My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 41: Tiga Bulan


__ADS_3

Hari-hari Rania dan Logan terasa begitu asing dan dingin. Semenjak Logan mengetahui mengenai kehamilan Rania hari-hari mereka tidak sama lagi. Setiap pagi seperti biasa Rania menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Sebelum memulai aktivitas mereka sarapan terlebih dahulu. Namun tidak ada lagi obrolan santai, kecupan dan pelukan mesra sebelum berpisah. Logan akan langsung pergi ke kantornya tanpa ada kata-kata manis seperti dulu. Dia pergi begitu saja.


Begitu juga saat pulang kerja, Logan akan makan malam seperti biasa. Namun tidak ada lagi ritual suami istri yang biasanya tidak pernah dilewatkan olehnya. Setelah makan Logan akan membersihkan diri dan mengunci diri di ruang kerjanya. Bahkan ia sudah jarang tidur di kamar bersama Rania.


Hal itu terus berlanjut selama berminggu-minggu. Hari itu waktunya ia memeriksakan kandungannya. Sepulang dari kampus ia pergi sendiri ke klinik dokter Ane. Rania merasa lebih nyaman datang kesana karena tidak mengundang banyak perhatian seperti jika menemui dokter Ane di rumah sakit.


Rania membuka HPnya, menunggu giliran. Hari itu memang agak ramai. Tiba-tiba saja sebuah suara menyapanya.


"Ran?" Rania mendongak dan melihat Nindi dan Nabil disana.


Melihat kedua orang tuanya disana, seketika membuat Rania tidak bisa menahan air matanya. Pelupuk matanya langsung digenangi air, namun ia berusaha untuk menahannya agar tidak jatuh apalagi dilihat oleh Nindi dan Nabil.  Segera ia memeluk sang ibu yang sudah lama tidak ia temui. Semenjak kejadian itu, Rania selalu mengatakan bahwa Logan sibuk, sehingga belum bisa berkunjung ke rumah eyang ataupun ibunya.


"Kamu ngapain disini, Nak?" tanya Nindi penasaran. Tidak menyangka sama sekali akan bertemu dengan Rania disini.


"Kamu sendiri, Ran? Logan mana?" tanya Nabil.


Rania bungkam. Ia malah mengalihkan topik pembicaraan, "Mama sama ayah ngapain? Jangan-jangan mama hamil ya?"


"Belum, Nak. Kamu tau sendiri umur mama sekarang udah gak muda lagi. Makanya mau periksa, masih bisa gak mama hamil." ucap Nindi dengan raut wajah yang sedih.


Rania merasa miris. Kedua orang tuanya saja kini begitu mendambakan seorang anak, tapi dirinya kini justru seorang diri memeriksakan kehamilannya karena suaminya sendiri yang tidak menginginkan janin yang dikandungnya.


"Ayah gak masalah kok kalau mama kamu gak bisa hamil lagi, Ran." ucap Nabil tulus.


"Gak bisa gitu dong, Mas. Mas itu udah ditungguin buat punya cucu. Ibu sama Bapak pengen banget punya cucu dari Mas." Nindi terlihat sangat sedih.


Rania memegang tangan sang ibu, "Mama pasti bisa kok. Mama harus semangat dong. Rania juga pengen punya adik! Mama sama ayah harus tetep berusaha ya." Rania memberikan semangat pada sang ibu.


"Ibu Rania Putri Direndra," seorang perawat memanggil Rania. Sontak Nindi terkejut.


"Mama sama Ayah ikut, yuk!" ucap Rania berusaha ceria.


Ketiganyapun masuk ke ruang pemeriksaan.

__ADS_1


"Selamat sore, Bu Rania. Apa kabar?" Dokter Ane menghampiri Rania dan melakukan 'cipika-cipiki'.


"Baik, Dok. Dokter sendiri gimana?" tanya Rania seraya duduk di kursi di hadapan meja dokter Ane.


"Saya baik, Bu. Wah ini siapa?" tanya Dokter Ane melihat ke arah Nindi dan Nabil.


"Kenalin, Dok. Ini mama saya, dan ini ayah saya." Dokter Ane terlihat sedikit terkejut melihat betapa mudanya Nindi apalagi Nabil.


"Gak usah shock gitu, Dok." canda Rania.


"Aduh, Maaf. Saya soalnya gak percaya ibunya Bu Rania masih semuda ini. Cantik sekali, kayak adik kakak." ucap Dokter Ane salah tingkah.


"Saya sama anak saya ini memang bedanya cuma 15 tahun, Dok." ujar Nindi seraya merangkul Rania.


"Oh begitu." Dokter Ane mengangguk paham, "Dan ayahnya Bu Rania juga masih muda sekali ya. Pantas saja Bu Ranianya juga secantik ini, dari bapak dan ibu rupanya."


