
Tatapan Logan beralih pada Vino.
Bug!
Sebuah pukulan mendarat di pipi Vino. Akal sehat Logan tidak bekerja melihat sang istri berada dipelukan cowok lain, terlebih cowok itu adalah Vino.
Saking kerasnya satu pukulan itu membuat Vino tersungkur ke tanah yang ditutupi rerumputan taman itu. Sontak Rania berteriak melihat Logan dikuasai oleh amarahnya.
"Maksud lo apa meluk istri gue?!" amuk Logan masih dikuasai amarahnya, ia menarik kerah polo shirt yang Vino kenakan dan memukulnya sekali lagi.
"Logan stop!" teriak Rania histeris.
Sungguh dirinya tidak menyangka Logan akan melihatnya. Ia mengutuk dirinya sendiri karena sempat membiarkan dirinya menerima perlakuan yang memang tidak sepantasnya ia terima disaat ia kini sudah menjadi istri dari Logan. Logan pantas marah.
Teriakan Rania seakan angin lalu, Logan terus menghujamkan kepalan tangannya pada Vino yang kini ada di bawah kungkungan kakinya.
Vino mencoba untuk melepaskan diri namun tenaga Logan yang dikuasai amarah itu terlalu sulit untuk dilawan. Hingga iapun memutuskan untuk menyerangnya dengan kata-kata, "Lo cowok yang gak bertanggung jawab! Lo..."
"Vino! Berhenti!" Rania segera memotong ucapan Vino. Ia semakin panik mendengar Vino yang membuka suaranya, khawatir Vino akan memberitahukan perihal kehamilannya pada Logan. Ia tidak ingin Logan mengetahuinya. Ia tahu suaminya itu dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk berpikir jernih, terlalu berat beban yang sedang dipikulnya kini.
Ucapan Vino tadi membuat Logan semakin bengis dalam menghujamkan kepalan tangannya pada Vino.
"Mas tolong berhenti! Kita pergi dari sini! Maafin aku! Aku salah!" Rania kembali histeris.
Tiba-tiba saja entah darimana, Hazel dan Rifan datang.
"Gan! Lo ngapain!?" ucap Hazel. Mereka segera menarik mundur tubuh Logan dari atas tubuh Vino dengan susah payah, karena Logan sepertinya masih belum puas memukul laki-laki yang memang tidak pernah akur dengannya itu. Logan terus meronta-ronta mencoba melepaskan tangan Hazel dan Rifan yang mengunci tubuhnya.
Lebam mulai terlihat di pipi Vino, darahpun mulai mengalir dari hidungnya. Namun Vino sedikitpun tidak meringis kesakitan. Ia justru tertawa. Kata-kata yang diucapkan Rania yang mengatakan bahwa ini adalah salahnya dan meminta maaf pada Logan, membuat Vino semakin merasa miris.
Logan kembali memberontak melihat tawa Vino yang kembali membangkitkan amarahnya yang bahkan belum padam. Rifan dan Hazel semakin erat mengunci kedua tangan Logan. "Gan! Tahan emosi lo! Ini di kampus!" Hazel kembali menyadarkan Logan.
__ADS_1
"Mas! Aku mohon udah cukup! Maafin aku! Aku yang salah, Mas!" Rania memeluk Logan, mencoba membentengi Vino dari Logan.
Melihat Rania yang terus meneteskan air matanya dan terlihat begitu merasa bersalah membuat Logan memutuskan untuk menghentikan aksinya. "Ini peringatan dari gue. Lain kali gue bakal mastiin lo gak akan bernafas lagi!" suaranya bergetar saking marahnya, tatapannya juga sangat menakutkan, sorot matanya menggambarkan apa yang dikatakannya.
"Lepasin gue!!" Sekuat tenaga Logan melepaskan tangan Hazel dan Rifan yang menahannya.
Tatapan marahnya kini tertuju pada Rania. Terlihat sekali ia mencoba menahan kata-kata yang ingin ia luapkan, tapi Logan memutuskan untuk membawa Rania dari sana. Tanpa disadari kini banyak mata yang menatap mereka. Logan meraih tangan Rania, mencengkramnya dengan kasar dan membawanya pergi.
Rania pasrah. Ia berjalan dibelakang Logan dengan sedikit terseok karena Logan berjalan cepat dengan langkahnya yang panjang. Ia menoleh sekilas ke arah Vino yang kini sedang berusaha bangkit dibantu oleh Hazel dan Rifan. Ia berkata dalam hati, "maafin kakak, Vin."
***
Logan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, melajukan mobilnya dengan ugal-ugalan. Mobilnya terus berbelok ke kanan dan ke kiri menyalip mobil yang ada di depannya. Rania hanya bisa terdiam, dengan tubuh yang gemetar memegang sabuk pengaman yang menahan tubuhnya. Ia sangat ketakutan. Sorot mata Logan yang seperti ini baru kali ini ia lihat.
