My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 14: Pertengkaran Pertama


__ADS_3

Logan berjalan tergesa. Ia menghampiri sebuah telepon yang terletak di ruang tamu presidential room itu, ia menelepon resepsionis hotel dan meminta alat tes kehamilan.


"Yang, kamu nelpon siapa?" tanya Rania dengan sumringah, bergabung dengan Logan ketika Logan menutup teleponnya.


"Aku minta testpack. Mereka lagi bawain kesini." wajah Logan terlihat sangat tegang.


Rania tersenyum tidak dapat membayangkan jika ia benar-benar hamil. Ia terus mengelus perutnya dan tersenyum bahagia. Bagaimana jika di dalam perutnya kini benar-benar ada buah cintanya dengan Logan? Rania menatap Logan yang masih berdiri mondar-mandir di ruang tamu. Logan sama sekali terlihat tidak senang, malah terlihat sangat tegang.


Tidak lama kemudian seorang pelayan hotel datang dan membawakan alat tersebut. Logan memberikannya pada Rania.


"Kamu test sekarang." ucap Logan dengan dingin, sorot matanya yang tajam menunjukkan bahwa ia sedang marah.


Rania menatap testpack yang Logan sodorkan padanya kemudian berkata, "Kamu kenapa, Yang? Kok kayak yang tegang banget. Gak sabar pengen tau hasilnya ya." Rania menggoda sang suami.


Logan menghirup nafas dalam.


"Kamu test dulu! Aku pengen tau kamu hamil atau nggak!" Nada suara Logan meninggi.


Rania tertegun. Reaksi Logan sangat di luar dugaan. Sorot mata tajam itu kembali Rania lihat.


"Kamu... gak mau kalo aku hamil?" tanya Rania dengan hati-hati, berharap prasangkanya itu salah. Bukannya seharusnya Logan bahagia jika dirinya hamil? Begitu pikir Rania.


Logan terlihat tidak sabar dan berkata, "aku cuma pengen tau kamu hamil ato nggak. Bisa gak sih kamu test aja dulu?!" Kini ia agak berteriak.


Rania menjadi ikut emosi, "Kok kamu jadi teriak-teriak sama aku?" bentak Rania.


Logan mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba meredakan emosinya.


Suasana menjadi sangat tegang.


"Sekarang jawab pertanyaan aku," ucap Rania menatap tajam pada sang suami. "Kalau aku hamil gimana? Kamu gak mau kita punya anak?!"


Logan mengerutkan keningnya lebih dalam, tanda amarahnya memuncak.


"Nggak! Kamu gak boleh hamil, Ran! Aku belum siap jadi ayah!" teriak Logan pada istrinya yang enam tahun lebih tua darinya itu.


Rania tertegun mendengar ucapan Logan. Seketika ia merasa hatinya seperti diremas kuat. Sakit sekali.


Beberapa saat mereka terdiam.


Rania mencoba menahan air mata yang sudah menggenang di kedua pelupuk matanya, dengan suara lirih Rania berkata, "kamu kok bisa ngomong kayak gitu? Selama ini apa yang kamu pikirin kalo kamu ngelakuin itu sama aku? Kamu cuma mau menikmati aja?"


Melihat kedua mata Rania yang merah dan berair, membuat Logan merasa bersalah.


"Bukan gitu, Ran." Logan mencoba menenangkan, "Kita baru nikah dua bulan. Aku bener-bener belum siap kalo seandainya kita punya anak. Kamu masih inget gak hampir setahun kita diem-dieman. Sekarang kita baru aja bisa bareng-bareng. Aku masih pengen berdua aja sama kamu. Aku pengen kita pacaran dulu, buat nebus waktu kita dulu." ucap Logan mencoba membuat Rania paham dengan pemikirannya.


Dengan marah Rania meraih testpack yang Logan genggam kemudian berjalan menuju kamarnya dan mengunci pintu.

__ADS_1


"Ran! Buka pintunya, Sayang!" Logan terus mengetuk pintu, namun Rania terus berjalan memasuki toilet dan duduk di sisi bathtub. Pikirannya mulai berkelana, mencoba memahami pemikiran suaminya itu.


