
Keesokan harinya Rania datang lagi ke gedung Logan Enterprise. Ia kembali membawakan makanan untuk Logan. Begitu juga hari berikutnya. Rania senantiasa mendampingi sang suami yang selalu disibukkan dengan berbagai agenda sebagai direktur perusahaan besar.
Suatu hari Logan akan berangkat ke kantor seperti biasa, "Ran, hari ini gak usah bawain makan ya. Aku ada kunjungan ke Hotel Logan Ritz yang di Tangerang."
"Jadi ntar kamu pulang telat?" tanya Rania sambil memberikan jas milik Logan.
"Nggak sih kayaknya. Soalnya deket kan dari sini. Kalo kemarin-kemarin aku ke hotel yang di Semarang, jadi lumayan lama." Kini Logan sedang memakai sepatunya.
"Ya udah nanti aku masakin kayak biasa berarti ya." ucap Rania.
"Nanti kamu ikut aja yuk?" ajak Logan tiba-tiba.
"Kemana? Ke Tangerang?" tanya Rania.
"Iya. Kamu emang gak bosen di rumah seharian. Mending ikut sama aku. Nanti kamu disana bisa spa, berenang, atau, ngegym. Atau apapun yang kamu mau." tanya Logan. Logan sering merasa bersalah karena setelah menikah Rania hanya berdiam diri di rumah, menunggunya pulang. Sedangkan pekerjaan Logan yang seakan tidak ada habisnya selalu membuatnya tidak memiliki waktu untuk mengajak Rania bahkan sekedar untuk makan di luar. Sekali-kali ia ingin mengajak Rania ke luar rumah sekalipun itu hanya menemaninya bekerja.
Rania terlihat menimang-nimang, sebenarnya semua hal itu bisa ia lakukan disini. Karena di gedung apartemen ini juga ada fasilitas itu. Namun karena Logan memintanya, ia memutuskan untuk ikut, "Boleh deh. Nanti aku ikut ya."
Logan tersenyum sumringah, "Ya udah. Nanti kamu langsung ke kantor aku ya." Rania mengangguk dan kemudian Logan pamit.
Siang harinya sekitar sebelum waktu makan siang, Rania sudah berada di lounge lantai 60, menunggu Logan yang masih menghadiri rapat dengan beberapa general manager hotel-hotelnya.
"Ran. Yuk, berangkat." tiba-tiba saja Logan memasuki lounge dan menghampiri Rania.
"Udah selesai meetingnya?" tanya Rania sambil beranjak dari sofa.
"Udah." Logan menggandeng tangan Rania dan membimbing sang istri untuk masuk ke lift menuju satu lantai di atasnya. Davin, asisten Logan, mengikuti mereka dari belakang.
"Kita ke atas?" Tanya Rania saat Logan menekan tombol Rooftop pada sisi lift.
"Iya. Kita pake helikopter. Biar cepet." ucap Logan.
"Hah?" Rania tercengang. Tak berapa lama pintu lift terbuka. Sebuah helikopter berwarna hitam dengan tulisan 'Logan Enterprise' di sisinya terparkir di helipad yang terdapat di rooftop itu.
Logan membimbing Rania untuk masuk dan membantunya mengenakan sabuk pengaman. Lalu ia menggunakan untuk dirinya sendiri. Tidak lama helikopterpun mulai mengudara dan terbang meninggalkan helipad. Rania terlihat gugup. Karena ini pertama kalinya ia menggunakan helikopter.
Logan menggenggam tangan sang istri dan tersenyum, "Kamu takut?"
"Dikit." ucap Rania berbohong. Ia sangat tegang. Logan tersenyum dan mulai mengajak Rania mengobrol agar sang istri melupakan rasa takutnya.
__ADS_1
Tidak berapa lama helikopter melandai dan mendarat di rooftop hotel Logan Ritz Tangerang. Kemudian Logan, Rania, dan Davin turun dari helikopter. Mereka disambut oleh beberapa orang berjas seragam pegawai Hotel Logan Ritz. Salah satu dari mereka dengan name tag 'general manager' segera menjabat tangan Logan. Merekapun masuk ke dalam lift dan langsung menuju ke restoran.
Disana Logan dan Rania dipersilahkan untuk menempati sebuah meja VIP. Beberapa menu juga sudah dipesankan.
