My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 15: Ngobrol Santai Bareng Keyla


__ADS_3

di Bandung


Usai perjalanan dinas dan honeymoon singkat itu, Logan dan Rania kembali ke Indonesia. Logan kembali disibukkan dengan pekerjaannya. Sedangkan Rania hari itu berjanji bertemu dengan sahabatnya sejak SMA yang juga bekerja sebagai tenaga perpustakaan di SMA Satya, Keyla.


Sebuah mobil Alphard putih berhenti di depan sebuah cafe di pusat Kota Bandung. Rania turun dari mobil mewah itu dan memasuki cafe tersebut. Pandangannya menyapu seluruh ruangan mencari sosok perempuan yang dicarinya.


"Ran!" panggil seorang perempuan berkacamata yang duduk di meja paling pojok dekat dengan jendela.


Rania menghampiri sahabatnya dan memeluknya kemudian duduk di hadapan Keyla. Rania menyimpan sebuah paper bag di atas meja.


"Apaan nih?" tanya keyla membuka paper bag di depannya.


"Oleh-oleh buat lo." ucap Rania.


Keyla membuka paper bag tersebut dan terdapat sebuah kotak berisi parfum dari salah satu brand terkenal asal Perancis, chanel.


"Serius?" Keyla membuka kotak itu dan menyemprotkan sedikit parfum pada punggung tangannya. "Ini wanginya gue banget!"


"Iya dong, makanya gue beli buat lo." ucap Rania yang sudah sangat mengenal sahabatnya itu.


"Inget aja lo sama gue padahal lagi honeymoon."


"Honeymoon apaan. Logan lagi ada perjalanan bisnis. Dia ngajakin gue buat ikut katanya biar sambil jalan-jalan."


"You deserve it, bestie. Walopun bukan honeymoon beneran tapi kalian senggaknya bisa seneng-seneng setelah pernikahan kalian yang sepi."


"Iya, Key. Lumayan kita seneng-seneng setitik." ucap Rania sumringah.


"Kapan dong resepsinya?" goda Keyla.


"Gak tau, Key. Kayaknya seudah mama sama Om Nabil nikah deh. Terus Bunda sama Papa juga kan masih di luar negeri, jadi nunggu mereka pulang dulu. Terus Logan masih sibuk banget. Jadi kayaknya ntar dulu deh."


"Iya sih yang penting kalian udah resmi. Tapi resepsi lo pasti wah banget deh nanti. Nikahannya CEO pemilik hotel-hotel bintang lima gitu. "


"Apa sih, Key. Biasa aja. Lo juga kapan nikahnya? Kok gue belum denger kabar lagi?" Terakhir Rania mengetahui bahwa Keyla akan menikah dengan Denis, kekasihnya, yang bekerja di Logan Enterprise sebagai tenaga IT.


"Tunggu aja tanggal mainnya. Pasti gue kabarin lo paling pertama." ucap Keyla bersikap 'sok misterius' kemudian mengalihkan pembicaraan lagi pada Rania. "Beneran deh sekarang lo jadi fashionable banget. Baju-baju lo dari brand-brand terkenal. Lo ngasih gue oleh-oleh juga gak abal-abal. Beneran udah jadi istri Sultan dong sahabat gue yang satu ini."

__ADS_1


Rania tertawa mendengar ucapan Keyla, "Tuntutan, Key. Gimana lagi gue gak bisa dong cuma pake jeans belel sama kaos blackpink kedodoran gue lagi sekarang. Gue harus jaga imej suami gue."


"Cieeee suami." goda Keyla, "emang lo tiap hari harus sefashionable ini?"


Keyla memperhatikan Rania yang menggunakan dress agak formal berwarna abu, yang dipadukan tas tangan dan juga high heels. Beberapa perhiasan juga terlihat memperanggun tampilan Rania, juga make up yang simple yang membuatnya terlihat fresh dan cantik. Padahal dulu Rania tidak pernah menggunakan make up bahkan saat ke sekolah.


"Nggak juga sih. Ntar abis dari sini gue mau nemenin Logan buat acara makan malem sama rekan bisnisnya."


"Kirain setiap hari sekarang lo harus dandan kayak gini. Ran, lo udah kayak nikahin Raja dari kerajaan mana gitu loh, Ran. Logan tuh udah kayak putra mahkota yang naik tahta setelah Raja sebelumnya meninggal. Terus style baju lo sekarang lo udah kayak Kate Middletonnya Indonesia." ucap Keyla yang memang memiliki tingkat halu yang lumayan tinggi.


