My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
bab 91 : Misi Penyelamatan


__ADS_3

Adrian tiba di sebuah bangunan berlantai tiga yang diberitahukan Pangeran Hugo. Begitu mobil terhenti, ia meneliti bangunan itu. Sepintas tidak ada yang istimewa, hanya sebuah bangunan biasa yang jauh dari kata mewah. Yang membedakan hanya orang-orang berpakaian rapi yang berjaga di sekitar. Juga beberapa mobil dengan simbol kerajaan. 


“Pangeran Hugo sudah menunggu Anda di dalam.” Salah satu pria menyambut mempersilahkan adrian untuk masuk. 


Adrian langsung bergegas mengikuti langkah pria yang sudah berjalan lebih dulu. Memasuki bangunan bergaya klasik itu, mereka menuju sebuah tangga untuk turun. Adrian dapat menebak bahwa ruangan yang dituju adalah ruang bawah tanah. 


“Silahkan, Tuan!” Sebuah pintu kokoh terbuka, disusul dengan hembusan udara sejuk yang berasal dari dalam. Pandangan Adrian menyapu ruangan besar nan unik itu. Pangeran Hugo tampak sedang membicarakan sesuatu bersama beberapa pria dengan serius.


Ia melirik Adrian dan langsung bangkit.


"Kita harus bergerak cepat. Mereka ada di daerah Bougenville. Aku sudah memberi perintah untuk menutup daerah itu, jadi mereka tidak akan bisa keluar,” ucap Pangeran Hugo. 


Adrian sangat terkesan dengan cara kerja Pangeran Hugo yang sangat cepat. Tetapi, sekarang bukan tentang kecepatan, tetapi kehati-hatian.


“Kita tidak boleh tergesa-gesa. Erica adalah orang yang sangat nekat. Dia tidak akan ragu melukai Naomi kalau merasa terancam."


"Karena itu lah kita harus cepat mengepung."


"Aku mohon! Nyawa istriku taruhannya. Erica ingin membunuh Naomi tepat di hadapanku. Dan dia telah mencuri dessert eagle milikku untuk melakukannya.” 


Pangeran Hugo menyorot tajam. Wajahnya tegang. Tentunya, ia tahu seberapa berbahaya jenis senjata yang baru saja disebut Adrian. 


 “Apa yang diinginkan wanita itu sebenarnya?” tanya Pangeran Hugo kemudian.


Adrian terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “Dia menginginkan aku.” 

__ADS_1


.


.


.


Kedatangan beberapa mobil yang mendadak membuat Erica terkejut dan segera mengintip melalui jendela. Melihat beberapa pria turun dan bergerak cepat berpencar mengepung rumah itu membuatnya geram.


"Itu pasti orang-orangnya Adrian. Baiklah, sekarang kamu akan melihat Naomi mati di depan matamu."


Wanita itu segera menyambar senjata miliknya dan berlari menuju kamar kecil tempat Naomi disekap. Tetapi, apa yang ditemukannya membuat darahnya mendidih.


Betapa tidak, Justin telah melepas ikatan Naomi dan baru saja akan membawanya keluar dari kamar.


"Pengkhianat!" teriak Erika menodongkan senjata ke arah Naomi. Namun, Justin bergerak lebih cepat dengan menjadi tameng sehingga peluru mengenai lengan kanannya.


Naomi pun segera melangkah dengan tertatih. Semalaman terbaring dalam keadaan terikat membuatnya kehilangan keseimbangan. Sebenarnya, ia juga tak tega meninggalkan Justin seorang diri. Tetapi Justin benar, ia harus segera pergi, karena Erica pasti akan membunuhnya.


"Jangan lari, gadis pelayan!" Erica kembali bersiap untuk membidik, namun Justin menghalangi sehingga terjadi saling rebut.


Dor!


Suara letusan senjata itu membuat tubuh Adrian mendadak lemas. Pikiran buruk tentang Naomi sudah terbayang dalam benaknya.


Secepat kilat mereka berpencar menyusuri rumah minimalis berlantai satu itu. Pangeran Hugo menyisir dari sisi lain bersama beberapa pengawal, sedangkan Adrian ke sisi lain.

__ADS_1


Tiba di sebuah ruangan, pemandangan yang tersaji di depan mata membuat jantung Adrian seperti akan berhenti berdetak. Erica menyambut dengan sebuah ancaman mematikan. Sebelah tangannya mencengkram lengan Naomi, sementara tangan satunya menodongkan senjata ke perut.


"Selamat datang Adrian, Sayang ... Apa kamu sudah siap melihat Naomi mati?"


Napas Adrian tertahan saat melihat wajah Naomi yang memucat. Ia tahu Naomi sedang sangat ketakutan.


"Tenanglah, aku sudah di sini," Bibir Adrian bergerak tanpa suara, yang dapat dibaca oleh Naomi. Dalam ketakutan, wanita itu menarik napas dalam untuk menenangkan diri.


Adrian lalu melirik beberapa pria di belakangnya sambil memberi isyarat dengan mengarahkan tangannya ke bawah.


"Turunkan senjata kalian. Dia tidak akan segan membunuh Naomi," ucap Adrian, membuat pengawal menjatuhkan senjata ke lantai.


"Baguslah, kamu mengerti maksudku. Adrian, apa kamu tahu, aku sudah menunggu lama untuk hari ini. Setelah membunuh Naomi, kita bisa hidup bersama lagi."


Erica mengarahkan senjata ke leher Naomi.


"Gadis pelayan, kamu sudah merebut Adrianku, tapi aku akan merebutnya kembali. Sekarang kamu akan mati di tanganku."


Erica tertawa kecil. Baru saja akan menarik pelatuk, sesuatu yang jauh diluar perkiraannya sudah terjadi.


"Lepaskan adikku atau Adrian kutembak!" Suara lantang itu mengalihkan perhatian Erica.


Kontan sepasang matanya membeliak menyadari apa yang tersaji di hadapannya. Seorang pria yang setahunya adalah pangeran mahkota kerajaan tiba-tiba datang dan menodongkan senjata ke pelipis Adrian.


"Kalau kamu menembak adikku, kamu pun akan melihat mayat Adrian di sini!"

__ADS_1


****


__ADS_2