
Keesokan harinya seperti biasa di pagi hari Rania sudah sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan. Namun kali ini Rania tidak membuatnya, tapi membelinya melalui aplikasi online. Ia kini sibuk menata menu sarapannya itu di meja makan.
"Pagi, Sayang," terdengar suara sang suami berjalan menghampirinya dan mengecup pelan pucuk kepala Rania.
"Pagi juga, Yang," sahut Rania. Tatapannya masih tertuju pada makanan yang sedang ditatanya.
Logan duduk di salah satu kursi meja makan, "Sarapannya sama Shao bing? Kamu bikin?" Logan terpana melihat roti bertabur wijen dengan isian daging itu kini ada di meja makan mereka. Roti itu adalah makanan khas Taiwan favoritnya yang biasa dinikmati untuk sarapan, sekilas mirip dengan burger namun lebih pipih dan isiannyapun berbeda.
"Kamu gak usah nyindir, deh. Mana bisa aku bikin ini." ucap Rania dengan tatapan sinis. "Aku tadi pesen online. Eh, kamu sekarang pake jaster? Oh iya ya hari ini kamu orientasi."
Rania menatap sang suami yang seperti biasa, terlihat tampan menggunakan kemeja putih dan celana hitam dibalik jas almamater Universitas Satya Bimantara. Hari ini adalah hari pertama Logan masuk kuliah. Kegiatannya akan diawali dengan pembukaan masa orientasi bagi mahasiswa baru.
"Iya, Yang. Aku ke kampus dulu buat pembukaan orientasi, ngasih pidato, terus aku langsung ke kantor. Nanti kamu ke kantor juga ya. Ada pembukaan kantor baru, ada acara ramah tamah sedikitlah. Biar karyawan pada semangat." Logan mulai melahap shao bing yang disiapkan sang istri.
"Kamu mau pidato di pembukaan orientasi?" Rania bergabung dengan Logan duduk di salah satu kursi meja makan.
"Iya dong. Di depan Rektor dan semua dosen Universitas Satya Bimantara. Aku diminta jadi perwakilan mahasiswa baru buat pidato." ucap Logan dengan bangga.
"Iya deh hebat banget suami aku. Waktu itu kamu pidato juga pas kelulusan gara-gara kamu jadi lulusan terbaik SMA Satya, sekarang pidato perwakilan mahasiswa baru. Makin insecure deh aku yang cuma ibu rumah tangga." Rania berpura-pura sedih.
Logan tertawa melihat Rania yang cemberut, "Aku kayak gini juga kan didukung sama kamu, Yang."
"Bisa banget mujinya. Padahal aku 'kan gak ngapa-ngapain." Rania mulai melahap shao bingnya. Namun baru satu gigitan ia mengernyitkan dahi. "Apa enaknya sih, ini? Aku gak terlalu suka sama masakan Taiwan." ucap Rania menyimpan shao bing yang baru digigitnya ke piring Logan.
"Enak banget, Yang. Terus aku kalo makan masakan Taiwan jadi inget sama nenek sama Kakek aku di Taiwan. Kamu kok kepikiran pesen ini buat sarapan?" Logan mengambil shao bing yang terdapat bekas gigitan Rania yang berada di piringnya.
"Abis aku belum belanja, Yang. Di kulkas gak ada apa-apa. Kamu sendiri tau kita baru pindah kemarin." ucap Rania sambil meneguk segelas susu coklat yang dibuatnya.
Logan beranjak dari duduknya, "ya udah nanti kita belanja ya ke supermarket."
"Serius? Kamu mau nganter aku belanja?" tanya Rania tidak percaya.
"Iya. Aku bakal beresin secepatnya kerjaan aku, biar sore atau agak malem bisa anter kamu belanja."
Rania mengantar Logan menuju pintu, ia melingkarkan tangannya di sekeliling lengan Logan dan merebahkan kepalanya pada bahu sang suami. "Asik banget deh, Yang. Kita bakal belanja bulanan bareng!"
"Gitu aja kamu udah seneng banget, sih." Logan mencium gemas pucuk kepala Rania.
"Seneng banget tau! Kapan lagi bapak CEO kita yang sibuk banget ini anterin istrinya belanja bulanan? Jarang banget 'kan? Apalagi sekarang kamu bakal sibuk kerja, terus kuliah juga."
