
Logan dan Rania tiba di penthouse mereka pada pukul duabelas malam setelah menghadiri acara perpisahan Nessie. Rania merasa sangat kelelahan. Ia berniat untuk mengganti pakaian, mencuci mukanya, dan segera tidur.
Namun saat selesai membuka sepatunya, Logan mendorong pelan tubuh Rania merapat pada tembok ruang tamu. Logan memandang kedua mata Rania lekat kemudian tatapannya tertuju ke bibir Rania. Loganpun mendekatkan bibirnya dan mencium bibir istrinya beberapa saat.
Mereka melepas ciumannya dan masih saling memandang.
"Sayang..." ucap Logan.
"Hmm?" gumam Rania.
"Boleh gak kalo malam ini, aku minta buat.....itu." wajah Logan memerah.
Rania tersenyum mendengar suaminya itu meminta izin untuk menyentuhnya untuk pertama kalinya. Sejak hari pernikahan mereka belum melakukan hubungan layaknya suami-istri. Selain mereka masih ada di masa berkabung, Logan sibuk sekali setiap harinya mengurus banyak hal.
"Aku sekarang udah jadi milik kamu. Kamu berhak atas aku, Gan. Aku bakal siap kapanpun kamu mau."
Logan tersenyum tipis\, kemudian tanpa menunggu lagi ia mempertemukan bibirnya dengan bibir Rania lagi. Dengan penuh g*irah\, bibir Logan terus mem*gut bibir sang istri\, kemudian memangkunya dan membawanya ke kamar mereka. Perlahan Logan membaringkan tubuh Rania di tempat tidur. Bibirnya masih mencumbu bibir ranum istrinya itu\, dan tangannya mulai membuka satu per satu pakaian yang Rania kenakan. Kini tubuh indah Rania ter*kspos tanpa sehelai benangpun. Loganpun melepaskan cumbuannya sesaat untuk melepas pakaiannya sendiri.
"Aku masuk ya." ucap Logan meminta izin pada Rania. Logan tahu ini pertama bagi mereka, sehingga Logan agak khawatir jika Rania akan merasa sakit saat ia masuk ke dalam inti tubuhnya.
Rania menelan salivanya, sedikit tegang, dan mengangguk pelan.
Logan mendorong masuk miliknya pelan ke inti tubuh Rania. Seketika Rania meringis pelan. Inti tubuhnya terasa perih.
"Sayang, kamu gapapa?" tanya Logan khawatir.
"Aku gapapa kok." ucap Rania sambil sedikit mengeluarkan air matanya karena sakit yang ia rasakan di inti tubuhnya.
Kemudian Logan mulai memaju mundurkan tubuhnya pelan, kemudian semakin lama semakin cepat. Seiring dengan itu, rasa sakit itu mereda, sampai Raniapun bisa menikmati inti tubuh Logan yang terus keluar masuk di bawah sana. Bibir mereka terus saling bercumbu.
Sampai akhirnya keduanya merasa akan tiba di puncak dan sensasi paling nikmat itu muncul secara bersamaan. Logan mengeluarkan cairan cintanya di rahim Rania beberapa kali.
Logan menatap wajah cantik Rania dan mereka saling tersenyum bahagia. Mereka menutup kenikmatan itu dengan kecupan mesra di bibir.
"Aku sayang banget sama kamu." ucap Logan.
__ADS_1
"Aku tau." ucap Rania.
"Kok jawabnya gitu?"
"Emang kamu pengennya gimana?" tanya Rania berpura-pura tidak tahu.
"Ya pengennya kamu juga bilang sayang sama aku dong."
"Harus ya emang?" tanya Rania yang masih berbaring, dan Logan masih di atasnya.
Logan menggelitik Rania, sehingga tubuh Rania meliuk-liuk menghindari tangan Logan yang terus menggelitiknya. Rania terbahak tidak kuasa menahan geli yang dirasakannya.
Rania menatap Logan saat Logan berhenti menggelitiknya. Ia lega karena setelah mereka bersenang-senang di Dufan, Logan kini menjadi lebih ceria dan sedikit demi sedikit kembali seperti dirinya yang dulu.
"Aku gak usah ngomong itu lagi kali, Gan. Kamu sendiri udah tau, aku juga sayang banget sama kamu."
Logan mengistirahatkan kepalanya di dada Rania. Ia agak menahan berat tubuhnya agar Rania juga merasa nyaman. Setelah beberapa saat Logan kembali menciumi dada Rania. Sepertinya g*irah kembali menguasai Logan. Namun Rania masih merasakan perih dan nyeri di inti tubuhnya
"Gan, aku masih sakit. Ntar dulu ya." pinta Rania.
"Sakit banget ya? Ada darahnya, Yang." ucap Logan.
"Dikit." ucap Rania sambil mendekatkan telunjuk dan ibu jarinya.
