
Vino berjalan memasuki villa, mencari keberadaan Rania. Ia tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya saat melihat Rania tumbang di pelaminan. Ia hanya ingin sekedar mengecek, memastikannya baik-baik saja.
Saat memasuki villa dan menyusuri lorong kamar-kamar, ia melihat Logan berada di sudut lorong, sedang menelepon seseorang sambil menghadap ke arah jendela. Vino menoleh ke sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka dan melihat Rania sudah sadar, ada Ibra disana mengobrol dengannya. Ia berniat pergi namun obrolan Rania dan Ibra mengundang rasa penasarannya.
"Lo masih nyembunyiin ini, Ran?" tanya Ibra.
"Iya, lo juga harus jaga rahasia gue ini ya, please?" Rania memohon.
"Lo tenang aja, tadi juga pas ada bokap nyokap lo gue diem, kok."
"Thanks ya, Ib." Rania menyesap secangkir minuman yang sepertinya teh hangat.
"Sekarang gue ngerti kenapa lo harus nyembunyiin kehamilan lo."
Deg!
Seketika Vino terperanjat, jantungnya seakan keluar dari rongganya saat mengetahui bahwa Rania tengah hamil.
"Logan tadi keliatan emosi banget pas ngomong sama nyokapnya. Dia lagi pusing sama masalah di kantornya. Dan emang gila banget sih, di umur segitu dia udah harus nanggung beban seberat itu. Gue sendiri gak tau apa gue bakal kuat kalo ada di posisi dia."
"Iya, Ib. Sekarang lo juga paham kan kenapa Logan belum pengen punya anak. Dan kenapa gue nyembunyiin ini dari Logan. Gue ngerasa bersalah gak bisa ngapa-ngapain buat dia. Rasanya gue cuma jadi beban dia doang sekarang."
"Lo jangan ngomong gitu, Ran." ucap Ibra menenangkan.
Vino tersadar bahwa Logan sudah mulai mematikan teleponnya, iapun segera pergi dari sana karena ia tidak ingin Logan melihatnya disana. Ia kembali ke mejanya. Ada Hazel, Rifan, Dizza, Nessie, dan beberapa teman-temannya yang lain disana.
"Lo darimana, Vin?" Tanya Dizza.
"Toilet." ucapnya singkat. Pikirannya masih memutar obrolan yang didengarnya barusan.
Vino masih mencoba mencerna yang didengarnya. Rania sedang hamil. Namun Logan tidak mengetahuinya, karena Logan belum menginginkan seorang anak. Itu yang bisa Vino simpulkan dari apa yang didengarnya.
__ADS_1
'Kenapa kamu harus selalu berkorban perasaan kamu buat dia sih, Ran?' batin Vino.
***
Keesokan harinya di apartemen, Rania masih berada di tempat tidurnya. Logan berinisiatif membuatkan sarapan untuk Rania dan meminta Rania tidak beranjak dari tempat tidur. Kemudian ia membawa sebuah meja lipat dengan berbagai menu sarapan di atasnya.
"Room service." canda Logan. Raniapun segera bangkit dari posisi berbaringnya dan membiarkan Logan menyimpan meja lipat itu di depannya.
"Wah, sarapannya disiapin langsung sama bapak CEO hotel Logan Ritz." Air liur Rania sudah keluar tidak sabar ingin menyantap menu sarapan itu. Sudah lama juga Rania tidak merasakan masakan Logan yang memang lebih enak dari masakannya.
"Spesial buat Nyonya Logan Victor." Logan tersenyum seraya duduk menghadap Rania.
"Makasih, Mas." ucap Rania dengan wajah ceria meskipun masih terlihat sedikit pucat. Rania mulai melahap makanan di meja itu.
