
"Baiklah, Mas Logan dan Mbak Rania, saya sarankan Mbak Rania menggunakan KB jenis IUD atau intra uterine device. Ini adalah alat yang paling aman untuk digunakan. Pemasangannya hanya sekali saja dan bisa bertahan beberapa tahun." terang Dokter Ane.
Logan banyak bertanya mengenai IUD tersebut, ia terlihat bersemangat. Namun tidak bagi Rania, kini ia semakin merasa bersalah. Ia hanya terdiam dan tidak berkata satu katapun saat itu.
"Minggu ini biasanya kamu lagi dapet 'kan, Yang?" ujar Logan yang juga sangat memperhatikan kapan Rania datang bulan. Ia menoleh ke arah Rania disela-sela ia mengobrol dengan Dokter Ane. "Lebih baik dipasang pas lagi menstruasi 'kan, Dok?"
"Betul, Mas. Jika dipasang pada saat menstruasi akan terasa lebih nyaman dan tidak terlalu nyeri." jelas Dokter Ane.
"Ya udah, dipasang sekarang aja." Logan menoleh kembali ke arah Rania, "Gimana, Yang?"
Rania tidak habis pikir dengan Dokter Ane. Apa maksud dengan ia membohongi Logan seperti ini?
Rania mengangguk dengan ragu. Senyum yang begitu cerah segera terbit di wajah Logan. "Tolong pasang sekarang aja, Dok."
Beberapa saat kemudian, Logan keluar dari ruangan sementara akan dilakukan tindakan pada Rania.
"Dok, saya tahu Dokter masih ingat sama saya." ucap Rania ketika Logan sudah keluar dari ruangan. "Kenapa Dokter malah berbohong pada suami saya?"
"Maafkan saya, Mbak Rania." ujar Dokter Ane, raut wajahnya bersimpati. "Sebenarnya suami saya bekerja di Logan Enterprise. Pak Logan adalah atasan suami saya."
Rania sedikit tercengang, "Benarkah?"
"Betul Mbak. Anda tahu Hotel Logan Ritz memproduksi perlengkapan kamarnya sendiri. Suami saya adalah manajer pabrik yang memproduksi perlengkapan kamar tersebut."
"Pabrik yang di Karawang itu, Dok?"
"Iya Mbak, saya dan suami saya menjalani hubungan jarak jauh, tapi kami tetap berkomunikasi dengan baik. Dia sering menceritakan permasalahan di kantornya. Semenjak Mas Logan menjadi CEO banyak perubahan ke arah yang lebih baik mengenai perusahaan. Meskipun masih muda, suami anda sangat hebat, Mbak."
Rania tersenyum lirih, bangga mendengar lagi-lagi Logan mendapat pujian namun ia tau beban yang Logan pikul sangat berat.
"Namun, terakhir saya mengetahui bahwa sedang ada masalah mengenai pembangunan hotel di Maladewa. Tanah yang sudah dibeli untuk mendirikan hotel, ternyata adalah tanah sengketa. Ada rumor yang mengatakan bahwa ada pemegang saham Logan Enterprise yang menimbulkan masalah tersebut."
__ADS_1
"Maksud Dokter? Ada orang dalam yang justru sengaja membuat tanah tersebut menjadi sengketa?"
"Betul, Mbak Rania. Itu yang saya dengar." Dokter Ane mengiyakan, "Semenjak Mas Logan menjadi CEO, banyak orang yang berusaha menjatuhkannya, termasuk para pemegang saham. Hal yang sedang suami anda hadapi itu sangat berat, Mbak. Pembangunan hotel terancam dihentikan jika masalah tanah itu tidak segera diselesaikan. Kerugian milyaran rupiah akan dialami perusahaan jika proyek pembangunan ini gagal. Beliau pasti mendapatkan tekanan dari banyak pihak terutama pemegang saham, perusahaan yang mengerjakan proyek pembangunan, dan juga dari warga yang ada disana serta pihak yang mempermasalahkan tanah tersebut."
Rania terhenyak. Kenapa ia tidak mengetahuinya? Mengapa Logan tidak pernah menceritakannya? Rania hanya mengetahui Logan memiliki beberapa masalah, namun detailnya bagaimana, Rania tidak tahu sama sekali.
"Saya merasa ini waktu yang kurang tepat untuk memberitahukan perihal kehamilan anda, karena saya melihat Mas Logan bersikeras belum ingin memiliki anak. Sehingga saya berpikir untuk ikut merahasiakan ini. Saya paham sekali dengan perasaan beliau, juga perasaan anda. Namun saya rasa lebih baik kehamilan anda ini kita sembunyikan dulu sampai masalah yang sedang Mas Logan hadapi selesai. Setidaknya itu yang bisa kita lakukan agar beban pikirannya tidak bertambah. Maafkan jika saya terkesan ikut campur, namun saya merasa sangat bersimpati pada beliau. Usianya sama dengan putra saya, namun beliau sudah harus bertanggung jawab sebesar itu pada banyak orang. Selama kehamilan anda belum membesar, Mbak Rania bisa sedikit demi sedikit memberikan pengertian pada beliau bahwa memiliki anak akan menambah kebahagiaan diantara anda berdua. Saya sarankan seperti itu Mbak. Namun itu hanya saran dari saya. Keputusan tetap ada di tangan anda."
