
Rania memandang satu per satu baju-baju bermerek itu. Masih tidak percaya kalau baju-baju yang biasa ia lihat digunakan oleh idol kpop kini ada di lemari baju miliknya. Hingga akhirnya ia mengambil salah satu dress selutut dari dalam lemari. Kemudian berjalan ke meja rias yang ada di salah satu sisi di kamarnya yang luas. Ia mulai mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
"Sini Yang, aku bantu keringin ya." tiba-tiba saja Logan masuk ke kamar dan menghampiri Rania dan mengambil alih hair dryernya.
"Makasih, Sayang." ucap Rania memandang pantulan wajah Logan di cermin yang ada di depannya.
"Ran, aku seneng banget. Daripada pacaran, ternyata nikah itu lebih seru." ucap Logan.
"Seru? Dikira main rumah-rumahan kali."
"Beneran. 24 jam sehari kita bareng-bareng terus. Makan, tidur, ngobrol, tiap saat bareng-bareng. Apalagi waktu di Jakarta aku kerja jadi lebih semangat karena kamu temenin terus."
"Iyalah aku temenin. Kamunya bikin aku khawatir terus. Kamu ngelamun terus waktu itu."
"Iya makasih istriku yang cantik. Aku tuh jadi bisa kuat ngelewatin masa-masa awal itu gara-gara ada kamu. Maaf ya aku cengeng banget waktu itu."
"Gapapa, Yang. Semua orang juga pasti sedih kalo kehilangan orang tua. Cuma yang bikin aku khawatir itu waktu malem kamu sering ngigau gara-gara mimpi buruk. Kalo udah aku peluk baru deh berhenti ngigaunya. Untungnya sekarang kamu udah gak pernah mimpi buruk lagi."
"Soalnya kamu kan peluk aku terus pas tidur, jadi aku gak pernah mimpi buruk lagi." ucap Logan teringat kembali hari-hari pertama ia kehilangan sang ayah, pelukan Rania selalu bisa menentramkannya.
"Iya dong. Kan aku punya kekuatan super yang bisa bikin kamu gak sedih lagi." ucap Rania.
"Kekuatan super apaan?"
"Kekuatan cinta." ucap Rania sambil membuat hati dengan telunjuk dan ibu jarinya dan memperlihatkannya pada Logan melalui pantulan dirinya di cermin.
"Dasar istri ngegemesin." ucap Logan sambil mengecup pipi Rania.
"Kamu ih, sekarang cium-cium terus sama aku." protes Rania.
"Kan kamu istri aku, Ran. Aku mau cium kamu terus kayak tadi dan pas malem juga. Aku pengen kita have se...."
Rania meletakkan tangannya di mulut Logan.
"Jangan bahas itu ah. Aku masih belom biasa." ucap Rania tersipu malu.
"Kenapa? Kan biasa orang nikah lakuin itu. Malah harus Yang, biar rumah tangganya harmonis. Kamu juga suka kan?"
"Apaan ih kamu nanyanya." wajah Rania semakin memerah.
"Ini yang udah dewasa aku apa kamu sih. Kamu katanya udah 24 tahun. Kita udah nikah tapi kamu masih malu-malu ngomongin itu sama suami kamu sendiri."
"Emang kenapa kalo aku udah 24 tahun? Kamu jadi ngingetin aku terus sama umur aku. Kenapa sih? Malu ya punya istrinya enam tahun lebih tua?"
Tiba-tiba saja Rania merasa tersinggung karena Logan mengingatkannya mengenai usianya.
"Nggak, Sayang. Ih kamu kok jadi sensi gitu. Emang selama ini aku pernah protes masalah umur? Nggak, kan?"
Rania memandang ke arah cermin di depannya dengan wajah yang cemas.
"Kayaknya aku harus mulai perawatan deh. Wajah aku kusem banget. Nanti berapa tahun lagi pasti keliatan aku tuh lebih tua dari kamu." ucap Rania cemas.
Logan tertawa mendengar ucapan sang istri. Iapun selesai mengeringkan rambut Rania. Logan memandang ke arah cermin sambil melingkarkan tangannya di leher Rania.
