My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 35: Campur Aduk


__ADS_3

Rania mencoba menyeret tubuhnya menuju tasnya dan merogohnya untuk meraih HP. Ia segera mencari kontak Dokter Ane.


"Dok... tolong saya..." rintih Rania.


Suara Dokter Ane terdengar cemas mendengar suara Rania yang menahan sakitnya, "Mbak Rania? Ada apa?"


"Tolong... jemput saya di hotel Logan Ritz."


Dokter Ane segera mengiyakan. Ia sepertinya langsung menuju hotel setelah Rania menutup teleponnya.


'Nak, ibu mohon. Bertahanlah...' batin Rania memohon dengan tangannya yang masih memegang perutnya.


Perasaan Rania sangat kacau. Pikiran negatif dan sudah berseliweran di dalam kepalanya. Ia sangat cemas jika terjadi sesuatu dengan janin yang dikandungnya.


"Bu Rania! Ibu gak apa-apa?" sebuah suara yang terdengar cemas menghampirinya. Rania mendongak dan melihat Pak Aldi, general manajer Hotel Logan Ritz Bandung yang memang sudah dikenalnya.


"Logan... Udah pergi, Pak?" suara Rania lirih dan tersendat.


"Sudah, Bu. Saya baru saja akan menyapanya, tapi beliau berjalan terburu menuju mobilnya dan pergi."


Diam-diam Rania merasa lega, Logan tidak akan bertemu dengan Dokter Ane nanti.


"Pak.. Bisa saya.. Minta tolong.. Bawa saya ke lobi belakang.. Tolong rahasiakan.. keadaan saya dari semua orang, terutama Logan.." ucap Rania susah payah.


Aldi tidak banyak bertanya, "Baik bu." Kemudian ia menghubungi seseorang, "Bawakan kursi roda ke kamar 1001."


Tidak lama seorang pramugraha membawakan kursi roda yang memang tersedia sebagai salah satu fasilitas di hotel itu. Aldi dan pramugraha itu membantu Rania menaiki kursi roda. Kemudian Rania segera dibawa ke lobi belakang melalui lift khusus barang.


Tidak lama Dokter Ane datang dengan mobilnya. Rania naik ke mobil itu dibantu oleh Aldi.


"Ingat..pesan saya. Rahasiakan.. dari Logan.." pesan Rania, peluh sudah membasahi pelipisnya.


"Baik, Bu. Saya akan merahasiakan ini dari Pak Logan." ucap Aldi.


Dokter Ane segera mengecek keadaan Rania dan memastikan ia baik-baik saja. Kemudian ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit.

__ADS_1


"Dok.. bawa saya ke klinik, jangan...ke rumah sakit..." Rania tidak ingin orang-orang melihatnya. Apalagi di rumah sakit milik ayah Dizza itu, para dokter sudah mengenal Logan dan Rania.


"Ya udah kita lewat tol ya, Mbak." Tanpa menunggu Rania yang terus merintih kesakitan dan berkeringat dingin, dokter Ane segera membawa mobilnya memasuki jalan tol untuk mencapai kliniknya lebih cepat. Di Mobil Rania menceritakan perihal jatuhnya dan rasa sakit yang dirasakan di perut bagian bawahnya.


Sekitar 30 menit kemudian Rania sampai di klinik itu dan segera ia dibawa ke ruangan. Dokter Ane segera memeriksanya dan melakukan penanganan yang memang Rania butuhkan.


"Gimana... anak saya, Dok." tanya Rania dengan cemas.


"Syukurlah, Mbak. Janinnya baik-baik saja. Anda sangat kuat, janinnya juga kuat."


Setelah mendengar kabar baik itu, seketika Rania tidak sadarkan diri.


***


Malam itu Logan berdiri mondar-mandir di apartemennya. Tidak henti-hentinya ia melihat ke arah HPnya yang tergeletak di meja ruang tengah, menunggu kabar tentang keberadaan Rania. Sudah satu hari sejak pertengkarannya dengan Rania yang terjadi kemarin itu. Ia sangat cemas karena Rania tidak pulang dan tidak bisa dihubungi sejak itu.


'kemana kamu, Ran.' ucapnya cemas dalam hati.


