
Nafas Rania menderu, begitu juga Logan. Kedua mata mereka saling bertemu, menyelaminya hingga menenggelamkan keduanya dalam debar jantung yang terus melaju cepat.
Tubuh Logan di atas Rania, kedua tangannya mengapit tubuh Rania yang berada di bawahnya. Sesekali bibir mereka menyatu, menggelorakan sesuatu dalam hati mereka yang sudah lama tidak pernah menyala semenjak mereka berpisah.
Kini, inti tubuh itu kembali bersatu.
Menghilangkan rindu, menghilangkan resah tak bisa bertemu. Pergerakannya lambat, tidak sama seperti sebelumnya. Logan adalah tipe yang akan melakukannya secara 'cepat', dominan, dan cenderung sedikit 'kasar'. Namun kini, ia melakukannya dengan lembut, tidak ingin mengganggu sang calon putra yang bersemayam hangat di dalam rahim Rania.
Hingga, keduanya mengerang sedikit terkesiap. Mereka tiba di puncak itu. Ditutupnya penyatuan itu dengan kecupan penuh sayang di bibir sang istri.
"Udah lama banget kita gak kayak gini, Yang. Aku tahan terus sampai rasanya aku mau gila." Kenang Logan, seraya menjatuhkan dirinya di samping Rania.
Rania membetulkan selimut yang menutup tubuh polos mereka hingga ke dada. Ia menghadap ke arah Logan yang kali ini tidak terlalu kelelahan, mungkin karena pergerakan yang tidak seperti biasanya.
"Sekangen itu?" tanya Rania seraya menyentuh kening Logan, menyeka keringatnya.
Logan mengangguk. "Kangen banget" seraya menyelipkan beberapa helai rambut ke balik telinga Rania. "Sebenernya masih pengen, tapi ada seseorang disini. Takut dia kaget." tangan Logan menyentuh perut sang istri yang sudah sedikit membesar.
Rania tersenyum, "Makasih Mas, udah bisa nerima dede bayinya."
"Aku harus bayar mahal sampai aku sadar kalau aku sayang sama dia. Anak aku." ucap Logan, tatapannya hangat. "Aku gak pantes dapet kata makasih dari kamu, Yang. Justru aku yang harus bilang maaf sama kamu. Terlebih sama dede bayi."
"Coba Mas ajak ngobrol. Katanya di usia 4 bulan bayi udah dikasih nyawa, dan di udah bisa mendengar, Mas."
Loganpun menggeser tubuhnya mendekat pada perut Rania. Mengecupnya penuh kasih sayang, "Hey, ini ayah. Maaf ya kemarin-kemarin, ayah jahat sama kamu. Ayah gak akan kayak gitu lagi. Ayah akan sayang sama kamu. Sehat dan tumbuh dengan baik ya. Kita ketemu sebentar lagi. Ayah sayang sama kamu." ditutupnya obrolan singkat itu dengan sebuah kecupan lagi.
__ADS_1
Pelupuk mata Rania digenangi air mata, beberapa butiran bening itu tumpah ke pipinya.
"Yang, kenapa?" Logan menyeka air mata itu, lalu merengkuh tubuh Rania dalam pelukannya.
"Aku seneng banget, Mas." ucap Rania penuh haru.
"Udah dong. Aku suka ngerasa jadi orang bodoh kalau inget yang kemarin." Logan menenangkan.
"Mas gak bodoh, kok. Aku paham kenapa Mas kayak gitu. Aku emang berharap Mas bisa nerima kehamilan aku. Tapi aku gak mau maksain. Kalau papa gak bawa aku waktu itu, aku akan terus dengan sabar nungguin Mas bisa nerima kalau aku hamil."
