
Rania menyimpan tasnya di loker penitipan barang dan kemudian masuk ke dalam perpustakaan. Ia mulai menyapu satu persatu lorong yang penuh dengan buku itu, mencari lorong yang menyimpan buku yang dicarinya. Ia sampai di lorong paling pojok. Disanalah buku-buku yang Rania perlukan berada. Buku-buku mengenai sastra Inggris, novel-novel dan kumpulan puisi berbahasa Inggris.
Rania mulai menjelajahi salah satu rak di lorong itu. Ada beberapa buku yang memang dicarinya. Rania begitu tenggelam dalam pencarian buku itu. Hingga ia tidak menyadari seseorang memerhatikannya sejak ia masuk ke perpustakaan.
Saking asyiknya, Rania tidak menyadari orang itu kini berjalan ke arahnya. Tiba-tiba saja tangan Rania digenggam dan mulutnya dibekap dari belakang. Seketika Rania berteriak namun tidak ada suara yang bisa ia keluarkan.
Namun, wangi parfumnya sangat familiar.
Orang itu membawa Rania ke area paling pojok dimana terdapat buku-buku lama yang jarang disentuh oleh pengunjung perpustakaan. Orang itupun melonggarkan genggamannya dan melepaskan tangannya yang membekap mulut Rania.
Sontak Rania berbalik dengan marah, bersiap untuk berteriak memarahinya. Namun Rania malah semakin tidak bisa bersuara ketika melihat sosok yang telah menariknya itu.
"Mas Logan?" gumamnya lirih. Logan berdiri disana dengan tatapan yang sedih dengan nafas yang menderu.
Logan tidak bisa menahannya lagi, iapun memeluk Rania. Erat sekali. Begitu juga Rania, sontak memeluk Logan setelah menyadari orang yang membekapnya adalah suaminya yang sudah lama tidak ia temui.
Hampir satu bulan mereka tidak saling bersentuhan seperti sekarang. Rendra benar-benar memisahkan keduanya. Tidak boleh bertemu barang sedetikpun. Akhirnya mereka hanya mengobrol dan bertukar kabar melalui telepon, chat, dan panggilan video.
Maka dari itu pelukan itu terasa sangat luar biasa bagi keduanya. Sangat Nyaman, seakan energi dan kebahagiaan yang selama ini hilang terisi begitu saja saat mereka berpelukan.
"Aku kangen banget, Mas." pelukan Rania semakin erat seraya mengatakannya.
Logan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Rania. Ia membelai kedua pipi Rania, seakan belum percaya ia bisa menyentuh sang istri lagi. Iapun mengecup kening, kedua mata, kedua pipi, hidung dan terakhir mendekatkan bibirnya pada bibir Rania. Mereka memag*tkan bibir mereka melepas rindu yang teramat sangat, tertahan hingga berminggu-minggu lamanya.
Bibir mereka menjauh, beberapa detik mereka saling menatap, menyelam ke dasar hati masing-masing, kemudian menyatukan kembali tubuh mereka dalam pelukan yang seerat sebelumnya.
Pelukan itu terlebih indah bagi Logan. Setelah terjadi perubahan pandangan dan pikiran dalam dirinya, ia merasa sangat bersyukur bisa memeluk Rania lagi. Penyesalan yang dalam selalu ia rasakan semenjak Rania dibawa pergi oleh Rendra. Kini ia betul-betul menyadari bahwa Rania adalah dunianya. Tidak bisa lagi ia jika tidak ada Rania di sampingnya. Teringat hari-hari yang dilaluinya selama beberapa minggu terakhir tanpa Rania terasa begitu sepi dan hampa.
__ADS_1
Sebelah tangan Logan menyentuh ke arah perut Rania, "Anak kita baik-baik aja, 'kan?"
Inisiatif yang Logan lakukan begitu menyentuh perasaan Rania. Dalam hati ia berkata, 'Nak, ayah kamu akhirnya menyentuh kamu.'
Rania mengangguk, "Dia baik-baik aja, Mas."
Sebuah senyum terbit dari bibir Logan, kembali ia merengkuh Rania ke dalam pelukannya. "Maafin aku ya. Gara-gara aku kita jadi kepisah kayak gini."
"Nggak, Mas. Aku seneng bisa punya waktu buat kangen sama, Mas." lirih Rania, masih melingkarkan tangannya di sekeliling tubuh Logan. Hangat dan wangi parfum Logan begitu Rania rindukan.
"Aku gak seneng tapi, Yang. Aku kesiksa banget. Aku kangen sentuh kamu. Kayaknya Papa bener-bener akan misahin kita sampai kamu lahiran. Tapi aku udah gak bisa, Yang. Aku gak bisa pisah lebih lama lagi sama kamu." lirih Logan dalam pelukannya.
"Mas, bentar lagi Papa jemput aku. Kita temuin Papa dan bicara sama Papa lagi, gimana?" Rania mengusulkan.