Logan tidak menjawab dan merebahkan badannya di headboard dan membimbing sang istri untuk bersandar pada tubuhnya. Raniapun meletakkan kepalanya pada dada Logan dan mendekap tubuh polos suaminya itu.
Kantuk tiba-tiba menguasai keduanya. Logan masih memeluk Rania dengan tubuh yang masih polos dan tanpa sadar keduanya memejamkan mata dan terlelap.
Rania terbangun di pagi harinya. Ia merasakan sebuah tangan berada di kepalanya menjadi bantal selama tidurnya tadi malam, dan sebuah tangan lainnya melingkar di tubuhnya. Dirinya masih belum berpakaian, menyadari semalam mereka langsung tertidur setelah melakukan penyatuan. Kejadian semalam berputar di otak Rania. Iapun tersipu, mengingat bahagianya malam tadi saat tubuh mereka menjadi satu untuk pertama kalinya.
Rania menoleh ke belakang. Logan masih terlelap dengan tubuhnya yang juga belum berpakaian. Wajah tampannya tidur dengan damai. Rania berbalik dan mengecup pelan bibir suaminya itu.
"Sayang, bangun yuk. Udah pagi." ucap Rania.
Logan terbangun perlahan. Matanya menyipit dan memandang Rania yang sedang menyentuh pipinya. Logan menarik kembali Rania ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Masih ngantuk ah, bentar lagi." ucap Logan memeluk erat Rania dan kembali memejamkan matanya.
"Hari ini kan kita mau ke rumah eyang, Gan. Terus ke rumah Bunda sama Papa. Besok kan kamu udah mulai kuliah sama kerja."
Logan bergeming. Sepertinya ia tertidur kembali. Raniapun tidak membangunkan Logan, membiarkan suaminya itu tidur sebentar lagi. Rania bangkit dari tempat tidurnya dengan perlahan, dan berjalan ke kamar mandi yang terletak di kamarnya.
Rania berjalan menuju ruang shower, tatapannya terpaku pada pantulan dirinya ketika melewati cermin besar di depan wastafel kamar mandi. Ia melihat tubuh polosnya penuh dengan jejak-jejak tadi malam hampir di seluruh tubuhnya.
"Ya ampun. Dasar Logan!" ucap Rania sambil melihat jejak itu memenuhi dada, perut, bahkan pahanya. Namun untungnya tidak ada di lehernya.
"Kenapa sayang, manggil aku?" tiba-tiba saja Logan masuk ke kamar mandi, masih tanpa sehelai benangpun di tubuhnya dan berniat bergabung dengan istrinya itu.
"Gan, ih! Mandinya gantian." ucap Rania sambil memalingkan wajahnya dan menyilangkan tangannya di dadanya. Belum terbiasa dengan pemandangan indah itu.
"Barengan aja biar cepet." ucap Logan membimbing Rania untuk memasuki ruang shower.
Merekapun saling membasuh tubuh mereka secara bergantian. Logan juga membantu Rania untuk mencuci rambutnya. Tangan Logan mengusap sisa-sisa busa di tubuh Rania yang tersiram air. Hal itu membuat h*srat Logan muncul kembali. Ia mulai mencumbui punggung dan leher Rania yang berada di depannya.
"Gan, kita...." ucap Rania dengan suara terengah, h*srat Raniapun mulai bangkit akibat sentuhan-sentuhan Logan. Pagi itu mereka kembali melakukan penyatuan.
"Istriku cantik banget." ucap Logan setelah mereka kembali mencapai puncaknya seraya mengecup bibir Rania.
Rania tersipu mendengar pujian dari suaminya itu.
"Suami aku juga ganteng banget!" ucap Rania tersenyum sambil melingkarkan tangannya di leher Logan.
***
Mereka keluar dari kamar mandi dengan tubuh berbungkus handuk dan berjalan ke walk in closet. Rania terbelalak dengan lemari-lemari yang berjajar disana. Di sebelah kiri adalah baju dan aksesoris milik Logan, dan sebelah kanan terdapat baju-baju wanita dengan berbagai model dengan merek-merek yang berbeda.
"Gan, ini baju aku?" tanya Rania menunjuk ke arah lemari sebelah kanan.
Logan segera mengambil kemeja dan celana dari salah satu lemarinya.
"Iya Sayang, masa baju orang lain. Aku udah nyuruh Fany buat milihin baju-baju itu buat kamu. Katanya kamu pasti suka sama baju-baju itu. Suka dipake idol kpop kesukaan kamu." ucap Logan yang memang meminta sekretarisnya untuk membeli banyak baju untuk mengisi lemari Rania. Rania masih terbelalak melihat berbagai baju yang menggantung di lemari, berbagai tas bermerek, jam tangan, sepatu, bahkan perhiasan.
__ADS_1
"Cepet pake bajunya, Yang. Aku keluar duluan." ucap Logan mengecup pipi Rania dan berjalan menuju keluar kamar.