My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 86 : TOLONG KAMI, TUAN!


__ADS_3

“Selamat siang, Tuan Adrian Marx, maafkan jika kedatangan kami mengganggu waktu Anda.” Seorang pria berjas hitam rapi membuka pembicaraan. 


Kini mereka sedang berada di sebuah ruangan. Adrian membisu menatap sang pangeran yang duduk tepat di hadapannya. Ia meneliti wajah. Memang, pria yang duduk di hadapannya itu memiliki kemiripan dengan Naomi yang tak terbantahkan. Bulat wajahnya, hidung dan mata tak bisa berbohong.


“Aku tahu maksud kedatangan kalian kemari,” sahut Adrian tanpa ragu. “Ini semua karena Putri Isabel?” 


Pangeran Hugo tampak terkejut. Ia menatap Adrian tanpa kedipan mata. “Anda tahu tentang Putri Isabel?” 


Adrian mengangguk pelan. Tak ada lagi yang dapat ia sembunyikan. “Ya, aku menemukan fakta tentang Naomi kemarin, setelah melakukan penyelidikan. Tadinya kupikir orang tua istriku hanyalah orang biasa. Aku tidak menyangka kalau dia ternyata seorang putri.” 


Adrian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jas, lalu menggesernya ke hadapan Pangeran Hugo. Pria tampan nan gagah itu menyambar dengan segera dan membuka kotak, yang membuat bola matanya melebar dan berkaca-kaca.


"Ini kalung yang digunakan Isabel saat hilang. Di mana Anda menemukannya?"


Adrian melirik Russel, seolah meminta Russel yang menjelaskan.


"Maafkan saya, Pangeran Hugo," potong Russel. "Saya menemukan kalung itu di kamar pribadi Lara Claire. Saya juga sudah menanyakan langsung kepada Ken Claire. Tadinya dia tidak mau bicara, tapi setelah saya memberi sedikit ancaman, dia akhirnya mengakui segalanya."


Pangeran Hugo tak dapat menyembunyikan rasa bahagia yang memancar dari wajahnya. “Berarti Isabel benar-benar masih hidup?” 


"Nona Naomi Claire adalah Putri Isabel, Pangeran," jawab Russel. "Dan Tuan Marx adalah orang yang menyelamatkannya dari Madam Leova saat dijual oleh Ken Claire."


Pangeran Hugo mengusap ujung matanya yang basah. "Kalau begitu, di mana adikku sekarang?"


Russel melukis senyum tipis. “Dia sedang berkunjung ke makam orang tua angkatnya. Kami baru saja akan menjemputnya.” 


"Baiklah, mari kita ke sana. Aku mau bertemu dengannya."


"Tapi tunggu!" ucap Adrian tiba-tiba. "Apa kalian akan membawa istriku ke istana? Aku tidak akan melepaskan istriku. Dia akan tetap bersamaku."


Keheningan mendominasi selama beberapa saat.

__ADS_1


"Tuan Marx ... kita bisa membicarakannya nanti dengan Pangeran Arthur dan Putri Hellena," sahut ajudan Pangeran Hugo.


"Baiklah. Aku hanya mengingatkan saja," jawab Adrian.


Tanpa mengulur waktu, mereka beranjak keluar. Baru tiba di lobi, ponsel milik Adrian sudah berdering. Pria itu segera mengeluarkan ponsel dari saku jas. Tertera nama Layla pada layar, membuat Adrian langsung menggeser simbol hijau untuk terhubung. 


“Ada apa, Layla?” 


“Tuan, tolong kami ....” Suara Layla terdengar panik, membuat Adrian menghentikan langkahnya.


“Apa yang terjadi?” tanyanya ikut panik. Sudah muncul berbagai dugaan buruk dalam benaknya tentang Naomi.


“Nona Naomi, Tuan ....” 


“Ada apa dengan istriku katakan cepat!” 


Mendengar Adrian yang terdengar panik, Pangeran Hugo pun mendekat, diikuti beberapa pengawal kerajaan. 


“Apa yang terjadi dengannya?” bentak Adrian semakin tak sabar. 


“Mereka membawa Nona Naomi. Tolong cepat kemari, Tuan!” 


Bruk! 


Ponsel di genggaman Adrian terjatuh begitu saja. Mendadak sendi-sendinya terasa lemas. Russel segera meraih ponsel milik Adrian, yang masih terhubung dengan Layla. 


"Ada apa, Layla?" tanya Russel.


"Tolong cepat kemari, Tuan. Kami baru saja diserang dan Nona Naomi dibawa orang. Bruno dan Mathilda terluka parah."


"Baik, tetaplah di sana!"

__ADS_1


Secepat kilat, Adrian berlari keluar, diikuti Pangeran Hugo dan Russel. Mobil melesat cepat meninggalkan gedung kantor.


.


.


.


Suasana semakin memanas di kompleks pemakaman saat Adrian dan Pangeran Hugo tiba. Sudah ada dua buah ambulan di sana yang akan membawa Bruno dan Mathilda. Keduanya terluka cukup serius, sementara Layla hanya mengalami luka ringan. 


“Cepat bawa mereka ke rumah sakit!” perintah Adrian. Pria itu menyorot Layla dengan tajam. “Apa yang sebenarnya terjadi.” 


Layla yang tak kuasa membendung air mata terus menangis. “Kejadiannya sangat cepat, Tuan. Belum ada setengah jam lalu. Tiba-tiba saja kami diserang beberapa pria. Saya tidak tahu siapa mereka. Mereka melukai Bruno dan Mathilda, lalu membawa Nona Naomi pergi.” 


Tidak tahu sudah semarah dan setakut apa Adrian sekarang. Hilangnya Naomi membuat otaknya terasa lumpuh. 


"Tapi siapa yang melakukannya? Naomi tidak pernah terlibat masalah dengan siapapun!" ujar Adrian masih dengan nada panik. “Russel, kerahkan orang sebanyak mungkin untuk mencari. Tutup semua perbatasan kota dan lakukan pemeriksaan menyeluruh. Temukan istriku dalam keadaan baik-baik saja.” 


“Baik, Tuan.” 


Tak hanya Adrian, Pangeran Hugo pun tampak tak dapat membendung amarah. Dalam keadaan panik ia menatap para pengawalnya. 


“Sisiri setiap sudut kota ini untuk mencari Putri Isabel!” perintahnya.


*


*



Ini adalah konflik terakhir sebelum END. 🤭 Siapkan imun dan iman, biar aman. wkwkkwk

__ADS_1


Oh ya ... kenapa konfliknya kayak gunung? Naik turun nanjak belok? Karena ini adalah karya tulis kategori pria. Penulis diminta untuk membuat konflik hebring. 😅😅


__ADS_2