
"Bunda gak apa-apa sekarang malah disini nemenin aku?" tanya Rania pada Carla.
Mereka sedang berada di lounge di sport center yang berada di area Hotel Logan Ritz Bandung. Rania menunggu kedatangan Logan disana.
"Gak apa-apa dong, Nak. Bunda dikasih tugas sama Papa kamu buat jagain kamu. Papa kamu itu pengennya juga dia yang nemenin kamu setiap hari, tapi hari ini dia lagi ngecek kerjaannya dulu. Udah lama banget soalnya gak ditengokin itu karyawan-karyawannya dia. Makasih juga ya selama Bunda sama Papa pergi, kamu sama Logan udah mau dititipin kerjaannya Papa."
"Iya sama-sama, Bun. Bunda sama Papa gak lanjut keliling dunianya?"
"Kayaknya nanti dulu deh. Kita 'kan udah mau punya cucu. Apalagi Papa kamu excited banget." Carla menyesap jus mangga yang dipesannya.
"Bunda sama Papa emang gak pengen punya anak?"
"Di umur segini, Ran? Nggak deh kayaknya. Lagian Bunda udah punya kamu sama Logan. Papa kamu juga udah gak mau punya anak selain kamu. Nungguin punya cucu udah paling membahagiakan buat Bunda sama Papa. Makanya Papa kamu kaget, sedih, marah, seneng, campur aduk pokoknya saat tahu kamu hamil. Kita lagi di Barcelona, Papa kamu langsung pesen tiket pesawat paling cepet, dan terbang kesini buat ketemu kamu."
"Maaf ya, Bun. Rania jadi ganggu acaranya Bunda sama Papa." ucap Rania tidak enak.
"Gak apa-apa, Sayang. Kamu jangan ngomong gitu. Yang harus disalahin itu Logan. Bukan kamu. Sebagai ibunya kamu, Bunda minta maaf ya atas sikap Logan kemarin-kemarin. Kamu jadi harus ngejalanin awal kehamilan kamu sendirian. Harusnya kamu bilang dari awal, Nak. Bukan malah nyembunyiin itu dari semua orang. 3 bulan pertama itu rawan banget loh."
"Aku gak enak kalau harus cerita sama orang lain, disaat suami aku aja belum tahu, Bun." lirih Rania, teringat kembali masa-masa sulit itu.
"Dasar ya, Logan itu bener-bener. Bunda gak abis pikir. Dia harusnya udah mikirin ini sejak awal dia niat buat nikahin kamu."
"Mas Logan gak salah, Bun. Aku paham banget posisinya Mas Logan. Dia berniat nikahin Rania di umurnya yang masih 18 tahun aja udah sesuatu yang hebat banget, Bun. Rania ngerti kalau Mas Logan belum pengen jadi ayah."
__ADS_1
"Tetep aja itu anak harusnya udah mikirin kesitu. Tapi ya udah sekarang Logan udah berubah 'kan? Untung ada papa kamu. Sosok yang bisa bikin Logan gak berkutik. Bunda sampe kaget loh Logan bisa senurut itu sama Papa kamu. Dia dulu waktu sama ayahnya aja ngebantah aja kerjaannya."
"Iya Bun, aku juga salut sama Papa. Biasanya Mas Logan orangnya keras kepala dan gak mudah tunduk gitu sama orang lain. Ini Papa malah bisa bikin Mas Logan nurut."
"Itu semua karena kamu, Nak. Karena gak mau kehilangan kamu Logan jadi ngelepas semua gengsinya. Syukurlah Bunda bersyukur ada yang bisa ngendaliin Logan."
"Iya sih Bun. Oh iya, Bun. Aku pengen nanya, waktu Ayah meninggal kenapa Bunda gak dapet sahamnya Ayah? Semuanya kenapa malah jatuh ke tangan Mas Logan?"
Carla tersenyum, "Bunda nolak, Nak. Bunda ngerasa gak berhak atas saham itu. Karena kelakuan Faris dulu, Bunda jadi kayak gak mau aja dapet sesuatu dari dia. Barang sepeserpun. Makanya waktu Bunda cerai, semua harta gono-gini gak Bunda ambil. Bunda hidup dengan uang Bunda sendiri. Rumah yang kita tinggalin sekarang juga itu uang Bunda semua. Sebenci itulah Bunda sama Faris. Tapi itu dulu ya. Semenjak Bunda tahu kalau dia sakit, Bunda udah gak benci tapi justru kasihan."
