My Niece'Dad My Lover

My Niece'Dad My Lover
Mahesa kembali


__ADS_3

Setelah Clara berlalu dari hadapannya, baru Kak Andrew tersadar dan mengejar Clara hendak meminta maaf karena dirinya sudah keterlaluan. Namun terlambat karena Clara sudah menaiki taksi terlebih dahulu dan pergi meninggalkan mall tersebut. Akhirnya Kak Andrew berjalan menuju parkiran dan menjalankan mobilnya menuju rumah dengan harapan bahwa Clara akan langsung kembali ke rumah.


Sementara di sisi lain


Alvaro sudah sampai di rumahnya dan disambut oleh pembantunya yang khawatir saat melihat wajahnya yang babak belur.


"Astaga den Alvaro kenapa den?" Tanya pembantu tersebut khawatir saat melihat Alvaro memasuki rumah dengan wajah yang babak belur seperti habis berkelahi.


"Ga apa apa kok Bi Ratih. Cuma luka biasa," ucap Alvaro sambil berjalan menuju sofa dan menghempaskan dirinya di sofa.


"Tapi harus diobati den," ucap Bi Ratih, pembantunya yang terlihat masih khawatir.


"Ga usah. Bi, tolong bikinin minuman ya. Al haus pengen minum yang segar-segar," ucap Alvaro sambil tersenyum ke arah Bi Ratih yang mengangguk dan langsung berjalan menuju dapur.


"Hah," desah Alvaro setelah menarik napas panjang lalu memejamkan matanya. "Clara pasti marah sama gue gara-gara gue berantem sama Andrew. Andrew sialan kenapa juga dia harus cari gara-gara sama gue," batin Alvaro yang hatinya merasa resah karena Clara marah padanya.


"Ini minumnya den," ucap Bi Ratih sambil menaruh segelas minuman di meja yang membuat Alvaro membuka matanya kembali.


"Makasih bi," ucap Alvaro lalu meminum minumannya. "Argh!" Ringis Alvaro saat ujung bibirnya yang robek terkena minuman dingin yang diminumnya.


"Tuh kan sakit. Bibi obati ya den," ucap Bi Ratih sambil memasukan kain ke baskom yang berisi air hangat yang ternyata sudah ia siapkan untuk mengobati Alvaro. Alvaro yang melihat itu pun hanya mengangguk lalu meletakan kembali minumannya di meja. "Tahan ya den," ucap Bi Ratih sambil menempelkan kain tersebut ke wajah Alvaro yang terluka. Alvaro menatap Bi Ratih sambil tersenyum lalu berkata, "Angel." Bi Ratih yang mendengarnya pun menghentikan aksinya lalu menatap Alvaro iba. Alvaro tidak menyadarinya dan masih terus tersenyum lalu berkata, "Clara." Bi Ratih yang mendengarnya pun mengerutnya dahinya karena bingung siapa Clara.


"Astaga," ucap Alvaro kaget sambil bangkit berdiri dari duduknya. "Kenapa gue ngebayangin Angel terus jadi Clara?" Batin Alvaro heran dengan bayangannya barusan.


"Den Alvaro masih kepikiran sama non Angel ya?" Tanya Bi Ratih hati-hati saat melihat Alvaro terdiam dalam berdirinya.


"Ahh maaf bi tadi lagi ga fokus," ucap Alvaro sambil kembali duduk di sofa dengan tidak menjawab pertanyaan Bi Ratih. Bi Ratih yang melihat itu pun hanya terdiam sambil fokus mengobati luka Alvaro sedangkan Alvaro seperti sudah tenggelam dalam pikirannya sendiri.


_______________

__ADS_1


Clara saat ini berada di sebuah kafe yang berada di dekat rumahnya. Awalnya Clara akan langsung pulang namun tidak jadi karena Mahesa meneleponnya dan mengabarkan bahwa ia sudah ada di Indonesia sekarang. Clara pun memainkan ponselnya sambil menunggu kedatangan Mahesa namun tiba-tiba sebuah tangan menutup matanya dan berkata, "Do you know who am i?"


"Mahesa, kamu udah datang?" Tanya Clara yang membuat Mahesa melepaskan tangannya yang menutupi mata Clara.


"Kok kamu tau sih Cla kalau ini aku," ucap Mahesa menggerutu yang membuat Clara tertawa.


"Yaiyalah aku tau kan aku janjian sama kamu disini," ucap Clara setelah berhenti tertawa. "Duduk dulu Sa. Kamu mau pesan apa?" Tanya Clara setelah melihat Mahesa duduk di hadapannya.


