My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 22: Sensitif


__ADS_3

"Bentar ya, Mas." Rania berjalan menuju kamarnya dan membuka lemari di kamar mandinya. Persediaan pembalutnya masih ada. Ia mengecek HP dan melihat kalendernya dan biasanya ia seharusnya sudah datang bulan minggu ini.


'tenang, Ran. Lo belum tentu hamil, bisa aja cuma telat beberapa hari.' ucap Rania dalam hati.


"Yang, kenapa sih? Kamu kebelet?" Logan tiba-tiba saja sudah ada di sebelahnya.


"Hah? Eng...engga. Aku cuma tadi.. Iya kebelet dikit. Udah Mas keluar dulu aku pengen pipis dulu." Rania mendorong tubuh Logan keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya.


Gelisah semakin menguasai Rania. Ia merasa ketakutan. Bagaimana jika benar dirinya hamil? Logan dengan tegas selalu mengatakan bahwa dirinya belum siap untuk menjadi seorang ayah.


Selama ini merekapun selalu menggunakan pengaman setiap kali berhubungan. Bagaimana mungkin dirinya hamil? Begitu pikir Rania.


Ia mencoba menetralkan perasaannya dan berusaha untuk tidak berpikir terlalu jauh. Belum tentu juga ia benar-benar hamil.


Keesokan harinya, Ia mempersiapkan pakaian Logan dan memasukkannya ke dalam koper.


"Udah gak ada yang ketinggalan, 'kan?" tanya Rania saat mengantar Logan ke pintu penthouse mereka.


"Kayaknya udah. Berkas-berkas udah. Semuanya udah." Logan mencoba mengingat hal-hal yang mungkin ia lupakan.


"Ya udah kalo gitu, Mas hati-hati di jalan ya. Telepon kalau udah nyampe." ucap Rania sambil memeluk sang suami.


"Iya, Sayang. Kamu hati-hati juga di rumah. Kamu pulang aja ke rumah Eyang atau Mama. Atau suruh Berlin nginep disini. Biar kamu gak kesepian."


"Iya, udah Mas gak usah pikirin aku. Mas disana jangan sampe telat makan."


"Iya. Ya udah aku pergi ya." Logan mencium kening sang istri dan juga bibirnya.


Setelah itu Logan pergi meninggalkan penthouse. Rania terdiam memandang pintu apartemennya yang baru saja tertutup. Entah kenapa Rania tiba-tiba saja merasa tidak rela Logan pergi. Namun, dengan cepat ia menguasai emosinya lagi.


Raniapun membereskan piring bekas mereka sarapan dan mencucinya. Setelah itu ia melihat ke arah kolam renang dan berjalan menghampirinya. Tatapannya terpaku pada air permukaan kolam renang yang tertiup angin sehingga menimbulkan riak-riak kecil. Akhir-akhir ini ia senang sekali berada di area kolam renang. Wangi kaporit dari kolam renang entah mengapa begitu menenangkannya.


Seketika Rania merasa kembali gelisah. Ia terus mengingat suaminya itu. Rasa tidak rela sang suami pergi kembali menyeruak, bahkan lebih besar dari sebelumnya. Rania mengeluarkan HPnya dari saku dan menelepon supir untuk menjemputnya.


Ia berjalan tergesa menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya kemudian berjalan keluar dari penthouse. Di lantai bawah Pak Riswan sudah siap dengan mobilnya. Mobil itupun segera melaju menuju bandara. Sesampainya disana Rania berlari masuk sambil menghubungi Logan. Beberapa kali namun Logan tidak mengangkat teleponnya.


Raniapun menuju ke tempat parkir pesawat jet pribadi Logan berada. Logan terlihat sedang berjalan menuju landasan udara.

__ADS_1


"MAS LOGAN!!" teriak Rania sekuat tenaga.


Logan beserta Davin dan juga Fany, sontak menoleh ke arah Rania. Iapun berlari menuju suaminya itu. Logan terlihat sangat terkejut melihat Rania yang berlari ke arahnya.


Seketika Rania masuk ke dalam pelukan Logan, dan memeluknya sangat erat.


"Yang, kamu ngapain disini?" tanya Logan. Davin dan Fany berjalan terlebih dahulu menuju privat jet, tidak ingin mengganggu sang CEO dan istrinya yang sedang berpelukan mesra.


"Mas jangan jadi pergi ya." pinta Rania masih memeluk suaminya itu.


"Yang, aku harus pergi. Pesawat aku udah siap, Davin sama Fany juga udah masuk ke pesawat. Aku pergi gak akan lama, kok." Logan berusaha menenangkan.


