My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 3: Mimpi Buruk


__ADS_3

Rania tiba di Bandung setelah sekitar dua jam perjalanan. Ia segera menengok sang nenek saat sampai di rumah sakit. Rania disambut Nindi dan adik sepupunya, Berlin, sedangkan Eyang Arum sudah ada di ruang tindakan. Sambil menunggu, Rania menceritakan detail bagaimana ayah Logan meninggal dan surat wasiat yang ditinggalkannya yang meminta Rendra untuk segera menikahi Carla. Begitu juga Rendra yang menyarankan Logan dan Rania menikah bersamaan dengan mereka di hari dan waktu yang sama.


Setelah menunggu cukup lama, tindakan pasang ringpun selesai. Eyang Arum begitu bahagia saat Rania ada disana. Mereka mengobrol mengenai banyak hal sampai dokter mengatakan bahwa Eyang Arum sudah diperbolehkan untuk pulang.


Raniapun mengantar keluarganya pulang. Setelah mengobrol cukup lama Rania pamit pulang. Eyang dan juga sang ibupun tidak melarang Rania untuk pergi karena mereka paham situasi Logan yang masih berduka pasti sangat membutuhkan dukungan Rania.


Sekitar pukul sembilan malam, Rania tiba di penthouse. Rania melihat sepatu yang Logan kenakan tadi pagi sudah ada di lemari sepatu. Iapun segera mencari sosok suaminya itu.


"Gan.." Rania memanggil Logan ketika memasuki ruang tengah. Namun Logan tidak ada di ruang tengah yang menyatu dengan ruang tamu, dapur, dan juga ruang makan itu.


Raniapun melangkah menuju kamar mereka. Di depan kamar Rania mendengar suara dari dalam kamar. Saat membuka pintu, Rania melihat Logan terbaring di tempat tidur dengan masih menggunakan pakaian kerjanya. Logan terlihat gelisah dan mengigau dalam tidurnya.


"Ayah...ayah...!" Logan terus menyebut nama ayah dalam tidurnya.


"Gan, bangun. Logan..." Rania duduk di samping Logan dan mencoba membangunkannya dengan menepuk-nepuk pipinya.


Loganpun terbangun dan memandang wajah Rania yang terduduk disampingnya. Matanya basah karena air mata. Loganpun bangkit dari tidurnya dan memeluk Rania.


"Kamu mimpi?" tanya Rania sambil menepuk-nepuk pelan punggung Logan.


"Dari kemarin aku mimpiin ayah terus, Ran." ucap Logan masih memeluk erat Rania.


"Kamu pasti masih sering kepikiran sama ayah. Makanya sampe kamu mimpi." Rania merasa bersyukur karena sudah sampai di rumah saat Logan sedang membutuhkannya.


Rania melepaskan pelukannya dan memandang wajah Logan yang terlihat sangat lelah dan pucat.


"Kamu udah makan?" tanya Rania.


Logan menggelengkan kepalanya.


"Gan, ini udah jam sembilan malam dan kamu belum makan?"


"Aku sibuk banget tadi dan gak selera juga buat makan." ucap Logan.


Rania menghela nafas panjang.


"Ya udah sekarang kamu mandi dulu aja ya biar segeran badannya. Terus kamu makan, aku tadi dibawain makanan sama Mama. Kita makan bareng-bareng ya."


Logan tidak menjawab dan malah memeluk Rania lagi.


"Aku kira kamu gak akan pulang." ucap Logan lirih.


"Kan aku tadi bilang, aku pasti pulang. Cuma maaf aku baru bisa berangkat jam 6an dari rumah Eyang. Soalnya tadi aku keasikan ngobrol sama Eyang."


"Gapapa. Oh iya, Eyang gimana operasinya?" Logan melepaskan pelukannya.


"Lancar kok. Gak lama seudah pasang ring, Eyang udah dibolehin pulang." ucap Rania.


"Syukur kalo gitu. Aku harusnya tadi nemenin kamu nengok Eyang. Maaf ya."


"Gapapa, Gan. Eyang sama Mama ngertiin situasi kamu kok. Ya udah, sekarang kamu mandi dulu ya. Aku siapin makanannya."

__ADS_1


Raniapun mengecup pucuk kepala Logan dan melangkah meninggalkan kamar.


Rania membuka wadah yang dibawanya dari Bandung. Ada nasi, rendang daging sapi, acar, dan juga sambal goreng kentang. Rania menyajikan rendang dan juga sambal goreng kentang di piring dan menatanya di meja makan.


Logan selesai membersihkan dirinya dan bergabung bersama Rania di meja makan.


"Mama yang bikin ini?" tanya Logan.


"Iya. Mama masak buat di resto tadinya, tapi dibekelin buat menantu kesayangannya sebagian. Nih, kamu cobain ya." ucap Rania sambil mengambilkan nasi beserta yang lainnya ke piring di hadapan Logan.


"Jadi pengen ketemu sama Mama mertua." ucap Logan sambil melahap makanannya.


"Terus kalo udah ketemu mau ngapain?" tanya Rania.


"Mau bilang makasih." ucap Logan.


"Makasih buat makanannya?"


"Iya. Sama makasih udah lahirin anak secantik dan sebaik kamu." ucap Logan dengan wajah yang serius.


"Apaan sih, Gan." ucap Rania salah tingkah, kedua tangannya memegang pipinya yang memerah. Rania bersyukur Logan sudah bisa sedikit bercanda.


Logan tidak menjawab hanya tersenyum tipis dan terus melahap makanannya hingga habis. Logan bangkit dari duduknya dan membawa piring-piring kotor ke bak cuci piring dan mencucinya.