"Ini ayah sambung saya, Dok. Memang hanya beda 8 tahun dengan saya." ucap Rania.


"Oh ya?" Dokter Ane kembali terkejut, "Aduh maaf saya ini banyak terkejutnya."


"Dok, bisa mama saya diperiksa setelah saya?" tanya Rania. "Kami kebetulan bertemu di luar tadi."


"Tentu bisa, Bu Rania. Silahkan sekarang ibu dulu ya yang diperiksan. Kita tengok dede bayinya." ucap Dokter Ane sumringah.


"Dede Bayi?!" ucap Nindi dan Nabil berbarengan.


Dokter Ane menatap Rania dengan tidak nyaman, "Maaf apa saya salah bicara?"


"Gak apa-apa, Dok. Mama sama Ayah saya memang belum tahu kalau saya hamil. " ucap Rania dengan wajah tegar.


Nindi menghampiri Rania, "Sayang, ini beneran?" Nindi merasa terenyuh.


***

__ADS_1


Setelah memeriksakan kandungannya mereka bertiga pergi ke sebuah restoran, memutuskan untuk makan malam bersama. Banyak hal yang memang ingin mereka bicarakan, terutama kehamilan Rania yang sudah menginjak bulan ketiga.


[Rania] : Mas, aku pulang agak malam.


Rania mengetik chat pada Logan. Meskipun beberapa minggu terakhir mereka sedang terlibat perang dingin, Rania tetap merasa berkewajiban memberikan kabar pada suaminya itu jika ia berada di luar. Sebenarnya Rania berusaha bersikap biasa, hanya Logan yang sering kali menghindarinya.


"Sayang, sekarang kamu ceritain sama Mama. Kenapa kamu sembunyiin ini dari mama." Nindi membuka obrolan setelah mereka memesan makanan.


Rania merasa tidak ada lagi yang harus disembunyikan lagi. Orang tuanya berhak tahu. Maka iapun menceritakan semuanya pada Nindi.


Mendengar penjelasan Rania membuat Nindi merasa emosi, "Udah mulai hari ini kamu tinggal di rumah Mama."


Rania tidak pernah melihat sang ibu seemosi itu, biasanya Nindi adalah perempuan yang lembut dan jarang sekali menampakkan ekspresi kecewa apalagi marah.


"Gak bisa, Mah. Rania istrinya Logan. Rania gak mungkin ninggalin Logan." ucap Rania.


"Tapi dia gak nerima kehamilan kamu. Mama udah sedih waktu Logan bilang kamu pasang IUD waktu itu. Kalau dia gak mau kamu hamil, kenapa dia nekat nikahin kamu waktu itu? Kamu periksa ke dokter sendiri, berminggu-minggu kamu dicuekin sama dia dalam keadaan hamil, Nak. Harusnya dia jagain kamu, bukan kayak gini. Kenapa kamu gak bilang dari awal sama Mama, sih? Mama bener-bener gak rela anak Mama diperlakukan kayak gini!"


Rania meraih tangan sang ibu, mencoba menenangkannya, "Logan lagi banyak masalah di kantornya, Mah. Logan bukannya gak nerima. Dia masih belum bisa nerima aja. Dia baru juga 19 tahun mah awal bulan lalu. Rania ngerti banget keadaan dia."


"Ya, tapi 'kan..." Nindi bersiap meluapkan kekesalannya lagi.


"Udah, Nin. Itu udah keputusannya Rania. Kita gak bisa ikut campur." sela Nabil mencoba menenangkan istrinya itu.


"Mama gak usah khawatir, Rania baik-baik aja kok. Rania janji mulai sekarang Rania bakal cerita ke Mama kalau ada apa-apa. Rania juga bakal bilang kalau Rania ada keluhan atau apa. Rania bakal selalu kabarin Mama. Tapi Rania gak bisa tinggal sama Mama dan ninggalin Logan, Mah. Please, Rania mohon pengertian Mama ya."


Nindi menatap pasrah sang putri dan memeluknya lagi, "Kenapa jadi kayak gini hubungan kamu sama Logan, Nak."


"Jangan salahin Logan ya, Mah. Logan udah banyak berkorban demi Rania selama ini. Dia nikahin Rania di umur dia yang masih muda. Wajar juga kalau dia belum mau punya anak, Mah."


"Tapi kamu harus kasih pengertian terus sama dia, Ran. Laki-laki itu lama-lama pasti luluh kok. Nanti kapan-kapan Ayah main ke apartemen kamu ya, Ayah ajakin Logan ngobrol."


"Makasih banyak ya, Yah, Mah." Rania bersyukur sekali. "Mama sama Papa juga terus berusaha ya. Tadi kata Dokter Ane mama sama papa sehat, masih ada kemungkinan buat mama hamil."

__ADS_1


"Pasti, Sayang." ucap Nindi.


__ADS_2