My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 69 : Apakah si Culun Itu Benar Istri Tuan Marx?


__ADS_3

Adrian menarik selimut demi menutupi tubuh polos Naomi setelah berhasil memperdaya wanita itu. Bibirnya melengkung membentuk senyum kepuasan, hukuman Naomi telah membayar luapan kerinduan selama berbulan-bulan. 


Jangan tanyakan tentang Naomi. Pipinya yang merona sudah cukup untuk menjelaskan segalanya. Meskipun bibirnya terus mengucapkan hal sebaliknya. 


“Aku akan pergi ke kantor dulu. Kamu istirahat saja di sini,” ucap Adrian yang kini sudah rapi dengan setelah formal. 


Naomi masih duduk bersandar di tempat tidur sambil memeluk selimut di dadanya. “Apa setelah ini aku boleh keluar jalan-jalan?” 


Adrian menatap Naomi melalui pantulan cermin. “Tidak boleh!” ucapnya tegas, membuat bibir Naomi mengerucut. 


Jangankan untuk berjalan-jalan di luaran sana, untuk keluar dari kamar sendirian pun Adrian tidak akan memberi izin. Tentu saja ia khawatir jika jalan-jalan di luar hanya sebuah alasan bagi Naomi untuk bisa kabur lagi. 


"Memangnya mau jalan-jalan ke mana?"


"Beberapa hari lalu aku mau makan spaghetti di restoran dekat kantor. Tapi harganya sangat mahal." Ucapan santai Naomi membuat Adrian merasa dadanya penuh sesak. Ia terdiam beberapa saat menatap sang istri. Pria itu lalu mendekat dan menciumi puncak kepalanya.


"Baiklah, Sayang."


Satu hal lagi yang membuat Naomi tiba-tiba berdebar. Ini adalah pertama kali Adrian memanggilnya sayang.


Kenapa aku merasa seperti habis lari maraton?


"Apa aku boleh ke sana dan membelinya?" tanyanya.


Adrian terkekeh. Tingkah Naomi tiada beda dengan anak kecil yang sedang meminta sesuatu. "Tentu saja. Kalau perlu aku belikan restorannya sekalian."


Bibir Naomi kembali mengerucut.

__ADS_1


Sombong sekali dia. Memang kamu sekaya apa?


“Kalau begitu cepat mandi dan ikut ke kantor saja. Aku akan mentraktirmu apapun yang kamu mau."


"Benarkah?" lirihnya.


"Hemm ..."


Begitu Adrian membalikkan tubuhnya, Naomi mengangkat kedua tangan ke udara. Sangat senang, seperti baru saja mendapat hadiah besar. Tetapi saat kembali menoleh, yang Adrian lihat hanya raut pasrah tak bertenaga.


"Tas pakaianmu di sana, tadi aku minta Samuel mengambilnya di rumah sewamu. Cepat ganti baju dan kita pergi."


"Baiklah kalau kamu memaksa," ujar Naomi sambil bangkit dari tempat tidur dengan malas.


Menyembunyikan perasaan menggebu yang sebenarnya.


*


*


Mobil melaju dengan kecepatan sedang pagi itu. Sejak meninggalkan hotel, Adrian menyadari wajah Naomi yang lebih murung. Ia diam dengan pandangan terus mengarah keluar jendela. Seperti ada sesuatu yang membuatnya sedih.


"Kamu kenapa ... Bidadariku?" Adrian membuka suara dengan jenaka. Biasanya jika seperti ini, Naomi akan memaki.


Tetapi justru wanita itu hanya menjawab dengan gelengan kepala. Tanpa suara. Dan Adrian tahu ada hal serius yang sedang membebani pikiran wanitanya itu.


"Apa kamu sedang menginginkan sesuatu? Beritahu aku." Pertanyaan kali ini diiringi belaian lembut di puncak kepala.

__ADS_1


"Tidak. Aku hanya sedang memikirkan orang tuaku. Kalau ayah dan ibuku mengadopsiku, lalu aku sebenarnya anak siapa?" Suram di wajah Naomi kembali terlihat.


Dan, Adrian tidak pernah tahan melihatnya sedih.


"Kamu mau mencari mereka?"


"Bagaimana caranya? Aku bahkan tidak tahu siapa nama mereka."


"Aku bisa membantumu mencari mereka."


Naomi menggeleng pelan. "Tidak usah. Orang tua macam apa yang tega membuang anaknya sendiri?"


Meskipun sangat sedih, tetapi Naomi memendam kekecewaan terhadap kedua orang tua kandungnya.


"Kalau begitu, jangan sedih lagi." Ia menyandarkan Naomi di dadanya. "Jangan pikirkan orang yang tidak pernah peduli terhadapmu."


"Aku hanya berpikir kenapa mereka tega membuangku? Apa aku setidak-berharga itu sampai mereka tidak mau membesarkan ku?"


"Mungkin ada alasan lain. Aku rasa tidak ada orang tua yang benar-benar mau membuang anaknya sendiri." Ia kembali membelai puncak kepala wanita itu. "Sudahlah, jangan bicarakan kalau itu membuatmu sedih."


Pembicaraan tentang orang tua selesai. Naomi kembali diam. Tetapi kali ini memilih bersandar di dada Adrian.


Hanya dalam lima belas menit, mereka telah tiba di gedung kantor. Baru memasuki lobi, semua pandangan sudah mengarah kepada Naomi. Sepertinya kabar tentang Erina yang ternyata adalah istri Adrian Marx sudah menyebar.


Naomi melirik ke arah sebuah ruangan. Dari sana beberapa pasang mata sedang menatapnya gelisah.


"Ada apa dengan kalian? Bukankah kemarin kalian bersorak karena aku dipecat?"

__ADS_1


...........


__ADS_2