"Gan, biar aku aja." ucap Rania menghampiri Logan.


"Udah gapapa sama aku aja. Kamu mending mandi dulu."


"Iya beneran. Lagian ini sedikit."


"Ya udah. Aku mandi dulu ya." Raniapun berlalu menuju kamarnya dan segera membersihkan diri.


Ketika Rania keluar dari kamar mandi, Logan sudah terbaring di salah satu sisi tempat tidur. Tubuhnya ditutupi selimut, pandangannya menatap kosong ke depan. Raniapun masuk kedalam selimut yang sama dengan Logan dan berbaring di sebelah Logan. Rania menghadapkan tubuhnya ke arah Logan. Sepertinya Logan masih belum menyadari jika Rania berada di sampingnya.


Rania menyentuh tangan Logan, dan Logan terlihat sangat terkejut. Jelas sekali Logan sedang melamun saat itu.


"Gan, kamu belum tidur?" tanya Rania.


"Belum." Logan merubah posisinya dan menghadap ke arah Rania. Kedua tangan mereka saling menggenggam.


"Kenapa?" tanya Rania.


"Aku nungguin kamu." ucap Logan.


Rania tersenyum dan memandang ke arah tangan mereka yang saling menggenggam. Rania memasukkan jarinya ke sela-sela jari Logan.


"Tadi gimana kerjanya? Lancar?" tanya Rania.


"Ya gitu aja. Pemegang saham sempet gak suka karena saham ayah jatuh ke tangan aku semua. Tapi mereka gak bisa apa-apa. Dokumen-dokumen juga masih banyak yang harus diberesin." ucap Logan masih tidak bersemangat.


"Semangat ya. Eyang sama Mama khawatir banget sama kamu. Gak bisa katanya kamu cuti buat seminggu aja."

__ADS_1


"Gak bisa, Ran. Aku harus cepet beresin semuanya. Bulan depan aku udah mulai kuliah, sebelum itu aku harus udah beresin semua dokumen itu dan juga aku masih nyiapin semuanya buat kantor pusat yang bakal dipindahin ke Bandung buat sementara waktu."


"Kenapa kantornya harus sampe dipindahin, Gan? Bukannya itu makan banyak biaya dan tenaga?"


"Itu kepengen ayah waktu itu. Dia pengen aku ngelola perusahaan, tapi dia mikirnya aku pasti gak akan mau kalo pindah ke Jakarta lagi." ucap Logan dengan raut wajah yang sedih.


Rania memutuskan untuk tidak membahas itu lagi.


"Tadi siang kamu makan sama apa?" tanya Rania mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku tadi...gak makan." ucap Logan ragu-ragu.


"Hah? Kamu malem baru makan jam sembilan. Dan siangpun kamu gak makan?" ucap Rania dengan nada yang galak.


"Iya tadi gak sempet. Dan aku gak selera." ucap Logan.


Rania memandang wajah Logan yang sedikit kurus.


"Kamu gak boleh gitu dong, Gan. Kamu bisa sakit nanti. Kalo kamu sakit kerjaan kamu nanti kehambat juga."


"Iya besok aku pasti nyempetin makan." ucap Logan menenangkan Rania yang begitu khawatir padanya.


Rania menghela nafas, merasa tidak yakin Logan akan benar-benar membuktikan kata-katanya.


"Tidur yuk, aku ngantuk." ucap Logan sambil menguap.


"Yuk. Selamat tidur, Sayang." ucap Rania.


"Selamat tidur juga." ucap Logan sambil menutup matanya.


Beberapa saat kemudian Logan terlihat sudah terlelap. Raniapun mengecup kening Logan dan memandang wajah tidur Logan yang begitu imut. Tidak lama kantuk menguasainya juga dan iapun tertidur.


Tiba-tiba saat tertidur, Rania merasa tangannya diremas keras. Rania terbangun menyadari tangan mereka yang masih bergandengan saat tertidur tadi. Logan terlihat mengigau dan dahinya dipenuhi keringat. Rania menyalakan lampu tidur di nakas, dan menepuk-nepuk pipi Logan.


"Logan, bangun, Gan!" ucap Rania. Loganpun terbangun dengan keadaan terkejut.


"Kamu mimpi lagi?" tanya Rania.


Logan bangkit dari posisi berbaringnya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Rania mengambilkan segelas air putih yang memang ia siapkan jika di malam hari ia terbangun karena haus.


Logan menerima gelas yang Rania sodorkan kemudian meminumnya sampai habis.


"Aku terus-terusan mimpiin ayah, Ran." ucap Logan frustasi.


"Sini.." Rania membimbing Logan untuk berbaring lagi. Raniapun menggeser bantalnya mendekat pada Logan. Ia berbaring menghadap ke arah Logan dan memeluk tubuh suaminya itu.


"Kamu sekarang tidur lagi ya." ucap Rania menepuk-nepuk dada Logan dengan perlahan.


Loganpun menghadapkan tubuhnya ke arah Rania dan meletakkan tangannya di bawah kepala Rania, kemudian merengkuh tubuh istrinya itu dengan kedua tangannya. Logan merasakan hangat dan harumnya tubuh Rania dalam pelukannya membuat pikirannya lebih rileks. Perlahan Logan mulai merasa matanya mulai berat dan iapun tertidur kembali.


Logan tidak lagi terbangun dan tidur dengan nyenyak dalam pelukan sang istri hingga pagi hari.

__ADS_1


__ADS_2