
Setelah melihat Kak Alvaro yang sedang melihat foto Kak Angel, akhirnya Clara memilih untuk meninggalkan Kak Alvaro dan tidak jadi menyapa Kak Alvaro. Namun saat hendak pergi dari belakang Kak Alvaro, Clara tidak sengaja menginjak kaleng bekas minuman yang berada di tanah sehingga kesadaran Kak Alvaro kembali dan langsung menengok ke belakang dimana sumber suara tersebut berasal. "Aduh siapa sih yang buang sampah sembarangan. Ga tepat banget tempatnya," ucap batin Clara sambil meringis karena akhirnya dia ketahuan oleh Kak Alvaro dan tidak mungkin pergi dari sana.
Saat melihat Kak Alvaro berdiri dari tempat duduknya, Clara segera berlari ingin pergi dari sana namun pergelangan tangannya ditahan oleh seseorang yang berhasil mengejarnya. "Eh, ada Kak Alvaro. Kakak ngapain disini? Maaf tadi aku ga tau kalau itu kakak," ucap Clara sambil tersenyum ke arah Alvaro.
"Bukannya harusnya aku yang nanya kamu ngapain disini? Kenapa kamu bisa ada di belakang aku?" Tanya Kak Alvaro sambil menatap mata Clara tajam.
Clara yang ditatap demikian pun menjadi gugup dan terdiam sebentar mencari jawaban yang cocok sebelum menjawab pertanyaan Kak Alvaro. "Ya, ini kan tempat umum kak jadi bisa dong aku ada disini. Tadi aku ngeliat ada gerobak ice cream di depan jadi aku pengen beli ice cream ke sana eh malah ga sengaja injak kaleng bekas minuman yang dibuang sembarangan entah sama siapa," jawab Clara sambil menatap mata Kak Alvaro agar Kak Alvaro percaya padanya.
Kak Alvaro pun melihat kedepan untuk membuktikan ucapan Clara namun ia tidak melihat gerobak ice cream disana. "Mana gerobaknya? Ga ada tuh di depan," tanya Kak Alvaro sambil kembali menatap Clara.
"Y....ya udah pergi lah kak. Ge...gerobak ice cream kan biasanya keliling taman buat nyari pelanggan," jawab Clara sedikit terbata membuat Kak Alvaro memincingkan matanya. "Tuh kak gerobaknya lagi jalan di sebelah sana," lanjut Clara sambil menunjuk ke arah samping kanan mereka yang langsung membuat Kak Alvaro mengalihkan pandangannya. "Untung beneran ada gerobak ice cream lewat," batin Clara tersenyum.
"Dia ga bohong ternyata," batin Alvaro sambil melihat gerobak ice cream tersebut. "Yaudah kita kesana yuk," ucap Kak Alvaro sambil berjalan ke arah gerobak ice cream tanpa melepaskan tangan Clara.
"Hah?" Gumam Clara tidak mengerti dan sedikit canggung karena tangannya masih belum dilepaskan oleh Kak Al.
"Katanya tadi kamu mau beli ice cream kan? Yaudah ayo kita kesana beli ice cream sebelum gerobaknya jalan lagi keliling taman," ucap Kak Alvaro yang merasakan bahwa Clara tidak bergerak dari tempatnya berpijak sekarang. Kak Alvaro pun menarik tangan Clara lagi dan akhirnya mereka berjalan bergandengan tangan menuju gerobak ice cream tersebut.
"Duh, kenapa malah jadi gini sih? Kak Alvaro juga ga ada niatan buat ngelepas tangan aku apa?" Batin Clara merasa risih karena tangannya digenggam oleh Kak Alvaro.
"Mau beli ice cream rasa apa kak?" Tanya penjual ice cream tersebut saat melihat Alvaro dan Clara berhenti didepannya.
"Rasa mint deh 1," jawab Alvaro setelah melihat ke arah daftar menu.
"Kalau pacarnya mau rasa apa?" Tanya penjual tersebut yang membuat Kak Alvaro dan Clara kaget mendengarnya.
"Saya bukan pacarnya."
"Dia bukan pacar saya," ucap Clara dan Kak Alvaro berbarengan yang membuat penjual ice cream tersebut tersenyum mendengarnya.
"Bukan pacar kok pegangan tangan? Kompak lagi ngejawabnya. Masih pdkt ya kak?" Tanya penjual ice cream tersebut menggoda Clara dan Kak Alvaro yang membuat Kak Alvaro seketika melepaskan tangan Clara dan wajah Clara pun bersemu merah.
"Bu...bukan kok, bukan pacar saya. Tapi doain aja deh mas semoga abis ini bisa beneran pdkt terus jadian deh," ucap Kak Alvaro sambil tersenyum menggoda ke arah Clara yang membuat Clara menundukkan kepalanya.
"Aduh, Kak Alvaro apaan sih bercandanya. Ga lucu banget," batin Clara malu.
__ADS_1
"Haha, siap kak semoga lancar ya. Jadi mau ice cream rasa apa yang lagi merona?" Tanya penjual tersebut membuat Clara mengangkat kepalanya.
"Apaan sih mas, siapa yang merona. Saya mau ice cream rasa vanilla aja deh," jawab Clara cepat lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain tanpa menyadari Alvaro yang tersenyum melihat tingkahnya.
"Ini kak 1 ice cream mint 1 ice cream vanilla jadi 20 ribu," ucap penjual tersebut sambil menyerahkan ice cream tersebut pada Kak Alvaro dan Clara.
"Ini mas uangnya. Kembaliannya ambil aja," ucap Kak Alvaro sambil menyerahkan uang 50 ribu.
"Eh kak ga usah, aku bisa bayar sendiri kok," ucap Clara sambil mengeluarkan dompetnya.
