
Logan mengunyah pizzanya dengan malas. Kata-kata Vino masih terngiang di kepalanya. Ia marah. Bukan karena Vino berhasil menghinanya, tapi yang dikatakan oleh Vino memang benar adanya.
"Si Vino beneran langsung pergi gitu aja. Kirain bakal barengan sama kita makan disini." tanya Dizza.
"Biarin deh dia pergi. Gue hampir gak bisa nafas ngeliat dia sama Logan ngobrol tadi. Serem banget." timpal Nessie. "Emang kalian jadi sedeket itu ya sama Vino sekarang, Beb?" tanya Nessie pada sang kekasih, Hazel.
"Iya lumayan. Kita kan satu jurusan, sering ketemu dan jadi suka ngobrol bareng." jelas Hazel.
"Udah ah jangan ngomongin si Vino. Nes, gimana kuliah lo disana? Pernah ketemu gak sama idol siapa gitu kayak yang lo haluin selama ini." tanya Rifan yang penasaran.
"Gak pernah. Boro-boro gue sibuk kuliah dan latihan sampe badan gue pegel-pegel semua tiap hari." gerutu Nessie seraya memijit-mijit pundaknya.
"Sini, Beb. Aku pijitin ya." Hazel dengan sigap segera mengambil posisi di belakang Nessie dan memijit sang pacar.
"Mulai lagi deh scene romantisnya. Btw, kalian bisa banget sih LDR-an. Nes lo gak takut si Hazel disini main-main sama cewek lain." ujar Rifan.
"Mereka itu kan udah sehidup semati. Emangnya lo tiap hari ada aja cewek yang lo godain, tapi gak dapet-dapet." seloroh Dizza.
"Sembarangan gak dapet-dapet. Guenya aja yang belum beraksi. Siapa juga yang bisa nolak pesona seorang Rifan. Lo tunggu aja bentar lagi gue kenalin sama lo pada." ucapnya dengan percaya diri seraya menyapukan rambutnya ke belakang bak model sedang melakukan photoshoot.
Dizza berpura-pura muntah melihatnya.
"Beb, mereka belum jadian juga? Jodohin kenapa sih." ucap Nessie.
"Apaan sih, Nes. Ogah banget gue jadian sama cowok sengak, resek, playboy kayak dia." ucap Dizza dengan sinisnya.
"Buktinya lo merhatiin, Diz. Lo tau darimana Rifan suka deketin cewek-cewek." tanya Hazel mengompori.
"Zel, lo gak asik ah." Dizza agak gelagapan.
__ADS_1
"Siapa juga yang mau sama lo!" timpal Rifan.
Mereka terus berdebat. Sedangkan Logan, dia hanya terdiam. Sejak diberikan sepotong pizza oleh Nessie pada awal mereka mengobrol, pizza itu hanya dimakannya segigit dan Logan hanya memainkannya setelah itu.
"Gan, lo diem mulu. Gak kangen lo sama gue. Udah lama banget 'kan gue gak ketemu sama lo." ujar Nessie memerhatikan sahabatnya itu.
Logan tersadar dan tersenyum kecut. "Sorry, Nes. Gue lagi banyak pikiran."
"Pikiran apa lagi sih, Bro. Cerita sama kita." ujar Hazel.
"Iya, Gan. Kita udah jarang ketemu, kita ngumpul kayak gini itu harus lo manfaatin buat curhat-curhat lagi sama kita kayak dulu." ucap Dizza.
Logan menghela nafas, dan mengalihkan topik pembicaraan. "Kalian kok bisa dateng kesini?"
"Miss Rania chat gue, Miss minta buat nemenin lo hari ini. Kebetulan Nessie lagi liburan kesini, jadi yaudah kita bareng-bareng kesini." jelas Hazel.
"Rania?" Logan tidak menyangka Rania yang mengirimkan sahabat-sahabatnya ini.
"Anggap aja lo kayak LDR-an sama kayak gue sama Nessie." Hazel menambahkan.
"Oh iya selamat ya, Bro. Lo udah mau jadi ayah. Gak nyangka gue bentar lagi punya ponakan." timpal Rifan.
"Gue denger Miss Rania suka cek kandungannya ke Dokter Ane ya, dia emang spesialis kandungan yang paling bagus loh, Gan, di rumah sakit bokap gue. Lo tenang aja, ntar gue sediain fasilitas terbaik buat Miss sama anak lo nanti." ujar Dizza.
