My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 25: Mengelak


__ADS_3

Rania membuka sepatunya saat memasuki apartemen dengan tatapan yang terus tertuju pada layar HPnya. Senyum merekah di bibirnya.


"Pasti ini kamu juga deh yang pengen foto sama opa, ya 'kan Nak?" ucap Rania kembali berbicara pada janin yang dikandungnya sembari melihat foto selfienya bersama dengan Nabil, "Liat opa gagah banget pake seragam polisinya. Nanti kalau udah besar kamu harus kayak Opa ya, itu juga kalau kamu laki-laki, sih."


Rania menjatuhkan dirinya di sofa ruang tengah, "Tapi kalau dibanding sama Opa kamu, ayah kamu lebih gagah lagi. Badannya tinggi, hidungnya mancung, bibirnya kecil, matanya sipit dan sorot matanya tajam. Kalau ayah udah pakai setelan jas dan kerja di kantornya, udah deh gak ada yang ngalahin gantengnya ayah kamu, Sayang."


Rania merebahkan tubuhnya di sofa. Masih membayangkan sosok sang suami sambil memegang perutnya, "Ayah juga punya sisi yang manis banget. Ayah itu selalu perhatian sama hal-hal kecil loh sama ibu. Ibu sayang banget sama ayah kamu. Makanya ibu seneng banget sekarang ada kamu di perut ibu."


Raut wajah Rania sedikit berubah menjadi sedih, "sayangnya sekarang ibu gak berani bilang sama ayah kamu tentang kamu, semoga ibu gak akan terlalu lama nyembunyiin kamu ya. Kamu harus bisa ngerti, ayah kamu masih sangat muda. Ayah bukannya gak mau kamu ada, cuma belum siap aja untuk sekarang. Jadi kamu sabar dulu ya, Nak."


Seketika Rania menghela nafasnya, "sampai kapan tapi ya ibu harus nyembunyiin kamu?"


***


Akhirnya tiba juga saat Logan kembali ke Indonesia setelah perjalanan Dinasnya ke Maladewa. Rania begitu semangat menanti kedatangan Logan. Rania sudah menyiapkan beberapa masakan Taiwan yang ia pesan dari restoran favorit Logan.


Terdengar pintu penthouse itu diakses. Rania segera menghampiri pintu.


Logan masuk bersama dengan seorang supir yang membawakan koper miliknya.


"Mas!" Rania segera menghambur memeluk sang suami. Supir itu segera pamit dan menutup pintu, tidak ingin mengganggu kemesraan atasannya itu.


"Kangen banget sama Mas!" Rania masih memeluk erat sang suami.


Senyumpun mengembang di wajah Logan. "Aku juga kangen banget sama kamu, Yang."


Logan melepas pelukannya dan menatap wajah sang istri, "Baru gak ketemu beberapa hari tapi istriku ini kok jadi cantik banget ya?"


Rania tersipu, seraya memegang pipinya, "Masa sih?"


"Beneran. Kamu perawatan ya selama aku gak ada?" tanya Logan penasaran.


Rania memang datang ke sebuah klinik kecantikan sebelum Logan pulang, "Iya. Aku tadi perawatan dulu. Kan mau nyambut suami aku yang baru pulang dari dinas."


"Idol kpop insecure liat muka kamu glowing gitu," ucap Logan sembari berjalan menuju meja makan bersama Rania.


"Bisa aja ih, Mas. Emang keliatan banget ya?" tanya Rania. Ia memang memesan perawatan yang paling mahal di klinik itu.


"Iya beneran. Nanti beberapa tahun lagi malah banyak yang ngira kamu lebih muda dari aku, loh, Yang."

__ADS_1


Rania semakin salah tingkah mendapat pujian dari suaminya itu. "Udah ah jangan muji-muji terus. Sekarang kita makan yuk, aku udah siapin makanan buat Mas."


Logan terperangah dengan menu makanan Taiwan memenuhi meja makan mereka,"Yang banyak banget ini makanannya."


"Iya dong, biar Mas sehat jadi harus makan banyak." Rania mempersiapkan nasi ke dalam mangkuk.


Logan memakannya dengan lahap menggunakan sumpitnya, "Beneran jadi kayak di restoran Taiwannya, Yang."


"Iya, 'kan? Aku sengaja biar dapet feelnya makannya pake mangkuk sama sumpit juga." kini Rania bergabung dengan Logan memakan menu yang ada di meja makan itu.


"Nah, gitu dong. Kamu ikutan makan." komentar Logan pada Rania yang biasanya tidak terlalu menyukai makanan Taiwan.


Rania tersenyum penuh arti, "Iya. Ternyata enak juga masakan Taiwan itu, Mas."


"Baru nyadar sekarang?" ucap Logan diiringi senyum kecut Rania.


Logan tiba-tiba saja berkata, "Yang, besok kita ke dokter kandungan ya."


Seketika Rania terbatuk, mendengar ucapan Logan itu membuatnya tersedak.


Logan menyodorkan segelas air putih pada Rania, "Kamu pelan-pelan dong makannya."


"Kita konsultasi aja. Terus kamu pasang alat kontrasepsi, biar kita gak repot gitu tiap-tiap harus pasang dulu. Terus nyampah juga kalau pake pengaman. Aku denger-denger juga pake pengaman masih memungkinkan untuk hamil." ucap Logan seraya menyuapkan makanannya.