"Lo halunya masih kayak dulu. Jangan kebanyakan baca novel sama nonton infotainment deh, Key. Style gue masih biasa aja kali kalo hari-hari biasa. Cuma sekarang saat-saat tertentu gue emang harus dandan secetar mungkin. Gak selalu gue pake barang branded cuma ya harus pantes aja."


"Iya bener, lo dandan kan buat imej suami lo. Biar keliatan kalo lo tuh dirawat dan disenengin sama suami lo yang tajir melintir itu."


Seorang pelayan datang membawakan secangkir susu coklat almond dan segelas milkshake vanilla.


"Gue kan belum pesen." ucap Rania.


"Gue udah pesenin. Nih kesukaan lo, susu coklat almond pake gula dikit." Keyla menggeserkan secangkir susu coklat almond itu ke dekat Rania.


"Masih inget aja lo. Thanks ya." ucap Rania kemudian menyesap susu coklat almond kesukaannya yang masih panas. "Gimana Satya, Key?"


"Kenapa?" Rania mengerutkan keningnya sambil meletakkan cangkirnya.


"Semenjak lo gak ada, anak-anak lesu banget. Gimana nggak guru favorit mereka tiba-tiba resign. Apalagi guru B.Inggris yang baru gak kayak lo ngajarnya. Apalagi anak-anak ekskul dance, mereka kayak anak ayam kehilangan induknya, tau gak? Udah lo keluar, terus Nessie, Dizza, Marsha, pentolan ekskul dance itu pada lulus, mereka bener-bener gak ada nyawanya. Gue udah berapa kali dipanggil bu Vera, Pak Oki, Pak Nirvan, bahkan Pak Bima, semua minta gue buat bujuk lo biar lo balik lagi ke Satya."


Rania terdiam mendengarnya. Ia sendiri sangat merindukan sekolah itu. Namun tidak mungkin rasanya dia kembali menjadi seorang guru setelah kejadian waktu itu.


"Ini semua gara-gara Logan manipulasi video kemarin. Dia kan bikin seolah-olah gue di area kolam renang cuma lima menit bareng dia, padahal gue seharian sama dia disana. Coba kalo orang-orang tau kejadian itu, mereka gak akan ngomong gitu."


"Pak Bima tau kali video itu dimanipulasi." ucap Keyla.


"Serius lo?!" tanya Rania terkejut.


"Sebelum Logan ngasihin video itu. Pak Bima udah nyelidikin masalah lo ini. Lo lupa, Satya itu punyanya dia. CCTV asli dia pasti punya."


"Tapi dia masih pengen gue balik ngajar setelah dia tau kejadian yang sebenernya?"

__ADS_1


"Makanya Pak Bima diem aja selama ini, ikut nutupin masalah lo karena beliau pengen lo ngajar lagi. Dia gak terlalu mempermasalahkan hubungan lo sama Logan. Lagian kan kalian emang gak jadian. Itu juga pertama dan terakhirnya kalian ketemu diem-diem di sekolah, 'kan."


"Sekali tapi jadi masalah yang gede banget akhirnya." ucap Rania merasa menyesal dengan kejadian itu.


"Ran, yang penting itu sekarang Pak Bima gak masalahin itu. Dia udah ngakuin kemampuan paket lengkap lo. Dia gak mau kehilangan guru kayak lo."


"Kemampuan paket lengkap?" Rania mengerutkan keningnya.


"Lo ngajar keren dan handle kegiatan sekolah juga jago. Lo punya tata krama dan komunikasi yang bagus ke semua karyawan sekolah dan ke siswa juga. Selama ini gak ada guru yang bisa deket banget sama siswanya kayak lo. Terus yang terpenting lo bisa ngendaliin siswa-siswa badung, murid sebadung Vino aja bisa takluk sama lo. Pak Bima bener-bener ngerasa berterimakasih sama lo karena berkat lo, Vino berubah banget. Dia bahkan kuliah managemen bisnis sekarang. Kayaknya dia udah kepikiran buat nerusin perusahaan keluarga dia juga deh."


