
"Kenapa Bunda bawa-bawa ayah, sih?" tanya Logan, kedua alisnya beradu, tidak ingin membawa almarhum ayahnya ke dalam masalah ini.
"Semenjak kamu jadi CEO, makin kesini, kamu makin mirip sama ayah kamu. Cara jalan kamu, cara bicara kamu, bahkan keras kepala kamu. Semuanya mirip." ucap Carla.
Logan berjalan menuju sofa, mungkin duduk bisa sedikit menghilangkan emosinya.
"Kamu yang paling tahu seperti apa ayah kamu," tambah Carla, "terlepas dari sakitnya dia. Pura-pura jahatnya dia buat nyembunyiin penyakitnya, tetep Faris adalah orang yang selalu peduli. Kamu mungkin gak ingat, tapi Ayah kamu sangat sayang sama kamu, apalagi waktu kamu masih bayi. Bahkan hubungan Bunda sama dia membaik saat dia tau Bunda hamil. Dia memperlakukan Bunda jauh lebih baik."
Logan duduk sambil tertunduk, terlihat merenungi kata-kata yang Carla ucapkan.
"Terus Rendra, kamu tahu kan kondisinya dulu? Dia harus nerima kenyataan kalau Nindi hamil dalam kondisi mereka gak saling cinta, mereka bahkan harus menikah dan ngelepasin masa depan mereka. Bayangin! Kamu harus nikahin perempuan yang udah kamu anggap sebagai adik kamu sendiri! Tapi apa Rendra ninggalin Nindi dan nyuekin Nindi pas dia hamil? Nggak, Logan! Rendra merasa bertanggung jawab karena Nindi hamil anaknya dia. Dia jagain, dia rawat Nindi sampai Nindi melahirkan Rania. Mereka melewati itu di usia yang sama dengan kamu sekarang! Walaupun hubungan mereka gak berdasarkan cinta, tapi Rania dibesarkan dengan penuh cinta. Sedangkan kamu?! Rania lagi hamil tapi malah kamu cuekin? kamu jauhin?! Kamu denger, Nak, perempuan hamil itu perasaannya sangat sensitif. Moodnya sering berubah-ubah. Dalam keadaan kayak gitu kamu malah ngebiarin Rania ngelewatinnya sendiri! Ternyata kamu lebih berhati dingin dibandingkan ayah kamu! Bunda bener-bener gak ngerti kenapa kamu bisa jadi kayak gini?!"
Carla menghela nafasnya setelah berusaha mencoba untuk membuat Logan mengerti betapa salahnya perilakunya selama ini yang menjauhkan diri dari Rania.
__ADS_1
Logan mengepalkan tangannya dengan keras.
"Logan cape, Bun!" Akhirnya emosi Logan meledak di hadapan sang bunda, "Logan cape jadi orang dewasa! Logan harus jadi CEO, ngurusin perusahaan, ngurusin ribuan orang yang bekerja untuk Logan Enterprise. Bunda kira itu gampang?! Terus Logan juga harus jadi suami! Logan harus ngebimbing Rania dan menjadi kepala keluarga. Itu aja udah bikin Logan cape sampe rasanya kepala Logan mau pecah! Sekarang aku malah harus jadi ayah juga?! Bunda sendiri tahu jadi orang tua itu gak gampang! Logan udah minta Rania pake pengaman tapi kenapa dia masih aja hamil!"
"Kalau kamu gak mau dia hamil, kenapa kamu nyentuh dia?"
Seketika Logan tertegun, tidak bisa membalas ucapan sang Bunda.
"Kamu bilang kamu cape jadi orang dewasa. Tapi bunda yakin kamu juga menikmati 'melakukan hal' yang cuma orang dewasa yang melakukannya itu, iya 'kan?" tanya Carla dengan nada tinggi.
Carla menghampiri sang putra, berjongkok di depan Logan dan menatapnya lekat, "Bunda yakin, Rania juga pengen seperti Bunda. Merasakan beban yang kamu pikul."
"Bunda tau masalah ini dari mana? Pasti Davin." ucap Logan, terkadang asisten Logan itu memang membingungkan kepada siapa dia berpihak.
__ADS_1
"Kamu gak perlu tahu Bunda tahu dari siapa. Itu gak penting. Tapi intinya kamu salah bikin Rania gak ngerti dengan kondisi kamu. Selama ini dia dampingi kamu, mencoba yang terbaik buat bisa jadi istri kamu. Bunda denger dia selalu ngingetin kamu makan, bahkan waktu di Jakarta, Rania selalu bawain makanan buat kamu. Di rumah dia layanin kamu. Dia selalu ada buat kamu. Saat kamu gak mau cerita masalah kamu, dia berusaha cari tahu. Saat kamu pulang dengan wajah kusut kamu, Rania pasti pengen tahu kamu kenapa. Tapi dia gak bilang apa-apa karena dia gak mau kamu tambah pusing. Padahal Bunda yakin, Rania akan sangat siap dengerin kamu kapan aja, karena dia ngerasa sama kayak bunda, ingin merasakan juga beban yang dirasakan sama suaminya."
Wajah Logan seketika merasa sangat menyesal.
"Jadi Bunda minta kamu sekarang lebih terbuka lagi sama Rania. Bunda yakin, beban yang kamu rasakan gak akan seberat itu. Juga, kamu akan merasakan bahwa kehadiran bayi kalian nanti justru akan menjadi penyemangat buat kamu. Sekarang kamu mungkin merasa belum siap, tapi naluri seorang ayah akan timbul dengan sendirinya, Nak. Coba buka hati kamu. Liat Rania sekarang berjuang hamil sendirian. Tiga bulan pertama adalah waktu yang paling rentan, tapi dia malah ngelewatinnya sendiri. Kasian dia, Nak."
Logan mengusap wajahnya, "Aku bodoh banget ya, Bun. Aku udah jahat banget sama Rania."
"Yaaah, Bunda akuin kamu emang udah ngelakuin sesuatu yang bodoh dengan jauhin Rania yang lagi hamil kayak gini. Tapi Bunda harap sekarang seudah Bunda ngomong panjang lebar kayak gini, pikiran kamu lebih terbuka dan kamu bisa nerima kehamilan Rania dan sedikit demi sedikit persiapkan diri kamu buat jadi seorang ayah."
Logan memeluk sang Bunda, "Maafin Logan, Bun. Logan udah salah. Logan nyesel banget."
"Setiap orang pasti pernah bikin salah, Nak. Bunda tahu kamu anak yang baik, kuat, dan berani. Jadiin kesalahan kamu sebagai pelajaran yang akan kamu ingat buat ke depannya."
__ADS_1
Logan melepas pelukannya, "Logan janji mulai sekarang Logan bakal memperbaiki semuanya dan bahagiain Rania."
"Tekad yang bagus," Carla mengacak rambut sang Putra, "Tapi kamu harus berusaha keras sekarang buat bawa Rania pulang lagi kesini. Kamu gak liat tadi Rendra semarah itu sama kamu? Dia bukan orang yang akan mudah memaafkan orang yang menyakiti orang yang disayanginya. Apalagi ini menyangkut Rania, anak kesayangannya, anak satu-satunya. Jangan kamu lupain gimana beratnya dulu Rendra ngasih restunya buat kamu bisa nikahin Rania. Hubungan buruk Rendra sama ayah kamu dulu, kamu udah lupa?"