My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 32: Kalau Jadi Dia


__ADS_3

Rania memarkirkan mobil mazda 3 hatchback berwarna merah hadiah dari Logan itu di parkiran khusus mahasiswa di samping gedung fakultas bahasa dan sastra Universitas Satya Bimantara. Hari ini adalah hari pertamanya menimba ilmu sebagai mahasiswa S2 jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.


Rania memasuki ruang perkuliahan dan mengikuti beberapa mata kuliah hari itu hingga siang hari. Saat waktu makan siang Rania ke foodcourt dan memesan makanan. Ia memutuskan untuk makan dulu sebelum pulang.


Rania seorang diri disana, ada beberapa mahasiswa S2 yang sudah dikenalnya namun setelah kelas bubar, mereka memiliki kesibukannya masing-masing. Ia bukan tipe orang yang akan merasa insecure jika makan seorang diri di tempat yang ramai. Meskipun kini banyak pasang mata menatapnya karena kebanyakan dari mereka sudah mengetahui Rania yang adalah istri dari Logan, Rania tetap makan makanannya dengan santai, tidak merasa risih sama sekali dengan tatapan-tatapan itu.


"Ran," sebuah suara menyapa Rania. Iapun menoleh dan melihat Vino disana.


"Vin, lagi makan siang juga?" tanya Rania sedikit lesu.


"Baru aja pesen." Tanpa dipersilahkan Vino duduk di kursi depan Rania.


Rania merasa sedikit khawatir Logan akan melihat Vino kini duduk di hadapannya. Terakhir Logan sudah memperingatkan bahwa ia tidak ingin melihat Rania makan bersama Vino lagi.


'ah, Logan kan lagi di kantor. Lagian makanan aku udah mau abis. Gak apa-apa kali ya aku duduk bareng Vino kayak gini sebentar. Gak enak juga kalo tiba-tiba aku pergi.' batin Rania melakukan pembenaran.


"Kamu kayak anak ilang makan sendirian." canda Vino spontan sambil menoleh ke kiri dan kanan.


"Enak aja, dikatain anak ilang." Rania pura-pura bernada galak. "Kakak pengen makan dulu dulu, laper banget abis ada kelas barusan. Baru udah ini pulang."


"Cupu banget udah kuliah langsung pulang." ujar Vino lagi.


"Ya abis mau kemana lagi coba? Kakak mau ngerjain tugas. Hari pertama tugasnya udah banyak banget." Rania memainkan makanan yang dipesannya, terlihat tidak berselera.


"Cieee, mahasiswa S2 emang beda." makanan yang dipesan Vinopun datang, ia segera melahapnya.


Rania tersenyum kecut mendengar Vino menggodanya, "Kamu gimana kuliahnya? Lancar?" tanya Rania mengalihkan topik pembicaraan.


"Yah, kuliah sih gitu-gitu aja. Aku lebih semangat ikut UKMnya. Aku ikutan fotografi."

__ADS_1


"Dilanjut hobi fotografinya?"


"Iyalah. Aku pengen kayak om Rendra. Kerjanya jalan-jalan sambil foto."


"Lama-lama papa minta kamu lanjutin travel agentnya deh kayaknya."


"Dengan senang hati, Ran. Lagian kamu juga gak akan lanjutin travel agentnya papa kamu kan?"


"Iya juga sih. Ya udah, kamu emang lebih cocok lanjutin bisnisnya Papa. Eh tapi bisnis kakek kamu gimana? Bukannya kamu juga bakal nerusin?"


"Nggak. Sejak kapan aku mau nerusin bisnisnya kakek?"


"Loh, bukannya kamu masuk manajemen bisnis biar lanjutin bisnis kakek kamu?"


"Iya, aku salah ambil jurusan. Sebenernya gak pengen masuk manbis." Vino berbicara dengan santainya. Seakan itu bukanlah hal yang besar.


"Ih, kamu gimana sih. Kuliah itu awal kamu masuk ke dunia masyarakat loh. Harus dipikirin bener-bener mau jadi apa. Kamu malah kayak asal-asalan gitu milih jurusannya."