__ADS_1
"Mau kayak gimanapun kamu itu tetep cantik di mata aku, Sayang. Mau kamu lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, bahkan lima puluh tahun lagi, aku bakal tetep sayang sama kamu."
Rania malah semakin cemberut mendengar kata-kata romantis dari Logan.
"Berarti bener kan kamu ngakuin kalo aku jelek? Kalo nanti orang bilang 'istrinya CEO Logan Enterprise kok mukanya tua? Oh iya kan emang lebih dari suaminya.' Gimana? Kamu juga kan yang malu." ucap Rania cemberut sambil berlalu keluar kamar.
Logan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung dengan sikap istrinya itu.
Rania menuju dapur dan ternyata sudah ada nasi goreng beserta telur mata sapi disana.
"Ini siapa yang masak?" tanya Rania sambil duduk di kursi depan meja bar di depan counter dapur mereka.
"Aku, tadi sambil nunggu kamu ganti baju aku masak ini. Yuk, makan."
"Kok kamu yang masak?" tanya Rania cemberut.
"Ya gak apa-apa dong, Yang. Kan gak harus kamu terus yang masak. Kamu cobain ya." Logan menyodorkan sepiring nasi goreng ke depan Rania.
Raniapun menyendokkan nasi goreng itu dan memakannya. Seketika Rania merasa takjub, nasi goreng itu sangat enak. Padahal itu hanya nasi goreng biasa, tapi kenapa rasanya sangat istimewa.
"Beneran ini kamu yang bikin?" tanya Rania.
"Iya. Gimana? Enak gak?" tanya Logan.
Rania mengangguk.
"Yauda kamu abisin ya." ucap Logan tersenyum bangga dan memakan nasi goreng buatannya juga.
"Ran, kamu kenapa? Kok kayak yang lemes." tanya Logan melihat Rania yang tidak bersemangat.
"Nasi goreng buatan kamu enak banget. Kamu kok jago sih masaknya?" tanya Rania masih dengan wajah cemberut.
"Aku udah bisa masak dari SMP, Yang. Masak termasuk ke training aku dari tutor aku dulu pas aku masih belajar bisnis. Katanya sebagai penerus, aku harus bisa menjiwai setiap pekerjaan di Hotel. Tiap hari sepulang sekolah aku ke hotel dan aku mulai bantuin di dapur dan belajar beresin kamar. Aku lakuin semua kerjaan dari mulai bersih-bersih dan masak macem-macem makanan. Pas aku udah nguasain kerjaan paling dasar, baru aku training ke bagian administrasi dan pengelolaan."
Mata Rania berkaca-kaca. Dagunya bergetar, kemudian berlari ke kamar. Ia melemparkan tubuhnya ke tempat tidur.
"Ran, kamu kenapa?" tanya Logan menghampiri Rania dengan wajah khawatir.
Rania bangkit dan duduk menghadap Logan.
"Kamu masak karena masakan aku gak enak 'kan? Selama ini aku masakin makanan buat kamu, tapi kamu tetep makan padahal kamu gak suka 'kan?" Rania mulai merajuk.
"Nggak Sayang, masakan kamu emang enak kok." ucap Logan menenangkan Rania.
"Bohong! Kenapa sih masakan kamu lebih enak dari aku! Terus kamu bikin rumah ini bener-bener mewah. Kamu bikin studio dance buat aku. Kamu masih 18 tahun tapi kamu udah bisa ngelola perusahaan sebesar Logan Enterprise. Kamu apa sih yang gak bisa, Gan?! Kamu tuh jadi suami jangan terlalu perfect, bisa gak sih? Aku jadi kayak gak berguna buat kamu!"
Rania menangis sejadinya. Entah mengapa dia sangat emosional dan sensitif. Wajah Logan sangat sulit diartikan, antara simpati, sedih, senang, dan bingung sang istri menangis hanya karena masalah itu.
"Sayang, kamu kenapa sih? Kamu itu udah lebih dari cukup. Semua yang aku pengen dan aku butuhin itu ada di kamu. Masakan kamu enak kok, cuma tadi kan kamu masih di kamar, aku inisiatif aja masak yang gampang biar kita cepet pergi. Mau ke rumah eyang kan sekarang?"
