My Niece'Dad My Lover

My Niece'Dad My Lover
Langit pun Tau


__ADS_3

"Cla, kamu kemana aja sih? Tadi aku samperin ke uks kamu nya ga ada," ucap Aletta saat melihat Clara berjalan masuk ke kelasnya.


"Tadi aku abis dari toilet dulu Ta," jawab Clara sambil duduk di kursinya.


"Oh kirain kamu kemana. Untung deh kamu ga telat masuk kelas. Kamu ingat kan sekarang ada ulangan matematika?" Tanya Aletta sambil menghadap ke arah Clara.


"Iya Ta aku ingat kok. Makanya tadi aku buru-buru kesini," ucap Clara sambil tersenyum ke arah Aletta. "Eh gurunya udah masuk tuh," sambung Clara yang membuat Aletta langsung menghadap ke depan. Clara pun tertawa melihat tingkah Aletta yang takut pada guru matematika didepan gurunya namun saat dibelakang, Aletta malah membicarakan bahwa guru tersebut galak, judes, dan lain-lain yang membuat Clara, Chacha, dan Anna tertawa.


_______________


Pulang sekolah


Seperti biasanya, Clara langsung pulang ke rumahnya dijemput oleh Kak Andrew. Sesampainya di rumah Clara pun langsung disambut oleh Bianca yang sudah menunggunya pulang.


"Kak Ara, ayo ajarin Bianca membaca lagi," ucap Bianca sambil memeluk Clara yang baru saja memasuki pintu rumahnya.


Clara melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 15.00 WIB. Clara hendak menolak Bianca karena dia akan ke taman menemui Kak Alvaro namun Bianca sudah menarik tangannya. "Bianca udah belajar baca sampai mana?" Tanya Clara saat dirinya sudah membuka buku Bianca.


"Sampai halaman 15 kak," jawab Bianca sambil duduk di sebelah Clara.

__ADS_1


"Yaudah kalau gitu kita ulang dulu ya sedikit dari halaman 1 sampai 15," ucap Clara lalu mengajari Bianca membaca. Lama-kelamaan Clara pun terlarut dalam kegiatannya mengajar Bianca. Mereka menghabiskan waktu bersama untuk belajar dan bercanda tawa sampai Bianca tertidur di sofa karena lelah sudah belajar cukup lama.


"Bianca kamu pintar banget sih nangkap pelajarannya. Kalau udah sekolah nanti, kamu pasti jadi murid yang rajin. Sekarang belajar aja sampai ketiduran gini," ucap Clara sambil mengelus rambut Bianca yang sedang tertidur.


"Clara, Bianca udah tidur ya?" Tanya Siti pada Clara saat melihat Clara mengelus rambut Bianca yang sedang tertidur.


"Iya Siti, Bianca ketiduran nih tadi," ucap Clara sambil tersenyum ke arah Siti. "Bi Mirna kemana ya Ti? Kok ga kelihatan daritadi?" Tanya Clara kemudian.


"Bi Mirna sedang ke mini market Cla. Membeli snack Bianca yang sudah habis," jawab Siti menatap Clara.


"Oh yaudah deh kalau gitu kamu tolong beresin buku-buku Bianca ya terus simpan aja di rak bawah meja. Aku mau bawa Bianca ke kamar biar dia bisa tidur lebih nyenyak," ucap Clara sambil bersiap menggendong Bianca.


"Oke Cla," ucap Siti lalu mulai membereskan buku Bianca.


__________________


Sedangkan di sisi lain


Alvaro sudah sampai di taman dan merapikan rambutnya di kaca spion motornya terlebih dahulu sebelum memarkirkan motornya dan berjalan memasuki taman. Alvaro menggunakan kaus hitam polos dipadukan oleh jaket denim dan celana jeans yang melekat sempurna di tubuhnya yang atletis. Alvaro tersenyum senang dan duduk di bangku taman tempat bertemunya dia dan Clara waktu itu. Alvaro melirik jam tangannya sekilas dan ternyata waktu masih menunjukan pukul 16.30 WIB yang berarti masih ada waktu sekitar 30 menit sebelum Clara datang. "Gila biasanya gue santai setiap janjian sama cewe malahan gue sering telat. Tapi kok sekarang gue malah datang lebih awal ya. Mungkin karena Clara memang berbeda dari kebanyakan cewe biasanya. Dia spesial," ucap Alvaro sambil tersenyum memikirkan ucapan Clara saat di sekolah tadi.

__ADS_1


"Setiap orang pasti memiliki masalahnya masing-masing jadi aku sama sekali tidak mempermasalahan tanggapan orang-orang tentang kakak. Walaupun kakak terkenal playboy tapi aku percaya sebenarnya kakak adalah laki-laki yang baik. Kakak pasti punya alasan kenapa kakak memilih untuk menjadi seorang playboy. Jadi kenapa aku ga mau temenan sama kakak cuma karena tau kalau kakak playboy yang kasar?"


