My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 56 : Bawa Pulang Naomi!


__ADS_3

“Di mana Adrian dan Naomi? Sudah tiga hari mereka tidak pulang.” Nenek Camila bertanya kepada seorang pelayan yang baru saja datang membawakan sarapan. 


Sejak berdebat dengan Naomi beberapa waktu lalu, wanita dengan rambut memutih itu memang lebih sering sarapan pagi di taman. Naomi kerap menyindir dirinya, dan sekarang ia sedang merindukan cucu menantunya yang jahil itu. 


“Saya tidak tahu, Nyonya. Mungkin mereka sedang menginap di apartemen. Tuan Adrian kan memang sering menginap di sana,” jawab sang pelayan ragu-ragu. 


Sebelumnya seluruh penghuni rumah telah diberi arahan oleh Bruno, agar nyonya besar jangan sampai tahu tentang hilangnya Naomi. Karena ditakutkan akan mempengaruhi kesehatannya. 


“Cepat hubungi Adrian dan minta membawa Naomi ke mari. Aku sangat merindukan anak nakal itu.” 


“Baik, Nyonya. Saya akan menghubungi Bruno nanti dan menyampaikan pesan Anda.” 


“Tidak usah memberitahu Bruno. Langsung ke Adrian saja!” perintahnya tanpa dapat ditawar. 


“Tuan sedang tidak bisa dihubungi, Nyonya. Mungkin sedang sibuk. Setelah urusannya selesai, mereka pasti akan pulang.” 


Nenek menghembuskan napas panjang. Menatap menu sarapannya dengan malas. Biasanya, akan ada Naomi yang menemani sarapan paginya di taman. Membicarakan hal apapun sambil berdebat kecil. Kemudian tertawa bersama setelah nenek kalah debat. 


“Ah, aku sangat merindukan Naomi.” 


.


.


.

__ADS_1


Pencarian Naomi yang tadinya disembunyikan dari publik akhirnya tercium media. Berbagai spekulasi beredar di masyarakat. Sejumlah akun gosip pun ramai-ramai membuat kiriman seputar Naomi dan Adrian. Bahkan acara gosip di beberapa stasiun TV turut memberitakan hal tersebut. 


Adrian sudah mengancam agar media berhenti menyorot tentang hilangnya Naomi. Tetapi, berita sudah terlanjur tersebar di masyarakat. Naomi pun menjadi trending hanya dalam beberapa hari. 


Di sisi lain pencarian terus dilakukan tanpa henti. Semua akses untuk keluar dari kota itu diperiksa ketat. 


“Apa kalian sudah dengar berita tentang hilangnya istri Tuan Adrian Marx?” tanya salah satu wanita yang sedang mengantri di sebuah kedai makanan, di stasiun kereta api.  


“Aku dengar. Tapi bukankah itu hanya gosip? Beberapa sumber mengatakan bahwa istri Tuan Marx hanya liburan ke suatu tempat.” 


“Sepertinya itu hanya isu pengalihan untuk menutupi keadaan sebenarnya,” sahut salah seorang wanita lainnya. “Apa kamu tahu, kakak kandung Nona Naomi itu seorang gigolo.” 


Dua wanita lainnya terperangah sambil menutup mulut seolah tak percaya. “Benarkah? Tahu dari mana?” 


“Ya ampun, memalukan sekali. Keluarga Marx yang terpandang memiliki menantu adik seorang gigolo.” 


Mereka tampak prihatin. “Aku yakin Nona Naomi pergi karena tidak kuat menanggung malu.” 


“Benar juga.” 


Tak jauh dari mereka seorang wanita dengan hoodie berdiri di barisan paling depan sambil menghembuskan napas kasar.


“Tolong berikan dua roti isi daging dan satu cup green tea.” 


“Baik, Nona. Tunggu sebentar.” 

__ADS_1


Huh, aku ingin sekali meremas mulut mereka. 


Naomi mengusap dada pelan. Ujung matanya melirik tiga wanita yang saling berbisik. Lalu memejamkan mata demi mengurai rasa marah yang menguasai hatinya. 


“Nona, ini pesanan Anda. Semuanya sepuluh dolar,” ujar wanita yang berdiri di dalam kedai. 


Naomi mengeluarkan selembar uang dari dalam tas. Beberapa hari ini, ia hidup dari hasil menjual kalung berlian pemberian Adrian beberapa waktu lalu. Kalung berlian yang pernah  membuatnya kesal setengah mati. Kalung itu sebenarnya untuk Haylea, dan Adrian sengaja meminta Naomi menggunakannya untuk membuat Haylea kesal. 


Baru saja Naomi menyodorkan lembar uang pada pemilik kedai, perhatiannya sudah teralihkan pada kawanan pria yang baru tiba. Ia menajamkan penglihatannya. 


“Sepertinya aku pernah melihat mereka, tapi di mana?” Naomi mengasah otaknya. Sesaat kemudian, ingatan-ingatan mulai bermunculan di benaknya. “Ya, itu kan seragam yang pernah kulihat saat mengunjungi kantor Tuan Adrian. Tamat riwayatku kalau mereka menemukanku.” 


“Nona?” panggil wanita pemilik kedai, membuat Naomi tersadar. 


“Emh, maaf. Ini uangnya, ambil saja kembaliannya,” ucapnya, lalu bergegas pergi. 


Naomi menerobos lautan manusia yang memenuhi stasiun. Menutup kepala dengan topi demi menyamarkan wajahnya. Langkah Naomi mendadak terhenti kala menatap lelaki yang berdiri tegak dengan posisi membelakangi dirinya. 


Membuat seluruh tubuhnya gemetar. 


“Tu-tuan Adrian?” 


.


.

__ADS_1


__ADS_2