
Sesampainya di rumah, Alvaro disambut oleh ayahnya yang ternyata sedang duduk di ruang tamu sambil membaca koran. "Kamu pulang Al?" Tanya ayahnya saat melihat Alvaro berjalan memasuki rumahnya bersama dengan adiknya.
"Ayah," teriak adik Alvaro senang saat melihat ayahnya berada di rumah sehingga ia berlari ke arah ayahnya.
"Jagoan ayah," ucap ayah Alvaro sambil berdiri dan menggendong anaknya yang berlari ke arahnya. "Ahh jagoan ayah makin berat," lanjutnya yang membuat adik Alvaro terkekeh.
"Aku kan udah besar yah," sahut adik Alvaro yang membuat ayahnya terkekeh geli.
"Iya jagoan ayah udah besar ya sekarang," ucap ayah Alvaro tersenyum pada anaknya. "Kamu mau kemana Al? Sini duduk dulu," lanjut ayah Alvaro saat melihat Alvaro hendak berjalan menaiki tangga.
"Mau ke kamar. Ga usah Al cape mau istirahat," sahut Alvaro tanpa melihat ke arah ayahnya dan melanjutkan jalannya menuju kamar. Ayahnya yang melihat kelakuan putranya pun hanya menghela napas lelah lalu mendudukan dirinya kembali di sofa sambil memangku putra bungsunya.
"Kamu abis dari mana sama Kak Al?" Tanya Alvino, ayah Alvaro.
"Abis dari mall yah. Seru banget loh yah main sama Kak Al. Lain kali ayah harus ikut pokoknya," jawab anaknya yang membuat Alvino tersenyum mendengarnya.
"Walau dia menjauh dariku namun setidaknya ia masih menganggap adiknya," batin Alvino lalu melanjutkan obrolannya tersama putra bungsunya. Alvino tidak ingin hubungannya dengan anak bungsunya merenggang seperti hubungannya dengan Alvaro karena kesalahannya di masa lalu. Setelah lama mengobrol, akhirnya adik Alvaro tertidur di pangkuan ayahnya sehingga Alvino membawa putranya tersebut ke kamar lalu turun ke bawah hendak mengambil korannya yang tertinggal. Namun saat berada di tangga, Alvino malah melihat Alvaro yang hendak keluar dari rumahnya.
"Kamu mau kemana Al?" Tanya Alvino saat melihat anaknya hendak keluar rumah. Alvaro tidak menanggapinya dan tetap berjalan menuju pintu depan. "Al? Alvaro? Tunggu." Panggil Alvino yang membuat Alvaro menghentikan langkahnya.
"Ga ada yang perlu kita bicarain," ucap Alvaro tanpa membalikan badan untuk melihat ayahnya.
"Kamu mau kemana Al? Baru sebentar kamu pulang dan sekarang kamu udah mau pergi?" Tanya Alvino lagi yang mulai berjalan mendekati Alvaro.
"Bukan urusan anda saya mau kemana. Perlu anda tahu bahwa saya sudah disini sejak kemarin namun, anda tidak pulang kan kemarin? Makanya anda tidak bertemu dengan saya," jelas Alvaro lalu membuka pintu rumahnya dan mengendarai mobilnya meninggalkan rumah.
"Maaf," lirih Alvino saat melihat kepergian Alvaro.
__ADS_1
_____________
Basement, Rumah Jack
"Bro, lo kemana aja sih? Kok jam segini baru ngumpul?" Tanya Jack saat melihat Alvaro memasuki basement tempat mereka biasa berkumpul.
"Gue kira lo ga bakal datang Al," sahut Diego yang sedang bermain kartu dengan Richard.
"Gue ada urusan tadi," jawab Alvaro sambil mengambil soda di kulkas yang berada di sana.
"Urusan apaan?" Tanya Jack lagi sambil menghampiri Alvaro yang sekarang sudah duduk di sofa.
"Gue abis balik ke rumah. Jadi gue ajak main adik gue," jawab Alvaro sambil memainkan ponselnya enggan menatap Jack.
"Lo ketemu sama bokap lo?" Tanya Jack yang sekarang sudah menatap Alvaro membuat Richard dan Diego menghentikan permainan kartunya dan ikut menatap Alvaro.
"Lo ngobrol apa sama bokap?" Tanya Jack terus-menerus yang sudah kepo dengan urusan Alvaro.
"Apaan sih lo. Gue ke sini karena malas di rumah tapi kok malah diinterogasi. Mending gue cabut," ujar Alvaro sambil bangkit dari duduknya.
