tertegun mendengar ucapan Rania.
"Kenapa?" tanya Rania merasa aneh.
"Miss, kita harus bilang dulu sama Logan. Kita takut kesalahin nanti. Balapan tuh bahaya, Miss." ucap Hazel merasa khawatir.
Rania terlihat kecewa. Tapi yang dikatakan Hazel memang betul. Ia tidak ingin membuat teman-teman Logan mendapat masalah nantinya, mengingat suaminya itu kadang bisa begitu temperamental.
"Ya udah, Miss gak ikut balapannya tapi mau nonton doang boleh 'kan?" tanya Rania.
"Kalo gitu boleh banget, Miss. Miss ikut mobil Dizza aja." ucap Rifan. Dizza mengangguk setuju.
"Nggak, Miss bakal bawa mobil Logan aja ya. Share aja lokasinya, nanti ketemu disana." ucap Rania bersemangat dan berjalan menuju apartemennya untuk mengambil kunci mobil milik Logan.
"Fan, lo ikutin Miss ya. Gue takut ada apa-apa, entar si Logan ngamuk lagi sama kita." ucap Hazel.
"Okay. Diz, lo ikut gue aja." ucap Rifan.
"Iya, ya udah ayo." ucap Dizza
Lift yang dinaiki oleh Rania berhenti di basement. Raniapun melangkah keluar lift dan berjalan menuju garasi mobil Logan. Rania memijit tombol seketika mobil itu berbunyi. Rania merasa sangat bersemangat. Iapun segera masuk ke kursi kemudi mobil sport milik suaminya itu.
Rania mengelus perutnya, "Sayang, pasti kamu deh yang bikin ibu pengen ikut balapan. Sebelumnya ibu takut ngendarain mobil ayah kamu, tapi sekarang ibu justru ngerasa semangat banget pengen ngendarain mobil ini. Okay, kita berangkat ya."
Mobil porche putih itu mulai keluar dari basement, Rifan dan Dizza yang berada di luar gedung apartemen menunggu keberangkatan Rania.
"Eh itu Miss." ucap Dizza. Rifan segera melajukan mobil ferrarinya dan mengekor di belakang mobil porche putih itu.
Jalanan tidak seperti biasanya lengang. Seketika Rania menginjak pedal gas dan membuat mobil itu berlari kencang.
"Miss ngebut banget, Fan." Mata Dizza terbelalak.
"Ternyata Miss Rania bad *** juga." Rifan segera melajukan mobilnya lebih cepat agar bisa menyusul Rania.
Mobilpun kini masuk ke jalan tol dan Rania semakin menggila. Ia mengemudikan mobil sport itu hingga mencapai batas maksimal yang diperbolehkan di jalan tol, ia tidak ingin ditilang jika melebihi kecepatan yang sudah ditentukan. Mobil Rifanpun masih mengekor di belakang mobil Rania.
Kemudian beberapa saat kedua mobil itu keluar dari tol dan melaju menuju sirkuit balapan. Sampai disana mobil sport dengan berbagai tipe dan merek sudah terparkir rapi. Mobil porche Logan segera bergabung dengan mobil-mobil itu. Tidak lama Rifanpun memarkirkan mobilnya di sebelah mobil porche putih itu.
"Miss," Dizza menghampiri Rania yang keluar dari mobilnya. "Miss, aku gak nyangka Miss bisa sengebut itu. Aku serem banget ngeliat Miss kebut-kebutan di jalan tol."
"Iya nih, lo berisik banget teriak-teriak," ucap Rifan nimbrung.
"Iyalah lo bawa mobilnya ngebut banget. Gue kan biasanya juga cuma liat doang, gak ikutan di dalem mobil, " protes Dizza.
"Gue kan ngikutin Miss. Kalo gak ngebut gak akan kekejar Missnya," ujar Rifan.
__ADS_1
Rania hanya tertawa melihat para mantan muridnya itu berdebat.
"Udah, udah, kalian jangan berantem terus. Maaf ya, Miss tadi bikin khawatir. Tapi beneran loh ternyata kebut-kebutan itu seru banget!" ucap Rania semangat.
"Miss, tapi bahaya banget tau. Kita takut Logan marah sama kita."
"Nggak akan kok. Nanti biar Miss yang marahin dia balik kalo mereka protes ke kalian." ucap Rania.
Mereka bertigapun segera bergabung bersama teman-teman komunitas Hazel. Rania sudah beberapa kali bertemu dengan mereka, jadi Rania sudah tidak terlalu canggung untuk berkumpul dengan teman-teman Logan itu.
