
"Sejak kapan dia di sini?" Naomi berbisik pelan setelah menyadari keberadaan Hugo di ruangan itu.
Secepat mungkin Adrian menarik Naomi untuk bersembunyi di belakang punggungnya. Sorot matanya yang tajam menikam sosok tubuh tegak yang berdiri kokoh di ambang pintu.
"Mau apa ke mari?"
"Menjemput adikku terntunya." Jawaban singkat nan santai itu membuat sudut mata Adrian mengerut. Jangan harap bisa membawa istrinya keluar dari ruangan itu, karena demi apapun Adrian tak akan memberi celah.
"Naomi tidak akan ke mana-mana. Dia akan tetap di sini bersamaku," ujarnya tak kalah tegas.
Kala Hugo melangkahkan kaki mendekat, Adrian langsung menyiapkan ancang-ancang. Tak peduli walau tubuhnya masih didera sakit dari sisa operasi semalam, ia akan tetap mempertahankan Naomi di sisinya meskipun harus melawan seisi istana sekalipun.
"Tempat bagi seorang putri adalah di istana. Lagi pula di istana dia terlindungi dengan baik." Pangeran Hugo menatap adiknya yang tengah bersembunyi. Sesekali hanya terlihat Naomi mengintip dari balik leher suaminya. "Ayo, Isabel. Kita harus kembali ke istana. Tinggal di luar tidak aman untukmu sekarang ini."
"Aku tidak mau! Pulang saja sendiri sana." Tangan kecilnya melingkar erat di perut Adrian.
"Aku tidak akan pulang tanpamu."
Semakin erat tangan Naomi melingkari tubuh Adrian. Apa lagi ia tahu bahwa Pangeran Hugo bukanlah seseorang yang mudah untuk mengalah.
"Heh, pangeran menyebalkan dan pemaksa, aku bisa saja melaporkanmu untuk perbuatan tidak menyenangkan. Jadi pergilah sebelum kesabaranku habis," ancam Naomi.
"Melaporlah sebanyak yang kamu mau." Hugo masih tampak santai.
Amarah Adrian terpancing. Semakin melambung ke ubun-ubun. Sikap pemaksa yang ditunjukkan Pangeran Hugo membuatnya cukup geram.
"Aku memang belum pulih. Tapi aku masih bisa memukulimu kalau tetap mau membawa Naomi pergi."
__ADS_1
"Apa kamu sedang menantangku?" balas Hugo.
"Anggap saja begitu. Ingat satu hal, aku suaminya yang sah. Dan seorang gadis yang sudah menikah adalah hak milik suaminya. Kakak dan orang tua sekali pun tidak lagi berhak."
Pangeran Hugo terkekeh. "Apa kamu bisa melindungi Isabel dan menjamin kejadian seperti kemarin tidak akan terulang lagi?"
"Dan kamu sendiri ... apa bisa menjamin dia tidak akan kabur lagi dari istanamu?"
Pangeran Hugo bergeming. Tatapannya datar.
"Isabel, kamu yakin mau tetap tinggal dengannya?"
Naomi mengangguk cepat. Baginya, tidak ada tempat yang lebih baik selain tempat yang ada Adrian.
Melihat pendirian adiknya yang teguh, Pangeran Hugo pun mulai melunak. Tak lagi memaksakan keinginannya.
Ketegangan memecah. Perlahan Naomi mulai memberanikan diri keluar dari persembunyian. "Benarkah? Kamu tidak sedang menipu kami, kan?"
"Kenapa harus menipu?"
"Soalnya wajahmu itu lebih mirip seorang penjahat dari pada seorang Pangeran," ujar Naomi frontal.
Pangeran Hugo mendengus sebal.
"Isabel!!!"
*
__ADS_1
*
*
*
Adrian menatap Naomi setelah kepergian Pangeran Hugo dan para pengawalnya. Masih ada pertanyaan di benak Adrian yang sejak tadi mengganggunya.
"Sayang, kamu tidak marah?" tanyanya tiba-tiba.
"Marah kenapa?"
"Karena aku sudah menyembunyikan fakta tentang orang tuamu. Aku minta maaf, seharusnya aku memberitahumu sejak awal."
"Wah Tuan Adrian yang selalu merasa benar ini sekarang sudah bisa minta maaf dengan sukarela, ya."
Adrian menarik napas dalam.
"Tentu saja. Adrian Marx juga manusia biasa, kan?"
"Untuk apa marah?" jawab Naomi setelahnya. "Lagi pula kehidupan istana sangat tidak cocok denganku."
"Memangnya kenapa?" Adrian masih penasaran dengan apa yang menjadi alasan Naomi memilih meninggalkan istana.
"Karena kalau tinggal di istana, aku tidak akan bisa memaki dirimu lagi, Tuan."
Huft ... kamu benar-benar, ya.
__ADS_1
****