"Malah aku bersyukur Papa bawa kamu pergi, Yang. Walaupun sakit dan kesiksa banget karena aku harus jalanin hidup aku setiap hari tanpa kamu selama hampir sebulan ini, tapi itu bikin aku sadar, Yang. Aku udah jahat banget, egois banget, ngebiarin kamu ngejalanin kehamilan kamu sendirian. Aku inget waktu aku mau berangkat ke Maladewa, kamu gak mau aku pergi. Tiba-tiba kamu suka makanan-makanan yang asalnya kamu gak suka. Tiba-tiba kamu suka bete dan nangis. Aku baru sadar kamu berubah itu karena kehamilan kamu. Harusnya aku dampingin kamu. Maafin aku ya, Sayang." Logan mempererat pelukannya.
"Semua orang butuh proses, Mas. Gak apa-apa, Kok. Yang penting sekarang Mas udah bisa nerima aku, aku udah seneng banget. Itu udah luar biasa, Mas. Cuma Mas gak apa-apa kita tinggal disini, sama Bunda sama Papa?"
"Pengennya sih di apartemen. Tapi aku ngalah aja. Aku gak mau kita pisah lagi, Yang."
"Aku bukan takut sama Papa. Aku takut kita pisah lagi. Aku gak bisa gak ada kamu, Yang." Logan memeluk Rania lebih erat dan mencium pucuk kepala Rania beberapa kali.
"Bucin banget sama istrinya sih bapak CEO kita." goda Rania.
"Iya, aku bucin banget sama kamu. Siapa yang gak akan bucin kalau punya istri secantik dan sebaik kamu, Yang." puji Logan.
"Dasar ih, bisa banget ngegombalnya." ujar Rania.
"Malah dibilang gombal. Orang beneran juga." sahut Logan dengan nada serius, membuat Rania terkekeh gemas. "Eh Yang, kamu gak mual-mual? Bukannya biasanya kalau orang hamil itu mual-mual?"
__ADS_1
Rania menggelengkan kepalanya, "Enggak Mas. Kata Dokter Ane gak selalu kok perempuan yang hamil itu mual."
"Oh iya, kapan kamu kontrol lagi?"
"Lusa, Mas. Tepat 16 minggu. Mas mau ikut?" tanya Rania.
"Kamu nanya? Ya jelaslah. Sekarang setiap bulan aku bakal nemenin kamu kontrol. Aku pengen liat anak aku kayak gimana. Dan aku bakal mantau kesehatan kamu sama anak kita terus pokoknya." ucap Logan.
"Kayaknya sih dede bayinya nanti bakal mirip banget sama Mas. Soalnya ngidamnya aku itu kesukaan Mas semua. Mas tau gak waktu Mas ke Maladewa, aku pernah bawa mobil Mas ke jalan tol buat liat balapannya komunitas Hazel. Aku kebut-kebutan di jalan tol, loh."
Logan menjauhkan tubuh Rania darinya dan menatapnya dengan penuh kejut, khawatir dan sedikit marah, "Yang kamu nyari perkara! Gimana kalau kamu ada apa-apa. Kenapa juga itu anak-anak pada gak ada yang bilang sama aku?!"
"Ya gak mungkin mereka bilang sama Mas. Selain karena aku emang bilang sama mereka jangan bilang-bilang sama Mas, mereka juga gak mau bikin Mas marah. Mas 'kan kalau udah marah nyeremin."
"Masa sih aku nyeremin?" tanya Logan tanpa dosa.
"Gak nyadar?"
"Iya sih sering denger di kantor." ucap Logan mulai mengakui.
"Oh iya, Mas. Mas gimana di kantor? Masalah Mas udah selesai?" tanya Rania penasaran.
"Udah, Yang. Pembangunan hotelnya dilanjut. Aku juga berhasil masukin si mafia kelas teri itu ke penjara." ucap Logan lirih, tidak terdengar ia membanggakan hasil kerjanya seperti biasanya.
"Syukurlah, Mas. Aku ikut seneng dengernya."
__ADS_1
"Yang, kamu besok gak ada jadwal kuliah 'kan? Ikut aku ya ke kantor?" ajak Logan.
"Aku? Ke Kantor? Ngapain, Mas?"