"Aku kali-kali aja ke kampus, Yang. Setor tugas bisa lewat email, kalo aku lagi bisa baru masuk." ucap Logan sambil memakai sepatunya.
"Kok gitu? Ntar kamu gak ngerti sama materi kuliah kamu? Kalo ujian gimana?"
__ADS_1
"Materi S1 dan S2 bisnis itu udah aku kuasain sejak SMP kali, Yang. Aku kuliah itu buat ngejar gelar aku aja. Semua dosen udah tau kalo CEO, jadi aku dikasih kelonggaran buat kuliah disaat aku bisa masuk aja. Yang penting tugas aku pada masuk buat menuhin SKSnya." jelas Logan.
"Bisa kayak gitu ya?" tanya Rania tercengang.
"Bisalah. Pak Bima, Rektor Universitas Satya aja hormat banget sama aku." Logan mengangkat kedua alisnya.
Rania menghela nafas menanggapi Logan yang kini sudah kembali menjadi Logan yang dulu, penuh percaya diri dan positif thinking.
"Pak Bima juga hormat banget sama aku." ucap Rania tidak mau kalah, "Pak Bima sendiri yang waktu itu minta aku jadi pelatih ekskul dance waktu itu, loh." Rania mengibaskan rambut hitam panjangnya.
Logan tersenyum, ia meraup kedua pipi sang istri, "Iya deh iya. Istriku ini emang paling hebat! Guru paling keren dan pelatih dance paling jago!" Logan mencium bibir sang istri dengan gemas.
"Mantan guru dan mantan pelatih dance, Yang." koreksi Rania setelah bibir mereka menjauh. "Udah sana kamu cepet pergi." Rania mendorong sang suami keluar pintu penthouse mereka.
"Aku berangkat, ya. Hati-hati di rumah." ucap Logan.
"iya. Dah, kerja yang rajin ya Pak CEO!" Rania melambaikan tangannya.
Logan membalasnya dan kemudian memasuki lift dan berangkat menuju kampusnya.
Sesampainya di kampus elit nan mewah itu, Logan disambut oleh pihak kampus. Ia diantar menuju auditorium, tempat diadakannya orientasi mahasiswa baru. Logan diantar menuju kursi tepat di sebelah Bimantara, rektor Universitas Satya Bimantara, dan juga sebelah para pejabat kampus lainnya.
Kehadiran Logan disana membuat para mahasiswa baru dan para dosen begitu gaduh. Mereka sibuk membicarakan Logan, seorang mahasiswa baru yang tampan, berseragam putih hitam sama seperti mereka, namun duduk bersama rektor mereka dan terlihat begitu disegani.
"Wah, udah ini kita harus sering-sering keliatan bareng si Logan. Biar kita kebawa famous." celetuk Rifan saat Logan memulai pidatonya dihadapan ratusan orang yang ada di auditorium itu.
"Lo masih mau se-famous apalagi, Bro?" Hazel menimpali, "Segitu tadi lo dateng cewek-cewek langsung sodorin nomor WA mereka sama lo."
"Itu baru dari seangkatan. Kalo gue keliatan deket sama si Logan, kakak tingkat bisa gue gaet juga." ucap Rifan membeberkan strateginya untuk memperluas pesonanya dalam mendekati para kaum hawa.
Berbeda dengan Hazel dan Rifan, serta mahasiswa baru lain yang begitu mengelu-elukan Logan karena pencapaiannya sebagai CEO yang sukses di usia yang sangat muda, Vino justru terdiam dan menatap tidak suka pada Logan.
"Dia ngapain sih kuliah disini juga? Kenapa gak keluar negeri aja?" ucap Vino dengan sinis.
"Dia bukannya gak mau." ucap Hazel. "Kalo dia mau, dia bisa masuk Harvard. Tapi dia gak butuh gelar dari universitas ternama sekelas Harvard. Lo lupa, dia udah jadi CEO sejak dia masih kelas 12 SMA."
Vino mendengus tidak suka.
Usai melakukan pidato, Logan pamit undur diri dan bertolak menuju kantornya. Para Dosen sudah sangat memahami posisi Logan yang sangat sibuk sebagai pimpinan perusahaan besar. Maka Loganpun dipersilahkan untuk meninggalkan auditorium.