"Yang, maaf ya. Kamu sampe sakit gini gara-gara nyiapin resepsi kita. Aku gak bantuin sama sekali, jadi kamu kewalahan. Kemarin kata Papa sama Mama, kamu gak pernah pingsan sejak kamu masih kecil. Ini pertama kalinya, dan ini gara-gara aku." ucap Logan penuh sesal.
"Apa sih, Mas. Aku pingsan bukan gara-gara Mas, kok. Kita kan udah sepakat buat bagi-bagi tugas. Aku handle semua masalah resepsi dan Mas fokus beresin masalah di kantor. Akunya aja yang lagi gak fit kemarin."
Rania menyuapkan sepotong lasagna pada Logan, "Gak apa-apa, Mas. Honeymoon bisa nanti-nanti lagi kok. Mas fokus sama kerjaan Mas aja, gak usah banyak pikiran yang lain ya. Lagian aku udah mau mulai masuk kuliah juga. Banyak yang harus aku siapin. Jadi kayaknya Honeymoonnya kita tunda buat nanti aja."
"Iya, Sayang. Minggu depan ya kamu udah mulai masuk?"
"Iya, Mas." masih sibuk menyuapkan makanan ke mulutnya dan juga pada Logan.
"Aku punya sesuatu buat kamu." Logan menyerahkan sebuah kotak berwarna mint yang dihiasi pita berwarna jingga salmon.
Rania tertegun melihat kotak itu, "Apa ini, Mas?"
"Buka aja." Logan tersenyum penasaran dengan reaksi Rania.
Rania meraih kotak itu dan membuka simpul pitanya dan membuka kotak tersebut. Rania melihat sebuah kunci dengan logo merek mobil terkenal, Mazda.
__ADS_1
"Ini apa, Mas?" tanya Rania.
"Hadiah buat kamu."
Rania mengedipkan matanya beberapa kali, "ini kunci mobil?"
Logan mengangguk, "Ini hadiah buat kamu yang sekarang udah jadi mahasiswa lagi. Kalo lagi males pake supir, kamu pake mobil ini biar bisa nyetir sendiri."
Logan memberinya sebuah mobil baru?
"Mas, mobil alphard yang putih kan masih ada? Kalo aku mau nyetir sendiri tinggal pake mobil itu aja, tinggal bilang ke Pak Riswan aja kan."
"Gak apa-apa, biar kamu semangat juga. Kan gak setiap ke kampus juga aku bisa bareng kamu. Diterima ya."
"Mas gak usah ih sampe ngasih aku kayak gini." Rania merasa tidak enak.
"Kamu masih aja suka sungkan gitu sama aku, Yang. Aku tuh jarang ngasih kamu hadiah. Maaf ya aku kurang perhatian."
"Ih apaan sih, Mas. Sampe minta maaf segala. Mas itu udah selalu ngasih segala yang aku butuhin. Ya udah aku terima hadiahnya, makasih ya, Mas."
Logan mengangguk seraya tersenyum pada Rania, "Sama-sama, Sayang. Ya udah aku siap-siap ke kantor dulu ya."
"Persidangannya masih bergulir ya?"
Logan yang akan berjalan menuju kamar mandi berhenti melangkah, "Kamu tau masalah persidangan dari mana?"
"Pak Davin. Abis Mas gak mau ngasih tau, jadi aku cari tau sendiri."
Logan menghela nafas, wajahnya mengeras. "Kamu gak usah tahu masalah aku di kantor, Ran. Jangan nanya-nanya masalah ini ke Davin lagi." Logan kembali melangkah menuju kamar mandi.
"Kenapa sih, Mas? Aku kan pengen tau masalah Mas di kantor apa. Siapa tau aku bisa bantu."
__ADS_1
Logan berhenti melangkah, tatapannya sedingin es. "Gak usah. Tolong, aku gak mau debat. Ini masih pagi. Kamu nurut aja apa kata aku. Gak usah ikut-ikutan pusingin masalah aku di kantor. Biar aku sendiri yang mikirin jalan keluarnya."