My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 54: Ingin Memenuhi Ngidam Bumil


__ADS_3

Logan membuka sedikit pintu kamar dan melihat Rendra berdiri disana. "Rania lagi ganti baju, Pap."


"Oh gitu, ya udah nanti bilangin ini bobanya udah Papa beliin. Suruh turun sekalian makan malam ya." ucap Rendra.


Tiba-tiba pintu kamar yang hanya dibukakan sedikit oleh Logan terbuka lebih lebar oleh Rania. Kini Rania sudah menggunakan piyama tidurnya.


"Papa udah beliin Bobanya?" ucap Rania sumringah seraya merangkul tangan sang ayah. "Makasih ya, Pap!"


Logan terkesiap karena Rania begitu saja melewatinya dan malah merangkul tangan sang ayah.


"Udah dong, Papa beli banyak. Nanti kamu pilih mau rasa apa." Mereka mulai berjalan menuju tangga.


"Halo, Yang? Kamu lupa suami kamu ada disini? Kok yang dirangkul ayah kamu sih?" protes Logan.


Sontak Rania dan Rendra berhenti melangkah dan menoleh ke arah Logan.


"Sini ikut, Mas." ucap Rania, tertawa gemas pada Logan.


Mereka mulai berjalan kembali dan menuruni tangga, Logan yang melihatnya masih terpaku melihat betapa akrabnya Rania dengan sang ayah. Mau tidak mau Logan mulai mengekor di belakang mereka.


"Kamu baru mandi? Kenapa gak dikeringin dulu rambutnya. Nanti pilek gimana. Rambut kamu 'kan tebel gini, Sayang. Gimana sih, sebelum makan kita keringin dulu." Rendra merapikan sedikit rambut sang putri.


"Ini selama gak ada aku, Papa sama Rania emang harus ya selalu rangkulan terus mesra kayak gini?" protes Logan.


"Mesra apaan sih, Mas?" ujar Rania. Kini mereka sudah berada di lantai bawah

__ADS_1


"Kenapa kamu jealous?" Carla nimbrung, seraya beranjak dari sofa ruang tengah.


"Emang Papa sama aku selalu kayak gini kok, Mas, dari dulu." ujar Rania lagi.


"Papa sama Rania kalau diluar rumah rangkulan kayak gini disangkanya bukan ayah sama anak, tapi kayak lagi pacaran. Jangan terlalu deket ah, aku gak suka." Logan menarik tangan Rania yang merangkul lengan Rendra.


"Eh kamu apaan sih," protes Rendra seraya memukul pelan tangan Logan dan mengembalikan tangan Rania yang merangkul tangannya, "Udah biasa orang-orang nyangkanya kayak gitu. Biarin aja orang lain nyangkanya gimana. Dan kamu harus tahu ya, Rania sama Papa akan selalu seperti ini. Jangan ngelarang-larang papa deket sama anak kesayangan Papa, ya!"


"Jangan gitu kamu sama Papa kamu. Papa kamu yang selalu menuhin ngidamnya Rania selama disini, loh. Kamu harusnya berterimakasih karena Papa kamu ini yang gantiin tugas kamu sebagai suami yang harusnya siap siaga dampingin istri kamu. Kata orang dulu, kalau ibu hamil ngidam dan gak diturutin, nanti anaknya ngeces. Kamu mau anak kamu ngeces terus nanti?"


"Kamu suka ngidam, Yang? Kok gak pernah bilang?" Logan kembali merasa bersalah.


Rania tersenyum lirih pada Logan.


Rendra membawa hair dryer milik Carla dan membawa Rania ke teras belakang.


"Udah, Pap. Biar Logan aja." Logan mengambil hair dryer yang digenggam Rendra, juga menarik tangan Rania dan membawanya ke gazebo di dekat kolam renang.


Sambil mengeringkan rambut Rania, Logan berkata dengan lirih, "Kamu ngidam apa aja selama ini, Yang?"


"Macem-macem sih, Mas." ujar Rania, "Tapi udah ah Mas. Gak usah terlalu dipikirin gitu."


"Bilang dong, Yang. Aku pengen tahu. Itu juga kenapa kamu bilangnya ke Papa kalau kamu pengen boba, kenapa gak bilang ke aku?" protes Logan.


"Tadi kebetulan aja, Mas. Papa nanyain aku pengen apa. Jadi aku bilang ke Papa dan ternyata Papa langsung beliin."

__ADS_1


"Harusnya kamu bilangnya sama aku, Yang." ucap Logan sedih.


Rania jadi merasa bersalah sekaligus sedih jika mengingat saat ia ingin banyak hal dan Logan tidak bisa mengabulkannya. " Maaf, Mas. Tadi beneran gak maksud bilang ke papa kok. Terus perasaan waktu itu aku udah pernah bilang deh, Mas. Kayak aku jadi suka masakan Taiwan, terus aku jadi suka boba. Terus lucu loh, Mas. Aku malah jadi suka mual kalo nyium bau seblak. Padahal Mas tau kan aku suka banget seblak."


Logan mematikan hair dryernya kemudian berjongkok di depan Rania yang duduk di kursi malas. Ia genggam kedua tangan Rania dan menatapnya lekat, "Yang, kalau kamu mau sesuatu, mulai sekarang kamu harus bilang cuma sama aku. Jangan bilang sama Papa atau siapapun. Aku yang bakal nyediain buat kamu. Kalau kamu mau masakan taiwan, kita terbang langsung kesana kalau perlu. Ya?"


"Ih disini juga banyak masakan Taiwan, Mas. Ngapain juga harus sampe terbang kesana."


"iya maksudnya aku bakal ngasih apapun yang kamu mau. Sesulit apapun itu pasti bakal aku coba cariin buat kamu."


Sayangnya sekarang Rania sudah tidak terlalu banyak menginginkan sesuatu seperti pada awal-awal kehamilannya, saat dimana justru Rania kebingungan sendiri dengan selera makannya yang berubah drastis. Sedihnya ia harus mencari sendiri makanan yang ingin dimakannya.


Tapi ia tidak mengatakannya pada Logan. Rania raup kedua pipi Logan dengan kedua tangannya, "Iya, Mas. Nanti aku bakal bilang kalau aku pengen apa-apa. Mas gak usah sedih gini, dong. Ini 'kan cuma ngidam."


"Nggak, Yang. Walaupun cuma ngidam, kamu harus bilang sama aku. Aku pasti bakal nyediain buat kamu. Apapun itu."


"Iya, Mas. Aku pasti bilang nanti kalau aku pengen sesuatu." ujar Rania. "Makasih ya, udah jadi suami siaga."


Logan menggeleng, "Belum, Yang. Aku masih belum jadi suami siaga. Baru mau. Sekarang kamu lagi pengen makan apa? Ada gak yang lagi kamu pengen banget?"


Sejujurnya Rania tidak menginginkan apapun. Tadi siang ia ingin minum boba, dan itu sudah dibelikan oleh Rendra. Tidak ingin membuat Logan kecewa akhirnya iapun mengatakan sesuatu.


"Aku gak pengen makan apa-apa sih, Mas. Tapi aku pengen liat Mas berenang." ucap Rania dengan mata berbinar.


"Berenang?" tanya Logan keheranan, apa itu termasuk ke dalam ngidam yang dialami ibu hamil?

__ADS_1


__ADS_2