Di kantor acara peresmian kantor baru segera dimulai saat Logan datang. Rania sudah berada disana dan mendampingi sang suami menghadiri acara yang diadakan sebagai rasa syukur karena gedung baru bisa digunakan tepat waktu, dan juga ini adalah hari pertama semua karyawan bekerja di gedung dengan 10 lantai tersebut. Logan memberikan pidato singkatnya untuk para karyawan sebelum acara santap siang bersama.
"Selanjutnya saya ucapkan terimakasih kepada kalian semua. Saya tahu pengorbanan kalian begitu besar untuk bisa berada disini. Selama kurang lebih 4 tahun kedepan, selama saya menempuh pendidikan saya di Satya Bimantara, kalian akan bersama dengan saya di Bandung, meninggalkan keluarga, orang tua, suami, istri, bahkan anak-anak kalian. Saya harap kalian bisa memahami kondisi saya ini. Semoga apartemen dan kantor yang saya siapkan untuk kalian semua bisa membuat kalian nyaman sehingga kalian bisa memberikan kinerja terbaik kalian bagi Logan Enterprise."
__ADS_1
Pidato singkat Logan berakhir dengan diiringi tepuk tangan yang meriah. Para karyawan sama sekali tidak keberatan dengan perpindahan kantor pusat ini. Apalagi Logan bisa membuat nyaman para karyawannya dengan segala fasilitas yang disiapkannya untuk para karyawannya. Pribadi Logan yang begitu merangkul dan menghormati karyawannya yang kebanyakan jauh lebih tua dari dirinya, membuatnya disegani walaupun usianya masih sangat muda. Lagipula jarak Jakarta-Bandung tidak terlalu jauh, setiap weekend para karyawan bisa pulang dan bertemu dulu dengan keluarga mereka.
Selanjutnya keseharian Logan disibukkan dengan tugas kuliah dan juga tugasnya mengelola perusahaannya. Hingga beberapa minggu kemudian, suatu sore seperti biasa, ia pulang dari kantor dan mendapati Rania duduk di sofa ruang tengah dengan sebuah buku di tangannya.
"Suamiku udah pulang?" Rania mengecup tangan sang suami. Logan membalasnya dengan mengecup punggung tangan Rania dan juga bibir Rania.
Logan menjatuhkan dirinya di sebelah Rania, "Yang, haus."
Rania dengan sigap membawa satu cup minuman boba dan menyodorkannya pada Logan.
"Wih, boba." Logan segera meraih minuman favoritnya itu dari tangan sang istri. "Makasih, Sayang."
Rania kembali duduk di sebelah Logan.
"Enak banget." ucap Logan dengan wajah yang bahagia.
Rania menatap sang suami yang begitu menikmati minuman favoritnya itu, "Harusnya dosen dan karyawan kamu liat kamu kalo lagi kayak gini."
"Kenapa emangnya?" Logan masih terus menyesap boba yang dipegangnya.
Rania tersenyum gemas, "Kamu kalo di depan mereka tuh mukanya serius dan formal banget. Beda banget sama kamu sekarang yang lagi minum boba. Imut banget kayak anak kecil." Wajah Logan memang terlihat sangat imut saat menyesap minuman dengan bulatan hitam yang terbuat dari tapioka itu.
Logan tersenyum tengil, "Cuma istri aku yang boleh liat aku kayak gini." kembali menyesap bobanya. "Kamu cuma beli satu? Kamu gak beli?"
Rania menggelengkan kepalanya, "Kan kamu tau aku gak begitu suka minuman manis, apalagi yang ada bobanya."
"Kamu banyak gak sukanya." gerutu Logan.
"Kata siapa?" Rania menyanggah, "Aku suka semua masakan, Yang. Kecuali masakan Taiwan sama boba. Gak cocok aja sama lidah aku."
"Padahal suaminya ada darah Taiwan, tapi kamunya malah gak suka makanan Taiwan." protes Logan.
"Ya gak tau, Yang. Masa gak suka mau dipaksain?"
"Ya udah, deh." pungkas Logan, "Oh iya. Yang aku ada dinas ke Paris lusa. Kamu siap-siap ya."
"Berapa hari?" Rania agak kecewa karena itu artinya ia akan berpisah dengan sang suami, "ya udah, nanti aku siapin baju-baju kamu." ucap Rania.
Logan menggelengkan kepalanya, "Baju kamu juga, Yang." ucap Logan.
Rania mengerutkan dahinya, "Baju aku?"
Logan mengangguk, "Kamu ikut aku ke Paris."
__ADS_1