HP Logan berdering, nama Hazel muncul di layarnya.


"Miss Rania gak ada ngehubungin Vino. Bahkan Vino keliatan yang cemas banget pas gue nanyain Miss Rania ke dia." jelas Hazel.


"Lo yakin dia gak bohong?" tanya Logan ragu.


"Gue kenal si Vino. Dia bukan orang yang bakal nekat nyampe nyembunyiin Miss Rania. Lo udah cari kemana aja?"


"Gue udah nanyain ke temen-temen dia, tempat biasa dia datengin, kecuali ke rumah mertua gue."


"Ya kemungkinan Miss ada disana kali." Hazel berspekulasi.


"Nggak. Kalo Rania kesana, gue pasti udah dipanggil Eyang atau bokapnya. Gue pasti udah diceramahin sekarang." Ucapnya frustasi.


"Lagian lo juga, kenapa sih lo sampai semarah itu sama Miss. Miss Rania itu bukan ABG bau kencur yang bisa seenaknya selingkuh. Lo itu bukan pacaran, lo udah nikah sama Miss. Harusnya lo lebih percaya sama Miss."


"Udah, Zel. Gue gak butuh nasihat lo! Gue cuma pengen tahu dimana Rania sekarang!" Logan menjadi emosi.

__ADS_1


"Lo lagi ada masalah apa sih? Marah-marah mulu." Hazel sedikit terbawa emosi.


"Gak ada apa-apa. Udah gue tutup dulu." tanpa mengucapkan terimakasih Logan menutup teleponnya.


Logan mengacak kesal rambutnya. Kemudian HPnya berdering kembali, dari Davin.


"Gimana?" tanya Logan tidak bersemangat.


"Bu Rania dijemput oleh Dokter Ane ketika meninggalkan hotel kemarin, Pak." Seketika Logan berdiri dari posisi duduknya. Kenapa Rania dijemput dokter Ane?


Tiba-tiba saja terdengar pintu apartemen diakses. Pintupun terbuka dan sosok yang Logan cari-cari kini ada di hadapannya. Rania dengan wajah pucat menutup kembali pintu dan mulai memasuki apartemen.


Perasaan Logan antara lega, marah, campur aduk melihat Rania yang kini berjalan ke arahnya dengan wajah yang lesu.


Logan menutup telepon dari Davin.


"Darimana aja kamu?" tanya Logan dingin.


Rania bungkam. Hatinya kembali berdenyut nyeri. Logan masih marah padanya.


"Kenapa kamu dijemput dokter Ane dari Hotel kemarin?"


Rania memalingkan wajahnya, mencoba tidak bertemu tatap dengan Logan.


"JAWAB, RANIA!" teriak Logan, "Aku nyariin kamu kemana-mana!"


Rania mengusap perutnya, mencoba menahan emosinya. Beberapa jam yang lalu ia baru saja sadar dari pingsannya. Dokter Ane memberikan infusan penguat kandungan agar Rania bisa pulih lebih cepat.


Saat Rania siuman betapa ia merasa sangat lega. Iya tidak henti-hentinya bersyukur karena tidak terjadi apa-apa pada janinnya setelah ia mengalami sakit yang luar biasa itu. Jika saja terjadi pendarahan maka itu artinya Rania kehilangan janinnya.


Rania juga menyadari satu hal. Kejadian ini membuatnya tidak bisa lagi mentolelir sikap Logan. Selama ini ia terus menyembunyikan kehamilannya demi menjaga perasaan Logan. Logan yang beberapa hari terakhir ini berubah menjadi sering uring-uringan benar-benar membuat Rania lelah sendiri. Ia tidak bisa berbuat apa-apa dan Logan terasa menjadi jauh darinya. Apa salahnya jika ia menceritakan masalahnya pada Rania? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu selalu memenuhi pikiran Rania.


'Kita harus kuat, Nak. Kita hadapi ayah kamu.' batin Rania dengan tangan mengepal.


"Kenapa?" kini kedua mata Rania menatap sang suami dengan dingin. Ia tidak ingin tersakiti lagi. "Kenapa kamu nyariin aku? Kamu mau berantem sama aku lagi? Mau dorong aku lagi?"

__ADS_1


__ADS_2