Rania terdiam sejenak. Menyembunyikan hal ini memang sudah menjadi keputusannya sejak awal. Pemikiran Dokter Ane memang sama persis dengan yang Rania pikirkan. Namun semenjak ia mengetahui bahwa dirinya tengah hamil, tekad Rania sempat goyah.
Namun sepertinya Rania harus kembali memendam egonya. Bahkan kini ia merasa sangat bersalah. Sebagai istri, ia tidak mengetahui masalah yang sedang Logan hadapi.
***
Beberapa saat kemudian Rania keluar ruangan bersama Dokter Ane.
Logan segera beranjak dari kursi tunggu, "Gimana, Yang? Udah?" wajahnya terlihat cerah.
'Maafin aku, Mas. Aku terpaksa bohongin kamu.' batin Rania.
"Makasih banyak ya, Dok." ucap Logan dengan sumringah.
"Sama-sama, Pak."
Kemudian, Rania dan Logan sampai di apartemen mereka. Rania melepas sepatunya dan menyimpannya di lemari sepatu. Seketika Logan mendorong pelan tubuh Rania dan mulai mencumbunya, berniat untuk 'tancap gas'.
"Mas, Aku kan lagi dapet." dusta Rania seraya melepaskan cumbuannya, saat tangan Logan mulai membuka kancing kemeja yang Rania kenakan. "Terus aku baru pasang IUDnya. Kata Dokter Ane dalam keadaan gak mens aja saat baru dipasang, kita gak boleh berhubungan minimal 24 jam." Rania memutuskan melanjutkan sandiwara yang dimulainya bersama Dokter Ane.
Logan menghela nafasnya dan tersenyum, "Oh iya. Aku lupa." kemudian mengecup kening Rania, dan kembali mengancingkan dua kancing pada kemeja Rania yang sudah dibukanya.
Rania melingkarkan tangannya di sekeliling leher Logan.
__ADS_1
"Mas, kalo ada apa-apa cerita ya sama aku. Jangan disimpen sendiri."
"Kok tiba-tiba ngomong gitu?" Logan balas memeluk Rania.
"Mas," Rania melepas pelukannya, "Aku tau aku gak paham masalah bisnis. Tapi bukan berarti Mas gak bisa cerita sama aku tentang yang lagi Mas hadapin. Walaupun mungkin aku gak ngerti, tapi Mas bisa cerita sama aku. Senggaknya, aku bakal dengerin."
Raut wajah Logan berubah sedih, "Aku kan suka cerita. Aku juga bilang pas mau ke Maladewa kalo projek pembangunan disana lagi ada masalah."
"Iya sih, Mas emang bilang gitu. Tapi maksud aku, Mas gak bilang masalahnya kayak gimana. Apa yang Mas rasain, di kantor sikap karyawan Mas kayak gimana, Mas gak pernah cerita. Padahal mas bisa ceritain semuanya sama aku."
Logan tersenyum dan meraup pipi Rania, "Makasih ya kamu udah perhatian sama aku, Yang. Aku suka ngerasa kamu gak perlu tau masalah aku di kantor. Aku gak mau kamu kepikiran juga. Tapi, aku janji mulai sekarang aku bakal cerita sama kamu ya."
"Aku pengen tau, Mas. Kita udah suami istri loh." Rania memperlihatkan cincin pernikahan mereka yang melingkar di jari manisnya. "Susah senang bareng-bareng. Inget?"
"Iya, Sayang. Tapi kamu kok tiba-tiba ngomongin itu?"
"Ternyata suaminya Dokter Ane itu manajer pabrik Mas yang di Karawang. Tadi Dokter Ane cerita sama aku. Aku malah tau masalah Mas ini dari orang lain."
"Pak Ferdinand? Ya ampun. Dunia sempit banget."
Tiba-tiba HP Logan berbunyi, Davin menelepon bahwa Logan harus segera ke kantor.
"Yang, aku berangkat dulu ya."
"Sekarang banget? Mas baru pulang ini."
"Iya, Davin bilang aku harus ke kantor. Kamu hati-hati di rumah ya." Logan kembali menggunakan sepatunya.
"Mas, tapi kamu belum makan?" Rania menoleh ke arah jam, sudah hampir sore.
"Nanti aku makan di kantor. Aku minta Fany atau Gina nyiapin. Kamu gak usah khawatir ya." ucap Logan, mengecup bibir Rania sekilas, kemudian pergi.
__ADS_1