
Dua bulan berlalu ....
Adrian masuk ke kamar dengan membawa segelas susu cokelat untuk Naomi. Wanita itu sedang duduk bersandar di ranjang. Ukuran perut yang semakin membesar benar-benar membatasi ruang geraknya.
"Aku buatkan susu untukmu."
Naomi meraih segelas susu yang dibawakan Adrian. Lalu meneguk perlahan.
Rasa manis dan berlemak dari susu khusus ibu hamil itu terasa lengket di dinding leher dan itu membuatnya semakin mual. Ia meletakkan gelas susu ke atas nakas, lalu berlari ke kamar mandi.
Jika biasanya wanita mengalami gejala aneh hanya di awal kehamilan, maka tidak dengan Naomi. Ia mengalami mual, muntah dan gejala morning sickness pada awal hingga menjelang kelahiran.
Walaupun dari selera makan, tidak ada keluhan karena ia dapat memakan apa saja. Tetapi, kadang sehabis makan ia menjadi mual dan memuntahkan isi perut. Hari ini entah sudah kali ke berapa ia keluar dan masuk kamar mandi dan itu membuat Adrian sangat panik.
"Kita ke dokter saja, ya?" Adrian berjongkok di hadapan istrinya yang masih terduduk lemas di atas kloset.
Tak ada jawaban dari Naomi. Ia bersandar dengan mata terpejam. Kepalanya mendongak demi menahan sensasi mual yang berpusat di perut.
Adrian mengelus puncak kepala dan merapikan rambut yang terurai di wajah. Menyelip ke belakang telinga.
"Sayang ...."
Masih belum ada jawaban dari Naomi. Wanita itu membuka mata secara perlahan. Lalu kembali berdiri dengan terburu-buru dan menabrakkan tubuhnya pada wastafel.
Kembali memuntahkan isi perut. Adrian tak tahu harus berbuat apa. Padahal Naomi memiliki obat yang diberikan dokter, namun tak cukup ampuh untuk meredakan mualnya.
"Aku pijat, ya."
Adrian yang berdiri tepat di belakang hanya mengusap punggung lehernya sembari menatap iba.
Jika boleh memilih, akan lebih baik jika dirinya yang mengalami semua itu. Jangan Naomi. Karena setelah muntah, wajah Naomi menjadi sangat pucat dan akan terkulai lemas.
"Sudah?"
Naomi mengangguk lemah. Membuat Adrian meraih handuk dan mengusap wajahnya yang pucat dan basah.
"Aku bantu ke kamar, ya."
"Aku mau tidur di ruang depan saja. Tidak mau di kamar," jawabnya dengan membenamkan wajah di lekukan leher suaminya.
Entah mengapa aroma pewangi ruangan yang menguar ikut membuatnya mual.
"Baiklah."
Adrian menopang tubuh lemas itu ke ruang televisi dan membaringkan di atas karpet bulu. Kemudian tergesa-gesa ke kamar untuk mengambil selimut.
Ia membalut tubuh Naomi. Kemudian ikut berbaring di sisinya.
"Kamu merasa lebih baik?"
"Sedikit."
"Sini ... aku peluk."
__ADS_1
Kala Adrian merentangkan lengan, Naomi menggeser posisi, hingga wajahnya menempel sempurna di dada Adrian. Setidaknya, satu-satunya aroma yang tidak membuatnya mual hanya aroma tubuh suaminya.
"Besok kita ke dokter lain saja. Obat yang kemarin tidak bisa membantu mengatasi mualmu, kan?"
"Tidak mau. Aku bosan minum obat terus," tolak Naomi.
"Baiklah." Adrian kembali mengusap rambut dan punggung. Ia memberi Naomi waktu untuk melegakan perasaannya. "Mau aku buatkan teh hangat?"
Naomi menggeleng pelan, tanpa suara.
"Mau aku pijat?"
Untuk kali ini Naomi mengangguk. Membuat Adrian bangkit dan mengambil message oil dan membalurkan ke perut sang istri.
Naomi merasa lebih baik setelahnya. Terutama, karena Adrian memberi pijatan yang lembut.
"Kamu mau makan sesuatu?"
"Tidak lapar."
"Ayolah, Sayang. Makan sedikit saja. Aku akan minta Layla membuatkan sesuatu untukmu," ucapnya sedikit memaksa.
