My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 92 : PENGAKUAN


__ADS_3

Pangeran Hugo masih tak percaya menatap wanita dalam tawanan Erica. Bola mata pria itu sudah tergenang kristal bening. Hanya dengan melihat bentuk wajah, warna rambut dan sorot mata, Hugo sudah yakin, bahwa Naomi memang benar adik kandungnya, Putri Isabel yang hilang sejak kecil.


Sorot matanya lantas mengarah kepada Erica yang tengah menempelkan ujung senjata di lekukan leher adiknya. Dan Hugo harus bergerak cepat, tepat dan cerdas. Jika tidak, ia akan kehilangan adiknya untuk kedua kali.


"Apa kalian sedang bekerja sama untuk menangkapku?" tanya Erica tanpa memindahkan senjata dari lekukan leher Naomi.


"Sama sekali tidak! Aku bisa saja menghabisi Adrian sekarang juga." Pangeran Hugo menantang tanpa ragu. "Aku tinggal menembaknya dan dia akan mati kurang dari lima detik."


Terlihat jelas kecemasan di wajah Erica. Demi apapun, ia tak akan pernah rela jika Adrian terluka seujung kukupun. Adrian adalah segalanya, kekuatannya untuk hidup, dan alasan di balik semua kejahatan yang ia lakukan. Menikah dengan Adrian adalah keinginan terbesar dalam hidupnya dan Erica akan sanggup melakukan apapun untuk mewujudkan itu.


"Lepaskan adikku kalau tidak kutembak dia!"


"Jangan!" teriak Erica. "Aku tidak bisa percaya terhadapmu begitu saja. Bagaimana kalau ternyata kamu hanya mau menipuku!"


Pangeran Hugo menarik sudut bibirnya. Sebelah tangannya menarik belati. Adrian bahkan diam saja saat Hugo menggores benda tajam itu di lehernya, hingga mengeluarkan darah.


Erica menjerit histeris. "Jangan lukai Adrianku, kamu membuatnya berdarah!"


Erica panik bukan kepalang. Sedangkan Naomi sudah terlihat sangat shock dan bingung. Apa lagi saat melihat cairan merah menetes di leher suaminya. Ia pun tak tahu pria yang mengakuinya sebagai adik itu kawan atau lawan.


"Tolong jangan sakiti suamiku!" lirihnya dengan suara gemetar.


Namun, permohonan Naomi tak diindahkan oleh Hugo. Pria itu malah kembali menekan Erica.


"Dengar baik-baik, Nona Erica. Aku tidak peduli dengan laki-laki ini. Aku hanya peduli pada keselamatan adikku yang kamu sandera. Lagi pula setelah semua ini aku akan membawa adikku kembali ke istana. Dia tidak akan bersama Adrian Marx lagi. Dan ingat satu hal, adikku seorang putri, bukan pelayan!"


Deg!


Bukan hanya Naomi, Adrian pun sangat terkejut mendengar setiap kata yang didesiskan pria itu. Berbeda dengan Erica yang terlihat senang.


"Sekarang lepaskan adikku! Aku bisa membuat Adrian terluka lebih dari ini kalau kamu tidak menjatuhkan senjata sekarang juga," ancam Hugo.


"Baiklah! Jangan lukai Adrian lagi!"


Erica melirik Naomi penuh kebencian. Sepenuh hati menolak melepas wanita itu dari cengkeramannya, tetapi melihat Adrian berdarah membuatnya kehilangan akal sehat. Ia menyerah, genggamannya perlahan merenggang.


"Kalau begitu kita jatuhkan senjata bersama. Aku melepas Naomi dan kamu lepaskan Adrian!"


"Baik, tapi kalau kamu berani macam-macam, ingat, Adrian akan mati di tanganku," ancam Pangeran Hugo sekali lagi.


Erica menurunkan tangannya. Perlahan bergerak maju sambil mendorong Naomi. Saat telah berada dalam jarak tak begitu jauh, barulah ia menjatuhkan senjata bersamaan dengan Pangeran Hugo.

__ADS_1


Begitu melihat celah, Adrian bergerak cepat menarik Naomi ke dalam pelukan. Erica melotot marah. Ingin menjangkau Naomi, tetapi beberapa pria sudah membekuknya.


"Lepaskan aku! Kalian semua menipuku!" Erica meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Namun, tenaganya kalah jauh dari dua pria yang menahannya.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Adrian mengeratkan pelukan kala merasakan tubuh Naomi yang masih gemetar.


"Aku takut sekali."


"Jangan takut, kamu sudah aman sekarang."