"Terserah kamu aja, deh." pungkas Rania. Ia beranjak dari duduknya, "Kakak duluan ya, Vin."


"Buru-buru amat," tiba-tiba datang seorang pramusaji membawa seporsi seblak, "Ini aku udah pesenin kamu seblak."


"Kakak kan gak minta, Vin?" Rania menjadi merasa tidak enak.


"Ini traktiran dari aku. Ini aku pesennya porsi kecil kok. Ayo dong dimakan. Temenin aku makan bentar." ucap Vino sedikit memaksa.


Rania kembali duduk di kursinya. Seketika tercium wangi seblak itu dan membuat Rania menjadi agak mual. Iapun menutup hidung dan mulutnya, mencoba meredakan mual yang dirasakannya. Ia memang menjadi kurang menyukai makanan favoritnya itu semenjak hamil.


"Kenapa, Ran?" tanya Vino keheranan.

__ADS_1


Rania mencoba untuk bersikap biasa. "Nggak kok gak apa-apa. Cuma kakak udah kenyang banget. Kamu aja yang makan." Rania menggeser mangkok seblak ke arah Vino.


"Kamu kayak yang mau muntah barusan." Rupanya Vino memperhatikan Rania.


Rania sedikit kelabakan, tubuhnya panas dingin. "Nggak kok."


Vino menyimpan sendok dan garpu yang dipegangnya, meminum segelas air putih, meraih tangan Rania, dan membawanya ke taman yang terletak di belakang foodcourt itu. Rania tidak bisa menolak karena Vino menggenggam tangannya dengan cukup keras. Taman itu cukup sepi, tidak ada mahasiswa yang sedang berada di taman itu. Hanya ada mereka berdua.


"Vin, apaan sih kamu tarik-tarik tangan kakak gini? Kalau Logan liat dia bisa marah." akhirnya bisa melepaskan tangan Vino yang menggenggamnya saat mereka tiba di taman.


Vino menatap Rania yang memandangnya dengan kesal, "Kamu selalu mikirin perasaan dia. Gimana dengan dia? Mikirin gak perasaan kamu?" tanya Vino dengan sinis.


Rania mengerutkan kening, "Maksud kamu apa?"


"Kamu lagi hamil sekarang, 'kan?"


Mata Rania membulat sempurna, bertanya pada dirinya sendiri, mengapa Vino bisa mengetahuinya?


"Kamu hamil, dan dia gak tau." ekspresi wajah Vino mengeras, terlihat dia menahan emosinya. "Dia belum mau punya anak, makanya kamu nyembunyiin kehamilan kamu dari dia. Iya 'kan?"


"Kamu ngomong apa, sih? Kakak gak hamil." berusaha tidak bertemu tatap dengan Vino.


Vino menatap lekat Rania, "Kamu gak bisa bohong depan aku, Ran."


Rania memalingkan wajahnya. "Kakak gak ngerti kamu ngomong apa. Udah kamu jangan ngaco. Kakak pergi." Rania berniat pergi.


Vino meraih kembali tangan Rania, menariknya mendekat, dan merengkuh tubuh Rania dalam pelukannya.


Rania terdiam beberapa saat, mercerna yang sedang terjadi padanya. Beberapa detik kemudian Rania tersadar. "Vino! Kamu udah gila!! Lepasin!" Rania berusaha mendorong tubuh Vino, namun Vino mempererat pelukannya.

__ADS_1


"Kalo aku jadi dia, aku bakal seneng banget kamu hamil, Ran. Aku bakal jagain kamu. Aku bakal makin sayang sama kamu."


Mendengar ucapan Vino membuat tenaga Rania pergi entah kemana. Tubuh Rania lemas seketika dan matanya terasa panas. Kata-kata itu begitu menyentuh hati Rania. Bagaimana bisa Vino mengatakan kata-kata yang sangat ingin didengarnya dari Logan.


__ADS_2