My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 84 : Mengapa Ada Mobil Kerajaan?


__ADS_3

Naomi terdiam, mencoba mencerna maksud ucapan Adrian. 


“Bukan begitu. Tadi ibu menghina orang tuaku. Aku tahu aku juga belum pernah bertemu dan tidak tahu siapa mereka. Tapi apa aku tidak boleh marah kalau ada yang menghina mereka?” 


Adrian mendekap semakin erat kala suara Naomi terdengar tersendat-sendat. “Aku akan bicara dengan ibu nanti. Jangan menangis, Naomiku tidak pernah cengeng sebelumnya.”


“Aku hanya tidak suka ada yang menghina orang tuaku.” 


“Aku mengerti, Sayang. Maafkan aku. Aku akan membeli rumah baru untukmu. Kita akan pindah dari sini."


"Pindah?"


"Iya. Aku akan membawamu ke lingkungan yang baru dan jauh dari jangkauan ibu. Jadi kamu tidak perlu bertengkar lagi dengannya.” Jemari Adrian bergerak naik turun membelai rambut dan punggung. Kepingan rasa bersalah semakin dalam menusuk.


“Apa aku egois kalau mau memilikimu sendirian saja?” 


.


.


.


“Naomi!” 


Napas Adrian tersengal hebat. Jantungnya berdentam sangat cepat, seolah baru saja melakukan aktivitas menguras tenaga. Keringat pun telah membasahi seluruh tubuhnya.


Ia menghela napas berkali-kali. Perasaaan lega mendominasi saat meyakini yang baru saja terjadi hanyalah mimpi buruk. Ya, Naomi masih terbaring di sisinya.


“Apa aku terlalu takut kehilangan Naomi sampai mimpi buruk?”


Adrian mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Menghela napas berulang-ulang demi menetralkan perasaan aneh yang berkecamuk dalam dadanya. 


Ia kembali melirik istrinya yang tengah lelap dalam buai mimpi. Menatap wajah polos itu lekat. Ia sadar seutuhnya bahwa rasa ingin memiliki membuat hatinya begitu takut kehilangan. 


“Maafkan aku, Naomi. Aku tidak mau menyembunyikan apapun darimu. Tapi aku juga tidak mau kehilanganmu.” 


Adrian bangkit. 


Masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air. Berulang-ulang ia lakukan itu dan berharap bayangan buruk segera menghilang.

__ADS_1


Bahkan kepingan rasa takut itu tak juga sirna dengan menenangkan diri di balkon kamar.


“Kamu di mana?” Suara memanggil yang terdengar dari dalam kamar membuyarkan lamunan Adrian.


“Iya, tunggu sebentar, Sayang. Aku di sini.” 


Adrian menarik napas dalam, sebelum akhirnya kembali ke kamar.


"Kamu terbangun?"


"Aku terbangun karena tidak menemukanmu di sini."


Adrian melukis senyum dalam pencahayaan temaram kamar. “Aku hanya mencari udara segar di luar. Ayo tidur lagi.”


Ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Merentangkan sebelah lengan sehingga Naomi segera menjadikan lengan kokoh itu sebagai bantal paling empuk. Lalu, membenamkan wajahnya di dada lebar sang suami. Terlihat sangat nyaman.


"Siapa itu Putri Isabel?" Pertanyaan itu membuat sepasang netra Adrian melebar.


"Kamu tahu dari mana tentang nama itu?"


"Tadi aku tidak sengaja membuka pesan di ponselmu yang berisi data tentang seseorang bernama Putri Isabel. Memangnya dia siapa?"


"Tapi kenapa ada foto masa kecilku di bawah nama Putri Isabel? Di mana kamu menemukan fotoku? Aku saja tidak punya."


"Itu ...." Ucapan Adrian terpotong.


Baru saja mulut Naomi akan terbuka untuk berbicara, sudah dibungkam Adrian dengan ciuman panas. Membuat Naomi tak berkutik. Adrian menyerangnya dengan sentuhan yang membuat wanita itu mabuk kepayang.


.


.


.


“Apa boleh aku keluar sebentar?” tanya Naomi keesokan paginya. Adrian sudah rapi dengan pakaian formal, sambil membenarkan dasi yang kemudian diambil alih oleh Naomi. 


“Mau ke mana?” balas Adrian dengan air muka penasaran. Tidak biasanya Naomi meminta izin keluar rumah. 


“Mau ke makam ibuku.” 

__ADS_1


“Itu makam ibunya Ken, bukan makam ibumu.” 


“Bagaimana pun juga aku masih menganggapnya ibuku,” lirih Naomi. "Setidaknya ibu yang mengadopsiku."


Adrian menyerah ketika melihat bias kesedihan di wajah Naomi.


“Baiklah, kamu boleh pergi. Tapi setelah itu harus langsung pulang. Mathilda dan Layla akan menemanimu.” 


"Aku mengerti." Ia membenamkan ciuman di pipi sebagai ucapan terima kasih. Membuat Adrian menerbitkan senyum senang. "Jangan percaya diri. Ciuman itu refleks karena pengaruh bayi," celetuk Naomi.


"Iya, aku tahu, Naomi Claire!"


.


.


.


"Mau ke mana kamu?" Suara yang berasal dari arah samping menghentikan langkah Naomi. Ia menoleh ke arah sumber suara.


“Aku mau ke makam ibuku.” 


“Pergilah kemana pun yang kamu suka. Kalau perlu tidak usah kembali. Kehadiranmu di rumah ini hanya menciptakan masalah.” 


Kedua tangan Naomi terkepal. "Kalau mulut Ibu tidak bisa mengucapkan hal baik, setidaknya jangan mengucapkan hal buruk."


"Kenapa kamu masih di sini? Bukankah kamu mau menemui ibumu?"


Naomi tak menanggapi ucapan mertuanya. Ia beranjak begitu saja bersama Mathilda dan Layla. 


Ibu melanjutkan kegiatannya. Membaca majalah sambil menikmati jus kesukaannya. Ia cukup kesal setelah tahu niat Adrian untuk membeli rumah baru dan membawa serta istrinya.


Hingga 30 menit berlalu setelah kepergian Naomi, beberapa sedan mewah memasuki halaman rumah. 


Wanita itu menatap keluar jendela. Tiba-tiba saja raut wajahnya menggambarkan ekspresi terkejut. Betapa tidak, ia dapat mengenali mobil yang baru saja tiba hanya dengan melihat simbol yang tertera pada setiap mobil. 


“Kenapa mobil kerajaan ada di rumah ini? Mau apa mereka kemari?” 


***

__ADS_1


__ADS_2