"Itu kan gara-gara Vino suka sama gue. Makanya dia nurut sama gue." ucap Rania mengingat interaksinya dengan Vino selama ini yang juga tidak pantas dilakukan oleh seorang guru. Saking dekatnya Rania dengan Vino, ia membiarkan Vino memanggilnya dengan sebutan 'kakak'. Namun ternyata akhirnya Rania mengetahui Vino menyukai Rania lebih dari seorang adik kepada kakaknya. Bahkan Vino pernah memeluknya dan mencium keningnya, meskipun hal itu dilakukan Vino saat dirinya sudah dinyatakan lulus dari SMA Satya.


"Tapi di mata orang-orang, terutama Pak Bima, lo tetep dipandang sebagai guru panutan, Ran." ucap Keyla meyakinkan.


"Gue gak tau, Key. Kejadian waktu itu masih bikin gue trauma. Terus Pak Bima juga nawarin gue buat S2 di Universitas Satya. Tapi gue masih mikir-mikir." ucap Rania teringat kembali komentar-komentar negatif yang para siswanya lontarkan di grup.


"Beasiswa di Universitas Satya? Itu kesempatan bagus banget, Ran! Lo tau sendiri Universitas Satya itu kan universitas swasta paling elit dan lulusannya gak kaleng-kaleng. Logan, suami lo yang udah CEO aja milih masuk kesana. Padahal dia bisa aja loh ngambil kuliah di luar negeri. Hazel, Vino, sama Rifan aja yang penerus perusahaan ayahnya juga masuk kesitu. Dizza, yang ayahnya pemilik rumah sakit dan klinik juga masuk ke situ. Belum lagi mahasiswa-mahasiswa lainnya yang bukan dari kalangan sembarangan. Lo mikir apa lagi, Ran?"


Rania terdiam, dia masih sangat bingung apakah ia akan menerima tawaran itu atau tidak.


"Ya udah, lo pikiran lagi aja. Lagian lo juga harus bicarain ini sama Logan. Dia setuju gak kalo lo kuliah lagi, atau lo ngajar lagi." Keyla memberi nasihat pada sahabatnya.


"Logan sih nyerahin semuanya sama gue. Gue juga sebenernya bosen sih, Key. Gue bener-bener jadi pengangguran sekarang. Kerjaan gue tiap hari rebahan di rumah, dan gak ngapa-ngapain. Paling gue beres-beres rumah sama masak doang. Latihan dance, terus udah gitu gue bener-bener ngebangke sampe dia pulang kerja. Dia sibuk banget tiap hari kadang pulang sampe jam 9 malem, tapi gue? Kebalikannya, senggang banget tiap hari."


"Pasti lo kesiksa banget. Lo kan orangnya gak bisa diem. Lo belum isi? Mending lo punya anak kalo emang lo gak akan lanjut ngajar, jadi lo ada kegiatan."


Rania terdiam mendengar ucapan Keyla.


"Kenapa lo? Kok diem?" tanya Keyla.


Rania menyesap susu coklatnya lagi, kemudian berkata "Logan belom pengen punya anak, Key."


"Oh gitu." Keyla merasa tidak enak, "tapi iya juga sih. Dia kan baru lulus SMA. Terus kalian baru aja baikan dan bisa bareng-bareng setelah hampir satu tahun perang dingin. Dia pasti pengen nikmatin masa-masa berdua dulu, Ran."


"Tapi gue kok sedih ya, gue ngerti sih kalo dia belum mau punya anak. Cuma gak tau kenapa gue jadi ngerasa pernikahan gue sama Logan jadi gak lengkap aja."


"Lo harus bisa mikir dari sudut pandang dia. Lo udah umur segini, lo udah di usia yang pas banget punya anak. Tapi bagi Logan? Gue malah mikirnya kalo lo seumur sama dia, dia pasti belum akan mikirin nikahin lo. Dia pasti masih mikir buat pacaran doang sama lo. Tapi karena dia tau lo udah ada di usia yang siap buat nikah, dia ambil langkah itu. Dia udah berkorban banget, Ran. Di umur segitu harusnya dia kan masih seneng-seneng sama hobinya dan temen-temennya. Tapi dia malah harus jadi direktur utama yang mimpin ribuan karyawannya, juga jadi kepala keluarga."

__ADS_1


Rania termenung mendengar ucapan Keyla. Keyla benar, Logan sudah berkorban banyak karena perbedaan umur mereka. Namun, sedikit dari hati kecilnya masih menginginkan seorang anak untuk hadir diantara keduanya.


__ADS_2