"Gak mau. Aku gak mau Mas pergi." ucap Rania merajuk.


"Ya udah kamu ikut aja ya. Gimana?" Logan menawarkan.


"Gak mau. Aku gak mau pergi ke Maladewa, aku cuma pengen Mas disini."


Logan melepas pelukan Rania, dan menatap wajah sang istri yang menatapnya sedih.


"Tapi aku gak mau Mas pergi. Aku kangen sama Mas. Aku gak mau tidur gak bareng Mas. Please, Mas jangan pergi ya." Rania kembali merajuk dan memeluk suaminya.


Logan memijit keningnya. Ia bingung harus bagaimana.


"Ya udah kamu ikut kalau gitu." ucap Logan tegas, penerbangannya sudah hampir terlambat. Ia melepaskan pelukan Rania dan kemudian mengeluarkan HPnya, berniat meminta Gina, sekretarisnya yang lain, membawakan pasport Rania.


"Yuk, kita tunggu di dalam pesawat." Logan menarik tangan Rania, namun Rania terdiam pada posisinya.


Dengan wajah yang cemberut, Rania berkata, "nggak. Aku gak mau ikut."


Logan menghela nafas kasar, "Yang kamu kenapa sih?"


Rania melepas tangan Logan. "Aku pulang," ucap Rania dengan lemas. Tiba-tiba saja ia merasa lelah.


Logan yang kebingungan dengan sikap Rania, segera menahan Rania pergi.


"Yang, kamu kenapa? Aku bener-bener bingung. Kamu barusan pengen aku gak pergi, terus sekarang kamu bilang mau pulang. Beberapa hari ini sikap kamu aneh banget." ucap Logan.

__ADS_1


"Mas kenapa sih jadi marahin aku? Salah emang kalo aku gak mau ditinggalin? Ya udah Mas pergi aja sana! Gak usah balik lagi!" teriak Rania dengan marah.


"Yang, bukan gitu maksud aku. Please, aku jadi gak tenang mau perginya juga kalo kamunya kayak gini."


Rania terdiam.


'gue kenapa sih? Kok gue jadi sensi banget gini?' batin Rania.


Rania menghela nafas beberapa kali, mencoba menenangkan dirinya.


"Ya udah aku gak apa-apa. Mas pergi aja. Aku pusing, lemes. Aku pengen cepet pulang." lirih rania. Ia ingin sekali membaringkan tubuhnya dan tidur.


Logan memegang kening Rania, namun Rania tidak demam.


"Bener kamu gapapa? Ya udah kamu cepet pulang ya. Aku bakal hubungin kamu kalo aku udah nyampe." Logan memeluk sang istri.


Rania mengangguk lemah.


"Aku anterin kamu dulu ke mobil," Logan membimbing Rania menuju mobil. Ia sangat khawatir pada Rania yang tidak biasanya bersikap sangat labil. Tapi ia tidak bisa begitu saja membatalkan perjalanan dinasnya kali ini.


Mungkin Rania sedang PMS, begitu pikir Logan.


Kemudian setelah mengantar Rania ke mobil, Logan segera kembali ke bandara dan berjalan menuju pesawatnya.


***


Keesokan harinya WO datang ke penthouse, Rania menyambutnya dengan ramah. Kemudian Rania mendiskusikan konsep seperti apa yang ia inginkan untuk resepsinya nanti, dan ia memilih konsep white wedding. Ia ingin mengadakan resepsinya di tempat outdoor yang didominasi dengan dekorasi dan bunga berwarna putih.


Kemudian setelah itu, Rania memutuskan untuk pergi ke dokter kandungan. Ia memutuskan pergi sendiri, tanpa supir. Ia juga memilih rumah sakit yang agak jauh dari area rumahnya. Ia tidak ingin jejaknya ini diketahui oleh Logan.


Setelah beberapa saat duduk di sebuah taksi online, Rania tiba di sebuah klinik yang terletak di pinggiran kota Bandung. Ia berjalan dengan sedikit menunduk, berusaha menutupi wajahnya dengan topi dan kacamata, khawatir ada orang yang dikenalnya melihatnya disana. Segera Rania ke bagian pendaftaran dan mengisi formulir.


"Rania?" tiba-tiba saja seseorang menyapanya.


'sial. Kok bisa ada yang kenal gue disini sih?' batin Rania. Raniapun menoleh ke arah sumber suara. Ia terkejut melihat seorang laki-laki yang ia kenal berseragam dokter.


"Ibra?"

__ADS_1


__ADS_2