Naomi baru saja memuntahkan semua makanan yang tadi dimakan. Ia pasti akan lapar lagi. Begitu pikir Adrian.
"Tidak mau. Aku mual kalau habis makan sesuatu."
"Kalau tidak makan bagaimana bisa sehat. Ingat, kamu makan untuk tiga orang, bukan untukmu sendiri!"
Adrian menghembuskan napas panjang setelah menyadari perbuatannya barusan.
"Aku minta maaf, Sayang. Aku tidak sedang memarahimu," bujuknya seraya menciumi kening berulang-ulang.
Ya ampun, salah lagi. Kenapa akhir-akhir ini kamu menjadi lebih sensitif? "Maafkan aku."
Belum ada jawaban dari Naomi. Perlahan isak tangis terdengar semakin jelas. Membuat Adrian semakin dilanda rasa bersalah.
Sikap posesif Adrian dinilai Naomi hanya mementingkan anak dalam kandungannya saja, kadang Naomi merasa diabaikan.
Cemburu? Mungkin saja? Padahal dua makhluk mungil yang sedang berkembang di dalam perut adalah buah cinta mereka.
"Baiklah, kalau tidak mau makan tidur saja." Adrian mengalah. Sebelah tangannya bergerak lembut mengusap perut.
"Aku mau dipeluk lagi."
"Iya."
Adrian kembali membenamkan Naomi di dadanya. Dalam hitungan beberapa menit, keduanya telah terbang ke alam mimpi.
Naomi dengan tubuh lemas, sementara Adrian yang tenaganya terkuras karena seharian bekerja. Ditambah setibanya di rumah harus direpotkan dengan keadaan Naomi.
Malam sudah larut.
Adrian masih lelap ketika samar-samar merasakan sentuhan di pipi. Kelopak matanya terbuka perlahan, namun raut wajahnya masih menggambarkan lelah dan mengantuk.
__ADS_1
"Apa, Sayang?" tanyanya dengan suara serak. Seperti masih berada antara dunia nyata dan alam mimpi.
"Aku lapar," cicit Naomi.
"Mau makan?"
Dalam dekapan Adrian, Naomi mengangguk.
"Maunya makan apa?" Suara Adrian masih terdengar lemah. Matanya kembali terpejam. Satu lengannya terangkat menutup sebelah wajah.
"Lancashire Hotpot."
"Hah?" Kelopak mata Adrian refleks terbuka. Membayangkan sebuah hidangan panggang yang terdiri dari daging, bawang merah dan kentang. Tentunya jenis makanan itu hanya tersedia di restoran.
"Apa boleh?" Naomi menatap penuh harap.
"Um ... boleh. Kamu ganti baju dulu. Aku mau cuci muka."
Adrian menguap demi melepas kantuk. Kemudian perlahan bangkit. Rasa lelah yang masih menguasai membuat matanya terasa berat.
.
.
Adrian naik ke mobil dan duduk di kursi kemudi dengan mata sayu.
Naomi melirik suaminya yang hanya menggunakan setelan piyama. Sedikit heran, sebab biasanya lelaki itu sangat memperhatikan penampilan. Ia tak akan keluar kamar jika penampilannya belum sempurna.
Setidaknya seperti itulah seorang Adrian Marx selama ini.
"Apa kamu sangat lelah sampai tidak sempat ganti baju?" tanya Naomi.
Adrian melirik sekilas dan kembali terfokus dengan jalan di depan.
Kalau aku jawab iya, kamu pasti menangis lagi, kan? Namun, kalimat singkat itu hanya diucapkan dalam hati.
"Tidak, Sayang. Aku hanya sedang malas ganti baju," jawabnya sembari tersenyum manis.
"Oh ...."
Mobil pun melaju membelah kesunyian. Melewati sebuah jalan yang cukup lengang, Adrian melirik kaca spion.
"Kenapa?" tanya Naomi ketika menyadari suaminya beberapa kali melirik ke belakang melalui kaca spion.
"Tidak apa-apa. Lihat itu, para algojo kakakmu yang menyebalkan itu terus mengikuti kita."
Naomi menoleh ke belakang. Memang, di belakang sana ada beberapa mobil sedan hitam yang mengikuti.
"Dia lebih posesif darimu, ya?"
Adrian terkekeh. "Dan lebih menyebalkan tentunya."
****
__ADS_1