Logan melepas pelukannya dan menatap kedua mata Rania penuh tanya, "Kamu serius? Papa akan ngizinin emangnya? Berapa kali aku datengin kamu di rumah Bunda dan selalu berakhir dengan diusir sama Papa." ucap Logan sedikit trauma.
Logan menelan salivanya. "Okay kalau gitu. Kita coba ngomong lagi sama Papa."
Rania dan Logan kembali ke lorong tadi. Rania mengambil beberapa buku dan kemudian meminjamnya. Sesaat kemudian keduanya ada di depan perpustakaan kampus. Mereka duduk di salah satu bangku yang terdapat di teras perpustakaan, menunggu Rendra yang akan menjemput Rania.
Tangan mereka terus tertaut, seakan tidak rela saling melepaskan setelah sekian lama akhirnya kembali bisa saling bersentuhan. Tidak lama sebuah pajero sport hitam milik Rendra muncul dan parkir di salah satu tempat yang kosong di depan perpustakaan itu.
Rendra dan Carla keluar dari mobil. Tatapan Rendra begitu terkejut melihat Logan bersama Rania disana. Keduanya berdiri, menyambut kehadiran Rendra dan Carla.
"Kalian suka ketemuan kayak gini di belakang Papa?" Tatapan Rendra tajam tertuju pada tangan Logan dan Rania yang tertaut.
"Nggak, Pap. Ini pertama kalinya aku nyamperin Rania. Kalau aku ke kampus aku emang suka nyempetin ke gedung fakultasnya Rania, tapi aku cuma liatin Rania dari jauh."
__ADS_1
Sontak Rania melihat ke arah Logan yang berdiri di sampingnya. Tidak pernah menyangka ternyata Logan sering diam-diam memperhatikannya jika ia sedang ada di kampus.
Rendra bungkam, tidak menjawab lagi ucapan Logan. Ia menarik tangan Rania yang lain, seakan meminta Rania untuk pergi bersamanya. Jelas Rendra belum memberikan izinnya untuk Logan.
"Pap," Logan memegang tangan Rendra yang memegang tangan Rania, "Aku mohon. Izinkan aku buat tinggal lagi sama Rania. Izinkan aku bawa istri aku pulang. Aku udah berubah, Pap. Aku gak akan ngulangin kesalahan yang sama. Aku akan menyayangi Rania dan calon anak aku, Pap. Tolong Papa bisa berbesar hati memaafkan aku."
Logan terlihat bersungguh-sungguh. Terlihat wajahnya sungguh putus asa. Ia benar-benar menyesali perbuatannya.
Namun, tidak semudah itu bagi Rendra. Ia melepaskan tangan Logan dari tangannya dan menarik Rania menjauh dari Logan, "Papa tetap pada pendirian Papa. Rania akan tinggal bersama Papa sampai dia melahirkan. Bahkan mungkin setelahnya."
"Tapi, Pap. Rania pasti butuh aku. Aku adalah ayah dari anak yang Rania kandung. Aku mohon, Pap. Jangan pisahin aku dengan Rania lagi." Logan semakin putus asa.
Rendra menggelengkan kepalanya, tanda ia menolak. "Papa akan lebih tenang kalau Rania berada sama Papa. Selama ini Papa biarkan dia tinggal sama kamu, Papa kira kamu membahagiakan dia. Tapi ternyata Rania justru sedih bareng kamu. Papa gak mau ambil resiko lagi."
"Tolong, Pap." akhirnya Raniapun membuka suaranya, "Rania pengen tinggal bareng Logan lagi, Pap. Rania butuh Logan. Rania yakin Logan sekarang udah gak akan jauhin Rania kayak waktu itu. Tolong izinkan Rania pulang ke apartemen bareng Logan, Pap. Rania mohon." Rania memohon dengan menangkupkan kedua tangannya.
"Yang, udah dong kamu jangan keras kepala lagi. Kasian mereka. Kamu yang paling tahu gimana rasanya kepisah sama seseorang yang kita sayang." Carla ikut meyakinkan Rendra.
Rendra terdiam sejenak. Merasa terpojok karena semua orang disana memiliki suara yang sama, ingin Rania dan Logan kembali bersama.
Rendra menghela nafasnya, "Okay. Kalian boleh tinggal bersama lagi."
"Serius, Pap?" Rania masih belum bisa memercayainya. Logan dan Rania saling pandang dengan tatapan yang belum percaya.
"Serius. Tapi kalian gak akan kembali ke apartemen kalian. Kalian tinggal sama Papa dan Bunda di rumah Bunda. Papa akan terus mengawasi kamu." tegas Rendra pada Logan. "Kalau kamu nyakitin anak Papa lagi, gak ada kesempatan kedua buat kamu. Inget itu."
"Iya, Pap. Selama bisa bareng lagi sama Rania, Logan mau tinggal dimanapun juga!" ujar Logan sumringah.
__ADS_1
Logan memeluk Rania sekilas, kemudian menatap kedua orang tuanya dengan rasa terimakasih, "Makasih banyak, Pap. Aku janji gak akan keulang lagi kesalahan yang sama. Papa bisa pegang kata-kata aku."