"Mocha latte deh sam...." ucap Mahesa yang terpotong.


"Eh sebentar. Waiters," ucap Clara memanggil pelayan yang membuat Mahesa tertawa karena baru menyadari bahwa pelayan belum menawarinya untuk memesan.


"Iya kak. Mau pesan sekarang?" Tanya pelayan tersebut sambil tersenyum ke arah Clara dan Mahesa.


"Iya mba, saya mau pesan mocha latte sama nasi bistik," ucap Mahesa lalu menatap Clara. "Kamu apa Cla?" Tanyanya kemudian.


"Baik, ditunggu ya kak," ucap pelayan tersebut lalu berlalu dari hadapan mereka.


"Oke sekarang udah selesai pesan, jadi kita bisa ngobrol," ucap Clara yang membuat Mahesa tertawa.


"Takut banget kayaknya kalau sampai keasyikan ngobrol sampai lupa pesan makanan," ucap Mahesa yang membuat Clara meringis malu.


"Duh jangan diingetin dong. Waktu itu kan benar-benar kelupaan," ucap Clara tak berani menatapnya yang membuat Mahesa mengacak-acak rambut Clara gemas. "Ihh jangan diberantakin dong Sa!" Peringat Clara sambil menggembungkan pipinya kesal.


"Haha abis kamu gemesin sih," ucap Mahesa yang membuat wajah Clara memanas.


"Apaan sih Sa," ucap Clara sambil memalingkan wajahnya yang ia yakini pasti sudah memerah.


Mahesa yang melihatnya pun hanya tersenyum menikmati wajah Clara yang memerah karenanya. "Cantik," gumamnya kemudian yang tidak terdengar jelas oleh Clara.

__ADS_1


"Apa Sa?" Tanya Clara karena merasa Mahesa berkata sesuatu.


"Ini kak pesanannya. Selamat dinikmati," ucap pelayan yang sedang menyiapkan pesanan mereka di meja kemudian berlalu dari hadapan mereka.


"Makasih," ucap Clara yang diangguki oleh pelayan tersebut lalu ia melanjutkan langkahnya.


"Ayo dimakan Cla," ucap Mahesa enggan menatap Clara dan memilih menatap nasi bistiknya. "Sial, gue ngomong apa barusan? Cantik!? Astaga Clara dengar ga ya yang barusan gue bilang? Semoga aja engga deh. Tapi kalau dengar gimana? Shit!" Batin Mahesa kesal karena mulutnya yang tidak bisa diajak berkompromi.


"Sa? Mahesa!? Kamu kenapa sih kok diam?" Tanya Clara saat pertanyaannya tidak dijawab oleh Mahesa.


"Eh? Ada apa Cla?" Tanya Mahesa saat kesadarannya sudah kembali.


"Kamu kenapa? Kok ga fokus gitu keliatannya." Tanya Clara saat melihat Mahesa seperti orang linglung.


"Sorry ga fokus abis ini makanannya enak banget loh Cla. Mau cobain ga?" Tanya Mahesa sambil mengarahkan sendok yang berisi makanan ke mulut Clara.


"Oh kirain kamu kenapa," ucap Clara sambil tersenyum lalu menerima suapan Mahesa. "Enak juga Sa bistiknya," komentar Clara setelah menelan makanannya.


Mahesa pun tersenyum lalu menyentuh ujung bibir Clara yang terdapat sebutir nasi menggunakan ibu jarinya. "Kayak anak kecil aja deh makannya belepotan," ucap Mahesa yang membuat Clara terdiam menatapnya.


"Astaga jantung aku kenapa? Kok deg-degan gini sih? Aku ga punya penyakit jantung kan? Lagian Mahesa kok so sweet gini sih? Pulang dari Berlin rasanya dia berubah jadi.... makin ganteng. Astaga Clara wake up!" Batin Clara yang berdebat dengan pikirannya sendiri.


Clara melihat Mahesa yang masih tertawa lalu berkata, "Thank Sa."


"Lanjutin lagi makannya," ucap Mahesa tersenyum lalu meminum mocha lattenya.


"Gimana di Berlin? Misinya udah selesai?" Tanya Clara disela-sela kegiatan makannya.


"Udah selesai," jawab Mahesa sambil menelan makanannya. Dan obrolan mereka pun berlanjut sampai makanan mereka habis dan mereka memilih untuk nongkrong sebentar di kafe itu sebelum Mahesa mengantarkan Clara pulang.

__ADS_1


__ADS_2