Usai melihat beberapa lap balapan, Raniapun memutuskan untuk pulang lebih dulu dan mampir ke rumah Nindi. Sampai disana Rania disambut Nindi yang sedang duduk santai di sofa ruang tengahnya. Ia baru saja selesai masak untuk sang suami, Nabil. Biasanya sebentar lagi Nabil akan pulang.
"Kamu mau minum apa?" tanya Nindi pada sang putri.
"Boba ada gak, Mah?" tanya Rania.
"Boba? Bukannya kamu gak suka? Gak ada sayang, paling pesen online dulu." Nindi meraih HPnya.
"Iya ya udah pesenin ya, Mah." Rania kemudian duduk di sebelah Nindi sambil memegang perutnya.
"Sayang, kamu kenapa? Sakit perutnya?" tanya Nindi.
Sontak Rania berhenti memegang perutnya dan secepat kilat mencari alasan. "Enggak, Mah. Agak laper. Pengen makan misoa saus tiram. Kayaknya enak deh, Mah."
"Mau sekalian dipesenin juga?" tanya Nindi.
Nindi merasa sedikit aneh dengan sikap putrinya itu. Biasanya Rania tidak pernah rewel masalah makanan. Namun, kini Rania ingin makan ini dan itu.
drrtt...drrrtt...
HP Rania bergetar, terdapat pesan dari Logan. Ia mengabarkan bahwa ia baru saja memiliki waktu senggang.
[Logan]: Kamu lagi apa\, Yang?
[Rania]: Aku lagi di rumah mama. Mas?
[Logan]: Aku baru beres meeting. Maaf ya jarang ngabarin.
[Rania]: (emoji sedih) Cepet pulang. Aku kangen.
[Logan]: Iya\, sayang. Sabar ya. Bentar lagi kelar kok kerjaannya. Paling cepet lusa udah bisa pulang.
[Rania]: Masih lama\, Mas. Aku pengen liat idung Mas.
[Logan]: Hah? Idung?
[Rania]: Iya Mas\, cepetan selfie. Tapi idung Mas harus keliatan bagus ya.
[Logan]: Ya udah\, video call aja ya.
__ADS_1
[Rania]: Nggak\, Mas. Pengen Mas foto aja. Aku lagi gak kobe\, aku gak mau Mas liat muka aku.
[Logan]: Yang\, aku udah liat muka kamu dengan berbagai ekspresi kali. Udah vicall aja ya.
[Rania]: Foto doang susah amat sih\, Mas!
[Logan]: (mengirim foto asal-asalan)
Wajah Logan terlihat lelah, sehingga ia sangat tidak mood untuk berfoto. Jadi ia melakukan selfie sekali dan langsung mengirimkannya kepada sang istri.
[Rania]: Waaaaa\, ganteng banget!
[Logan]: Masa sih? Itu aku gak kobe deh perasaan.
[Rania]: Yang penting udah liat idung Mas.
[Logan]: Kamu ada-ada aja deh\, Yang.
Merekapun terus ber-chat ria hingga tidak menyadari sang ayah sambung sudah ada di sofa sebelahnya, masih menggunakan seragam polisinya.
"Eh, Ayah udah pulang?" tanya Rania dan kemudian mencium khidmat punggung tangan Nabil.
"Kamu serius banget liat HPnya." ucap Nabil.
"Iya, lagi chat sama Mas Logan. Dia lagi dines ke Maladewa, Yah." ucap Rania.
"Kamu gapapa sendirian di apartemen? Kenapa gak nginep disini aja dulu sampe Logan pulang."
"Nggak ah, Yah. Rania takut ganggu mama sama ayah, kan pengantin baru." Rania menggoda kedua orang tuanya itu.
"Ganggu apa coba. Dasar kamu tuh ya. Udah disini aja emang kamu gak kesepian di apartemen sendiri." ucap Nindi.
"Bosen sih. Cuma aku pengen tidur di apartemen aja. Tapi besok Rania kesini lagi deh."
"Mending juga nginep, eyang kangen loh sama kamu."
Rania terlihat berpikir. Ia takut jika terlalu lama disini, kehamilannya itu akan diketahui oleh sang ibu yang memang sangat peka padanya.
"Nggak deh, Mah. Nanti-nanti aja, ya."
Nindi menghela nafas dan menyerah membujuk Rania yang keras kepala, "Ya udah terserah kamu."
Rania melihat sang ayah sambung yang masih beristirahat di sofa seberang Rania dan menyesap secangkir teh yang disiapkan sang istri.
"Yah, Rania pengen foto sama ayah ya!"
"Foto?" tanya Nabil terkejut.
"Iya, kan jarang Rania ngeliat ayah pake seragam dinas."
__ADS_1