"Ya sorry-sorry. Jangan ngambek dong," ucap Jack sambil membantu Alvaro untuk duduk kembali di sofa. "Tapi lo ga berantem lagi kan sama bokap lo?" Tanya Jack yang dihadiahi pelototan oleh para sahabatnya sehingga Jack menunduk dan memilih meminum minumannya.
"Al, lo ga apa apa? Muka lo kenapa?" Tanya Richard yang sudah duduk di sofa dekat Alvaro sehingga ia bisa melihat wajah Alvaro yang memar.
"Ga apa apa," jawab Alvaro singkat sambil memalingkan mukanya.
"Eh iya muka lo kenapa Al?" Tanya Jack yang baru menyadari bahwa wajah Alvaro memar.
__ADS_1
"Lo berantem sama bokap!?" Tanya Diego histeris yang membuat Alvaro memutar bola matanya malas.
"Gue berantem sama orang," jawab Alvaro yang membuat para sahabatnya lega karena ia tidak berantem dengan ayahnya.
"Sama siapa Al? Wah cari gara-gara dia sama kita," ucap Jack yang bangkit dari duduknya dan mengepalkan tangannya kuat.
"Bukan siapa-siapa. Udah lah bahas yang lain. Gue ga mau mikirin apa pun sekarang," ucap Alvaro yang membuat Jack duduk kembali di posisinya. Mereka pun mengobrol sampai larut malam dan memutuskan untuk menginap di rumah Jack karena mereka malas untuk menyetir pulang di dini hari seperti ini. Akhirnya Jack dan Diego tidur di kamar Jack sedangkan Alvaro dan Richard tidur di kamar tamu.
"Lo beneran ga kenapa-napa Al?" Tanya Jack saat mereka baru memasuki kamar tamu tempat biasa mereka tidur saat menginap di rumah Jack.
"Ga kenapa-napa. Memangnya gue kenapa?" Tanya balik Alvaro sambil menatap Richard yang menatapnya serius.
"Lo kelihatan banyak pikiran," jawab Richard sambil mendudukan dirinya di sofa. "Lo butuh teman curhat Al?" Tanya Richard yang membuat Alvaro berjalan mendekatinya dan duduk di meja depan sofa.
"Clara marah sama gue," ucap Alvaro sambil menatap Richard yang tidak memberikan respon. "Gue berantem sama salah satu bodyguardnya. Namanya Andrew. Tapi tuh bodyguard yang mulai duluan. Masa dia bilang kalau gue ga boleh ngedeketin Clara dan kalau gue macam-macam dia bakal turun tangan. Dia pikir dia siapa?" Jelas Alvaro mengeluarkan kekesalannya.
"Dia kan bodyguardnya jadi wajar dia ngejaga Clara," komentar Richard yang membuat Alvaro melotot.
"Ya tapi masa dia ngelarang gue dekat sama Clara. Kita kan cuma berteman masa ga boleh sih karena gue udah punya pacar," balas Alvaro yang tidak setuju dengan komentar Richard.
"Lo cuma berteman sama Clara jadi kenapa lo harus marah cuma gara-gara ga bisa berteman sama Clara?" Tanya Richard yang membuat Alvaro diam tidak dapat menjawab. "Lo marah bukan karena dilarang dekat sama Clara kan? Lo marah karena lo cemburu kan sama bodyguard itu?" Tanya Richard yang membuat Alvaro menatapnya tak percaya.
"Dia kan cuma bodyguardnya Clara jadi mana mungkin gue cemburu sama dia. Justru karena dia cuma sekadar bodyguard maka dia ga punya hak buat ngelarang Clara berteman sama gue. Makanya gue marah karena dia bilang begitu," jawab Alvaro yang terlihat tak yakin dengan kata-katanya.
"Karena dia bodyguardnya Clara maka lo cemburu sama dia. Karena apa? Karena dia bisa selalu dekat sama Clara bahkan dia selalu ngelindungin Clara lebih dari lo," ucap Richard yang membuat Alvaro terdiam.
"Apa sebenarnya gue cemburu? Gue tau gue merasakan hal yang beda ke Clara tapi......apa itu cinta? Gue bisa mulai berubah dan mau menjadi lelaki yang lebih baik buat dia. Apa itu tandanya gue mulai ada rasa sama dia?" Batin Alvaro bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Oke gini aja," ucap Richard yang membuat Alvaro kembali tersadar lalu menatap sahabatnya serius. "Kalau jantung lo berdetak lebih cepat saat lo bersama Clara dan lo merasa aman dan nyaman berada di dekatnya sehingga membuat lo ingin selalu berada di dekatnya dan melindunginya," Richard menghela napas lalu melanjutkan kalimatnya, "Itu tandanya lo beneran suka sama Clara."