'aku emang udah beneran hamil, Mas. Anak kamu ada di perut aku sekarang!' teriak Rania dalam hati. Hati Rania terasa berdenyut sakit, sebesar itu Logan menolak untuk memiliki anak hingga ia ingin Rania menggunakan alat kontr*sepsi.


"Yang? Kok kamu malah ngelamun?" ucap Logan keheranan.


"Mmmm.. Gak usahlah, Mas. Aku takut pake alat kayak gitu. Lebih baik kita pake pengaman aja kayak biasanya." Rania berusaha mengelak.


"Takut kenapa, Yang?"


Rania berusaha untuk tidak terlihat sedih meskipun hatinya telah pecah berkeping-keping. "Takut aja, Mas. Alatnya dipasang gitu kan ke mimi aku. Terus aku juga gak mau kalau yang diminum atau yang disuntik, katanya ada yang malah jadi jerawatan, terus ada juga yang malah jadi gemuk ke badan. Terus nantinya katanya juga malah jadi susah kalau mau punya anak. Aku gak mau ah, Mas." Rania bersikukuh.


"Kamu katanya-katanya terus. Makanya kita ke dokter biar dapet saran terbaik. Yah?" Logan masih mencoba meyakinkan sang istri.


'Duh, kok Logan susah banget sih diyakininnya. Gimana nih?' Rania kembali memutar otaknya.


"Ya udah deh, tapi jangan besok. Aku besok mau ke kampus." Rania baru ingat jika besok ia memang harus ke kampus, jika tidak bisa membatalkan setidaknya ia bisa menundanya.

__ADS_1


"Ke kampus? Ngapain?" tanya Logan.


"Bulan depan aku udah mulai masuk kuliah, Mas. Jadi besok aku mau ngasihin hardcopy persyaratan aku buat masuk S2. Mas lupa?" Rania mengingatkan.


"Oh iya bener. Kamu ke kampus jam berapa? Aku juga ke kampus kok besok."


'hah? Kok Logan ke kampus juga? Biasanya kan dia ke kantor dan jarang ke kampus. Gak bisa ngehindar deh. Dia pasti ngajakin aku ke dokter seudah dari kampus.' batin Rania frustasi.


"Aku dari pagi, sih." ucap Rania lesu. Otaknya buntu tidak tahu harus mencari alasan apa lagi agar Logan berhenti mengajaknya ke dokter kandungan.


"Ya udah kita bareng ya. Aku anterin dulu kamu ke kampus, terus aku mau ke kantor dulu sebentar, nanti jam 10an aku ke kampus lagi. Seudah itu kita ke dokter kandungan ya."


"Iya, Mas." lirih Rania, tidak mampu mengelak lagi.


Keesokan harinya, pagi hari Rania dan Logan berangkat bersama ke kampus. Logan tidak menggunakan setelan jasnya, ia memilih menggunakan kemeja dan celana jeansnya. Begitu juga dengan Rania memakai pakaian yang senada dengan Logan.


Rania berjalan masuk menuju mobil Logan yang sudah ada di depan lobi apartemen.


"Kita beneran kayak seumuran gak sih berangkat bareng ke kampus kayak gini, Yang." ucap Logan sumringah.


"Iya, Mas." Rania tersenyum lirih.


"Kamu kenapa? Kok kayak yang lemes dari kemarin? Kamu sakit?" Logan menaruh punggung tangannya di dahi Rania. "Nggak demam, kok."


"Nggak kok, Mas. Yuk berangkat." Bagaimana Rania tidak lemas, ia masih belum menemukan alasan agar ia tidak harus pergi ke dokter kandungan nanti siang. Dan hati istri mana yang tidak sedih saat ia harus menyembunyikan fakta bahwa ia tengah hamil, alih-alih memberikan kejutan kepada sang suami. Rania yang harus menyembunyikan kehamilannya dari Logan membuatnya begitu dilema.


Tak berapa lama mereka sampai di Universitas Satya Bimantara. Rania keluar dari mobil saat Logan berhenti di depan fakultas bahasa dan sastra.


"Aku ke kantor dulu, sampai ketemu siang nanti ya." pamit Logan menuju kantornya.


"Iya, Mas hati-hati ya bawa mobilnya." Rania melambaikan tangannya. Seketika mobil Logan sudah melaju kembali menuju gerbang.


Rania segera memasuki gedung fakultasnya dan menyerahkan persyaratan untuk S2nya. Setelah itu Rania berjalan-jalan melihat-lihat kampus yang akan sering didatanginya itu.


Ia terperangah melihat fasilitas yang ada di kampus itu, sangat mewah dan megah. Lebih mewah dari SMA Satya.


Namun fokus Rania kembali pada kehamilannya. 'Gue harus gimana sekarang?' lirihnya dalam hati. Pikiran dan perasaannya terus dikuasai rasa kalut. Hingga Rania tidak sengaja bertabrakan bahu dengan seseorang.


"Maaf." ucap Rania penuh sesal. Ia menatap pada orang yang tak sengaja ia tabrak itu, dan sontak tercengang. Begitu juga dengan orang tersebut, berdiri mematung menatap Rania.

__ADS_1


"Vino...?"


__ADS_2