My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 45: Hadiah Ulang Tahun ke-19


__ADS_3

Rania masih berada di balkon, padahal Logan sudah pergi sejak 15 menit yang lalu. Ia sangat khawatir pada suaminya itu. Bagaimana jika ia kembali lari ke minuman dan rokok seperti waktu itu. Ia sangat ingin pulang, terlebih sekarang Logan sudah mengakui kesalahan. Logan terlihat merasa sangat bersalah. Bahkan ia sampai menangis seperti itu. Tapi ia tidak bisa melawan kehendak sang ayah yang sudah melarangnya kembali ke apartemen itu.


Rania mendengar suara pintu kamar Logan diketuk, lalu terlihat sang ayah memasuki kamar itu. Rania segera menghapus air matanya.


"Ngapain kamu disini, Sayang." Tanya Rendra, bergabung dengan sang putri.


Rania mencoba bersikap biasa saja. "Rania abis nelepon Logan barusan, Pap. Logan keliatan nyesel banget. Dia udah ngakuin kesalahannya." ucap Rania dengan suara tercekat.


Rendra menghela nafasnya, kemudian memeluk Rania. Raniapun kembali menumpahkan segala kesedihannya di pelukan sang ayah.


"Maafin Papa ya. Tapi Papa cuma pengen Logan belajar jadi suami yang lebih baik. Papa gak berniat misahin kalian, kok." ucap Rendra menenangkan.


Rania mengangguk, ingin ia menjawab tapi tangisnya masih membuat suaranya tercekat.


"Sekarang kasih waktu buat Logan merenungi kesalahannya. Papa pengen dia bisa lebih dewasa. Biar bisa lebih menghargai kamu juga." Rendra masih menenangkan Rania.


"Tapi, Pap. Logan gak salah. Wajar dia belum pengen punya anak, dia masih muda banget, Pap. Ditambah dia lagi banyak masalah di kantornya. Kasian Logan. Izinin Rania pulang ya, Pap." ucap Rania akhirnya. Rania tidak bisa membendung resahnya.


"Papa tahu, Sayang. Kamu gak usah khawatirin dia sampai kayak gitu. Dengerin Papa, Logan itu pinter banget. Dia ambisius dan berani. Makanya dia bisa mimpin perusahaan itu selama kurang lebih dua tahun terakhir. Banyak masalah dan tekanan di dalam pekerjaan itu wajar. Papa yakin Logan bisa nyelesain semuanya dengan baik. Faris gak mungkin dengan gegabahnya ngasih perusahaannya ke Logan kalau Logan gak mampu." Rendra melepas pelukannya dan memandang wajah sang putri.


Kemudian ia melanjutkan, "Tapi perihal dia menolak punya anak padahal sudah ada janin yang tumbuh di perut kamu seperti ini, Papa gak bisa terima. Dia harus mencoba ngerasain gimana rasanya gak ada kamu yang selama ini dampingin dia. Biar dia merasakan betapa berartinya anak Papa ini buat dia. Jadi sekarang kamu harus bisa berlapang dada, Sayang. Biar Logan juga bisa lebih bersikap dan berpikir dewasa. Gimanapun juga dia yang udah mutusin nikahin kamu, 'kan? Berarti dia seharusnya sudah memikirkan semua resikonya."


Rania paham. Logikanya paham sekali. Ia setuju untuk berpisah dulu dengan Logan untuk sementara waktu. Rania ingin membuat Logan merasakan ketidakhadiran Rania. Tapi ia juga tidak bisa berbohong bahwa ia sangat membutuhkan Logan. Ia berharap sesegera mungkin bisa bertemu kembali dengan Logan.

__ADS_1


***


Logan sampai di apartemennya. Ia berjalan lunglai menuju dapur. Disana sudah ada menu makan malam yang sudah Rania masak, hanya tinggal ditata di meja makan. Sekarang ia betul-betul merasakan hampa karena ketidakhadiran Rania. Rasa bersalah kembali meliputi hatinya. Itu membuatnya tidak berselera makan.


Iapun berjalan menuju kamar dan menatap ke arah nakas di salah satu sisi tempat tidur. Sebuah kotak berwarna broken white ada disana, teronggok sejak hari ulang tahunnya tanpa ia sentuh sedikitpun. Logan sebenarnya tahu bahwa itu adalah kado ulang tahun dari Rania, tapi ia enggan membukanya. Egonya mengalahkan semuanya.


Perlahan Logan duduk di tepi tempat tidurnya dan meraih kotak itu. Ia membukanya. Seketika ia kembali merindukan sang istri. Dalam kotak itu ada dua gambar hasil USG dari kehamilan Rania. Ada dua gambar, gambar pertama saat kandungan Rania berusia 4 minggu, dan yang kedua saat kandungannya 8 minggu.