Bagi Rania menikah dan memiliki anak sekarang adalah waktu yang sangat tepat, ia kini berusia 24 tahun. Jika benar ia hamil, anak pertamanya akan lahir di usianya yang ke 25 tahun. Perbedaan umur yang cukup ideal dengan anaknya kelak. Namun bagi Logan, menikah saja sudah menjadi sesuatu yang sangat dini dilakukan olehnya. Apalagi memiliki anak.


Rania mulai memahami perasaan Logan. Menikahinya yang 6 tahun lebih tua saja sudah suatu pengorbanan yang luar biasa bagi seorang Logan. Seharusnya di usianya yang baru saja masuk kuliah, Logan bisa menikmati masa-masa menjadi mahasiswa. Mengikuti berbagai kegiatan kampus, menghabiskan waktu bersama teman-temannya, menggelar berbagai acara, dan kegiatan lainnya.


Namun masa muda seorang Logan tidak sama dengan teman-temannya yang lain. Logan tidak pernah bergaul dengan teman-teman kuliahnya. Ke kampuspun hanya sesekali. Sepanjang hari ia pasti berada di kantornya dan menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai pimpinan yang harus menghandle pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya. Logan tidak pernah melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri lagi sekarang. Semua perhatiannya ia tujukan pada pekerjaannya.


Rania memandang testpack yang digenggamnya. Kini ia merasa ketakutan jika hasilnya positif. Ia tidak ingin seorang anak, jika sang calon ayah tidak menginginkannya.


Rania penasaran dan mulai melakukan test pada urinnya. Ia mencelupkan benda pipih itu pada urin yang sudah ditampungnya. Tangannya bergetar saking tegangnya.


Setelah beberapa saat hasilnya muncul.


Satu garis.


Rania tidak hamil.


Perasaannya campur aduk. Di satu sisi ia merasa lega karena sesuai dengan harapan Logan, ia belum akan menjadi ayah. Namun di sisi lain Rania merasa sangat sedih. Saat Logan bertanya apakah dirinya hamil atau tidak, Rania sudah membayangkan ia akan memiliki seorang bayi yang mirip dengan suaminya itu.


Air mata terus mengalir dipipinya.


Setelah agak tenang, Rania berjalan keluar dari kamar mandi. Ia letakkan testpack itu di nakas tempat tidur. Rania tidak lagi mendengar suara ketukan pintu. Ia membuka kunci dan membaringkan dirinya di tempat tidur, memandang ke arah jendela kamar mewah itu. Terlihat menara eiffel di luar sana. Seharusnya ia berjalan-jalan di sekitar menara kebanggaan kota Paris itu sekarang.


Rania mendengar pintu kamar dibuka. Logan melangkahkan kakinya menghampiri Rania yang berbaring di tempat tidur. Logan duduk di samping Rania. Perlahan dia meraih tangan Rania.


Sebutir air mata kembali keluar dari mata Rania, dengan cepat ia menghapusnya.


"Kamu gak salah kok. Gak usah minta maaf." ucap Rania masih memandang ke arah menara eiffel.


Logan terdiam, begitu juga Rania. Logan mengecup kening Rania pelan, masih merasa bersalah.


"Kamu gak usah khawatir, aku gak hamil." sebutir air mata kembali menetes dari mata Rania.


Logan memandang testpack yang terletak di nakas di sisi tempat tidur. Sebuah garis tertera disana.


"Ran, aku gak maksud..."


Rania memotong ucapan Logan, "Aku gak apa-apa, Gan." Rania menatap wajah Logan yang sedih.


Rania bangkit dari posisi berbaringnya. Ia duduk menghadap ke arah sang suami.


"Aku juga minta maaf, aku udah gak ngertiin kamu. Aku yang salah gak bisa ngertiin posisi kamu. Aku harusnya tau dengan jadi CEO dan nikahin aku di umur kamu yang baru 18 tahun aja udah sesuatu yang berat banget, apalagi kalo kamu harus jadi seorang ayah sekarang. Itu pasti bakal nambah beban buat kamu."


Logan memeluk Rania, merasa bersalah. Rania membalas pelukan suaminya itu.


"Kamu jangan ngomong gitu, Ran. Aku yang salah. Aku bener-bener gak bertanggung jawab sebagai seorang suami. Kamu bener, aku cuma mikirin kebutuhan biologis aku aja tanpa mikirin yang aku lakuin itu bisa bikin kamu hamil."