Alvaro tersenyum menghayati kata-kata Clara tersebut. "Lo memang beda Cla. Pemikiran lo jauh lebih dewasa dari anak-anak seumuran lo. Tapi gue sendiri ga yakin kalau ucapan lo yang berkata bahwa sebenarnya gue adalah laki-laki yang baik itu benar. Terkadang gue baik ke cewe supaya dia mau jadian sama gue tapi setelah gue bosan, gue langsung ninggalin mereka tanpa memperdulikan perasaan mereka yang mungkin sakit hati. Gue benar-benar ga bisa serius menjalin hubungan sama perempuan dan mungkin itu semua karena trauma di masa lalu yang ga bisa gue ceritakan dan lupain sampai sekarang," batin Alvaro hanyut dalam pikirannya sendiri.


Tiba-tiba ada seorang anak yang terjatuh di hadapan Alvaro membuat lamunan Alvaro terbuyarkan seketika.


"Aduh," ucap seorang anak yang terjatuh tersebut.


"Kamu ga apa apa?" Tanya Alvaro sambil membantu anak kecil tersebut berdiri.


"Ga apa apa kok kak. Makasih," jawab anak tersebut sambil tersenyum ke arah Alvaro.


"Lain kali hati-hati ya kalau jalan," ucap Alvaro lalu kembali ke bangkunya setelah melihat anak kecil tersebut mengangguk dan berjalan ke arah perosotan yang tak jauh dari sana. "Jadi ingat adik gue. Anak tadi pasti seumuran sama dia," batin Alvaro.


Alvaro pun melihat jam tangannya lagi yang sekarang sudah menunjukan pukul 17.30 WIB. "Kok Clara belum datang ya padahal udah lebih 30 menit dari waktu janjian," ucap Alvaro bertanya pada dirinya sendiri. "Apa dia lupa ya? Coba deh gue telepon," sambung Alvaro sambil mengeluarkan handphonenya dari kantung jaketnya. Alvaro segera mencari nama Clara di dalam kontaknya namun dia tidak menemukan nama Clara.


"Astaga gue lupa. Gue bahkan belum tukeran nomor telepon sama dia. Lemot banget sih gue padahal biasanya nomor cewe yang baru ketemu sekali aja gue udah punya. Lah ini nomor telepon Clara yang secara udah ketemu berkali-kali bahkan satu sekolahan kok gue malah ga punya sih," ucap Alvaro sambil menertawai kebodohannya sendiri yang lupa untuk bertukar nomor ponsel dengan Clara. "Yaudah deh gue tunggu aja mungkin dia masih di jalan," lanjut Alvaro lalu memilih untuk memainkan game online di ponselnya sambil menunggu Clara.


Beberapa jam kemudian

__ADS_1


Alvaro sudah selesai memainkan game online di handphonenya bahkan dia sudah menang sebanyak 5 ronde namun Clara belum muncul juga di taman. "Apa Clara lupa ya buat ke taman atau dia emang ga bakalan datang? Iya juga ya dia kan belum mengiyakan ajakan gue waktu di sekolah tapi seharusnya dia datang dong kan dia ga nolak ajakan gue juga," ucap Alvaro sambil menatap nanar jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 18.30 WIB.


Alvaro melihat sekeliling taman yang sudah sepi karena memang matahari telah terbenam dan langit sudah berubah menjadi gelap. Namun tak cukup sampai di sana, takdir seakan-akan sedang tidak berpihak padanya. Langit yang sudah gelap pun mulai berubah menjadi semakin gelap dan mendung bahkan bintang-bintang di langit pun sama sekali tidak dapat menampakan sinarnya. Geluduk pun datang membuat Alvaro sedikit terkejut karena kedatangannya yang tiba-tiba terdengar namun tidak dapat dilihat dan gerimis kecil pun mulai turun membasahi bumi. "Bahkan langit pun tau kalau gue lagi galau sendirian di sini sampai-sampai langit mengirim hujan untuk menemani gue menunggu kedatangan Clara. Miris banget sih gue sekarang apalagi cuma gara-gara seorang cewe. Sejak kapan gue mau menunggu kayak gini. Oke gue bakal tunggu 30 menit lagi dan kalau Clara benar-benar ga datang, gue bakal pergi dari taman ini dan bertingkah biasa saja seolah-olah gue ga kenal atau pun tertarik sama dia. Gue bakal anggap ketidakhadiran lo sebagai tanda kalau lo nolak gue secara ga langsung Cla," ucap Alvaro meyakinkan hatinya sendiri untuk tetap menunggu di bawah gerimis.


__ADS_2