My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 47 : Apakah Dia Gadis Kampungan Itu?


__ADS_3

Adrian menggandeng tangan Naomi keluar dari salon. Bruno sudah lebih dulu melangkah dan menunggu di depan. Ia selalu sigap membuka pintu belakang mobil saat melihat tuannya mendekat. Sepertinya pelototan tajam Adrian tadi berhasil menyadarkan pria itu. Terbukti, sekarang ia menundukkan kepala demi tak menatap Naomi. 


"Silahkan, Tuan ... Nona ... hehehe ...."


Paling tidak senyum saja. Tuan sedang dalam mode galak. batin Bruno


Mobil sudah meninggalkan salon ternama itu dan melaju dengan kecepatan sedang. Sejak tadi, Adrian tidak pernah melepas tangannya dari Naomi. Entah mengapa, ia merasa tidak nyaman jika tidak menggenggam jemari kecil Naomi.


“Kalau di pesta itu ibu mengatakan sesuatu, tidak usah pedulikan,” ucap Adrian tiba-tiba. 


“Baik.”


"Dan jangan pernah menjauh dariku."


Naomi menatap Adrian sekilas. Kemudian kembali menatap jalan. Sebenarnya Naomi tak pernah peduli terhadap ucapan ibu mertuanya ataupun Erica. Semua hanya dianggap angin lalu. Toh, hidupnya hanya bergantung pada Adrian seorang. Bukan pada ibu atau Erica. 


Hanya dalam dua puluh menit, mobil telah memasuki halaman sebuah hotel mewah. Adrian dapat melihat Naomi memandangi gedung tinggi itu dengan takjub. 


“Sepertinya ibu sangat sayang kepada Nona Erica. Pesta ulang tahun saja semewah ini.” Naomi bergumam sendiri, tetapi Adrian dapat mendengarnya walau samar-samar. 


"Apa kamu juga mau pesta ulang tahun seperti ini?"


"Tidak! Rasanya terlalu kekanak-kanakan."


Adrian terkekeh. "Tapi kalau mau, aku bisa membuat pesta yang lebih mewah dari ini untukmu."


Tidak mau. Kalau punya uang sebanyak itu, aku akan menggunakannya untuk melunasi hutang pembelian atas diriku dari Madam Leova saja.

__ADS_1


Mobil berhenti, disusul dengan kedatangan seorang pria yang segera membukakan pintu mobil. Adrian turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan kepada Naomi. 


Pandangan Adrian menyapu sekitar, seperti sedang memastikan sesuatu. Kemudian merangkul Naomi berjalan bersama. Sepanjang jalan memasuki ballroom, ada banyak tamu yang mengantri sambil menunjukkan kartu undangan.


Adrian menggandeng Naomi melewati padatnya antrian.


"Selamat datang, Tuan ... silahkan masuk." Seorang wanita membungkuk hormat dengan mengarahkan tangannya ke sebuah pintu besar.


Seperti biasa, Adrian yang memasang gaya cool hanya menyahut dengan anggukan kepala.


Begitu memasuki ruangan, semua perhatian pun mengarah pada mereka. Adrian Marx yang selama ini menutup rapat-rapat kehidupan pribadinya berhasil menarik rasa penasaran orang-orang. Terlebih sekarang ia datang dengan menggandeng seorang wanita muda.


Ia dapat melihat ada banyak tamu yang saling berbisik, ada pula yang hanya menatap kagum. Tetapi, tentu saja ia tak peduli.


"Tidak usah melongo begitu. Bersikap biasa saja," bisiknya ketika melihat Naomi menatap kesana-kemari.


Kenapa perasaanku jadi tidak enak? Aku merasa semua orang menatapku dengan membawa duri di tangannya.


Wanita muda yang sedang bergelayut di lengan Adrian seperti menghipnotis dirinya.


“Bu, apa aku salah lihat? Apakah yang datang bersama Adrian itu benar-benar Naomi?” 


“Entahlah, Erica. Tapi sepertinya itu memang dia.” Ibu menajamkan penglihatannya demi memastikan. Kedua bola mata itu langsung membulat ketika mampu mengenali melalui cincin pernikahan yang tersemat di jari wanita itu. 


Raut kekesalan seketika terlihat jelas dalam wajahnya. “Benar, dia wanita kampungan itu. Tapi kenapa dia bisa menjadi secantik itu?” 


Bibir Erica mengerucut mendengar ucapan bermuatan pujian dari ibu. “Kenapa Ibu malah memuji dia?” 

__ADS_1


“Ibu tidak memuji, hanya mengatakan yang ibu lihat. Dia memang jadi berbeda, kan?” 


Erica menatap Naomi yang berjalan anggun dengan menggandeng lengan Adrian. Tanpa dapat dikendalikan, otaknya membandingkan penampilan Naomi malam ini dengan dirinya. 


Naomi mengeratkan genggamannya pada lengan Adrian. Dengan pandangan menunduk karena sejak memasuki ruangan itu hampir semua orang menatap dirinya. 


Adrian yang menyadari kecanggungan Naomi langsung merangkul pinggangnya. Berjalan melewati meja-meja yang sudah terisi para tamu.


"Selamat ulang tahun, Erica. Hadiahmu dari kami ada di luar."


Sepasang mata Erica berbinar mendengar ucapan Adrian. Tentunya, pria itu selalu memberikan hadiah yang istimewa dan mahal.


"Terima kasih, Adrian. Kamu sangat baik terhadapku." Sambil tersenyum, Erica merangkul lengan ibu. Seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah putri kesayangan ibu. Sedangkan Naomi hanyalah debu kotor yang tak dianggap.


"Oh ya, Naomi terima kasih sudah meluangkan waktumu. Nikmati pestanya," ucapnya dengan ramah, yang sialnya dapat dibaca Naomi hanyalah kepura-puraan.


"Terima kasih."


"Aku sudah meminta mereka menyediakan meja khusus untuk kalian. Di sana," ucapnya sambil menunjuk sebuah meja tak jauh darinya, yang memang masih tampak kosong.


Wah, kalau ada Tuan Adrian dia jadi seperti malaikat. Aktingnya sangat sempurna.


Adrian baru saja akan membawa Naomi menuju meja yang tersedia, ketika wanita itu membeku dan terpaku pada satu titik. Bahkan kini wajah Naomi mulai memucat.


Ia menggenggam erat tangan Naomi saat merasakan wanita itu mulai gemetar.


"Ada apa? Apa kamu sakit?"

__ADS_1


.


.


__ADS_2