Tidak lama Logan membelokkan mobilnya ke Hotel Logan Ritz, tempat terdekat dari kampus yang bisa dijangkaunya. Mobilnya berhenti di depan lobi. Logan keluar dari mobil dan segera menarik tangan Rania dan memasuki lobi.
Beberapa pegawai yang kebetulan ada di lobi, segera menyambutnya.
"Selamat si..." sapa para pegawai, namun segera dipotong oleh Logan.
"Ba-baik, Pak." pegawai tersebut segera berlari menuju meja resepsionis. Ia mengetahui pimpinannya itu sedang tidak baik-baik saja, melihat nada bicara dan raut wajahnya yang penuh amarah, ditambah tangannya mencengkram erat istrinya yang terus menangis.
Pegawai itu menyerahkan kunci tepat saat Logan akan memasuki lift. Liftpun membawa Logan dan Rania ke sebuah kamar di lantai 2 dan paling dekat dengan lift.
Saat tiba di kamar, Logan melepaskan tangan Rania dan sedikit mendorongnya hingga Rania terduduk di sofa yang ada di sisi tempat tidur. Rania mengusap tangannya yang terasa sakit akibat cengkraman tangan suaminya itu. Rania menatap takut pada Logan yang masih dikuasai amarahnya.
Logan mendekat dan kedua manik hitamnya menatap kesal pada Rania. "Kenapa kamu pelukan sama dia?" kedua alis tebal Logan beradu, menambah tajam sorot matanya.
"Maafin aku, Mas." isak Rania. Ia merasa sangat bersalah.
"Aku tanya, KENAPA KAMU PELUKAN SAMA DIA, RANIA!!" amuk Logan. Suaranya menggema di kamar itu.
__ADS_1
Rania terperangah. Siapa pria didepannya ini? Kemana perginya Logan yang selama ini selalu memperlakukannya dengan lembut?
Tidak kunjung juga mendapat jawaban dari Rania, Logan menjauh dan mecengkram sprei putih yang menutupi tempat tidur dan menariknya sekuat tenaga hingga sprei dan selimut, juga kasur itu bergeser dari tempatnya dan seketika tempat tidur itu sudah tidak jelas lagi bentuknya.
"Sejak kapan kamu deket lagi sama dia?" tanya Logan masih dengan sorot mata yang sama.
Rania menggelengkan kepalanya, "Nggak, Mas. Aku gak deket sama dia." cicit Rania saking ketakutannya.
"Terus apa tadi yang aku liat?! Kamu masih mau ngelak? Sekali lagi aku tanya, kenapa kamu pelukan sama dia?!" bentak Logan.
Rania terus terisak, tangannya masih memegang tangan lainnya, bekas cengkraman Logan masih terasa sakit. Tapi kini hatinya jauh lebih sakit.
"Maafin aku, Mas." lirih Rania dengan isak yang tidak berhenti. Rania tidak bisa mengatakan pada Logan bahwa Vino mengetahui bahwa ia tengah hamil. Ini bukan waktu yang tepat. Biarlah kali ini Logan salah paham padanya.
"Kamu harusnya ngerti aku lagi pusing! Aku lagi banyak masalah! Aku cuma nyuekin kamu sebentar tapi kamu udah nyari cowok lain! Kamu bukannya ngedukung aku malah kayak gini di belakang aku! Kamu harusnya jadi orang yang paling ngejaga perasaan aku, pikiran aku!" teriaknya lagi.
Amarahnya berkurang, berganti dengan sakit yang teramat sangat di hatinya. Logan memeluk kepalanya yang tertunduk. Terlihat sangat lesu, membuat Rania semakin merasa bersalah.
Rania beranjak dari duduknya dan perlahan, masih dengan perasaan takut ia menghampiri Logan. Rania meraih satu tangan Logan dan menggenggamnya.
"Maafin aku, Mas." Rania menaruh keningnya di punggung tangan Logan, "Aku salah."
Seketika Logan menghalau tangan Rania dengan sangat kuat hingga tanpa sengaja membuat Rania terjatuh ke lantai.
Bruk!
Rania merasakan sakit luar biasa pada perutnya, sontak ia memegang perutnya.
Logan terlihat merasa bersalah, namun amarah masih menguasainya. Terbersit dalam pikirannya ingin membantu Rania bangkit dari jatuhnya, namun ia urungkan. "Aku gak butuh maaf kamu. Kamu gak mau ngomong alasan kamu meluk dia? Berarti emang ada sesuatu antara kamu sama dia, iya 'kan? Kalau kamu emang ada rasa sama dia, kenapa kamu nikahin aku, Ran?"
Rania masih terduduk di lantai dengan wajah tertunduk berusaha menahan rasa sakit di perutnya.
__ADS_1
Sebutir air mata melintas di pipi Logan dan jatuh ke lantai. "Tega banget kamu, Ran." lirihnya.
Kemudian ia pergi dari sana, meninggalkan Rania.