My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
78 : Aku Janji Akan Mencari Orang Tuamu


__ADS_3

“Kamu tidak apa-apa?” Adrian merangkul pinggang Naomi yang kini terasa lebih lebar mengikuti ukuran perut yang membesar. Ia bisa melihat pancaran kesedihan dari sepasang bola mata sang istri, meskipun wanita itu selalu mampu menyembunyikan dengan baik. Berusaha untuk terlihat kuat di mata semua orang. 


“Aku tidak apa-apa, ibu sedang menyambutku,” ucapnya berbohong. 


Sorot tajam Adrian lantas mengarah kepada sang ibu, yang tampak tak ragu sedikit pun untuk menunjukkan betapa dirinya tak menginginkan kehadiran Naomi di antara mereka. 


“Bu, tolong jangan berbicara kasar terhadap istriku.” 


Des@h napas panjang mengiringi. Wanita paruh baya itu membuang pandangan ke sembarang arah. Seolah pembelaan Adrian membuatnya kecewa. “Dia benar-benar berhasil mempengaruhimu.”


“Naomi tidak mempengaruhi siapapun. Kenapa Ibu tidak bisa menerima Naomi seperti nenek?” 


“Karena aku tidak bodoh seperti kalian!” Kelopak mata wanita itu sedikit lebih lebar, mengalirkan kebencian melalui tatapannya. 


Membuat tangan Adrian bergerak naik turun mengusap sebelah lengan istrinya. Ia tahu di balik tegarnya Naomi ada sosok rapuh.


“Aku tahu bagaimana Naomi.” 


“Ya, tentu saja. Dia wanita penghibur yang kamu jadikan istri.” 


“Cukup, Bu!” Hampir saja Adrian membentak. Ucapan ibu berhasil mengikis kesabarannya. “Aku belum pernah melawan ibu, jadi jangan memaksaku melakukannya.” 


“Adrian, buka matamu!” Suara lantang ibu menggema di kesunyian malam. Adrian dapat merasakan tubuh Naomi sedikit tersentak. “Gunakan logikamu untuk melihat siapa wanita ini. Apa kamu yakin anak di dalam perutnya adalah benihmu?” 


Sepasang mata Adrian terpejam diiringi hela napas panjang. Jika ini tak segera dihentikan, mungkin ia benar-benar akan membentak ibu. “Sayang, pergilah ke kamar. Biar aku yang ambilkan air minumnya.” 


Tanpa sepatah katapun, Naomi mengangguk. Kemudian membalikkan tubuhnya menapaki tangga. Adrian baru mengalihkan pandangan setelah Naomi menghilang di balik dinding lantai atas. 

__ADS_1


“Bu, aku tidak suka membahas hal pribadi seperti ini. Tapi haruskah aku jelaskan bahwa aku adalah laki-laki pertama yang menyentuh Naomi?” 


“Kamu berkata begitu hanya untuk membelanya, kan?” ucapnya penuh keyakinan. “Baiklah, kalau kamu seyakin itu. Begitu anaknya lahir lakukan tes DNA, dan kita lihat dia benar-benar mengandung anakmu atau bukan.” 


Kehabisan kata-kata, Adrian hanya dapat menggelengkan kepala. Beberapa kali ia hembuskan napas demi mengurai amarah yang membuat dadanya sesak. Adrian bahkan diam saja saat ibu pergi meninggalkannya. 


.


.


.


Adrian masuk ke kamar dengan membawa sebotol air mineral dan gelas. Pandangannya menyapu ke sekitar kamar yang temaram. Naomi tak berada di sana, namun sosok bayangan yang jatuh di lantai balkon kamar membuat Adrian segera beranjak keluar. 


“Maafkan aku,” bisiknya lembut seraya melingkarkan tangan di perut. 


Tangan lebar Adrian bergerak ke atas, membelai rambut istrinya. Ia tinggalkan ciuman di sana, sebelum menuntun menuju sofa. Kala Naomi merapatkan tubuhnya pada peraduan empuk itu, Adrian memilih berjongkok di hadapannya. 


“Bagaimana kalau kita pindah saja? Aku akan membeli rumah baru dan membawamu pergi dari sini.” 


“Memangnya kenapa?” 


“Aku tidak mau ibu memperlakukanmu seperti tadi. Jadi kurasa lebih baik membawamu pergi dari sini.” 


“Ibu akan semakin membenciku kalau kita pergi. Lagi pula bagaimana dengan nenek?” 


“Nenek bisa ikut dengan kita. Aku tidak tahan mendengar siapapun menghinamu.”

__ADS_1


Dalam pencahayaan temaram, Adrian dapat melihat senyum tipis di sudut bibir Naomi. 


“Aku tidak apa-apa, sungguh,” ucapnya berusaha menenangkan. “Dihina bukan masalah lagi bagiku. Dulu hidupku jauh lebih berat dibanding hanya sekedar dihina. Setidaknya, sekarang aku memilikimu untuk bersandar dan itu sudah jauh di atas standar harapan hidupku. Dulu aku bahkan tidak punya siapapun untuk mengadu.” 


Tak tahan rasanya, Adrian mendekap Naomi. Sangat erat. Hingga tiada jarak lagi diantara keduanya. 


“Aku berjanji akan mencari orang tuamu sampai ditemukan, dan kamu tidak akan merasa sendirian lagi.” 


“Apa mereka masih hidup?” tanya Naomi. Adrian dapat membaca pancaran penuh harap dari matanya yang berkaca-kaca. 


“Aku belum tahu. Tapi, tadi orang suruhanku memberi kabar bahwa mereka menemukan informasi tentang orang tuamu.” 


Senyum mengembang semakin sempurna di wajah Naomi, dan Adrian benar-benar suka melihatnya. Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


“Boleh aku mengatakan sesuatu?” tanya Adrian, diikuti anggukan kepala oleh Naomi setelahnya.


"Boleh."


“Aku sedikit takut kamu akan meninggalkanku begitu orang tuamu ditemukan. Klan keluarga Marx akan punah di tanganku karena kehilangan pasangan untuk bereproduksi.” 


"Tenang saja, bereproduksi bukan satu-satunya cara untuk melestarikan kehidupan. Burung Dodo juga punah bukan karena tidak mampu bereproduksi, tapi karena diburu oleh para predator. Memangnya predator mana yang akan berani memburumu, Tuan?” ucap Naomi panjang lebar.


Bibir Adrian sudah mengatup demi menahan tawa. "Benar juga. Jadi ... apa ada cara lain?”


“Tentu saja ada. Amoeba bahkan tidak membutuhkan pasangan untuk berkembang biak.” 


Adrian menipiskan bibir gemas. “Jadi maksudmu aku harus berkembang biak dengan membelah diri, begitu?” 

__ADS_1


...........


__ADS_2