Ucap Logan sambil mengusap air mata Rania.
"Aku tau kok masakan aku kadang keasinan, kadang agak gosong, kadang gak kerasa apa-apa. Tapi kamu gak protes dan tetep makan. Kamu tuh harusnya bilang kalo makanan aku gak enak! Waktu kita makan di Hotel kamu itu, chef yang udah punya predikat michelin star aja masih kamu komentarin masakannya, padahal menurut aku makanannya udah enak banget. Kamu kenapa gak bisa kayak gitu juga sama aku?!"
__ADS_1
Logan meraup pipi sang istri, "Iya deh kalo gitu nanti aku bakal jujur sama kamu. Kita belajar masak bareng-bareng. Okay?"
"Jadi bener 'kan kamu ngakuin kalo masakan aku gak enak!" Rania melepaskan tangan Logan dari kedua pipinya.
Rania kembali menangis. Logan memijit keningnya, merasa frustasi dengan tingkah Rania. Bingung harus bagaimana.
"Aku pengen ketemu Mama." Rania menghapus air matanya dengan kasar dan kemudian bangkit dari tempat tidur dan membawa tasnya kemudian berjalan keluar kamar.
"Yang, kita abisin dulu yuk makanannya. Sayang kalo gak dimakan." ucap Logan.
Rania yang tidak suka membuang-buang makananpun terpaksa segera menghampiri piring nasi goreng yang tadi ditinggalkannya. Iapun melahap nasi goreng yang sangat enak itu.
"Pelan-pelan, Sayang. Nanti keselek." ucap Logan yang melihat Rania makan dengan kesal.
Makanan merekapun sudah habis. Rania membawa piring-piring dan gelas kotor itu ke bak cuci piring dan mencucinya.
"Sayang, aku bantuin ya." ucap Logan.
"Gak usah. Kamu diem aja bisa gak sih?" ucap Rania dengan galak. Logan terkejut dengan teriakan Rania dan menyerah. Ia memilih duduk di sofa menunggu sang istri.
Setelah itu kemudian Rania membawa tasnya dan berjalan ke arah pintu keluar dengan marah.
Logan menghela nafas dan mengikuti Rania. Saat akan membuka pintu keluar, Rania merasakan perutnya sakit dan merasa tidak nyaman dengan inti tubuhnya.
"Kenapa lagi, Yang?" tanya Logan.
"Aku ke toilet dulu." Raniapun segera kembali ke kamarnya dan masuk ke toilet. Ia membuka celananya dan melihat bercak darah disana. Rania tertegun. Ternyata emosinya itu disebabkan oleh PMS(Prementrual Syndrome)nya. Iapun merasa bodoh karena sudah marah-marah tanpa alasan pada Logan yang tidak bersalah.
Setelah mengganti celananya iapun menghampiri Logan yang menunggu Rania di sofa ruang tamu.
"Pergi sekarang?" tanya Logan beranjak dari duduknya dan bersiap pergi.
Rania memeluk suaminya itu.
"Sayang, maaf ya. Aku tadi marah-marah. Ternyata aku PMS. Barusan aku cek ternyata aku dapet."
Logan masih mencerna perkataan Rania sampai akhirnya ia menyadari arti kata 'dapet'.
"Hah? Kamu datang bulan?! Kita gak bisa 'itu' dong" Logan terdengar kecewa.
"Iya. Maaf ya, Sayang." ucap Rania merasa bersalah.
Rencana Logan untuk menyerang inti tubuh Rania lagi setelah sepulang dari rumah Eyangpun hancur sudah. Logan berusaha tabah.
"Gak apa-apa, Sayang. Masih bisa kan nanti setelah kamu udah beres dapetnya."
Rania memandang wajah Logan yang terlihat kecewa.
"Maaf, kamu marah ya?"
Logan tersenyum melihat wajah sang istri yang sembab dan memandangnya seperti anak kecil yang merasa bersalah karena telah merusakkan mainannya. "Beneran Sayang, gak apa-apa. Yuk kita berangkat keburu siang nanti."
Loganpun menggandeng tangan Rania dan keluar dari penthouse mereka.
__ADS_1