__ADS_1


Rania melepas pelukannya dan memandang wajah suaminya itu. Wajah itu masih sangat muda, khas remaja laki-laki. Mungkin Logan kini seorang CEO yang hebat, tapi ia tetaplah seorang remaja berusia 18 tahun, bagaimana bisa Logan berpikir untuk memiliki anak? Bahkan beberapa bulan lalu, Logan masih menggunakan seragam SMAnya.


Rania meraih tangan Logan dan menghela nafas dalam.


"Ya udah, " ucap Rania, "sekarang kita nikmatin dulu aja masa-masa berdua aja kayak gini. Kamu selesain kuliah kamu dulu, baru nanti kita pikirin buat punya anak." Sebuah senyuman merekah di bibir Rania.


"Makasih ya, Sayang." Logan menatap sang istri dengan penuh syukur, "Kamu selalu bisa ngertiin aku yang kadang masih suka egois. Aku bakal belajar lagi jadi suami yang lebih baik. Baru nanti aku bakal belajar juga jadi ayah yang baik. Sekarang aku bakal mikirin kesana kalo pengen ngelakuin itu."


Rania tertawa mendengar ucapan polos suaminya itu.


"Kamu kok ketawa?" tanya Logan yang ikut tertawa mendengar sang istri menertawakan ucapannya.


"Lucu aja abisnya. Jadi selama ini kamu gak pernah kepikiran kalo yang kamu lakuin itu bisa jadi anak di perut aku?"


"Jujur, aku gak pernah kepikiran sama sekali." ucap Logan masih merasa bersalah.


"Ih katanya otaknya pinter, juara umum terus. Pasti dulu nilai biologi kamu jelek deh." canda Rania mencoba mencairkan suasana.


"Sembarangan. Aku selalu dapet 100 atau A+ tau kalo ulangan atau kuis biologi. Cuma kan prakteknya beda, Yang." sanggah Logan.


"Jadi pinter teorinya doang? Dasar." gerutu Rania, Logan tersenyum mendengarnya. Ia masih merasa bersalah pada Rania, namun hatinya tidak bisa berbohong bahwa ia belum siap untuk menjadi seorang ayah.


Rania menyadari Logan masih merasa menyesal. Ia memegang tangan Logan seraya berkata, "Ini pertama kalinya kita berantem seudah nikah."


"Iya... Aku juga baru nyadar." ucap Logan dengan suara yang lemas.


Rania menghela nafas, "Jalan-jalannya jadi gak?"


"Terserah kamu." ucap Logan, sorot mata tajamnya kembali sendu.


"Tapi aku kok jadi males ya?" tanya Rania yang kini melingkarkan tangannya di sekeliling leher Logan.


Logan tidak bereaksi, kini ia merasa enggan bahkan untuk sekedar mencium sang istri.


Rania mendekat pada sang suami dan menempelkan bibirnya pada bibir Logan.


Rania merasa ciuman Logan tidak seperti biasanya. Biasanya ia sangat berg*irah dan begitu dominan. Rania melepas bibirnya yang masih tertaut pada bibir Logan, "bentar, Yang." kemudian berjalan menuju kamar mandi.


"Tadi barengan sama testpack di dalem kotaknya ada ini." Rania menyerahkan sebuah benda bulat terbungkus alumunium foil.


"Kamu mau nyobain pake ini?" tanya Logan, ekspresinya mulai sedikit berubah.


"Kalo kita mau nunda punya anak, harusnya sih tiap kita lakuin itu kita pake ini." ucap Rania. Rania tersenyum tengil, "Kita setok yang banyak ya."


Logan kembali menatap Rania dengan rasa syukur, sekaligus merasa sangat bersalah.


Rania menelusupkan tangannya ke balik kaos yang Logan kenakan. Logan masih belum bereaksi. Kemudian ia membuka kancing jeans yang Logan kenakan dengan sangat perlahan. Rania mencoba memancing h*srat suaminya itu agar kembali bersikap biasa padanya. Beberapa saat kemudian Rania berhasil, karena seketika Logan mencium bibir sang istri dengan intens.

__ADS_1


__ADS_2