My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 52: Obrolan di Dalam Mobil


__ADS_3

"Ran, ayo dong cepetan!" teriak Rendra dari lantai 1.


Tak lama Rania dan Logan muncul dan menuruni tangga. "Iya Pap. Ini udah kok." jawab Rania seraya memasukkan ponselnya ke dalam tas tangannya.


"Papa dari tadi teriak-teriak mulu," protes Logan.


"Abis kaliannya lama. Udah 10 menit Papa nungguin kalian turun." mereka kini berjalan menuju keluar rumah.


"Tau nih, Papa kalian udah gak sabar buat ngeliat calon cucunya." ucap Carla nimbrung.


"Nah itu udah pada tahu, kenapa masih lama datengnya." ujar Rendra lagi.


"Rania 'kan siap-siap dulu, Pap. Lagian masih lama kok dari waktu janjiannya. Nanti juga di klinik kita masih nunggu lagi." ucap Rania seraya duduk di jok belakang bersama Carla, sedangkan Logan menempati kursi kemudi dan Rendra di sebelahnya.


"Mereka ikut?" tanya Rendra pada Logan saat melihat dua mobil sedan hitam bersiap. Mobil-mobil itu diisi oleh delapan orang bodyguard yang Logan pekerjakan untuk menjaga keamanannya dan juga Rania. Terlebih sekarang Rania sedang mengandung.


"Iya, Pap. Buat jaga-jaga aja." Logan mulai melajukan mobilnya.


"Harus sampai dua mobil yang ngikutin?" tanya Rendra lagi.


"Kemarin-kemarin 'kan ada yang bikin kacau di kantor, Yang. Jadi gak apa-apa 'kan dikawal gini. Apalagi Rania lagi hamil." Carla memberikan pengertian pada Rendra yang mungkin belum terbiasa dengan pengawalan seperti ini.


"Yang ngancem-ngancem terus pengen dapet bagian itu? Mafia kelas teri dari Hongkong itu?" tanya Rendra.


"Iya, Pap." jawab Logan, "Bosnya udah dipenjara, tapi anak buahnya masih banyak yang berkeliaran. Walaupun mereka kelas teri tetep aja bisa aja nekat. Makanya sekarang aku mempekerjakan banyak bodyguard. Makanya kalau Logan dan Rania mau pergi sekarang harus dikawal. Aku gak mau ambil resiko." terang Logan.


"Ribet banget hidup kamu," komentar Rendra.


Logan terkekeh, "Yah gitulah, Pap."


"Tapi kalau Rania lagi bareng papa, gak usah pake bodyguard-bodyguard segala. Papa yang bakal jagain dia. Gak akan ada yang berani sama Papa." ucap Rendra penuh tekad.


"Gak bisa, Pap. Rania itu tanggung jawab Logan. Papa gak perlu jaga-jagain dia lagi. Aku bakal siapin yang terbaik buat jagain Rania." ucap Logan, kata-katanya mulai memancing perdebatan.


"Kamu baru juga dikasih izin buat bareng Rania lagi. Sekarang udah sok banget jadi yang paling peduli. Kemana kamu kemarin-kemarin?" Rendra tersulut untuk mendebat Logan.


Namun kali ini Logan tidak mendebat ayah mertuanya itu. Ia masih trauma saat ia harus dipisahkan dengan Rania, "Iya Maaf, Pap. Aku tahu aku salah. Sekarang aku gak akan gitu lagi. Aku bakal usahain yang terbaik buat Rania dan anak aku."


"Tumben gak jadi debatnya," komentar Carla.

__ADS_1


Logan melihat sang Bunda dari kaca spion dan berbicara dengan berbisik, seolah tidak ingin Rendra mendengarnya, "Harus dibaik-baikin, Bun. Nanti Logan gak boleh ketemu lagi sama Rania."


Rania terkekeh melihat tingkah suaminya, "Papa hebat banget bisa bikin CEO Logan Enterprise gak berkutik," seraya memeluk sang ayah dari bangku belakang.


"Yang, kamu tiis banget meluk-meluk cowok lain depan aku?!" canda Logan.


"Kenapa emangnya?" Rania menanggapi candaan Logan, "Hampir Papa ini jadi Kakek sekaligus ayahnya dari anak aku loh kemarin-kemarin."


"Jadi bahas itu lagi sih kamu, Yang." ucap Logan lesu.


