
Dunia seolah sudah berhenti berputar bagi Adrian. Sekali lagi ia harus merasakan kehilangan satu-satunya alasan yang membuat hidupnya berarti. Sudah enam bulan sejak kepergian Naomi. Ia bahkan tak meninggalkan jejak sedikitpun.
Adrian telah mencari keberadaan sang istri ke semua tempat yang memungkinkan, melibatkan semua anak buahnya untuk mencari. Namun hingga kini hasilnya tetap nihil.
Sore itu ....
Adrian tiba di rumah setelah hampir seharian mencari Naomi. Ruang baca adalah tempat yang dipilihnya untuk menghabiskan waktu istirahat. Hari ini cukup menguras tenaga dan pikiran.
Pria itu menghempas tubuhnya di kursi. Dasi yang melilit kerah kemeja ia kendurkan, menggulung lengan kemeja hingga batas sikut, lalu memijat kening yang terasa berdenyut.
“Naomi ...,” gumamnya, menatap dalam foto berbingkai kayu yang bertengger di atas meja.
Suara ketukan pintu menyadarkan Adrian dari lamunan. Disusul dengan kemunculan ibu yang datang dengan senyum. Di belakangnya ada seorang pelayan membawa minuman.
“Kamu baru pulang?” tanyanya, seraya berjalan mendekat. Ia dapat melihat wajah lelah putranya.
“Iya, Bu. Bagaimana keadaan nenek?” balas Adrian, mengingat beberapa hari belakangan kondisi nenek sedikit menurun.
__ADS_1
“Sudah lebih baik. Hanya saja dia terus mencari wanita itu.”
Dahi Adrian sedikit berkerut. Bukan karena mendengar tentang kondisi nenek, melainkan karena nada sarkas dari ibu.
"Kenapa aku merasa Ibu sangat tidak menyukai Naomi?" Mendapat pertanyaan itu, ibu hanya menghela napas. Benar tebakan Adrian, ia memang tidak pernah menyukai menantunya itu.
“Bukan tidak suka. Maksud ibu ... Naomi sudah lama pergi. Dia mungkin tidak akan kembali lagi ke rumah ini. Artinya, dia memang tidak mau berada di sisimu.”
“Jadi apa yang sebenarnya ingin Ibu katakan? Bicaralah dengan jelas.”
Wanita itu semakin mendekat. Ia mengusap bahu putranya.
Tatapan tajam Adrian langsung mengarah pada ibu. “Bagaimana Ibu bisa memintaku memulai hubungan baru dengan wanita lain, padahal Ibu tahu aku hanya menginginkan Naomi.”
“Tapi dia tidak menginginkanmu, kan?” ujarnya, dengan melipat tangan di bawah dada. “Kalau dia memang menginginkanmu dia tidak akan pergi seperti sekarang. Lagi pula keluarga kita membutuhkan seorang pewaris, Adrian.”
“Apa ibu lupa bahwa Naomi pergi dalam keadaan hamil?”
__ADS_1
Ibu memutar bola mata dengan malas. “Kamu yakin anak yang dikandung Naomi adalah anakmu? Bisa saja 'kan dia hamil dengan—”
“Cukup, Bu!” bentak Adrian, membuat ibu tersentak. Ini adalah pertama kali dalam hidupnya Adrian membentaknya.
“Ibu tidak percaya ini. Kamu membentak ibu hanya karena wanita itu?" protesnya tak terima.
“Aku pikir pembicaraan tentang Naomi yang pernah bekerja untuk Madam Leova sudah selesai malam itu," papar Adrian. "Aku ingatkan untuk tidak membicarakan hal buruk tentang Naomi di hadapanku lagi. Jangan membuatku kehilangan kesabaran, Bu!”
Tatapan Adrian semakin mengintimidasi. Membuat tubuh ibu terasa meremang. “Tapi Adrian, ibu hanya menginginkan yang terbaik untukmu.”
Adrian menghembuskan napas kasar. Ia mungkin sudah memaki jika tidak mengingat wanita di hadapannya adalah orang yang sudah melahirkannya.
“Sudahlah, besok pagi aku akan keluar kota. Aku mau istirahat malam ini.”
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Adrian beranjak tanpa permisi. Tinggallah ibu seorang diri dengan menatap secangkir teh yang sama sekali belum disentuh putranya itu.
.
__ADS_1
.