Logan tersenyum tipis, "Thanks. Pengen rasanya gue kayak lo semua. Gue iri banget. Masalah yang kalian temuin sehari-hari sekitaran kuliah, nugas, dan pacaran. Kalau gue, tau-tau gue udah mau jadi bapak." ucap Logan dengan frustasinya.
"Rumput tetangga emang suka keliatan lebih hijau tapi setiap orang punya masalah hidupnya masing-masing, Bro." timpal Hazel.
"Lo harus bersyukur, Gan. Hidup lo itu diberkahi banget. Lo udah gak perlu nyari-nyari pendamping hidup lagi, ada Miss Rania yang seperfect itu dampingin lo. Lo juga udah gak usah nyari kerjaan lain, karena lo udah ngewarisin perusahaan bokap lo." ujar Dizza.
__ADS_1
"Iya, Gan. Coba deh lo liat ke bawah," Nessie ikut memberikan pandangannya, "banyak orang yang hidupnya gak seberuntung lo. Ada yang sampe umur 40an bahkan sampe tua, pengen punya jodoh, pengen punya anak, tapi gak dikasih-kasih. Ada juga orang yang mati-matian nyari kerja, tapi gak dapet-dapet, sampe harus ngelakuin kerjaan yang mereka gak suka dan kepaksa mereka jalanin demi menuhin kebutuhan sehari-harinya."
"Bener, Bro. Lo jangan jadiin masalah lo itu beban yang terus aja lo pikirin gak berhenti-berhenti. Masalah akan jadi masalah kalau lo nganggepnya masalah. Tapi kalau lo nganggep masalah itu adalah tantangan buat lo taklukin, lo bakal beda kerasanya. Lo bakal lebih positif thinking dan gak akan bikin lo stress, justru lo bakal ngerasain adrenalin lo terpacu, gimana caranya lo selesain tantangan itu. Kalau ternyata lo gagal, ya coba lagi. Terus dan terus sampai lo bisa mecahin masalah lo itu." ucap Rifan ikut menyemangati Logan.
"Lo kira Logan lagi bungee jumping pake adrelanin segala?!" protes Dizza.
"Protes mulu, lo Diz! Pokoknya itu yang selalu gue terapin pas gue dapet masalah. Masalah itu bukan buat dipikirin, tapi dikerjain." ujar Rifan.
"Setuju tapi gue sama lo, Fan. Tumben omongan lo bener." ucap Hazel.
"Sialan. Emang kalau gue ngomong suka gak bener apa gimana?" protes Rifan seraya melemparkan bantal sofa pada Hazel.
Logan tertawa melihat tingkah sahabat-sahabatnya. Kata-kata mereka benar-benar membuat perasaan Logan meringan.
"Nah, gitu dong, Gan. Senyum. Kan adem ngeliatnya." ucap Nessie.
"Iya, lo itu baru jadi CEO yang mikirn nasib ribuan karyawan lo, belum jadi presiden yang mikirin nasib 250 juta lebih rakyat Indonesia. Gak usah dibawa pusing banget. CEO juga manusia, Bro." ujar Rifan.
"Bener, Bro. Lo sering-sering ngumpul sama kita lagi napa sih. Miss aja ngizinin buat lo ngumpul sama kita. Apartemen gue deket tuh sebelah lo, tapi lo kayak yang anti banget datengin kita. Padahal hampir tiap weekend kita disana." ujar Hazel.
"Gue kacau banget ya selama ini." Logan tertawa kecut.
"Banget! Gak asik banget! Parah deh pokoknya, gue kayak gak kenal lo lagi." timpal Dizza.
Selebihnya mereka terus bercanda tawa dan kini Logan bergabung dengan sahabat-sahabatnya, mendengar celotehan konyol nan kocak dari Rifan. Membuat Logan tertawa terbahak lagi setelah entah sudah berapa lama ia tidak melakukannya.
Setelah sahabat-sahabatnya pulang, Logan meraih ponselnya dan menelepon Rania dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
"Halo, Mas?" sapa Rania dari seberang sana.
__ADS_1
"Lagi apa, Yang?" ujar Logan dengan sumringah.