"Udah ga apa apa sekalian," ucap Kak Alvaro sambil tersenyum pada Clara.
"Makasih kak," ucap Clara membalas senyuman Kak Alvaro.
"Kita mau kemana sekarang? Tadi kamu kesini mau ngapain? Ga cuma mau beli ice cream aja kan?" Tanya Kak Alvaro sambil berjalan berdampingan bersama Clara.
"Aku kesini mau nyari udara segar aja kak sekalian beli ice cream. Kakak ngapain kesini?" Tanya Clara pada Kak Alvaro yang membuat raut wajah Kak Alvaro berubah.
"Ga mungkin kan gue bilang kalau gue kesini karena gue keingat sama satu orang. Orang yang sekarang bahkan udah hilang ditelan bumi dan sama sekali ga ada kabar. Orang yang bikin gue ngerasain gimana rasanya dicintai dengan tulus walaupun ternyata gue ga bisa balas perasaannya tapi gue sayang sama dia," batin Kak Alvaro kalut dalam pemikirannya sendiri.
"Kita ngapain ke sini? Kamu mau main mainan anak kecil?" Tanya Kak Alvaro sambil tertawa.
"Ihh ini tuh bukan mainan anak kecil tau. Emangnya anak kecil doang yang boleh main ayunan? Orang dewasa juga boleh dong main ayunan asalkan ayunannya kayak gini bukan ayunan kecil yang buat balita," ucap Clara sambil cemberut karena Kak Alvaro menertawainya.
"Ok fine. By the way, orang dewasa emangnya siapa? Aku ga liat ada orang dewasa disini," ucap Kak Alvaro sambil melihat sekeliling membuat Clara semakin cemberut.
"Jadi kakak anggap aku bukan orang dewasa gitu?" Tanya Clara sambil menatap tajam Kak Alvaro.
"Buset nih cewe berani amat natap tajam ke gue," batin Alvaro sedikit kaget karena Clara cewe pertama yang berani menatapnya setajam silet. "Emangnya kamu orang dewasa ya?" Tanya balik Kak Alvaro sambil tersenyum ke arah Clara.
"Ihh Kak Alvaro nyebelin," ucap Clara sambil menyilangkan tangannya di depan dada dan memalingkan muka ke arah lain.
"Yah ngambek. Jangan ngambek dong," ucap Kak Alvaro sambil tertawa. " Kamu tuh bukan orang dewasa soalnya terlalu imut buat jadi orang dewasa," lanjutnya yang membuat Clara menatap ke arahnya sambil tersenyum malu.
"Ihh Kak Alvaro apaan sih," ucap Clara sambil memukul pelan lengan Kak Alvaro.
__ADS_1
"Cie malu-malu," ucap Kak Alvaro sambil mencolek ice cream nya ke pipi Clara.
"Kak!" Ucap Clara kaget karena Kak Alvaro mencolek ice cream ke pipinya. "Oh mau perang ice cream sama aku? Oke siapa takut," lanjut Clara sambil mencolekan ice cream nya ke pipi dan kening Kak Alvaro.
"Ihh curang, aku colek dikit kamu malah colek banyak," ucap Kak Alvaro tak terima lalu mencolekan kembali ice cream nya ke pipi Clara.
"Kak Alvaro stop it," ucap Clara sambil berlari menghindari colekan ice cream Kak Alvaro.
"Eh mau kemana? Tadi yang ngajak perang ice cream siapa ya? Kok malah lari sih," ucap Kak Alvaro sambil mengejar Clara.
"Ihh yang mulai duluan siapa ayo?" Tanya Clara tak mau kalah dan mencolekan ice cream ke wajah Kak Alvaro lagi saat Kak Alvaro berada di depannya.
"Awas ya kalau ketangkap," ucap Kak Alvaro lalu mengejar kembali Clara yang berlari menghindarinya. "Ahh, kamu lincah banget sih," lanjutnya saat mulai kecapean mengejar Clara yang terus-menerus berlari menghindarinya.
"Yah masa gitu doang cape sih," ucap Clara sambil berjalan ke arah Alvaro namun belum sampai Clara ke depan Kak Alvaro, Kak Alvaro sudah berlari untuk menangkapnya.
"Nah ketangkap. Mau kabur kemana lagi?" Ucap Kak Alvaro saat sudah berhasil memeluk Clara agar tak kabur lagi.
Clara yang dipeluk secara tiba-tiba hanya membeku lalu mendorong pelan tubuh Kak Alvaro saat kesadarannya sudah kembali.
"Eh sorry," ucap Kak Alvaro saat melihat respon Clara yang menghindari pelukannya.
"Ihh Kak Alvaro curang. Katanya cape eh malah nangkap aku," ucap Clara sambil memanyunkan bibirnya.
"Hehe, ya sorry. Abisnya kamu lincah sih kan jadi susah tangkapnya," ucap Kak Alvaro sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Main ayunan yuk," lanjutnya sambil berjalan ke arah ayunan. Clara pun mengikutinya dari belakang dan duduk di salah satu ayunan disana.
"Aku dorong ya. Kamu pegangan," ucap Kak Alvaro bersiap mendorong ayunan Clara.
"Tapi ice cream aku belum abis," ucap Clara memperlihatkan ice cream nya pada Alvaro.
"Udah buang aja. Lagian udah mulai mencair terus udah kita pake main juga," ucap Kak Alvaro sambil tertawa di akhir kalimatnya.
"Oke," ucap Clara membuang ice cream nya ke tempat sampah lalu duduk kembali di ayunannya.
"Siap?" Tanya Kak Alvaro yang diangguki oleh Clara. Mereka pun bermain ayunan sambil sesekali bercanda dan tertawa.
__ADS_1