Logan tidak bisa menahan isaknya.


"Maafin ayah, Nak. Ayah jahat banget. Ayah gak ada disaat ibu butuhin Ayah. Maafin ayah.."


Ada sebuah surat di dalam kotak itu, Loganpun membacanya.


Selamat berumur 19 tahun suamiku. Semoga Mas selalu sehat, bahagia, dan semua kesedihan dan kesulitan yang Mas alami bisa berangsur pergi. Di hari ulang tahun Mas kali ini aku punya hadiah spesial. Mas udah liat 'kan hasil USGnya? Itu adalah perkembangan anak kita selama dua bulan ini. Dia sehat dan kuat, Mas. Walaupun sering bikin mood aku naik turun. Kayak Mas banget, 'kan? Hehe.


Selama kurang lebih dua bulan ini aku dan anak kita baik-baik aja, Mas. Kami ngerti keadaan Mas yang lagi pusing masalah di Kantor. Jadi aku berusaha buat bikin Mas ngerasa gak terbebani. Padahal aku udah kangen banget pengen peluk dan cium, juga manja-manja sama Mas. Tapi gak apa-apa, aku masih bisa tahan kok. Aku gak mau nambah beban yang Mas rasain.


Semoga masalah Mas di Kantor cepet selesai ya. Mas jangan terlalu mikirin semuanya, Mas harus inget, ada aku, ada anak kita yang bakal terus dukung Mas.


Love,


RPD dan Logan (**)

__ADS_1


Air mata Logan mengalir deras saat membaca surat tersebut. Rasa bersalah semakin menguasainya. Dalam surat itu Rania sama sekali tidak menyalahkannya, malah sangat pengertian dan senantiasa memberikan semangat padanya. Logan ingat perubahan sikap dalam diri Rania waktu itu, tiba-tiba saja istrinya yang biasanya selalu bersikap dewasa, menjadi sangat manja padanya dan ingin selalu dipeluk olehnya. Makanan yang biasanya tidak disukai Rania justru menjadi makanan favorit Rania.


Ternyata itu karena Rania hamil.


Logan benar-benar tidak habis pikir dengan dirinya kini. Setelah mendengar nasihat dari sang Bunda pikirannya menjadi terbuka, namun sudah terlambat. Rendra pasti tidak akan semudah itu membiarkan Logan membawa Rania kembali pada pelukannya.


Menyesal. Hanya itu yang Logan rasakan kini. Menghilangkan rasa itu pulalah yang kini sedang ia coba terus lakukan.


Keesokan harinya ia meminta Davin untuk mengosongkan jadwalnya. Walaupun hari itu hari Sabtu, semenjak beberapa minggu terakhir Logan memang sengaja tetap bekerja karena ia yang sedang mengabaikan Rania. Maka Davin tetap membuat agenda kegiatan untuk Logan di hari Sabtu dan terkadang Minggupun Logan bekerja. Namun kali ini Logan benar-benar tidak bisa fokus bekerja. Sejak semalam yang ada dalam pikirannya hanya Rania. Bahkan sampai kini, sudah waktunya makan siang, belum ada makanan yang masuk ke dalam perutnya. Padahal semalam iapun tidak makan. Tidak ada sosok Rania di sampingnya membuatnya tidak bersemangat dalam melakukan apapun.


Sejak pagi Logan di sofa ruang tengah, terduduk disana dengan tatapan tertuju keluar dinding kaca penthouse. Melamun dan sesekali menghela nafas, itulah yang ia lakukan sejak ia bangun di pagi hari tadi.


Tiba-tiba saja bel apartemen berbunyi.


"Ran?" Logan terperanjat. Segera ia berlari menuju pintu dan membukanya. Namun bukan Rania yang ia dapati seperti yang diharapkannya, melainkan sahabat-sahabatnya.


"Woy, Bro!" sapa Hazel.


"Hai, Gan!" Nessie yang sudah berkuliah di Korea kini ada disana juga.


"Lo gak akan nyuruh kita masuk?" tanya Rifan yang kemudian nyelonong masuk tanpa Logan persilahkan.


"Kita bawa pizza!" ucap Dizza mengikuti Rifan yang masuk begitu saja ke apartemen Logan, diikuti Hazel dan juga Nessie.

__ADS_1


Di belakang mereka datang seorang lagi, "Gue diajakin mereka." ucapnya dingin.


Mood Logan seketika menjadi lebih buruk lagi melihat orang terakhir yang masuk ke apartemennya. Ya, orang itu Vino.


__ADS_2