My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 39 : Apa Dia Benar - Benar Mau Lepas Dariku?


__ADS_3

Cukup lama Naomi menghabiskan waktu di kamar mandi dengan berendam di air hangat untuk melepas rasa lelah, setelah aktivitas seharian. Sambil memikirkan di mana akan mencari pekerjaan  selanjutnya. 


“Aku tidak mungkin membiarkan hidupku tamat di tangan Tuan Adrian, kan?”


Ia menengadahkan kepala menatap langit-langit kamar mandi. Membayangkan hal-hal mengerikan yang mungkin akan terjadi pada dirinya di masa mendatang.


Setelah merasa lebih baik, Naomi menuntaskan ritual mandinya. Lalu, membuka pintu kamar mandi sedikit demi sedikit yang hanya muat untuk matanya, untuk melihat keadaan di luar. 


“Sepertinya sudah aman. Predator tua bangka itu sudah keluar dari kamar.” 


Naomi segera berjalan keluar. Ia dapat bernapas lega karena Adrian benar-benar sudah tak ada di sana.


Wanita terburu-buru mengunci pintu. Saat akan menuju lemari, langkahnya terhenti saat menatap bingkai foto milik Adrian di atas nakas.


"Hey, Tuan ... sepertinya kamu salah reinkarnasi. Jaman modern seperti sekarang tidak cocok untuk diktator sepertimu."


Naomi meletakkan kembali foto Adrian yang tersenyum dengan kacamata hitam yang membingkai matanya.


"Kamu akan lebih cocok lahir di zaman perang dunia ke-dua dan menjadi serdadu. Kalau itu terjadi, hari ini aku akan akan memandangi fotomu dengan karangan bunga."


...........

__ADS_1


“Adrian, ada apa dengan keningmu? Kenapa memar?” Sapaan ibu membuyarkan lamunan Adrian, yang sedang berada di ruang baca. Sebuah ruangan yang dipenuhi oleh berbagai bacaan, yang menjadi salah satu ruangan favoritnya saat sedang berada di rumah. 


“Tidak apa-apa, Bu. Hanya terbentur di pintu tadi,” jawabnya sambil mengusap kening. 


Wanita paruh baya itu mendekat dan memilih duduk di kursi tepat di sebelah putranya. “Ada yang ingin Ibu bicarakan denganmu.” 


“Kalau ini tentang Naomi yang menambahkan bubuk merica ke dalam jus Erica, aku tidak mau bahas.” 


“Baiklah. Meskipun sebenarnya Naomi sudah sangat keterlaluan.” Ia menjeda ucapannya dengan hela napas panjang. “Oh ya, dua hari lagi ulang tahun Erica. Apa kamu sudah mempersiapkan hadiah untuknya?” 


“Belum. Aku akan meminta Tina untuk mengurusnya.” 


Ibu menganggukkan kepala. “Sebenarnya ada yang mau ibu tanyakan padamu, Adrian.” 


"Bagaimana sebenarnya hubunganmu dengan Naomi?"


Mendengar pertanyaan itu, Adrian hanya menatap sang ibu sekilas, lalu kembali terfokus dengan buku di tangannya.


"Maafkan ibu, Adrian. Ibu tahu tidak seharusnya ikut campur."


"Kalau ibu sadar, kenapa masih bertanya," ujar Adrian.

__ADS_1


"Ibu hanya menginginkan yang terbaik untukmu, apa itu salah? Jujur saja, tadi pagi ibu bicara dengannya, dan dia mengakui bahwa sebenarnya tidak mau menikah denganmu. Tapi kamu lah yang sudah memaksanya."


Sorot mata tajam Adrian langsung mengarah pada sang ibu, membuat wanita itu merasa tubuhnya meremang.


“Naomi berkata begitu?” tanya Adrian.


“Tentu saja. Karena itu ibu menanyakan padamu. Kalau memang seperti itu keadaannya, kenapa kamu tidak lepaskan saja dia dan mencari wanita yang lebih layak?” 


Adrian menghembuskan napas panjang seraya melipat buku ditangannya. Ia letakkan kembali ke atas meja. “Maaf, Bu. Aku sedang tidak mau membahas masalah ini. Tolong tinggalkan aku sendiri.” 


“Tapi Adrian ... ibu hanya menginginkan yang terbaik untuk putra ibu satu-satunya. Dan Naomi bukan—” 


“Aku tidak mau membahasnya, Bu!” potong Adrian cepat, membuat keheningan tercipta di ruangan itu. 


Meskipun tampak kesal, namun, ibu memilih tak melanjutkan pembahasan yang mungkin akan memancing amarah Adrian.


“Baiklah, ibu tidak akan memaksa. Ibu hanya memintamu memikirkannya.” 


Wanita itu bangkit dari duduknya dan segera keluar dari ruangan. Meninggalkan Adrian yang masih mematung di tempat duduknya. 


Tangan Adrian terkepal kuat. Ucapan ibu barusan terus terngiang dalam ingatannya.

__ADS_1


“Naomi ... apa dia benar-benar ingin lepas dariku?” 


...........


__ADS_2