"Hari ini aku mau nguji masakan chef yang baru. Dia dari Italia. Makanya karena kerjaan aku makan-makan hari ini, aku ngajakin kamu jadinya." ucap Logan.
"Kamu mau nguji masakan chef bintang lima?" Rania terperangah. Seketika ia merasa sangat ciut mengingat hasil masakannya yang sering kali gagal total.
"Iya dia baru dapet penghargaan michelin star. Kita cobain gimana makanannya." ucap Logan seraya meneguk air mineral yang tersedia.
"Michelin star? Penghargaan buat chef dan restoran tingkat dunia itu?" Rania semakin tertegun.
Tidak lama seorang pria tinggi berkulit putih kemerahan dan berambut pirang datang menghampiri mereka dan menyediakan beberapa piring berisi makanan dalam porsi kecil. Rania mencoba satu persatu makanan itu. Rasanya luar biasa. Chef tingkat dunia memang sangat berbeda.
Namun berbeda dengan Logan, ia masih menemukan beberapa kekurangan dari masakan-masakan itu. Rania hanya mampu terdiam saat Logan dengan fasih memberikan masukan dan komentar pada chef paruh baya tersebut dengan berbahasa Italia.
'cowok di sebelah gue ini siapa? Beneran suami gue bukan sih?' batin Rania, saking tercengangnya melihat Logan yang kembali menunjukkan kharismanya sebagai seorang CEO.
Setelah itu Rania diantar ke tempat spa di Hotel tersebut sedangkan Logan melakukan pekerjaannya.
Kemudian pada malam harinya mereka sampai di apartemen. Rania berganti pakaian dengan baju santai kemudian kembali ke ruang tengah.
"Gan, kamu mandi dulu sana." ucap Rania, seraya menghampiri Logan.
Logan bergeming, entah apa yang dipikirkannya. Rania menyentuh bahu Logan, "Sayang..."
Logan tersadar dari lamunannya, kemudian tersenyum tipis pada sang istri.
"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Rania duduk di samping sang suami.
Logan menghela nafas dan meraih tangan Rania, "Gak apa-apa, Ran. Cuma gak kerasa aja sekarang udah hampir sebulan ayah meninggal. Gedung yang di Bandung juga udah siap pake. Sebentar lagi kita bakal pindah ke Bandung."
Rania menatap kedua mata sang suami yang akhir-akhir ini terlihat selalu sendu. Padahal dulu sorot mata Logan selalu terlihat tajam, "Kamu baik-baik aja?"
Logan terdiam.
"Gan," Rania meraup kedua pipi suaminya itu. "Aku ini istri kamu. Jangan terus-terusan ngelamun kayak gitu dong. Kamu bisa ceritain apapun sama aku. "
Logan menatap Rania yang menatapnya dengan cemas. Kemudian ia berkata, "Terus terang aku cape, Ran. Semua tanggung jawab aku sekarang sebagai direktur utama bikin aku sesak. Kadang aku mikir, apa aku berhenti aja? Aku juga ngerasa gak bisa sehebat ayah dalam mimpin Logan Enterprise. Aku belum cukup mampu, Ran."
__ADS_1
Rania menggeser duduknya dan merengkuh tubuh suaminya itu, "Sejauh ini kamu udah hebat banget, Sayang. Hari ini bahkan aku liat kehebatan kamu yang lain." Rania teringat saat Logan memberikan komentar dan sarannya pada chef baru yang memiliki gelar michelin star itu dengan bahasa Italia yang sangat fasih.
Rania melepas pelukannya dan menatap Logan dengan tatapan yang yakin, "Kamu itu CEO yang hebat banget."
Logan tersenyum mendengar pujian itu, namun terlihat tidak terlalu senang.
"Dengerin aku, Gan." Rania meraup kedua pipi Logan, "Kamu emang punya tanggung jawab yang besar sekarang, tapi kamu gak harus selalu keliatan tangguh. Kamu masih bisa jadi diri kamu sendiri. Terutama di depan aku. Aku udah lama gak liat kamu ketawa. Kamu udah gak pernah main game, nyanyi-nyanyi, berenang, atau bercandain aku. Kamu bisa tetep jadi CEO saat kamu ada di kantor, dan kamu bisa jadi diri kamu sendiri saat kamu di rumah."