Tangan Naomi melingkar di pinggang Adrian. Pelukan suaminya itu memberinya rasa aman. Ketakutan besar yang tadi menguasainya perlahan sirna. Naomi membenamkan wajahnya di dada Adrian.


"Aku sangat merindukanmu."


"Aku juga sangat merindukanmu. Tenanglah, sekarang sudah aman." Adrian membenamkan ciuman di kening. Tak dapat dipungkiri ungkapan kerinduan dari Naomi menciptakan rasa hangat di hatinya.


"Lepaskan aku! Pangeran Hugo, kamu penipu!" Erica menjerit. Sekuat tenaga berusaha melepaskan diri.


Pangeran Hugo memulas senyum. Keberhasilannya melumpuhkan Erica adalah memainkan emosi wanita itu. Dan hal tersebut membuat Erica kehilangan fokus dan mudah dikelabui.


"Terserah!" ujar Pangeran Hugo seraya melirik beberapa pria. "Bawa dia dan pastikan dia akan dihukum seberat-beratnya!"


"Baik."


"Matilah, Naomi Claire!"


Menyadari tanda bahaya, Adrian segera memeluk Naomi dalam posisi membelakangi Erica dan menjadikan tubuhnya sebagai perisai untuk Naomi.


Dor!


Adrian merasakan sensasi panas dan basah kala timah panas bersarang di tubuhnya. Pria itu ambruk seketika.


Erica menjerit histeris, ingin menghampiri Adrian, namun para pengawal kembali membekuk dan membawanya keluar. Kali ini tanpa ampun.


"Adrian! Lepaskan aku, Adrianku tertembak! Aku harus menolongnya!"


Sedangkan Naomi terduduk dengan meletakkan Adrian di pangkuannya dengan diiringi isak tangis.


...........


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Pangeran Hugo sesekali melirik ke kursi belakang di mana Naomi duduk dengan Adrian di pangkuannya.

__ADS_1


Kesadaran Adrian semakin melemah. Hanya tatapannya terus tertuju ke wajah Naomi.


"Na-Naomi ... jangan menangis, aku tidak apa-apa."


Adrian masih berusaha menenangkan. Tetapi bukannya reda, tangis Naomi malah semakin menjadi.


"Bagaimana kamu bilang tidak apa-apa? Kamu tertembak."


"Tidak apa-apa. Ini tidak sakit."


Naomi menatapnya dalam, terlihat jelas sedang berusaha menahan rasa sakit.


"Aku mau katakan sesuatu," ujarnya dengan suara lemah.


"Jangan banyak bicara, itu akan membuat tenagamu terkuras."


"Tidak apa-apa." Ia menggenggam jemari Naomi, lalu menatapnya dalam. "Maafkan aku, sudah menyembunyikan fakta tentang orang tuamu. Aku sangat mencintaimu dan tidak mau kamu pergi dariku. Apalagi saat tahu bahwa kamu adalah seorang putri. Aku tahu itu egois, tapi aku benar-benar takut."


"Kamu tidak akan kehilanganku. Bukankah aku milikmu?" ucap Naomi. Hanya air mata yang mengalir, yang mampu melukiskan segala rasa.


"Boleh aku tanya sesuatu lagi?" lirih Adrian.


Naomi mengangguk.


"Sayang ... apa pernah kamu mencintaiku sedikit saja, walaupun hanya satu menit?"


Pertanyaan itu meluluhlantakkan hati Naomi. Selama ini begitu berat baginya mengungkapkan perasaan, bahkan saat Adrian telah terang-terangan menyatakan cinta.


Tetapi, entah mengapa hatinya selalu penuh dengan keraguan dan rasa takut. Jika suatu hari nanti Adrian akan bosan terhadapnya.


"Aku mencintaimu! Sangat mencintaimu! Maafkan aku ... aku berjanji akan selamanya bersamamu. Aku tidak akan kabur lagi dan tidak akan macam-macam lagi. Aku akan menuruti apapun yang kamu katakan. Tolong bertahanlah untukku saja!"


Adrian mengulas senyum. Ungkapan cinta Naomi seperti sebuah hadiah besar baginya. Kala hatinya menghangat, namun berbeda dengan pandangannya yang mulai memburam. Untuk bernapas terasa berat.


Adrian menggenggam tangan Naomi di dadanya.


"Terima kasih, Sayang ...." Tangannya yang lemah bergerak mengusap sebelah pipi istrinya.


Naomi membenamkan ciuman di kening, sambil beberapa kali membisikkan kata cinta, membuat Adrian meresapi rasa hangat dan lembut di antara sakit yang mulai menjalar ke seluruh tubuh.


Perlahan kedua matanya terpejam.

__ADS_1


****


__ADS_2