"Bunda beneran gak pernah ada rasa sama sekali sama almarhum Ayah?"
"Nggak, Ran. Sama sekali. Hidup Bunda selama kurang lebih 18 tahun bareng dia, gak ada yang bikin Bunda cinta sama dia. Satu hal yang Bunda sadari dan Bunda yakini, kenapa Bunda harus ketemu sama Faris adalah karena Bunda harus melahirkan Logan. Itu satu-satunya alasan. Selebihnya Bunda gak pernah ada rasa."
"Bunda hebat banget bisa bertahan selama itu diperlakukan kurang baik sama suami sendiri. Aku aja waktu dicuekin sama Mas Logan kemarin udah ngerasa sedih banget."
"Semoga ya, Bun. Rania juga berharap kayak gitu. Rania udah hafal sama sifatnya Mas Logan. Rania akan terus berusaha buat ngertiin dia kok, Bun."
"Harus saling ya. Kamu juga harus bisa bikin Logan lebih menghargai posisi kamu. Jangan diem aja kayak kemarin saat Logan memperlakukan kamu gak adil. Kamu harus jadi wanita yang tangguh. Itu hal yang dulu gak bisa Bunda lakuin. Tapi kamu harus bisa ya, Ran. Jangan biarkan kita ditindas sama laki-laki."
"Iya, Bun."
Sebenarnya Rania bukannya tidak mau melawan Logan yang saat itu menjauhinya. Rania bisa saja pergi meninggalkan Logan dan pulang ke rumah Nindi. Karena di satu sisi Rania tidak mungkin hamil tanpa seorang suami. Juga Rania tidak tega jika harus meninggalkan Logan yang sedang berada dalam tekanan yang diterimanya yang seharusnya belum menjadi tanggung jawabnya. Maka dari itu Rania bertahan. Rania paham betul perasaan Logan yang sering kali terbebani. Jika saja Logan sudah jauh lebih dewasa, mungkin akan berbeda.
__ADS_1
"Nah itu dateng." Carla melihat sosok Logan mendatangi mereka.
"Maaf ya lama." ucap Logan mencium tangan sang Bunda, dan Rania mencium tangan Logan, kemudian Logan duduk di samping Rania.
"Gak apa-apa, Mas. Aku sama Bunda juga sambil ngobrol-ngobrol aja, kok."
Logan kemudian mengelus perut Rania menciumnya, "Anak ayah pengen liat ayah berenang? Sekarang ayah ganti baju dulu ya."
"Nah gitu dong, anaknya diajak ngobrol. Bukannya dicuekin." sindir Carla.
"Iya, Bun, iya. Logan sekarang udah berubah. Logan sayang banget sama istri dan anak Logan." ucap Logan seraya mencium gemas pipi Rania.
Rania yang kegelian tertawa dan mencoba melepaskan diri dari Logan yang menhujaninya dengan kecupan-kecupan mesra. "Mas, ih, ada Bunda loh ini. Malu."
"Malu kenapa coba? Kamu gak liat Bunda sama Papa aja di rumah suka gak tahu tempat." ucap Logan.
Wajah Carla memerah, "Apaan sih kamu? Emang kamu liat Bunda sama Papa ngapain?
"Bunda sama Papa juga suka gitu cium-cium depan kita. Tadi pagi juga abis sarapan. Tau aku udah pergi, Rania udah ke kamar, Bi Ninah lagi ke pasar, tahu-tahu mesra-mesraan di sofa ruang tengah. Untung aja belum sampe buka-bukaan." protes Logan frontal.
Carla melempar bantal sofa yang dipangkunya sejak tadi ke arah sang putra, "Kamu dasar! Kenapa gak bilang kalau liat?"
"Mau dibilangin tadinya kalau Bunda sampe buka-bukaan di sofa. Tapi ternyata pindah ke kamar. Jadi gak jadi aku gangguin." ucap Logan tengil.
__ADS_1
"Mas, ih, udah dong!" Rania yang mendengarnya jadi ikut-ikutan malu.
"Makanya, Bun. Aku sama Rania pindah lagi ya ke apartemen. Biar Bunda sama Papa bebas. Ya? Please?"