Logan tersenyum lelah, "Aku sibuk banget, Ran. Kamu 'kan tau sendiri, kerjaan aku gak ada abisnya."
"Iya tapi masih ada waktu kok buat kamu me time barang beberapa menit aja setiap harinya. Kamu bukan superhero, Gan. Kamu orang biasa. Kamu gak harus selalu keliatan kuat." ucap Rania memberikan semangat, "Ayah juga pasti sedih kalo ngeliat kamu kayak gini. Ayah ngasih kamu tanggung jawab ini bukan buat bikin kamu kehilangan masa muda kamu."
Logan tidak menjawab. Ia terdiam termenung mendengar kata-kata Rania.
"Ayah udah gak ada, itu gak akan bisa diubah, Gan. Tapi kita yang masih dikasih kesempatan untuk hidup harus ngejalanin hidup kita dengan baik. Percuma kamu bikin perusahaan ayah jadi lebih besar tapi kamu gak bahagia." ucap Rania.
"Emang selama ini aku gak bahagia ya?" tanya Logan.
Rania menggelengkan kepalanya dengan sedih, "Kamu gak harus selalu mikirin pekerjaan kamu setiap saat. Mikirin ayah setiap saat. Kamu juga harus punya waktu buat mikirin diri kamu sendiri, juga mikirin aku."
Logan menatap ke arah Rania. "Kamu kok ngomong gitu? Aku selalu mikirin kamu kok."
"Gan, inget gak, waktu itu kita ketemu sekitar setahun yang lalu. Kita kenalan, kita saling suka, tapi kita gak bisa bareng-bareng karena ternyata kamu murid di sekolah tempat aku ngajar. Terus waktu itu kita cuek-cuekan. Aku cuma bisa liat kamu dari jauh tanpa bisa nyapa kamu. Sampe akhirnya kamu lulus SMA. Setelah kamu lulus aku baru tau apa alasan kamu nyuekin aku selama itu. Akhirnya kita baikan, kamu lamar aku, dan kita nikah. Sepanjang itu, Gan, perjuangan kita buat bisa bareng-bareng kayak sekarang." Rania menatap lekat suaminya itu.
"Tapi setelah kita nikah aku justru gak pernah liat kamu senyum, aku belum pernah liat kamu ketawa lagi kayak dulu. Aku tau yang kamu lalui itu berat, tapi aku kangen kamu yang dulu. Kamu yang selalu ngasih perhatian-perhatian kecil buat aku. Kamu seharian udah kerja dari pagi sampe sore, kadang sampe malem. Di rumah kamu kadang masih suka kerja. Aku bukan ngelarang kamu buat kerja, tapi sadar ato nggak kita gak pernah sekalipun ngobrol kayak gini semenjak kita nikah. Kamu gak pernah nanyain aku ngapain aja hari ini. Bahkan..."
Rania terdiam beberapa saat.
"Bahkan apa?" tanya Logan.
Rania tadinya ingin mengatakan bahwa bahkan hingga kini mereka belum pernah menunaikan ritual yang seharusnya dilakukan oleh suami-istri, namun ia urungkan. "Bahkan kita gak pernah kencan jalan-jalan kemana gitu. Kamu juga butuh refreshing, having fun. Kamu bukan robot, Gan. Kamu perlu ngecharge energi kamu dengan sesuatu yang bikin kamu semangat."
Logan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, dan tertawa memandang Rania. Ia rengkuh tubuh Rania ke dalam pelukannya dan ia cium pucuk kepala Rania beberapa kali, "Maafin aku ya, Sayang. Aku bener-bener gak nyadar. Aku terlalu fokus beresin kerjaan aku sebelum kita pindah ke Bandung."
Rania membalas pelukan Logan dengan melingkarkan tangannya di sekeliling tubuh Logan, "Iya gak apa-apa. Tapi seudah ini kamu harus janji sama aku, kamu harus bisa bagi waktu. Kapan kamu mikirin kerjaan, kapan kamu istirahat, dan kapan kamu jadi diri kamu sendiri. Jangan bikin orang-orang lain bilang, seudah nikah aku gak bisa bahagiain kamu."
Logan tertawa, "Iya, istriku. Aku janji." ucap Logan seraya mempererat pelukannya.
Rania tersenyum lega, semoga setelah ini Logan bisa lebih bisa kembali ceria seperti dulu lagi.
__ADS_1