Rendra hanya tersenyum seraya menggenggam tangan sang putri yang melingkar di lehernya, "Makanya jangan macem-macem kamu. Gak boleh ada yang seenaknya sama anak kesayangan Papa."


"Wah parah, sampai pegangan tangan mereka, Bun." Logan berpura-pura marah, membuat semua terkekeh.


"Kenapa kamu mau? Sini Bunda peluk kamu juga." Carla bersiap memeluk sang putra.


"Ih, Bun. Gak mau ah. Aku udah besar, masa dipeluk-peluk sama Bunda." protes Logan.


Carla mengurungkan niatnya dan memajukan sedikit bibirnya, "Dasar kamu gak bisa banget disayang sama Bunda."


"Hey, jangan bikin istri Papa bete, ya." ucap Rendra galak.


"Harus cowok dong, Bun. Dia kan bakal nerusin Logan nanti." protes Logan.


"Emang kalau perempuan gak akan Mas jadiin penerus Mas nanti?" tanya Rania.


"Ya nggak gitu maksudnya, Yang. Kalau cowok 'kan lebih cocok aja jadi CEO." ucap Logan.


"Kata siapa?" Rendra nimbrung, "Kalau anak kalian perempuan dan kayak Rania, Papa yakin dia bakal jadi CEO yang hebat. Kamu gak liat anak papa ini cantik, pinter, dan baik kayak gini?"


Rania tersipu mendengar pujian dari sang ayah.


"Iyaa... Iya juga sih," Logan mulai berubah pikirannya, setuju dengan ucapan Rendra, "Boleh deh apa aja kalau gitu. Cewek cowok sama aja. Yang penting mirip Rania."


"Aku pengennya anaknya mirip sama Mas." ucap Rania sedikit merajuk.


"Nggak, Sayang. " ucap Rendra, "Harus mirip kamu. Jangan mirip Logan."


Logan sedikit tersinggung, "Loh kenapa, Pap?"

__ADS_1


"Gak mau aja." ucap Rendra singkat.


"Papa kamu gak mau cucunya mirip sama kamu soalnya nanti jadi ada dua yang mirip sama almarhum ayah kamu." ucap Carla tepat sasaran, membuat Rendra terperangah karena istrinya itu betul-betul sudah sangat mengenalnya.


"Jadi Papa sekarang itu suka ngedebat aku, suka julid, dan suka kadang sewot sama aku karena aku anaknya rival Papa waktu SMA?" Logan mengira-ngira.


"Dikit," cicit Rendra.


"Pap, gak adil banget dong. Aku ini lebih mirip Bunda, tahu." protes Logan.


"Iya, Pap. Mas Logan lebih mirip Bunda, kok." Rania membela sang suami. "Ada dikit sih mirip sama almarhum Ayah."


"Yang, kamu ikut-ikutan lagi." Logan kembali protes.


"Udah-udah, kita udah nyampe nih." Lerai Carla saat Logan mulai memasuki parkiran klinik.


Saat mereka keluar dari mobil seseorang memanggil Rania, "Ran!"


"Mama!" seru Rania sumringah, segera ia memeluk sang ibu. Begitu juga yang lain saling berpelukan dan bersalaman.


"Ngapain kesini, Bil?" tanya Rendra kepada Nabil dan Nindi.


"Biasa kita mau kontrol, sengaja dateng hari ini. Soalnya Rania kontrol hari ini juga 'kan jadi pengen bareng." Terang Nindi. Sedangkan Nabil terlihat sedikit diam.


"Kamu udah hamil, Nin?" tanya Carla sedikit tercengang.


"Belum, Kak." jawab Nindi lemas.


"Masih usaha, Kak." Nabil merangkul sang istri pada Carla.


"Semangat terus, ya." ucap Rendra tulus, "Kalian masih muda, Bil. Pasti bisa."  Rendra menepuk lengan Nabil.


Mendengar ucapan Rendra, Nabil terdiam. Tidak berusaha menanggapi.


"Semoga ya, Kak." jawab Nindi cepat, sambil melirik penuh arti pada Nabil.


Sikap Nabil yang seperti kurang nyaman dengan Rendra disadari oleh Rendra dan Rania.


'Ayah Nabil kenapa, ya? Kayak yang gak nyaman gitu ketemu Papa?' batin Rania.

__ADS_1


__ADS_2